catatan remeh dan hal liar lain

Selasa, 16 Februari 2016

PENEBUSAN DOSA PEMBALAK, DAN HUTAN YANG INGIN MEMBIAK

00.45 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Ismanto menunjukkan cara menanam yang benar. Baginya, menanam pohon seperti sebuah penebusan dosa.

Ismanto mengambil polybag. Lantas kembali jongkok di depan lubang sedalam jengkal orang dewasa. Layaknya melepas popok bayi, ia menelanjangi sekepal tanah tempat bibit jengkol berdiri. Dikoyaknya dari atas. Tangannya seperti alat. Presisinya tepat. Polybag lepas. Tak secercah tanah pun hempas. Pas.

Bibit jengkol setinggi tiga puluh senti itu ditanam. Tanah bekas galian lubang dimasukkan kembali dengan tangan. Digemburkan rapi. Setamsil rawat anak sendiri. Sebuah penanda besi bertuliskan tanggal dan jenis pohon ia kalungkan. Sebatang bambu sebesar jari, ditancapkan.

Polybag bekas tak dibuang sembarang. Melainkan ditopikan pada bambu di samping tanaman. Sebagai penanda kalau-kalau tumbuh ilalang, katanya. Selesai menanam di satu lubang, ia berpindah ke lubang lain. Masih ada delapan belas hektar lahan Taman Nasional Gunung Palung yang mesti ia tanami. Tapi ia tak kerja sendiri. Bersama 14 orang tim reboisasi Alam Sehat Lestari, tugas itu digeluti.

Apa yang dikerjakan Ismanto kini, berbanding terbalik dengan kehidupannya tahun 1997 silam. Jika sekarang keluar masuk hutan membawa dan merawat bibit tanaman, dulunya ia datang untuk menebang dan menebang. Lelaki 39 tahun itu pertama masuk hutan sebagai tukang pikul kayu rambahan.

Merambah setengah hektar hutan sekali datang, mencari bengkirai dan meranti. Uang empat sampai enam juta sebulan, mampu dikantongi. Ia pun beralih profesi. Dari pemikul, jadi penebang. Yang didapat jauh lebih banyak. Namun, tetap dengan risiko sama, kemungkinan tertimpa kayu sebesar setengah gerbong kereta.

“Tahun 2000 saya berhenti, karena yang untung itu bosnya. Risiko kita nyawa. Akhirnya kembali bertani. Kadang masih tebang untuk kebutuhan sendiri,” ujar Ismanto menyesali.

Entah berapa batang pohon yang sudah ia tebang, tapi tetap saja tak bisa membangun rumah. Ada banyak Ismanto lain yang bernasib sama. Kenyataan itu pula yang membuatnya sadar. Selain rentetan kebakaran dan dampak berkurangnya pohon di tempat ia tinggal.

Pertemuannya dengan Asri berawal di 2009. Bersama sejumlah warga ia tergabung dalam rombongan penanaman dan pembersihan dua lokasi yang jadi fokus kerja Asri. Salah satunya lahan seluas dua puluh empat hektar yang terletak di pinggir jalan, Km 20, Dusun Manjau, Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Ketapang.

“Asri ini unik. Ada kegiatan lingkungan berkaitan dengan kesehatan. Bagaimana masyarakat bisa memelihara hutan, mendapat reward, diskon pengobatan di klinik yayasan. Saya tertarik untuk bergabung,” jawab Ismanto ketika ditanya alasannya menjadi bagian tim deforestasi Asri.

Lahan Desa Laman Satong terbakar hebat beberapa tahun lalu. Akibatnya, hutan yang sudah digunduli perusahaan kayu milik penguasa orde baru, makin tak berbentuk. Sama halnya dengan Desa Sedahan Jaya. Sebab lain, wilayah itu berbatasan langsung dengan jalan dan perkampungan warga.

Ada beberapa fakta miris. Dalam survei tahunan yang Asri jalankan, hanya ada tiga spesies burung di bekas lahan yang terbakar. Tak mengherankan, tak banyak jenis burung yang hidup di alang-alang. Berbeda dengan lokasi yang telah direboisasi. Salah satunya wilayah yang Ismanto tanami. Sedikitnya, ada enam puluh spesies yang beranakpinak di sana.

“Karena lokasi ini ada di tepi jalan, jarak empat sampai enam meter dari jalan kita bikin batas api. Agar sumber api, seperti puntung rokok tidak menyebabkan kebakaran hingga meluas ke hutan. Meski sudah direboisasi, tiap tahun selalu terjadi kebakaran,” terang Fransiskus Xaverius, koordinator deforestasi Asri, Kamis (28/1).

Antisipasi dilakukan, berdasarkan pengalaman kebakaran tahun 2009. Jalan yang membelah Gunung Palung itu, jadi lalu lintas truk-truk pengangkut CPO dan karet. Juga akses utama warga. Entah dari mana datangnya, api membesar, merangsek perdu pinggir jalan. Kemudian masuk hutan.

Di tahun itu pula Asri memulai reboisasi. Hasilnya menggembirakan. Selain hijau, burung rangkong juga kerap terlihat. Namun, bukannya tanpa kendala. 2013, kebakaran kembali melanda. Batas api tak mampu menahan. Lebih dari belasan hektar, hijau kembali menghitam.

“Kita lakukan pembersihan rutin untuk batas api, membangun kesadaran masyarakat, sepanjang jalan depan rumah mereka adalah area monitoring mereka. Ada pula pelatihan pemadaman dengan alat sederhana,” tambah Fransiskus.

Butuh waktu lama mengembalikan selimut hijau Gunung Palung. Untuk memastikan benih tumbuh saja, sekurangnya perlu lima sampai sepuluh bulan. Jenis tanaman pun bukan sembarangan. Petai, jengkol, sungkai, merbau, ubah, meranti, leban, makaranga, jadi pilihan. Alasannya, selain beberapa yang endemis, tanaman itu tumbuh cepat jika terbakar. Batangnya pun menusuk langit dengan daun lebar.

Bibit tanaman itu, selain dibiakkan sendiri, juga berasal dari masyarakat. Sistem pelayanan kesehatan yang bisa dibayar dengan bibit tanaman buat mereka punya cukup stok. Polybag gratis diberikan pada warga yang hendak membayar biaya pengobatan, ingin menabung atau sekadar suka menanam. Bahkan dikatakan Fransiskus, salah seorang warga bernama Karyani, memiliki tabungan dua juta rupiah, dari bibit yang tanam.

“Semua proses di sini berdasar kearifan lokal, digabung dengan pengetahuan yang Asri punya. Juga panduan kehutanan. Jadi, lahan ditanam berdasarkan kerapatan per plot. Ukurannya 20x20 meter. Satu plot, 100 jenis tanaman,” jelasnya.

Di pos tim deforestasi Asri sendiri, saat ini ada 11 ribu bibit tanaman. Dan masih ada 4 ribu lagi yang siap disetorkan warga. Jumlah itu sangatlah banyak, namun tak akan berarti jika generasi muda tak dikenalkan kembali pada hutannya. Karenanya, bekerjasama dengan sejumlah sekolah yang berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Palung, para siswa diajak kenal dekat kekayaan terbesar mereka.


Tak hanya proses pembibitan hingga penanaman. Tapi juga keragaman hayati di dalamnya. Flora dan fauna khas Gunung Palung. Jangan sampai mereka tak tahu, mana meranti, mana belian. Atau yang lebih mengerikan, mereka sulit membedakan, mana yang melestarikan, mana yang menghancurkan.


ditulis untuk harian Suara Pemred, edisi 7-8 Februari 2016

0 komentar:

Posting Komentar