Dardi kecil hanya bisa
terbaring di rumah papan yang tak lebih besar dari setengah lapangan futsal.
Berada di daerah rawa Desa Rantau Panjang Dua, Kecamatan Sukadana, Kayong
Utara. Mendekam dalam tempat khusus berukuran satu kali satu meter. Ia tak
boleh terbias cahaya. Suara bising dapat mengganggunya. Di tempat itulah ia
menghabiskan waktu selama tujuh tahun.
Tuberkulosis (TBC) otak yang
ia derita bukannya tanpa upaya menyembuhan. Orang tuanya sudah membawanya
berobat ke daerah sekitar, namun tak berbuah kesembuhan. Tidak adanya rumah
sakit di Kayong Utara dan kemungkinan besarnya biaya pengobatan jadi beban
pikiran. Hingga suatu ketika, lidah angin menyampaikan kabar itu ke telinga
pengampu Klinik Alam Sehat Lestari (Asri).
Penjemputan dilakukan.
Sayangnya, itu bukan perkara
membalikkan telapak tangan. Jarak yang lumayan jauh, ditambah kilau cahaya dan
suara bising yang bisa mengganggu Dardi, membuat dokter dan perawat memutar
otak. Rencana disusun. Tengah malam, menunggu jalanan sepi, Dardi dibawa ke
Klinik Asri, di Jalan Sungai Mengkuang, Pangkalan Buton, Sukadana.
Kaca mata rayban hitam dikenakan.
Pendengarannya diusahakan tak merekam suara ribut. Anak tiga belas tahun yang
jadi pasien pertama paling berisiko Klinik Asri di tahun pertamanya berdiri
itu, harus segera diobati. Pengobatannya bisa saja mengakibatkan Dardi
meninggal. Dokter pun dilema.
“Kami bimbang, apakah
bisa berhasil atau tidak. Ternyata sukses, perkembangan awal, setelah beberapa
hari ia bisa ke WC sendiri,” kenang
Hotlin Ompusunggu, Direktur Operasi Klinik Asri, Rabu (27/1).
Setelah
itu, pengobatan rutin enam bulan pertama dijalani. Dardi yang sakit sejak
berumur enam, dan terus berada di kamarnya tanpa keluar selama tujuh tahun,
membuat anak tiga belas tahun itu, tinggal dalam pikiran anak berumur enam.
Psikiater disiapkan untuk mendampinginya agar berani keluar rumah. Setahun
setelahnya, Dardi sembuh total.
Obat
TBC yang pada 2007 belum digratiskan, buat biaya perawatan cukup besar. Namun,
itu bukan kendala. Sebab, Klinik Asri menerima pembayaran tidak hanya dalam
bentuk uang. Tapi juga kerajinan, bibit pohon, pupuk dan lainnya. Alhasil,
keluarga Dardi berhasil melunasi biaya pengobatan, dengan tikar buatan tangan.
“Sekarang dia sudah bekerja, sembuh total setahun setelahnya.
Itu jadi semangat bagi Asri untuk berprogram. Program kesehatan
berafiliasi dengan lingkungan,” tambah Hotlin.
Klinik Asri sendiri hanyalah satu dari
sekian program lembaga nirlaba bernama panjang Alam Sehat Lestari itu.
Berangkat dari keprihatinan Kinari Webb, salah seorang dokter asal Amerika yang
sejak 1993 datang ke Taman Nasional Gunung Palung, Kayong Utara untuk
mempelajari orangutan, yayasan itu didirikan.
“Banyaknya kerusakan hutan, deforestasi
di Gunung Palung. Padahal ada keragaman hayati. Dalam 100 meter saja, tumbuh
lebih dari 100 spesies pohon. Termasuk berbagai jenis tupai dan orangutan,”
sahut Kinari menjelaskan.
Berdiri sejak 2007, dengan kenyataan buruknya kualitas hutan,
ekonomi dan kesehatan, yang sebenarnya ada dalam satu rangkaian, membuat
tekatnya bersama Hotlin Ompusunggu dan sejumlah rekan tak terhalang. Gunung
Palung merupakan sumber kehidupan masyarakat. Kebutuhan air, udara sehat, akan membuat
kualitas hidup warga sekitar lebih baik.
Ada lingkaran setan, antara kebutuhan masyarakat, ekonomi dan
kesehatan yang mudah mereka dapat dari hutan dengan kelestariannya. Menjadi
seorang penebang hutan, adalah profesi yang biasa saat itu. Dapur ngebul, dari
batang-batang pohon yang mereka potong.
Semakin banyak kebutuhan yang diperlukan, makin banyak pula
pohon Gunung Palung yang ditebang. Apalagi jika sudah menyangkut biaya berobat
yang mahal. Maklum, mereka harus berangkat ke Ketapang, untuk mendapatkan
perawatan maksimal. Rumah sakit terdekat, hanya ada di sana.
“Dengan pendekatan 400 jam dalam setahun kepada masyarakat,
kita tanya apa yang mereka perlukan untuk menjaga hutan, sebagian besar
menjawab layanan kesehatan,” timpal Hotlin.
Karenanya Klinik Asri dipilih sebagai program awal. Memberi
layanan kesehatan, dibarengi mengubah perekonomian masyarakat yang sebelumnya
berada di hutan, tentu bukan hal gampang. Mau tidak mau masyarakat harus dibuat
beralih profesi. Pelatihan pola penanaman dengan tidak membuka lahan baru pun
diberikan. Tidak hanya itu, pengolahan limbah alam jadi pupuk, juga diajarkan.
Demi menekan harga pupuk yang tinggi.
Sejumlah
terobosan, layanan kesehatan yang berafiliasi dengan kelestarian lingkungan
dilakukan. Salah satunya pembayaran biaya pengobatan yang bisa menggunakan selain
uang. Misalnya kerajinan tangan. Harga ambil Asri, sengaja dibuat lebih tinggi.
Untuk keranjang kecil dari pandan yang biasa dipasaran seharga Rp. 5 ribu,
dihargai Rp. 20 ribu.
“Kunci sukses Asri, memenuhi apa yang masyarakat
butuhkan. Yang penting bagaimana kerja sama dengan semua pihak. Masalah
pembayaran, bibit-bibit pohon dari warga, kita gunakan untuk reboisasi hutan
Gunung Palung, termasuk pupuknya,” terang Hotlin.
Tak
hanya kemudahan membayar biaya pengobatan, Klinik Asri pun memberikan diskon
bagi setiap desa yang bisa melestarikan hutannya. Desa-desa sekitar taman
nasional dibedakan berdasarkan tingkat kelestarian hutan dengan status warna.
Hijau untuk desa bebas kerusakan, mendapat diskon 70 persen. Kemudian
berturut-turut warna biru, kuning dan merah dengan pengurangan diskon 20 persen
dari warna hijau.
“Ada
monitor tiap triwulan, pengolahan kayu, masih berladang di hutan atau tidak.
Ada tujuh indikator. Warga akan dapat diskon. Khusus bayar dengan bibit pohon,
harus tanaman asli hutan, dan bermanfaat bagi masyarakat, seperti petai,
jengkol,” terangnya.
Awal
Asri berjalan, dari 23 desa yang menjadi sasaran, karena berbatasan langsung
dengan Taman Nasional Gunung Palung, hanya 21 saja yang setuju. Penolakan
terjadi karena di dalam dua desa tersebut, berdiri sawmill (tempat
penggergajian kayu) besar. Oknum kepala desa diduga ada di belakangnya. Butuh waktu
seminggu untuk mengatasi hal itu. Pengumpulan tanda tangan warga dari rumah ke
rumah jadi penguat.
“Tahun
2007, dari 133 KK yang dijadikan sampel dari setiap desa di batas taman
nasional, rata-rata semuanya kerja kayu. Kebanyakan tangan pertama, tapi ada
juga cukongnya. Data terakhir, akhir 2015 kemarin, tinggal 180 orang saja yang
jadi penebang. Sebagian besar musiman,” tambah Kinari.
Perubahan
signifikan terjadi. Mereka yang dulunya menebang hutan untuk ekonomi, kini
beralih menjadi petani. Bahkan 52 persen diantaranya meminta pelatihan kebun
organik. Pelatihan pertanian tersebut, nyatanya meningkatkan panen. Dari yang
tiga kali dalam sekali tanam, sekarang mencapai tujuh.
Berubahnya
ketergantungan masyarakat akan hutan Gunung Palung membuat Asri ingin lebih
berbuat banyak. Kini, mereka tengah membangun rumah sakit yang letaknya tak
jauh dari klinik. Tempat itu lebih representatif daripada klinik saat ini yang
menyewa rumah warga. Meski di dalamnya sudah dilengkapi dengan laboraturium,
ruang kerja dokter hingga ruang rawat inap.
Selama
ini, Klinik Asri juga menjalin kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kayong Utara,
misalnya menggelar pelatihan bidan demi menekan angka kematian. Juga bantuan
obat gratis dari pemerintah. Sementara untuk layanan BPJS, masih dalam proses.
Rumah
Sakit Asri yang dijadwalkan selesai Juli 2016 dan beroperasi dua bulan
setelahnya itu, digadang-gadang akan jadi rumah sakit pertama di Kayong Utara.
Desain ruangan pun dibuat memanjang seperti rumah, sesuai permintaan warga.
“Untuk
mendukung rumah sakit yang sedang dibangun, ada tiga dokter spesialis yang
sedang kita sekolahkan. Diantaranya, dokter kandungan, penyakit dalam, dan bedah,”
pungkas Kinari.
ditulis untuk harian Suara Pemred edisi Rabu, 3 Februari 2016
ditulis untuk harian Suara Pemred edisi Rabu, 3 Februari 2016

0 komentar:
Posting Komentar