Seperti halnya sakit, pendidikan kerap dicap “haram” bagi
masyarakat miskin. Mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi
harus berpikir matang, tidak sedikit rupiah mesti dikeluarkan. Akibatnya,
banyak dari mereka justru busuk, bahkan sebelum mengkal. Alih-alih mengenyam
bangku kuliah, rasa takut keburu bikin takluk.
Bukan hanya masalah biaya, cemas tak bisa masuk di universitas
yang diharap, melengkapi fenomena. Abdul Jabbar (26), Ketua komunitas BeasiswaUang Jajan berkata, dua hal itu sering ia temui selama empat tahun menggawangi
komunitas yang fokus di bidang pendidikan ini. Jumlah saingan yang mencapai
ribuan, bikin ciut sebelum juang.
“Selain biaya, siswa-siswa ini takut dan bingung bagaimana
masuk kampusnya. Harus bersaing dengan sekian ribu orang. Karenanya tidak cuma
motivasi yang kami diberi, tapi juga pembekalan. Seperti bimbel (bimbingan
belajar) dan try out SNMPTN,” ujarnya
saat berbincang dengan Suara Pemred, Minggu
(1/5) pagi.
Empat tahun berdiri, setidaknya sudah ratusan siswa yang
mereka bantu jadi mahasiswa. Sebagian besar tak harus membayar karena
memperoleh beasiswa. Selain karena nilai baik, juga berkat bekal informasi
beasiswa yang kini banyak jumlahnya. Hal yang tidak terjadi saat Jabbar kuliah
dulu.
Masuk Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura tahun 2008, ia
di hadapkan pada kenyataan “kuliah butuh biaya besar”.
Akibatnya, ketika
menjabat Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untan 2011, banyak rekan
mahasiswa yang minta bantuan pada BEM untuk bernegosiasi dengan pihak Untan,
agar dapat keringanan membayar uang semester dengan dicicil.
“Saat itu belum ada beasiswa Bidik Misi seperti sekarang.
Memang jumlah teman yang minta bantuan tidak banyak, belasan orang. Tapi kalau
belasan ini bisa ditanggung temannya, kan lebih baik,” kisahnya.
Dengan alasan itu, dirinya sempat membikin program donasi
tiap angkatan. Mengumpulkan uang, membantu rekan seangkatan yang kesulitan
membayar biaya kuliah. Tidak seperti sekarang, penerima beasiswa Bidik Misi
bisa mencapai 1000 orang seangkatan, dulu hanya ada beasiswa Peningkatan
Prestasi Akademik (PPA) dan Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM) yang penerimanya
hitungan jari.
Keadaan kini berbalik. Ada banyak beasiswa yang bisa didapat
ketika kuliah. Biaya kuliah memang mahal, namun bisa gratis asal dapat
beasiswa. Atas dasar itu, Jabbar berpikir terbalik, yang harus didorong
sekarang adalah siswa-siswa kurang mampu agar melanjutkan pendidikan ke
perguruan tinggi.
“Karenanya kita sekarang menjaring siswa kurang mampu dari
Pontianak, Kubu Raya, bahkan juga Sambas dan Ketapang. Memotivasi mereka jangan
takut kuliah, kalau memang layak dapat beasiswa, pasti dapat. Kita bantu untuk
itu,” lanjutnya.
Siswa-siswa itu kemudian diberi bekal agar melenggang mulus
ke bangku kuliah. Walau sebenarnya tak mulus-mulus benar. Calon mahasiswa itu
meski tekun belajar penuh sebulan. Mengunyah soal-soal serta menguatkan mental.
Belajar dalam kelompok kecil agar lebih efektif -dokumentasi komunitas
Sebulan jelang tes masuk perguruan tinggi, bimbel komunitas
rutin didatangi. Setiap sore kecuali hari Minggu. Kadang, jadwalnya
menyesuaikan enam orang pengajar yang sebagian besar mahasiswa. Setiap kali
digelar, maksimal diikuti 40 orang. Kelas pun dibagi dalam kelompok dengan
jumlah 10 orang, agar belajar mengajar efektif dan intensif.
Kelasnya dilangsungkan di SMA Santun Untan dan Sekretariat
Beasiswa Uang Jajan di Komplek Untan. Bagi para siswa yang jauh dari Pontianak,
biasanya datang seminggu sebelum tes masuk. Waktu itulah yang dimanfaatkan
untuk belajar bersama, tak jarang dengan jumlah berjubel.
“Selain belajar menyelesaikan soal, kita juga membantu
mereka jurusan mana yang kiranya sesuai dengan minat dan bakat mereka,” tambah
pemuda yang pernah meraih penghargaan Pemuda Pelopor Kalbar bidang Pendidikan
tahun 2015 ini.
Latihan soal SNMPTN dan modul belajar mereka dapat dari
sejumlah lembaga, salah satunya Salman ITB. Termasuk dalam try out yang digelar beberapa waktu lalu di Auditorium Untan, yang
diikuti lebih dari 600 siswa se-Kalbar. Perihal bantuan menentukan jurusan,
dikatakan Jabbar, dari komunitas memberi pandangan dan pemahaman tak hanya
bakat minat, namun juga kebutuhan daerah asal mereka.
“Walaupun kami tidak jamin seratus persen bisa masuk di
universitas ini itu, semua gratis, jadi kita coba maksimalkanlah. Untuk bantuan
pemilihan jurusan, kita juga beri pertimbangan keadaan kampung ia berasal.
Karena ide kita memang mereka harus bangun daerah,” terangnya.
Siswa yang mengikuti program Beasiswa Uang Jajan, ternyata
tak hanya lulus di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Beberapa kuliah UPI
Bandung, juga UI Jakarta. Sebagian besar mendapat beasiswa Bidik Misi. Mereka tak
perlu bayar uang kuliah. Malah diberi uang saku per bulan sebesar Rp 650 ribu.
Lantas, mengapa namanya Beasiswa Uang Jajan?
Menurut Jabbar yang juga Ketua Pemuda Pelopor Kalbar,
beasiswa bukan semata-mata berbentuk uang. Bisa juga pendampingan, seperti
program yang dijalankan komunitas yang masuk nominasi Organisasi Pemuda
Berprestasi 2015 Kemenpora RI ini.
Hanya saja, program-program yang mereka lakukan memang
bersumber dari uang jajan pribadi. Relawan komunitas ini menyisihkan jatah
jajan mereka. Kemudian dalam jangka waktu tertentu, uang tersebut digabung
bersama untuk membiayai program. Sejumlah donatur juga membantu pembiayaan.
“Dari uang itulah kemudian kita bikin program, makanya kita
kasi nama Beasiswa Uang Jajan,” jelasnya.
Selain relawan dan donatur, mahasiswa jebolan program
komunitas ini yang mendapat beasiswa, juga menyisihkan uang beasiswanya untuk
memberi “beasiswa” pada calon mahasiswa lain. Lingkaran ini makin lama makin
besar dan membantu lebih banyak orang.
Kadang, bantuan dalam bentuk uang juga diberikan. Terutama
demi membantu mereka yang ingin kuliah, namun sulit biaya pendaftaran tes masuk
perguruan tinggi. “Kita biasa bantu untuk bayar pendaftaran, kalau cuma seratus-dua
ratus, kita masih bisa bantu. Hanya untuk yang benar-benar tidak mampu. Kalau
lebih dari (jumlah) itu, kita belum bisa,” tuturnya sambil tersenyum.
Uang jajan nyatanya tak hanya mengenyangkan diri sendiri,
tapi juga banyak orang. Label “haram” kuliah bagi masyarakat kurang mampu
terbukti bisa dihapuskan. Sekarang tinggal bagaimana kita menjadi penghapus,
atau spidol baru, untuk menuliskan pendidikan “halal” bagi semua orang.


0 komentar:
Posting Komentar