“Perambah hutan, kalau mau ambil chainsaw di rumah saya,
Syarifudin.”
Kalimat itu terukir di batang pohon mentawak. Bertinta oli
lumer, yang merusak cerah daging kayu yang baru ditebang. Tidak perlu heran
dengan kalimat yang begitu panjang. Lebar batang pohon itu saja lebih dari 40
cm. Terbaring kaku sepanjang 16 meter.
Syarifudin (26) menemukannya ketika petang menjelang. Sore
itu, ia mendengar bising chainsaw (alat penebang kayu) dari arah Taman Nasional
Gunung Palung, tak jauh dari sawahnya. Padahal, sudah cukup lama ia tak
mendengar lengkingan serupa. Suara yang dulunya akrab, kini asing.
Ia menyayangkan pohon mentawak yang gagah, sekarang tumbang.
Padahal, buah pohon salah satu tanaman keras hutan yang punya nilai jual mahal.
Harga sebuahnya, lebih mahal dari durian. Sayangnya, bagi penebang itu, harga
batang pohon mentawak, jauh lebih menggiurkan.
Kebiasaan para perambah hutan, selalu meninggalkan chainsaw
mereka, tak jauh dari pohon yang ditebang. Itu dilakukan agar tidak merepotkan.
Sebab, menebang pohon dan menyelesaikannya sesuai pesanan, kadang butuh lebih
dari sehari. Syarifudin pun mengambil langkah cepat. Warga Dusun Mentubang,
Desa Harapan Jaya, Kabupaten Kayong Utara itu segera mengamankannya.
Dibawanya pulang, dan disimpan di gubuk tengah sawah
miliknya. Sebelumnya, bagian chainsaw itu ia perotoli. Rantai, mesin, dan
beberapa bagian lain disimpan di tempat berbeda. Ia pun menuju rumah dengan
rasa penuh tanya. Siapa gerangan perambah hutan yang kembali melancarkan aksi
di dusunnya?
Sialnya, tak ada seorang pun datang ke rumahnya hingga pagi
tiba. Kesehariannya sebagai petani dijalani seperti biasa. Namun, ada sesuatu
yang membuatnya terkejut. Begitu sampai di gubuk, chainsaw itu raib. Hilang
seperti gaib.
“Padahal sengaja saya ambil biar tahu siapa orangnya. Eh,
malah dicuri duluan. Setelah cari-cari info, katanya kayu itu mau dipakai untuk
bikin sampan. Bukan orang dusun kami. Sampai sekarang, masih di sana, tidak ada
yang ambil,” ceritanya pada Suara Pemred,
saat berbincang di Pantai Pulau Datuk, Sukadana, Kayong Utara, Rabu (27/1).
Syarifudin berkisah, itu hal nekad pertama yang dilakukannya
di tahun pertamanya menjadi Sahut (Sahabat Hutan). Ia yang sudah dua tahun menjadi
bagian dari progam Yayasan Alam Sehat Lestari (Asri) itu, biasanya hanya
sekadar sosialisasi dan mengumpulkan informasi terkait kelestarian hutan.
Tugasnya memang terdengar sederhana. Semua beres dikerjakan
satu jam dalam sehari. Namun, hasil kerjanya berdampak besar pada kehidupan
semua makhluk di Gunung Palung. Informasi aktivitas merusak hutan, dimiliki.
Selain untuk kepentingan Asri dalam pengelolaan beberapa
program yang dijalankan, seperti afiliasi kelestarian hutan dengan pelayanan
kesehatan, informasi itu juga digunakan
para polisi hutan.
“Tugas Sahut ada pada konservasi dan jembatan informasi
antara Asri dengan masyarakat. Jumlahnya saat ini ada 33 orang. Setiap bulan,
mereka harus memberikan laporan ke koordinator,” ungkap Hendriyadi, koordinator
Sahut.
Hampir semua dusun yang berbatasan langsung dengan Taman
Nasional Gunung Palung, memiliki Sahut. Mengubah paradigma masyarakat, yang
menggantungkan hidup dari hasil membalak, juga jadi tugasnya. Para pembalak
liar diajak beralih profesi sebagai petani. Kelompok tani berkelanjutan pun
dibentuk. Bahkan, beberapa kelompok sudah diberangkatkan ke Yogjakarta untuk
belajar langsung di sana.
Syarifudin mengatakan, mengubah pola pikir masyarakat bukan
perkara gampang. Mereka selalu saja berorientasi pada uang. Waktu dua jam
belajar bertani, dianggap buang rupiah yang bisa didapatkan dengan mudah;
menebang hutan. Tapi kini, ketangguhannya berbuah manis. Dari enam orang
pembalak liar di awal ia terjun menjadi Sahut, sekarang tinggal seorang.
“Waktu awal ikut gabung Sahut, saya melihatnya unik dan
asik. Juga bisa memberi manfaat untuk orang lain. Dapat ilmu. Sebenarnya,
masyarakat diam itu bukan tidak peduli, mereka cuma tidak ada yang
membangkitkan,” kata Syarifudin.
Keberadaan Sahut di tiap dusun memberi rasa malu bagi para
pembalak untuk beraksi. Mereka sering masuk hutan saat gelap datang. Dan pulang
sebelum penduduk desa bangun. Sejak 2009 jumlahnya menurun drastis. Kebanyakan
yang tersisa kini, hanya bekerja jika ada pesanan atau kebutuhan pribadi.
Dalam bertugas, para Sahut disarankan menghindari selisih
paham. Alasannya, agar lebih mudah dan dekat dengan masyarakat. Advokasi hukum
tidak dibebankan pada mereka.
Penurunan pembalak sendiri disebut Hendriyadi, turut
disebabkan semakin ketatnya kebijakan pemerintah. Dan adanya peningkatan
ekonomi dari sektor lain. Terlebih sejumlah lembaga swadaya masyarakat berperan
aktif. Pun, keberadaan kayu untuk mereka rambah, makin jauh di dalam hutan.
“Di bawah tahun 2009, kayu belian, bengkirai, ramin, banyak
diekspor ke Malaysia. Tapi kelamaan pembalak sadar, harga jual dari mereka,
kalah jauh ketika sampai di cukong. Mereka merasa rugi,” timpal Hendriyadi.
Saat ini, ada 76 dusun dari 14 desa yang bekerjasama dengan
Asri. Sebagian memang tak memiliki Sahut karena tidak berbatasan langsung
dengan Taman Nasional Gunung Palung. Namun, aktivitas pembalakan di sana
menurun dari tahun ke tahun. Hal itu agaknya jadi bukti. Seseorang hanya harus
berani memulai. Sebab butuh sepercik api, untuk membakar kampung. Sisanya, biarkan
angin yang menunaikan tugas.
ditulis untuk harian Suara Pemred, edisi 5 Februari 2016

Wuih...nice! Suka diksinya.
BalasHapusSAYA MAS JOKO WIDODO DI SURABAYA.
HapusDEMI ALLAH INI CERITA YANG BENAR BENAR TERJADI(ASLI)BUKAN REKAYASA!!!
HANYA DENGAN MENPROMOSIKAN WETSITE KIYAI KANJENG DIMAS DI INTERNET SAYA BARU MERASA LEGAH KARNA BERKAT BANTUAN BELIU HUTANG PIUTAN SAYA YANG RATUSAN JUTA SUDAH LUNAS SEMUA PADAHAL DULUHNYA SAYA SUDAH KE TIPU 5 KALI OLEH DUKUN YANG TIDAK BERTANGUNG JAWAB HUTANG SAYA DI MANA MANA KARNA HARUS MENBAYAR MAHAR YANG TIADA HENTINGNYA YANG INILAH YANG ITULAH'TAPI AKU TIDAK PUTUS ASA DALAM HATI KECILKU TIDAK MUNKIN SEMUA DUKUN DI INTERNET PALSU AHIRNYA KU TEMUKAN NOMOR KIYAI KANJENG DI INTERNET AKU MENDAFTAR JADI SANTRI DENGAN MENBAYAR SHAKAT YANG DI MINTA ALHASIL CUMA DENGAN WAKTU 2 HARI SAJA AKU SUDAH MENDAPATKAN APA YANG KU HARAPKAN SERIUS INI KISAH NYATA DARI SAYA.....
…TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA AKI KANJENG…
**** BELIAU MELAYANI SEPERTI: ***
1.PESUGIHAN INSTANT 10 MILYAR
2.UANG KEMBALI PECAHAN 100rb DAN 50rb
3.JUAL TUYUL MEMEK / JUAL MUSUH
4.ANGKA TOGEL GHOIB.DLL..
…=>AKI KANJENG<=…
>>>085-320-279-333<<<
SAYA MAS JOKO WIDODO DI SURABAYA.
DEMI ALLAH INI CERITA YANG BENAR BENAR TERJADI(ASLI)BUKAN REKAYASA!!!
HANYA DENGAN MENPROMOSIKAN WETSITE KIYAI KANJENG DIMAS DI INTERNET SAYA BARU MERASA LEGAH KARNA BERKAT BANTUAN BELIU HUTANG PIUTAN SAYA YANG RATUSAN JUTA SUDAH LUNAS SEMUA PADAHAL DULUHNYA SAYA SUDAH KE TIPU 5 KALI OLEH DUKUN YANG TIDAK BERTANGUNG JAWAB HUTANG SAYA DI MANA MANA KARNA HARUS MENBAYAR MAHAR YANG TIADA HENTINGNYA YANG INILAH YANG ITULAH'TAPI AKU TIDAK PUTUS ASA DALAM HATI KECILKU TIDAK MUNKIN SEMUA DUKUN DI INTERNET PALSU AHIRNYA KU TEMUKAN NOMOR KIYAI KANJENG DI INTERNET AKU MENDAFTAR JADI SANTRI DENGAN MENBAYAR SHAKAT YANG DI MINTA ALHASIL CUMA DENGAN WAKTU 2 HARI SAJA AKU SUDAH MENDAPATKAN APA YANG KU HARAPKAN SERIUS INI KISAH NYATA DARI SAYA.....
…TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA AKI KANJENG…
**** BELIAU MELAYANI SEPERTI: ***
1.PESUGIHAN INSTANT 10 MILYAR
2.UANG KEMBALI PECAHAN 100rb DAN 50rb
3.JUAL TUYUL MEMEK / JUAL MUSUH
4.ANGKA TOGEL GHOIB.DLL..
…=>AKI KANJENG<=…
>>>085-320-279-333<<<