catatan remeh dan hal liar lain

Minggu, 03 April 2016

MEREKA ISTIMEWA, SAMA SEPERTI KAMU

04.35 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Arief tengah mengabadikan peserta peringatan Hari Autis Sedunia di Tugu Digulist, Pontianak 

Arief Dwicahyo Herdhiutomo (22) tampak asyik dengan kameranya. Berpindah dari satu fokus ke fokus lain. Badannya sedikit menunduk ketika mengabadikan momen talkshow Peringatan Hari Autis Sedunia di Bundaran Tugu Digulist, Sabtu (2/4) sore. Sesekali, ia berbincang dengan orang yang ditemui.

Perawakannya biasa saja. Tinggi berisi dengan potongan rambut cepak. Anak kedua pasangan Rusmaty Atmo dan Sri Heryanti itu tak terlihat seperti anak berkebutuhan khusus. Apalagi sore itu, Arief mengenakan kaus berwarna biru, seperti halnya puluhan, bahkan mungkin ratusan orang yang sengaja membirukan bundaran.

Kamera yang dikalungkan di lehernya, seakan tak punya waktu istirahat. Usai memfoto satu objek, Arief akan mencari objek lain. Atau setelah mengobrol dengan seseorang, ia tak lupa mengabadikannya dengan DLSR hitam di tangan.

Empat tahun sudah Arief menggeluti dunia photografi. Ia hanya senang mengabadikan. Ketika diminta menjelaskan cara mengambil gambar yang baik, dengan gembira ia menjelaskan. Hampir semua fungsi tombol dan fitur kamera dimengerti. Semua dipelajarinya sendiri.

Mungkin masih ada yang berpikir anak-anak berkebutuhan khusus, sebagai seseorang yang perlu dikasihani. Tidak mandiri dan sulit diberi tanggung jawab. Kenyataanya tidak demikian. Arief saat ini bekerja sebagai staf Tata Usaha salah satu Sekolah Luar Biasa di Pontianak. Ia memang sempat kesulitan, tapi waktu membuat semua jadi lebih mudah.

“Awalnya susah, setelah setahun kerja di sana jadi mudah,” ujarnya terbata.

Komunikasi memang jadi kesulitan bagi Arief. Ibunya, Sri Heryanti bercerita, kadang ia kesulitan untuk menjelaskan suatu hal pada Arief. Terutama sesuatu yang berkaitan dengan nilai. Misalnya perihal “murah” dan “mahal” dengan rentetan angka dalam rupiah.

Tak jarang Sri kewalahan meladeni pertanyaan-pertayaan dari Arief, tapi ia tetap melayani semua tanya itu dengan senyum. Semua demi perkembangan anaknya. Memang, tak jarang persepsi masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus cukup menggangu. Tidak semua orang mengerti seperti apa mereka dan apa yang mereka butuhkan.

Dikatakan Sri, tak jarang emosi anaknya meledak-ledak. Tentu hal itu membuatnya kuatir. Ditambah, bukan seorang saja anaknya yang berkebutuhan khusus. Arief memiliki saudara kembar. Pandu Dwicahyo Herdhiutomo, yang lahir lima menit lebih dulu dari Arief.

“Kalau tiba-tiba marah, dirangkul pelan-pelan, ditenangkan,” kata Sri.

Mungkin cinta memang obat segala. Hal itu terbukti ampuh untuk menenangkan dua jagoannya. Emosi yang meledak-ledak itu, bukannya tanpa penyebab. Makanan yang mengandung MSG (Monosodium Glutamat) disebut Sri, jadi salah satu penyebab. Karenanya, ia begitu selektif mengurusi makan anak-anaknya itu.

Sebagaimana Arief, Pandu pun mengalami masalah dengan komunikasi verbalnya. Nalar mereka berdua berbeda dari orang kebanyakan. Hal itu jadi kelebihan Pandu. Ia mampu berpikir cara-cara praktis dalam menyelesaikan sesuatu. Salah satunya, dalam merakit komputer. Pandu dapat menyetel kembali rangkaian komputer yang dibongkar, jauh lebih cepat dari penyedia jasa service di toko-toko elektronik.

“Kalau Abangnya (Pandu) suka dengan IT. Dia belajar sendiri, otodidak. Sekarang sedang magang,” jelas Sri.

Perawakan Pandu sedikit berbeda dengan Arief. Rambutnya sedikit lebih panjang, dan membelah ke arah kiri. Tubuhnya lebih kurus, dengan headset yang tak pernah lepas menyumpal telinga. Ia tak terlihat canggung berada di antara orang-orang yang hadir di sana dan tampak bisa membaur dengan mudah.

Arief dan Pandu memang sudah bisa bersosialisasi dengan baik. Tapi sebagai seorang ibu, Sri Heryanti masih merasa takut untuk melepas mereka seorang diri. Padahal, kedua anaknya bahkan sudah bisa berkendara sendiri. Namun, tetap saja khawatir membayangi Sri, di belakang langkah dua anak dari tiga bersaudara itu.

“Kalau bapaknya malah biasa saja, ndak apa dilepas. Saya sendiri masih takut. Mungkin karena rasa keibuan ya,” ujarnya sambil tersenyum.

Selain bersama dua anak kembarnya, sore itu Sri Heryanti juga membawa serta anak bungsunya. Mereka sengaja datang beramai-ramai untuk memperingati Hari Autis Sedunia. Mengabarkan pada masyarakat bahwa mereka ada. Tak ada alasan bagi para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus menutup diri.

Mengusung tema “Lihatlah Aku, Inilah Duniaku”, acara yang digagas Forum Relawan Bahagia dan UPTD Autis Center Pontianak itu menggelar banyak acara. Tak hanya talkshow, lomba lukis anak berkebutuhan khusus dan kampanye Autism is Awesome membuat Hari Peringatan Autis yang baru pertama kali digelar itu menarik perhatian publik.

Ismi Ardini, Kepala UPTD Autis Center Pontianak mengatakan, selain untuk mengajak masyarakat peduli terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, acara ini juga sebagai promosi bahwa di Pontianak, ada UPTD Autis Center.

Para orang tua anak berkebutuhan khusus tak perlu bingung. UPTD Autis Center menyediakan berbagai macam informasi, juga layanan terapi, screening, konsultasi dan masih banyak lagi untuk membantu para orang tua. Selain itu, mereka juga tak harus merasa sendiri, ada Parents Scot Grup Anak Autis Pontianak, sebagai wadah para orang tua dengan anak berkebutuhan khusus.

“Alat di kami lengkap. Tak perlu kuatir. Semakin cepat diterapi, semakin cepat pula anak bersosialisasi,” kata Ismi.


Para orang tua tinggal datang ke UPTD Autis Center di Jalan Tabrani Ahmad, Pontianak Barat. Dengan terbukanya para orang tua, lebih mudah pula mendata berapa jumlah pasti anak berkebutuhan khusus di Pontianak, sehingga lebih mudah untuk membuat program-program ke depan.

Ditulis untuk Suara Pemred, edisi Minggu, 2 April 2016

0 komentar:

Posting Komentar