dokumen Las!
Rumah kami bukan kayu bakar kalian
Rumah kami bukan ladang uang kalian
Rumah kami bukan tempat buangan kotoran kalian
Kali ini saatnya kami mengambil kembali rumah kami
Kali ini saatnya kami pulang
Begitulah potongan lirik BorneoIs Calling dari Las!, band yang tengah ramai diperbincangkan anak muda
Pontianak saat ini. Lagu yang menurut Bob (26), ia ciptakan sebagai ungkapan
rindunya terhadap tanah Borneo, yang selama enam tahun ia tinggal hijrah ke
Jakarta. Semua berawal dari sebuah perjalanan menuju Kapuas Hulu, medio Agustus
2015 lalu. Life On The Road, begitu
nama petualangan yang mereka—personil Las!—sematkan dan jadikan film dokumenter
itu.
"Di Borneo Is
Calling adalah seruan untuk Wild
Bornean (sebutan penggemar Las!), yang besar dan tumbuh di tanah ini, untuk
kembali melihat, dan tidak menutup mata terhadap apa yang tengah terjadi
sekarang,” harapnya.
Dalam Life On The Road itulah, cikal bakal Las! hadir. Bob, Dinan (26), Kajol (26) dan Diaz (23), yang
tergabung dalam band, bersama dua rekan lain menuju Kapuas Hulu, tanpa
ekspestasi apa pun. Berkendara mini van, mereka hanya ingin sekadar tualang
untuk melihat dan membungkus akar rumput Kalimantan Barat dalam sebuah movement yang menarik.
Diyakini Diaz dan Bob, lewat dokumenter itu, mereka ingin
mengabadikan keindahan dan kehilangan yang berlangsung di tanah Khatulistiwa.
Terutama, deforestasi yang tak kenal batas. Kemilau Taman Nasional Danau
Sentarum membikin mereka membatin. Sebab, sepanjang perjalanan, melewati Sanggau,
Sintang dan Landak, hutan sawit lekat dalam pandangan.
“Sangat disayangkan para pemuda menutup mata, padahal tanah
ini tengah dirampok, dipecah-pecah tanpa kita sadari. Seruan dalam Borneo Is Calling adalah seruan untuk
membuka mata, dan mencintai ulang tanah ini,” sebut Bob, sang gitaris.
Setelah menyelesaikan Life
On The Road kurang lebih satu bulan, 14 September 2015 mereka kembali di
Pontianak. Diaz dan Kajol, mantan personil Lost At Sea yang telah bubar,
agaknya tak tahan untuk kembali ke dunianya, Las! pun ditasbihkan menjadi
pelabuhan bermusik mereka. Karena saat itu masih meraba-raba siapa yang akan
menjadi vokalis, akhirnya Momo, vokalis Kapten Jack diminta untuk
berkolaborasi.
“Waktu itu masih mencari-cari apakah Dinan atau siapa yang
akan jadi vokalis. Akhirnya, ajak Momo untuk berkolaborasi dalam showcase, di Cofee Stelsel. Ternyata sukses,
kita merasa ini loh, formasi yang tepat setelah Lost At Sea bubar,” ungkap
Diaz.
Musik alternatif yang mereka bawakan, terasa lebih maskulin,
ketimbang Lost At Sea dulu. Saat showcase,
lagu Borneo Is Calling dan Seperti
Peduli, mereka perkenalkan kepada publik. Sejumlah live version akustik dari dua lagu itu, turut mereka rilis di
Youtube. Anda hanya perlu mencarinya dengan judul lagu disertai Las! di fitur
pencarian. Atau dengan mendatangi channel
Diaz Fadel.
Sambutan hangat mereka terima, hingga kini, setiap video
yang mereka unggah, sudah menembus 3000 viewer.
Hal ini tentu buat mereka bangga. Movement
seksi, sebagaimana niatan mereka, ikhwal kepedulian lingkungan generasi muda,
setidaknya memiliki titik terang.
"Anak muda harus tahu, deforestasi di Kalbar udah luar
biasa. Dan kepentingan para perusahaan kepala sawit ini dilakukan oleh investor
dan penguasa yang sebenarnya kita tahu siapa orangnya,” sesal Diaz, drummer
Las!.
Sementara itu, di lagu Seperti Peduli, sang vokalis, Dinan
mengatakan, pesan yang ingin disampaikan bukan hanya dalam lingkup Kalimantan,
tapi seluruh Indonesia. Reklamasi di Bali, pembangunan jor-joran hotel di Jogja
atas nama pariwisata turut menarik perhatian. Dalam carut-marut seperti itu, justru
para pemuda tengah terlena dalam buaian teknologi. Padahal, alam mereka tengah
dicuri.
“Mereka jauh lebih sibuk memikirkan eksistensi. Sibuk selfie-selfie, sebenarnya teknologi yang
mereka pegang, bisa digunakan demi menyelamatkan alam. Meski sekadar meneruskan
kampaye pergerakan,” urainya.
Lagu tersebut mengkritik para pemuda yang pura-pura peduli
dengan isu alam dan lingkungan yang terjadi selama ini. Meski, pura-pura peduli
mereka anggap jauh lebih baik ketimbang tidak peduli sama sekali. Sebab, ada
banyak perubahan yang berawal dari ikut-ikutan.
Februari 2015 nanti, rencanya, Las! akan merilis album
berbarengan dengan film dokumenter Life
On The Road yang dijadikan dalam satu paket. Bisa jadi, mereka adalah band
pertama di Pontianak yang melakukannya. Ditambahkan Kajol, yang juga memegang
gitar, lewat karya mereka, diharapkan pemuda Kalbar lebih peka dengan isu
lingkungan tempat tinggalnya.
Perubahan sekecil apa pun, bila dilakukan secara
berkelanjutan, akan menghasilkan sesuatu yang besar. Sebagaimana mimpi bermusik
mereka yang juga dijadikan alat perubahan. Dan bagi Las!, musik yang
mengedukasi, adalah sukses dengan cara yang seksi. (kristiawan balasa)
Dimuat untuk koran Suara Pemred edisi Sabtu, 28 November
2015.
0 komentar:
Posting Komentar