catatan remeh dan hal liar lain

Selasa, 16 Februari 2016

Sahabat Hutan, dan Sepenggal Kisah

00.26 Posted by Kristiawan Balasa , 2 comments
 Bincang-bincang antara awak media dan Syarifudin (baju biru muda di tengah) bersama rekan Sahabat Hutan lain di Pantai Pulau Datok, Kayong Utara.


“Perambah hutan, kalau mau ambil chainsaw di rumah saya, Syarifudin.”

Kalimat itu terukir di batang pohon mentawak. Bertinta oli lumer, yang merusak cerah daging kayu yang baru ditebang. Tidak perlu heran dengan kalimat yang begitu panjang. Lebar batang pohon itu saja lebih dari 40 cm. Terbaring kaku sepanjang 16 meter.

Syarifudin (26) menemukannya ketika petang menjelang. Sore itu, ia mendengar bising chainsaw (alat penebang kayu) dari arah Taman Nasional Gunung Palung, tak jauh dari sawahnya. Padahal, sudah cukup lama ia tak mendengar lengkingan serupa. Suara yang dulunya akrab, kini asing.

Ia menyayangkan pohon mentawak yang gagah, sekarang tumbang. Padahal, buah pohon salah satu tanaman keras hutan yang punya nilai jual mahal. Harga sebuahnya, lebih mahal dari durian. Sayangnya, bagi penebang itu, harga batang pohon mentawak, jauh lebih menggiurkan.

Kebiasaan para perambah hutan, selalu meninggalkan chainsaw mereka, tak jauh dari pohon yang ditebang. Itu dilakukan agar tidak merepotkan. Sebab, menebang pohon dan menyelesaikannya sesuai pesanan, kadang butuh lebih dari sehari. Syarifudin pun mengambil langkah cepat. Warga Dusun Mentubang, Desa Harapan Jaya, Kabupaten Kayong Utara itu segera mengamankannya.

Dibawanya pulang, dan disimpan di gubuk tengah sawah miliknya. Sebelumnya, bagian chainsaw itu ia perotoli. Rantai, mesin, dan beberapa bagian lain disimpan di tempat berbeda. Ia pun menuju rumah dengan rasa penuh tanya. Siapa gerangan perambah hutan yang kembali melancarkan aksi di dusunnya?

Sialnya, tak ada seorang pun datang ke rumahnya hingga pagi tiba. Kesehariannya sebagai petani dijalani seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang membuatnya terkejut. Begitu sampai di gubuk, chainsaw itu raib. Hilang seperti gaib.

“Padahal sengaja saya ambil biar tahu siapa orangnya. Eh, malah dicuri duluan. Setelah cari-cari info, katanya kayu itu mau dipakai untuk bikin sampan. Bukan orang dusun kami. Sampai sekarang, masih di sana, tidak ada yang ambil,” ceritanya pada Suara Pemred, saat berbincang di Pantai Pulau Datuk, Sukadana, Kayong Utara, Rabu (27/1).

Syarifudin berkisah, itu hal nekad pertama yang dilakukannya di tahun pertamanya menjadi Sahut (Sahabat Hutan). Ia yang sudah dua tahun menjadi bagian dari progam Yayasan Alam Sehat Lestari (Asri) itu, biasanya hanya sekadar sosialisasi dan mengumpulkan informasi terkait kelestarian hutan.
Tugasnya memang terdengar sederhana. Semua beres dikerjakan satu jam dalam sehari. Namun, hasil kerjanya berdampak besar pada kehidupan semua makhluk di Gunung Palung. Informasi aktivitas merusak hutan, dimiliki.

Selain untuk kepentingan Asri dalam pengelolaan beberapa program yang dijalankan, seperti afiliasi kelestarian hutan dengan pelayanan kesehatan, informasi  itu juga digunakan para polisi hutan.

“Tugas Sahut ada pada konservasi dan jembatan informasi antara Asri dengan masyarakat. Jumlahnya saat ini ada 33 orang. Setiap bulan, mereka harus memberikan laporan ke koordinator,” ungkap Hendriyadi, koordinator Sahut.

Hampir semua dusun yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung, memiliki Sahut. Mengubah paradigma masyarakat, yang menggantungkan hidup dari hasil membalak, juga jadi tugasnya. Para pembalak liar diajak beralih profesi sebagai petani. Kelompok tani berkelanjutan pun dibentuk. Bahkan, beberapa kelompok sudah diberangkatkan ke Yogjakarta untuk belajar langsung di sana.

Syarifudin mengatakan, mengubah pola pikir masyarakat bukan perkara gampang. Mereka selalu saja berorientasi pada uang. Waktu dua jam belajar bertani, dianggap buang rupiah yang bisa didapatkan dengan mudah; menebang hutan. Tapi kini, ketangguhannya berbuah manis. Dari enam orang pembalak liar di awal ia terjun menjadi Sahut, sekarang tinggal seorang.

“Waktu awal ikut gabung Sahut, saya melihatnya unik dan asik. Juga bisa memberi manfaat untuk orang lain. Dapat ilmu. Sebenarnya, masyarakat diam itu bukan tidak peduli, mereka cuma tidak ada yang membangkitkan,” kata Syarifudin.

Keberadaan Sahut di tiap dusun memberi rasa malu bagi para pembalak untuk beraksi. Mereka sering masuk hutan saat gelap datang. Dan pulang sebelum penduduk desa bangun. Sejak 2009 jumlahnya menurun drastis. Kebanyakan yang tersisa kini, hanya bekerja jika ada pesanan atau kebutuhan pribadi.

Dalam bertugas, para Sahut disarankan menghindari selisih paham. Alasannya, agar lebih mudah dan dekat dengan masyarakat. Advokasi hukum tidak dibebankan pada mereka. 

Penurunan pembalak sendiri disebut Hendriyadi, turut disebabkan semakin ketatnya kebijakan pemerintah. Dan adanya peningkatan ekonomi dari sektor lain. Terlebih sejumlah lembaga swadaya masyarakat berperan aktif. Pun, keberadaan kayu untuk mereka rambah, makin jauh di dalam hutan.

“Di bawah tahun 2009, kayu belian, bengkirai, ramin, banyak diekspor ke Malaysia. Tapi kelamaan pembalak sadar, harga jual dari mereka, kalah jauh ketika sampai di cukong. Mereka merasa rugi,” timpal Hendriyadi.

Saat ini, ada 76 dusun dari 14 desa yang bekerjasama dengan Asri. Sebagian memang tak memiliki Sahut karena tidak berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung. Namun, aktivitas pembalakan di sana menurun dari tahun ke tahun. Hal itu agaknya jadi bukti. Seseorang hanya harus berani memulai. Sebab butuh sepercik api, untuk membakar kampung. Sisanya, biarkan angin yang menunaikan tugas.


ditulis untuk harian Suara Pemred, edisi 5 Februari 2016

2 komentar:

  1. Balasan
    1. SAYA MAS JOKO WIDODO DI SURABAYA.
      DEMI ALLAH INI CERITA YANG BENAR BENAR TERJADI(ASLI)BUKAN REKAYASA!!!
      HANYA DENGAN MENPROMOSIKAN WETSITE KIYAI KANJENG DIMAS DI INTERNET SAYA BARU MERASA LEGAH KARNA BERKAT BANTUAN BELIU HUTANG PIUTAN SAYA YANG RATUSAN JUTA SUDAH LUNAS SEMUA PADAHAL DULUHNYA SAYA SUDAH KE TIPU 5 KALI OLEH DUKUN YANG TIDAK BERTANGUNG JAWAB HUTANG SAYA DI MANA MANA KARNA HARUS MENBAYAR MAHAR YANG TIADA HENTINGNYA YANG INILAH YANG ITULAH'TAPI AKU TIDAK PUTUS ASA DALAM HATI KECILKU TIDAK MUNKIN SEMUA DUKUN DI INTERNET PALSU AHIRNYA KU TEMUKAN NOMOR KIYAI KANJENG DI INTERNET AKU MENDAFTAR JADI SANTRI DENGAN MENBAYAR SHAKAT YANG DI MINTA ALHASIL CUMA DENGAN WAKTU 2 HARI SAJA AKU SUDAH MENDAPATKAN APA YANG KU HARAPKAN SERIUS INI KISAH NYATA DARI SAYA.....

      …TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA AKI KANJENG…

      **** BELIAU MELAYANI SEPERTI: ***
      1.PESUGIHAN INSTANT 10 MILYAR
      2.UANG KEMBALI PECAHAN 100rb DAN 50rb
      3.JUAL TUYUL MEMEK / JUAL MUSUH
      4.ANGKA TOGEL GHOIB.DLL..

      …=>AKI KANJENG<=…
      >>>085-320-279-333<<<






      SAYA MAS JOKO WIDODO DI SURABAYA.
      DEMI ALLAH INI CERITA YANG BENAR BENAR TERJADI(ASLI)BUKAN REKAYASA!!!
      HANYA DENGAN MENPROMOSIKAN WETSITE KIYAI KANJENG DIMAS DI INTERNET SAYA BARU MERASA LEGAH KARNA BERKAT BANTUAN BELIU HUTANG PIUTAN SAYA YANG RATUSAN JUTA SUDAH LUNAS SEMUA PADAHAL DULUHNYA SAYA SUDAH KE TIPU 5 KALI OLEH DUKUN YANG TIDAK BERTANGUNG JAWAB HUTANG SAYA DI MANA MANA KARNA HARUS MENBAYAR MAHAR YANG TIADA HENTINGNYA YANG INILAH YANG ITULAH'TAPI AKU TIDAK PUTUS ASA DALAM HATI KECILKU TIDAK MUNKIN SEMUA DUKUN DI INTERNET PALSU AHIRNYA KU TEMUKAN NOMOR KIYAI KANJENG DI INTERNET AKU MENDAFTAR JADI SANTRI DENGAN MENBAYAR SHAKAT YANG DI MINTA ALHASIL CUMA DENGAN WAKTU 2 HARI SAJA AKU SUDAH MENDAPATKAN APA YANG KU HARAPKAN SERIUS INI KISAH NYATA DARI SAYA.....

      …TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA AKI KANJENG…

      **** BELIAU MELAYANI SEPERTI: ***
      1.PESUGIHAN INSTANT 10 MILYAR
      2.UANG KEMBALI PECAHAN 100rb DAN 50rb
      3.JUAL TUYUL MEMEK / JUAL MUSUH
      4.ANGKA TOGEL GHOIB.DLL..

      …=>AKI KANJENG<=…
      >>>085-320-279-333<<<

      Hapus