Tiga puluh delapan anak dengan pakaian putih hitam, maju dalam beberapa kelompok. Mengepal tinju, membentuk kuda-kuda, memukul angin. Kadang enam-enam, atau empat-empat, mempertontonkan langkah dasar gerakan silat Wekasan Suprih Ngudi Tunggal, di pelataran lapangan latih di Gg. Margodadirejo 1, Pontianak Kota, Sabtu (16/4) malam.
Gerakan mereka kompak. Terlihat begitu terampil dengan power kuat, di antara tabuhan gamelan
rancak. Satu kelompok maju dengan memamerkan langkan dasar 1-4, hingga langkah
ke 18, diselingi tepuk tangan penonton sebagai tanda pergantian langkah.
Tiga orang anak kemudian maju mempertontonkan keterampilan
seni silat Wekasan. Tangan kosong, golok dan toya. Usia mereka rerata lima
belasan. Tabuhan gendang yang mengiringi menjadi ruh irama gerakan. Mula-mula
tangan kosong, gerak kilat dengan intuisi tajam membuat langit Sabtu malam itu
riuh.
Apalagi ketika tampilan golok keluar. Meski hanya tampilan
seni, suara golok yang memotong angin terdengar menyaingi lantunan kawarit
pengiring. Melompat, menerjang, dengan satu golok di tangan. Saat anak dengan
toya bambu keluar, suaranya tak kalah bikin gegar. Menghempas angin memukul
tanah, hingga menimbulkan bunyi ngeri di temaram gelap.
Anak-anak ini merupakan siswa baru Persatuan Pencak Silat
Wekasan Suprih Ngudi Tunggal ranting Sungai Jawi, Pontianak. Mereka baru saja
menamatkan pelatihan langkah dasar yang dimulai sejak Januari 2016 lalu.
Sebagian dari mereka berumur belasan dengan yang termuda masih duduk di kelas
satu sekolah dasar.
Satimin, Ketua Ranting PS. Wekasan Suprih Ngudi Tunggal
Ranting Sungai Jawi mengatakan, ini merupakan kegiatan tahunan. Tanda bahwa
latihan langkah dasar mereka tamatkan. Setelah ini, pemantapan akan dilakukan.
Akan ada yang berfokus pada seni silat, juga untuk mengikuti pertandingan.
Semua tergantung dari minat anak-anak itu sendiri, katanya.
“Ini juga upaya kita melestarikan budaya Pencak Silat
Wekasan Suprih Ngudi Tunggal yang dibawa oleh Mbah Kasan Gendon,” tambahnya.
Kasan Gendon yang dimaksud adalah Kasan Achmad, pemuda asal
Ngambal, Kebumen, Jawa Tengah yang ditugasi Pakubuwono X Kesultanan Surakarta
Hadiningrat ke Borneo Barat (Kalimantan Barat) untuk membantu melawan
pemerintahan Kolonial Belanda awal abad XX. Setibanya di Pontianak, ia segera
berkomunikasi dengan beberapa orang Jawa yang sudah lebih dulu menetap di
Kalbar.
Salah satunya, Pangeran Poerbosoediro atau yang dikenal
dengan Pangeran Suwargi Ndoro Poerbo. Seorang pangeran tanah Jawa yang tengah
menjalani selong (hukum buang) karena
menentang kolaborasi Kasunanan dengan Pemerintah Hindia Belanda. Pangeran
Poerbo inilah yang mengajarkan Kasan Gendon ilmu kebatinan untuk melengkapi
kemampuan bela dirinya.
Ada satu nama lain, yakni Gusti Suprapto Adriani, pemimpin
Kesatuan Laskar Perlawanan Rakyat. Gusti Suprapto Adriani merupakan utusan
Soekarno-Hatta di wilayah Borneo Barat. Selanjutnya, masyarakat Pontianak
mengenal mereka bertiga dengan sebutan Tiga Serangkai.
Pemerintahan Hindia Belanda di Borneo Barat kala itu, turut
bekerja sama dengan kesultanan yang ada. Sehingga, rakyat tetap berada dalam
urusan para sultan. Sekitar 1918, Hindia Belanda lebih memusatkan perhatian
mereka pada bidang ekonomi. Karenanya, di awal kedatangannya hingga 1940n,
Kasan Gendon tidak gegabah melakukan perlawanan terang-terangan. Melainkan,
lewat bawah tanah, dengan pelatihan silat sejak 1918 untuk para orang Jawa dan
etnis lain seperti Melayu, Bugis dan Tionghoa.
Dari situlah nama “Gendon” berasal. Dalam bahasa Jawa,
“gendon” berarti anak. Kemasyuran ilmu kanuragan yang dimiliki dan pengajaran
silat yang dilakukanya membuat warga memanggilnya dengan nama itu. Mengingat ia
berasal dari Jawa. “Anak yang berasal dari Jawa.”
Seiring waktu, kewibawaannya bertambah di masyarakat. Tak hanya
dalam kehidupan sosial, dirinya juga jadi tokoh sentral perlawanan terhadap
penjajah. Pusat pengembangan silatnya berfokus di Desa Jawa Tengah, Kecamatan
Sungai Ambawang, Kampung Arang dan Desa Tebang Kacang, Kecamatan Sungai Raya,
Kubu Raya.
“Makanya tidak heran, hingga saat ini Wekasan terus
berkembang di daerah-daerah mayoritas etnis Jawa. Tidak hanya Pontianak dan
Kubu Raya, bahkan sampai Ketapang,” tambahnya.
Silat berasal dari silaturahmi. Sedangkan “Wekasan Suprih
Ngudi Tunggal” berarti pesan (amanat) agar bersatu. Hal ini sejalan dengan
pembinaan silat dan pergerakan yang dilakukan Kasan Gendon. Perjuangannya
semakin berat saat masa revolusi fisik di Borneo Barat, pacsa kedatangan Jepang
sampai kekalahannya dan pasukan NICA bersama Belanda kembali datang.
Pengeboman yang dilakukan Jepang tahun 1942 di Gertak Putih
Simpang Empat (sekarang sekitar Jalan Gajah Mada, Pontianak) menjadi awal mula
peristiwa Mandor. Di mana para tentara Jepang menghabisi ribuan rakyat Kalbar,
termasuk para cendikia, alim ulama dan tokoh-tokoh penting. Peristiwa itu
memicu sakit hati Kasan Gendon dan kelompoknya.
Keganasan Jepang kala itu, nyatanya mampu diimbangi Kasan
Gendon. Sebagai pembimbing spiritual para pejuan, ia dan para muridnya tak
tertangkap tentara Jepang. Konon, lewat kesaktiannya yang menuliskan doa dengan
kapur sirih pada rumah-rumah para murid, membuat mereka luput dari pandangan
tentara Jepang.
Saat Jepang jatuh usai Hiroshima dan Nagasaki dibombardir
Amerika, giliran tentara Belanda diboncengi NICA yang kembali masuk Borneo
Barat. Teror dari Kasan Gendon dan muridnya semakin gencar. Kala siang mereka
hanyalah petani biasa, di saat malam teror dengan mengoyak bendera Belanda
dilakukan.
Hal itu membuat Belanda merasa terancam, dan ketika 1946
Kasan Gendon bergabung ke Laskar Perlawanan Rakyat pimpinan Gusti Soeprapto
Andiani, dirinya ditangkap dan dipenjarakan bersama pengikutnya. Antara lain
Tilah Wijaya, Achmad Djayadi, Paerun Ditawerjda, Mantawi dan Soeprapto sendiri.
Mereka bebas tahun 1949 atas perintah Bung Karno yang
menginginkan semua tahanan politik dibebaskan. Sebagai gantinya Kasan Gendon
harus memimpin para petani di Ambawang yang wajib memberi hasil panennya pada
Belanda. Hal itu dilakukan dengan patuh sambil tetap mengajar silat.
Nasionalismenya terus ia perjuangkan untuk menyatukan semua
dalam wadah perguruan pencak silat hingga ia wafat pukul 01.00 di Kampung Jawa
Tengah, Sungai Ambawang, Senin, 27 Mei 1968. Atas bantuan Korsubmarsional 604
Pontianak dan Kepolisian Resort 1101 Pontianak, jenazah dibawa ke Pontianak
dengan KM. Malong yang disambut puluhan ribu masyarakat dengan duka cita.
Jenazahnya dikebumikan di TPU Sungai Bangkong, berdampingan
dengan makam Pangeran Poerbosoediro. Atas keberaniannya melawan penjajah, Kasan
Gendon dan muridnya diangkat pemerintah sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan
Republik Indonesia. Hingga kini pun, semangat nasionalisme dan kesatuan Mbah
Kasan Gendon (kini dikenal dengan nama itu) kembali tumbuh dalam diri 38 anak
yang baru saja menamatkan latihan langkah dasar mereka.
Ditulis untuk Suara Pemred edisi Senin, 18 April 2016

....... Ngapusi... Nek pengen sugeh mergawe.. Seng temen
BalasHapus