catatan remeh dan hal liar lain

Senin, 02 Mei 2016

BEASISWA UANG JAJAN, BANTU SISWA KURANG MAMPU "MAKAN" BANGKU KULIAH

05.13 Posted by Kristiawan Balasa , No comments


Seperti halnya sakit, pendidikan kerap dicap “haram” bagi masyarakat miskin. Mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi harus berpikir matang, tidak sedikit rupiah mesti dikeluarkan. Akibatnya, banyak dari mereka justru busuk, bahkan sebelum mengkal. Alih-alih mengenyam bangku kuliah, rasa takut keburu bikin takluk.

Bukan hanya masalah biaya, cemas tak bisa masuk di universitas yang diharap, melengkapi fenomena. Abdul Jabbar (26), Ketua komunitas BeasiswaUang Jajan berkata, dua hal itu sering ia temui selama empat tahun menggawangi komunitas yang fokus di bidang pendidikan ini. Jumlah saingan yang mencapai ribuan, bikin ciut sebelum juang.

“Selain biaya, siswa-siswa ini takut dan bingung bagaimana masuk kampusnya. Harus bersaing dengan sekian ribu orang. Karenanya tidak cuma motivasi yang kami diberi, tapi juga pembekalan. Seperti bimbel (bimbingan belajar) dan try out SNMPTN,” ujarnya saat berbincang dengan Suara Pemred, Minggu (1/5) pagi.

Empat tahun berdiri, setidaknya sudah ratusan siswa yang mereka bantu jadi mahasiswa. Sebagian besar tak harus membayar karena memperoleh beasiswa. Selain karena nilai baik, juga berkat bekal informasi beasiswa yang kini banyak jumlahnya. Hal yang tidak terjadi saat Jabbar kuliah dulu.
Masuk Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura tahun 2008, ia di hadapkan pada kenyataan “kuliah butuh biaya besar”. 

Akibatnya, ketika menjabat Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untan 2011, banyak rekan mahasiswa yang minta bantuan pada BEM untuk bernegosiasi dengan pihak Untan, agar dapat keringanan membayar uang semester dengan dicicil.

“Saat itu belum ada beasiswa Bidik Misi seperti sekarang. Memang jumlah teman yang minta bantuan tidak banyak, belasan orang. Tapi kalau belasan ini bisa ditanggung temannya, kan lebih baik,” kisahnya.

Dengan alasan itu, dirinya sempat membikin program donasi tiap angkatan. Mengumpulkan uang, membantu rekan seangkatan yang kesulitan membayar biaya kuliah. Tidak seperti sekarang, penerima beasiswa Bidik Misi bisa mencapai 1000 orang seangkatan, dulu hanya ada beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dan Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM) yang penerimanya hitungan jari.

Keadaan kini berbalik. Ada banyak beasiswa yang bisa didapat ketika kuliah. Biaya kuliah memang mahal, namun bisa gratis asal dapat beasiswa. Atas dasar itu, Jabbar berpikir terbalik, yang harus didorong sekarang adalah siswa-siswa kurang mampu agar melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Karenanya kita sekarang menjaring siswa kurang mampu dari Pontianak, Kubu Raya, bahkan juga Sambas dan Ketapang. Memotivasi mereka jangan takut kuliah, kalau memang layak dapat beasiswa, pasti dapat. Kita bantu untuk itu,” lanjutnya.

Siswa-siswa itu kemudian diberi bekal agar melenggang mulus ke bangku kuliah. Walau sebenarnya tak mulus-mulus benar. Calon mahasiswa itu meski tekun belajar penuh sebulan. Mengunyah soal-soal serta menguatkan mental.

Belajar dalam kelompok kecil agar lebih efektif -dokumentasi komunitas

Sebulan jelang tes masuk perguruan tinggi, bimbel komunitas rutin didatangi. Setiap sore kecuali hari Minggu. Kadang, jadwalnya menyesuaikan enam orang pengajar yang sebagian besar mahasiswa. Setiap kali digelar, maksimal diikuti 40 orang. Kelas pun dibagi dalam kelompok dengan jumlah 10 orang, agar belajar mengajar efektif dan intensif.

Kelasnya dilangsungkan di SMA Santun Untan dan Sekretariat Beasiswa Uang Jajan di Komplek Untan. Bagi para siswa yang jauh dari Pontianak, biasanya datang seminggu sebelum tes masuk. Waktu itulah yang dimanfaatkan untuk belajar bersama, tak jarang dengan jumlah berjubel.

“Selain belajar menyelesaikan soal, kita juga membantu mereka jurusan mana yang kiranya sesuai dengan minat dan bakat mereka,” tambah pemuda yang pernah meraih penghargaan Pemuda Pelopor Kalbar bidang Pendidikan tahun 2015 ini.

Latihan soal SNMPTN dan modul belajar mereka dapat dari sejumlah lembaga, salah satunya Salman ITB. Termasuk dalam try out yang digelar beberapa waktu lalu di Auditorium Untan, yang diikuti lebih dari 600 siswa se-Kalbar. Perihal bantuan menentukan jurusan, dikatakan Jabbar, dari komunitas memberi pandangan dan pemahaman tak hanya bakat minat, namun juga kebutuhan daerah asal mereka.

“Walaupun kami tidak jamin seratus persen bisa masuk di universitas ini itu, semua gratis, jadi kita coba maksimalkanlah. Untuk bantuan pemilihan jurusan, kita juga beri pertimbangan keadaan kampung ia berasal. Karena ide kita memang mereka harus bangun daerah,” terangnya.

Siswa yang mengikuti program Beasiswa Uang Jajan, ternyata tak hanya lulus di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Beberapa kuliah UPI Bandung, juga UI Jakarta. Sebagian besar mendapat beasiswa Bidik Misi. Mereka tak perlu bayar uang kuliah. Malah diberi uang saku per bulan sebesar Rp 650 ribu.

Lantas, mengapa namanya Beasiswa Uang Jajan?

Menurut Jabbar yang juga Ketua Pemuda Pelopor Kalbar, beasiswa bukan semata-mata berbentuk uang. Bisa juga pendampingan, seperti program yang dijalankan komunitas yang masuk nominasi Organisasi Pemuda Berprestasi 2015 Kemenpora RI ini.

Hanya saja, program-program yang mereka lakukan memang bersumber dari uang jajan pribadi. Relawan komunitas ini menyisihkan jatah jajan mereka. Kemudian dalam jangka waktu tertentu, uang tersebut digabung bersama untuk membiayai program. Sejumlah donatur juga membantu pembiayaan.

“Dari uang itulah kemudian kita bikin program, makanya kita kasi nama Beasiswa Uang Jajan,” jelasnya.

Selain relawan dan donatur, mahasiswa jebolan program komunitas ini yang mendapat beasiswa, juga menyisihkan uang beasiswanya untuk memberi “beasiswa” pada calon mahasiswa lain. Lingkaran ini makin lama makin besar dan membantu lebih banyak orang.

Kadang, bantuan dalam bentuk uang juga diberikan. Terutama demi membantu mereka yang ingin kuliah, namun sulit biaya pendaftaran tes masuk perguruan tinggi. “Kita biasa bantu untuk bayar pendaftaran, kalau cuma seratus-dua ratus, kita masih bisa bantu. Hanya untuk yang benar-benar tidak mampu. Kalau lebih dari (jumlah) itu, kita belum bisa,” tuturnya sambil tersenyum.


Uang jajan nyatanya tak hanya mengenyangkan diri sendiri, tapi juga banyak orang. Label “haram” kuliah bagi masyarakat kurang mampu terbukti bisa dihapuskan. Sekarang tinggal bagaimana kita menjadi penghapus, atau spidol baru, untuk menuliskan pendidikan “halal” bagi semua orang.

Ditulis untuk feature Hari Pendidikan Nasional Harian Suara Pemred, edisi 2 Mei 2016 

0 komentar:

Posting Komentar