catatan remeh dan hal liar lain

Minggu, 29 November 2015

BORNEO IS CALLING, SERUAN MENCINTAI ULANG TANAH KHATULISTIWA

00.40 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
dokumen Las!

Rumah kami bukan kayu bakar kalian

Rumah kami bukan ladang uang kalian

Rumah kami bukan tempat buangan kotoran kalian

Kali ini saatnya kami mengambil kembali rumah kami

Kali ini saatnya kami pulang

Begitulah potongan lirik BorneoIs Calling dari Las!, band yang tengah ramai diperbincangkan anak muda Pontianak saat ini. Lagu yang menurut Bob (26), ia ciptakan sebagai ungkapan rindunya terhadap tanah Borneo, yang selama enam tahun ia tinggal hijrah ke Jakarta. Semua berawal dari sebuah perjalanan menuju Kapuas Hulu, medio Agustus 2015 lalu. Life On The Road, begitu nama petualangan yang mereka—personil Las!—sematkan dan jadikan film dokumenter itu.

"Di Borneo Is Calling adalah seruan untuk Wild Bornean (sebutan penggemar Las!), yang besar dan tumbuh di tanah ini, untuk kembali melihat, dan tidak menutup mata terhadap apa yang tengah terjadi sekarang,” harapnya.

Dalam Life On The Road itulah, cikal bakal Las! hadir. Bob, Dinan (26), Kajol (26) dan Diaz (23), yang tergabung dalam band, bersama dua rekan lain menuju Kapuas Hulu, tanpa ekspestasi apa pun. Berkendara mini van, mereka hanya ingin sekadar tualang untuk melihat dan membungkus akar rumput Kalimantan Barat dalam sebuah movement yang menarik.

Diyakini Diaz dan Bob, lewat dokumenter itu, mereka ingin mengabadikan keindahan dan kehilangan yang berlangsung di tanah Khatulistiwa. Terutama, deforestasi yang tak kenal batas. Kemilau Taman Nasional Danau Sentarum membikin mereka membatin. Sebab, sepanjang perjalanan, melewati Sanggau, Sintang dan Landak, hutan sawit lekat dalam pandangan.

“Sangat disayangkan para pemuda menutup mata, padahal tanah ini tengah dirampok, dipecah-pecah tanpa kita sadari. Seruan dalam Borneo Is Calling adalah seruan untuk membuka mata, dan mencintai ulang tanah ini,” sebut Bob, sang gitaris.

Setelah menyelesaikan Life On The Road kurang lebih satu bulan, 14 September 2015 mereka kembali di Pontianak. Diaz dan Kajol, mantan personil Lost At Sea yang telah bubar, agaknya tak tahan untuk kembali ke dunianya, Las! pun ditasbihkan menjadi pelabuhan bermusik mereka. Karena saat itu masih meraba-raba siapa yang akan menjadi vokalis, akhirnya Momo, vokalis Kapten Jack diminta untuk berkolaborasi.

“Waktu itu masih mencari-cari apakah Dinan atau siapa yang akan jadi vokalis. Akhirnya, ajak Momo untuk berkolaborasi dalam showcase, di Cofee Stelsel. Ternyata sukses, kita merasa ini loh, formasi yang tepat setelah Lost At Sea bubar,” ungkap Diaz.

Musik alternatif yang mereka bawakan, terasa lebih maskulin, ketimbang Lost At Sea dulu. Saat showcase, lagu Borneo Is Calling dan Seperti Peduli, mereka perkenalkan kepada publik. Sejumlah live version akustik dari dua lagu itu, turut mereka rilis di Youtube. Anda hanya perlu mencarinya dengan judul lagu disertai Las! di fitur pencarian. Atau dengan mendatangi channel Diaz Fadel.
Sambutan hangat mereka terima, hingga kini, setiap video yang mereka unggah, sudah menembus 3000 viewer. Hal ini tentu buat mereka bangga. Movement seksi, sebagaimana niatan mereka, ikhwal kepedulian lingkungan generasi muda, setidaknya memiliki titik terang.

"Anak muda harus tahu, deforestasi di Kalbar udah luar biasa. Dan kepentingan para perusahaan kepala sawit ini dilakukan oleh investor dan penguasa yang sebenarnya kita tahu siapa orangnya,” sesal Diaz, drummer Las!.

Sementara itu, di lagu Seperti Peduli, sang vokalis, Dinan mengatakan, pesan yang ingin disampaikan bukan hanya dalam lingkup Kalimantan, tapi seluruh Indonesia. Reklamasi di Bali, pembangunan jor-joran hotel di Jogja atas nama pariwisata turut menarik perhatian. Dalam carut-marut seperti itu, justru para pemuda tengah terlena dalam buaian teknologi. Padahal, alam mereka tengah dicuri.
“Mereka jauh lebih sibuk memikirkan eksistensi. Sibuk selfie-selfie, sebenarnya teknologi yang mereka pegang, bisa digunakan demi menyelamatkan alam. Meski sekadar meneruskan kampaye pergerakan,” urainya.

Lagu tersebut mengkritik para pemuda yang pura-pura peduli dengan isu alam dan lingkungan yang terjadi selama ini. Meski, pura-pura peduli mereka anggap jauh lebih baik ketimbang tidak peduli sama sekali. Sebab, ada banyak perubahan yang berawal dari ikut-ikutan.

Februari 2015 nanti, rencanya, Las! akan merilis album berbarengan dengan film dokumenter Life On The Road yang dijadikan dalam satu paket. Bisa jadi, mereka adalah band pertama di Pontianak yang melakukannya. Ditambahkan Kajol, yang juga memegang gitar, lewat karya mereka, diharapkan pemuda Kalbar lebih peka dengan isu lingkungan tempat tinggalnya.

Perubahan sekecil apa pun, bila dilakukan secara berkelanjutan, akan menghasilkan sesuatu yang besar. Sebagaimana mimpi bermusik mereka yang juga dijadikan alat perubahan. Dan bagi Las!, musik yang mengedukasi, adalah sukses dengan cara yang seksi. (kristiawan balasa)


Dimuat untuk koran Suara Pemred edisi Sabtu, 28 November 2015.

0 komentar:

Posting Komentar