Sastra Kalimantan Barat ibarat Putri Tidur yang tengah
menunggu Pangeran tampan. Yang datang dengan kuda putih dan mengecupnya.
Membangunkannya dari tidur panjang di atas ranjang yang apik nan cantik. Dalam
mimpi indah kebesaran. Mewarnai dunia kesusastraan nasional.
Cerita karangan Charles Perrault, penulis dongeng Perancis,
yang dipublikasikan tahun 1697 itu, serupa meski tak sama dengan kondisi sastra
Kalimantan Barat kini. Yang bahkan oleh sebagian orang, dianggap mati suri. Nama-nama
besar lahir sendiri. Rahim-rahim diskusi, sepi. Mereka yang berangan jadi
penulis, memanjat dinding tinggi seorang diri.
Parlindungan Nadeak, dosen sastra Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Tanjungpura, seusai membahas puisi Ahmadun Yosi
Herfanda, dalam diskusi sastra yang digagas Forum Sastra Kalimantan Barat, bekerja
sama dengan prodi PBSI FKIP Untan dan Himbasi FKIP Untan di Aula FKIP Untan, Minggu
(17/1) berpendapat sama.
Aktivitas seniman sastra sudah puluhan tahun tak terlihat
wujudnya. Terakhir kali ia mengikuti diskusi serupa, di Aula Radio Republik
Indonesia tahun 1989 lalu. Saat itu, Surya AK, salah seorang tokoh dan pekerja
media, mengkoordinir para pegiat dan penikmat sastra untuk berkumpul dan
berbagi.
“Dulu jauh lebih ramai dari sekarang, minimal satu bulan
sekali ada diskusi sastra. Dengan tempat yang berpindah-pindah,” kenangnya.
Tahun 80-an, dirinya bersama pegiat sastra seperti Alm. Odies,
Pradono, Alm. Fitra dan sejumlah rekan, rutin menggelar forum diskusi, hingga
gaung dan karyanya diketahui masyarakat luas. Berbeda dengan pandangannya saat
ini, dimana sastra Kalimantan Barat, tak jadi tuan rumah di buminya sendiri.
Peran komunitas dan diskusi menjadi bagian penting dalam
geliat sastra. Seperti apa yang dilakukan Forum Sastra (Forsas) Kalimantan
Barat. Tak boleh ada dikotomi. Semua lapisan masyarakat harus dipeluk. Imbasnya
tentu, berkembangnya sastra lokal, hingga mewarnai kesusastraan nasional.
“Dari yang saya lihat, barangkali saya salah karena tidak
mengikuti, penulis sastra Kalbar masih minim, tapi ada beberapa mahasiswa yang
sudah mengarah ke sana,” ujarnya.
Besar harapannya, Forsas Kalbar mampu jadi pembakar geliat
sastra lokal. Menjadi Pangeran yang membangunkan Putri Tidur dengan kecupan.
Apa yang dikerjakan kini, harus terus berlanjut. Apresiasi dari penikmat
sastra, pekarya, akademisi, praktisi dan masyarakat luas adalah bagian dari
mimpi tidur panjang. Sastra Kalbar mesti bangun. Bergerak dan tumbuh.
“Forsas harus dibantu supaya berkembang, dan tidak hanya ada
di Pontianak, namun juga daerah. Sehingga ada forum yang kuat, dan bisa
mengakomodasi semua pengarang lokal,” harapnya.
Ketika ditanya mengapa sastra Kalbar tidur begitu lama, ia
menjawab ragu. Sulit mencari penyebab, katanya. “Barangkali kita terlalu susah
berolah pikir, sudah dininabobokan teknologi. Sekarang semuanya ada, sehingga
kita tidak mendidik generasi sekarang bagaimana memahami manusia, sebagaimana
mestinya manusia. Karena karya sastra selalu menuliskan tentang manusia, segala
adanya dengan bermacam-macam sudut dan definisi,” paparnya.
Perihal harapan Parlindungan Nadeak tentang bagaimana Forsas
Kalbar ke depan, diamini Ilham Setia, Ketua Forsas Kalbar. Menggairahkan
kembali sastra Kalimantan Barat memang jadi tujuan utama berdirinya Forsas.
Cabang di 13 kabupaten kota di Kalbar pun sudah terbentuk. Hanya tinggal
kabupaten Melawi, yang belum dijelajahi. Namun, dari 13 wilayah itu, baru
kabupaten Sintang yang benar-benar aktif. Sisanya, masih terkendala perekrutan
anggota.
Bedah puisi dalam tajuk “Membaca Ahmadun Yosi Herfanda” yang
dihelat Minggu pagi, adalah salah satu kegiatan untuk membangunkan sastra bumi
Khatulistiwa. Puisi-puisi Ahmadun dipilih, selain karena ia merupakan salah
satu penyair nasional yang mumpuni, juga untuk merayakan hari lahirnya yang
jatuh di 17 Januari.
“Kita juga mengundang sastrawan nasional untuk berbagi dan
meningkatkan kualitas penulis Kalbar. Kalau bicara tentang penulis, secara
kuantitas lebih ramai dibandingkan beberapa tahun silam. Namun jika bicara kualitas,
perlu dipilah kembali,” jelasnya.
Penulis di Kalbar, menurutnya sudah memiliki kualitas yang baik,
dan ada pula yang sedang mengarah ke sana. Karenanya penting sekali untuk
meningkatkan kualitas yang ada. Menulis, memang kerja individu. Namun untuk
jadi penulis, seseorang harus memiliki teman. Dan Forsas hadir, jadi wadah
untuk itu.
Sejumlah program kini tengah dirancang, sebagian yang sudah
berjalan di antaranya diskusi sastra dan kampanye kepenulisan. Bekerja sama
dengan komunitas lain, saling berbagi dengan mahasiswa dan masyarakat luas. Meningkatkan
minat menulis pada generasi muda, juga satu tantangan.
Langkah Forsas bukan tanpa kerikil. Para pengurus muda
dengan segala kesibukannya, juga masalah finansial, jadi bayang-bayang tak
terelakan. Tapi itu semua bisa dikesampingkan. Selama ada niat, usaha dan
keyakinan, jalan akan terbuka. Menuju Roma pun, tak hanya satu cara.
“Saya harap siapapun di Kalimantan Barat jika menganggap ini
penting, mari bergabung membangkitkan sastra Kalbar,” ajaknya.
*
Pangeran berkuda putih tengah menyusur jalan. Putri Tidur
masih lelap dalam mimpi kebesaran. Kita bisa memilih untuk melebarkan jalan,
membuang penghalang lantas berangkat bersama Pangeran. Atau duduk diam,
menonton Charles Perrault menulis ulang ceritanya. Yang entah berakhir apa.
Ditulis
untuk harian Suara Pemred, edisi 18 Januari 2016, dengan judul Forsas Rangkul
Penyair, Membangkitkan Sastra di Bumi Khatulistiwa

0 komentar:
Posting Komentar