catatan remeh dan hal liar lain

Rabu, 02 September 2015

Peduli Sosial Cegah Kekerasan Terhadap Anak

09.58 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Dimuat di Harian Suara Pemred, edisi 17 Juni 2015

Saya membaca beritanya melalui media sosial sesaat setelah menamatkan film Gone Girl (2014). Film besutan sutradara David Fincher yang bercerita tentang seorang istri yang membalas dendam atas rasa tidak nyaman yang ia terima dari suaminya—mulai dari diselingkuhi, hingga kekerasan dalam rumah tangga—dengan merekayasa pembunuhan dirinya sendiri. Lewat berbagai trik yang telah dipersiapkan sebelumnya, ia berhasil menipu publik juga pihak berwajib, membuat suaminya sebagai tersangka pembunuhan atas dirinya, hingga perkembangan beritanya terus-menerus diekspos media nasional. Meski pada akhirnya, rencana itu harus berubah seratus delapan puluh derajat karena sang suami, dibantu seorang pengacara terkenal mampu membalikkan keadaan dan meraih simpati publik, dan ia mengubahnya menjadi sebuah kasus penculikan atas dirinya oleh seorang teman lama. Dan, yang terpenting, ia tetap menjadi korban.

Lantas, apa hubungannya dengan kasus Angeline? Menurut saya, rekayasa yang dibangun oleh Amy Dunne—tokoh wanita dalam film Gone Girl, hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh keluarga angkat Angeline. Memang, ada asas praduga tak bersalah, tapi sebagaimana polisi menetapkan Agus—pembantu di keluarga tersebut—sebagai tersangka hanya dari pengakuannya, kicauan terbaru Agus pun mengarah pada hal itu, ia mengaku ditawari uang sebesar Rp. 2 Milyar untuk mengakui melakukan pembunuhan, oleh Margreit C. Magawe, ibu angkat Angeline. Saat ini, banyak pihak yang menyayangkan dan bersimpati pada Angeline, juga menghujat kelakukan pembunuh yang sadis. Tapi, apa itu yang sebenarnya dibutuhkan?

Sebagian dari kita sering teriak menolak lupa, sekaligus menjadi seorang pikun yang tekun. Tentu masih lekat di kepala bagaimana beberapa waktu lalu, lima orang anak ditelantarkan orang tuanya di daerah Cibubur, atau yang jauh terlewat, kasus Arie Hanggara yang bahkan difilmkan pada tahun 1985 silam. Anak-anak dengan masa kecil jauh dari bahagia, di mana seharusnya mereka hidup dalam dunia yang menyenangkan dan penuh canda tawa dan permainan.

Sebagai masyarakat Indonesia yang kaya adat istiadat dan diikat dengan norma-norma, masing-masing kita sudah seharusnya menjadi agen kontrol sosial yang bisa mengurangi bahkan meniadakan pelanggaran norma-norma dalam masyarakat, atau yang disebut John J. Macionis sebagai perilaku penyimpang.

Dari kasus kekerasan terhadap anak, terutama yang menimpa Angeline, kita dapat merujuk teori perilaku menyimpang William I. Thomas dan Florian Znaniecki sebagai penyebabnya. Teori yang dikenal dengan disorganisasi sosial itu berasumsi, perilaku penyimpang terjadi karena dalam masyarakat itu, terdapat organisasi sosial atau tatanan sosial yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Peran kita sebagai tetangga juga kontrol sosial patut dipertanyakan. Mungkin kita bisa menyangkal dengan, kejadian itu terjadi di Denpasar, jauh dari Kalimantan Barat, namun bukan tidak mungkin kejadian itu juga ada di lingkungan kita.

Peduli terhadap lingkungan, bisa menjadi upaya preventif yang ampuh untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak. Dogma pengasuhan anak merupakan hak pribadi orang tua agaknya mesti dikesampingkan bila sudah sampai pada tahap penganiayaan dan penelantaran.


Pepatah lama mengatakan, tetangga adalah keluarga terdekat. Bukankah sebaiknya kita saling lekat dan peduli dalam bermasyarakat? Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan pertanyaan singkat, lantas, di mana kita sekarang?**

Ini merupakan versi asli sebelum masuk meja redaksi. 

0 komentar:

Posting Komentar