Arief tengah mengabadikan peserta peringatan Hari Autis Sedunia di Tugu Digulist, Pontianak
Arief Dwicahyo Herdhiutomo (22) tampak asyik dengan
kameranya. Berpindah dari satu fokus ke fokus lain. Badannya sedikit menunduk
ketika mengabadikan momen talkshow
Peringatan Hari Autis Sedunia di Bundaran Tugu Digulist, Sabtu (2/4) sore.
Sesekali, ia berbincang dengan orang yang ditemui.
Perawakannya biasa saja. Tinggi berisi dengan potongan
rambut cepak. Anak kedua pasangan Rusmaty Atmo dan Sri Heryanti itu tak terlihat
seperti anak berkebutuhan khusus. Apalagi sore itu, Arief mengenakan kaus
berwarna biru, seperti halnya puluhan, bahkan mungkin ratusan orang yang
sengaja membirukan bundaran.
Kamera yang dikalungkan di lehernya, seakan tak punya waktu
istirahat. Usai memfoto satu objek, Arief akan mencari objek lain. Atau setelah
mengobrol dengan seseorang, ia tak lupa mengabadikannya dengan DLSR hitam di
tangan.
Empat tahun sudah Arief menggeluti dunia photografi. Ia
hanya senang mengabadikan. Ketika diminta menjelaskan cara mengambil gambar
yang baik, dengan gembira ia menjelaskan. Hampir semua fungsi tombol dan fitur
kamera dimengerti. Semua dipelajarinya sendiri.
Mungkin masih ada yang berpikir anak-anak berkebutuhan
khusus, sebagai seseorang yang perlu dikasihani. Tidak mandiri dan sulit diberi
tanggung jawab. Kenyataanya tidak demikian. Arief saat ini bekerja sebagai staf
Tata Usaha salah satu Sekolah Luar Biasa di Pontianak. Ia memang sempat
kesulitan, tapi waktu membuat semua jadi lebih mudah.
“Awalnya susah, setelah setahun kerja di sana jadi mudah,”
ujarnya terbata.
Komunikasi memang jadi kesulitan bagi Arief. Ibunya, Sri
Heryanti bercerita, kadang ia kesulitan untuk menjelaskan suatu hal pada Arief.
Terutama sesuatu yang berkaitan dengan nilai. Misalnya perihal “murah” dan
“mahal” dengan rentetan angka dalam rupiah.
Tak jarang Sri kewalahan meladeni pertanyaan-pertayaan dari
Arief, tapi ia tetap melayani semua tanya itu dengan senyum. Semua demi
perkembangan anaknya. Memang, tak jarang persepsi masyarakat terhadap anak
berkebutuhan khusus cukup menggangu. Tidak semua orang mengerti seperti apa
mereka dan apa yang mereka butuhkan.
Dikatakan Sri, tak jarang emosi anaknya meledak-ledak. Tentu
hal itu membuatnya kuatir. Ditambah, bukan seorang saja anaknya yang
berkebutuhan khusus. Arief memiliki saudara kembar. Pandu Dwicahyo Herdhiutomo,
yang lahir lima menit lebih dulu dari Arief.
“Kalau tiba-tiba marah, dirangkul pelan-pelan, ditenangkan,”
kata Sri.
Mungkin cinta memang obat segala. Hal itu terbukti ampuh untuk
menenangkan dua jagoannya. Emosi yang meledak-ledak itu, bukannya tanpa
penyebab. Makanan yang mengandung MSG (Monosodium Glutamat) disebut Sri, jadi
salah satu penyebab. Karenanya, ia begitu selektif mengurusi makan anak-anaknya
itu.
Sebagaimana Arief, Pandu pun mengalami masalah dengan
komunikasi verbalnya. Nalar mereka berdua berbeda dari orang kebanyakan. Hal
itu jadi kelebihan Pandu. Ia mampu berpikir cara-cara praktis dalam
menyelesaikan sesuatu. Salah satunya, dalam merakit komputer. Pandu dapat menyetel
kembali rangkaian komputer yang dibongkar, jauh lebih cepat dari penyedia jasa
service di toko-toko elektronik.
“Kalau Abangnya (Pandu) suka dengan IT. Dia belajar sendiri,
otodidak. Sekarang sedang magang,” jelas Sri.
Perawakan Pandu sedikit berbeda dengan Arief. Rambutnya
sedikit lebih panjang, dan membelah ke arah kiri. Tubuhnya lebih kurus, dengan headset yang tak pernah lepas menyumpal
telinga. Ia tak terlihat canggung berada di antara orang-orang yang hadir di
sana dan tampak bisa membaur dengan mudah.
Arief dan Pandu memang sudah bisa bersosialisasi dengan
baik. Tapi sebagai seorang ibu, Sri Heryanti masih merasa takut untuk melepas
mereka seorang diri. Padahal, kedua anaknya bahkan sudah bisa berkendara
sendiri. Namun, tetap saja khawatir membayangi Sri, di belakang langkah dua
anak dari tiga bersaudara itu.
“Kalau bapaknya malah biasa saja, ndak apa dilepas. Saya
sendiri masih takut. Mungkin karena rasa keibuan ya,” ujarnya sambil tersenyum.
Selain bersama dua anak kembarnya, sore itu Sri Heryanti
juga membawa serta anak bungsunya. Mereka sengaja datang beramai-ramai untuk
memperingati Hari Autis Sedunia. Mengabarkan pada masyarakat bahwa mereka ada.
Tak ada alasan bagi para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus
menutup diri.
Mengusung tema “Lihatlah Aku, Inilah Duniaku”, acara yang
digagas Forum Relawan Bahagia dan UPTD Autis Center Pontianak itu menggelar
banyak acara. Tak hanya talkshow, lomba lukis anak berkebutuhan khusus dan
kampanye Autism is Awesome membuat
Hari Peringatan Autis yang baru pertama kali digelar itu menarik perhatian
publik.
Ismi Ardini, Kepala UPTD Autis Center Pontianak mengatakan,
selain untuk mengajak masyarakat peduli terhadap anak-anak berkebutuhan khusus,
acara ini juga sebagai promosi bahwa di Pontianak, ada UPTD Autis Center.
Para orang tua anak berkebutuhan khusus tak perlu bingung.
UPTD Autis Center menyediakan berbagai macam informasi, juga layanan terapi,
screening, konsultasi dan masih banyak lagi untuk membantu para orang tua.
Selain itu, mereka juga tak harus merasa sendiri, ada Parents Scot Grup Anak
Autis Pontianak, sebagai wadah para orang tua dengan anak berkebutuhan khusus.
“Alat di kami lengkap. Tak perlu kuatir. Semakin cepat
diterapi, semakin cepat pula anak bersosialisasi,” kata Ismi.
Para orang tua tinggal datang ke UPTD Autis Center di Jalan
Tabrani Ahmad, Pontianak Barat. Dengan terbukanya para orang tua, lebih mudah
pula mendata berapa jumlah pasti anak berkebutuhan khusus di Pontianak,
sehingga lebih mudah untuk membuat program-program ke depan.
Ditulis untuk Suara Pemred, edisi Minggu, 2 April 2016

0 komentar:
Posting Komentar