catatan remeh dan hal liar lain

Jumat, 05 Februari 2016

BAYAR PENGOBATAN DENGAN LESTARIKAN HUTAN

04.02 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Salah seorang staf Asri menunjukkan alat bayar yang biasa dipakai warga.

Dardi kecil hanya bisa terbaring di rumah papan yang tak lebih besar dari setengah lapangan futsal. Berada di daerah rawa Desa Rantau Panjang Dua, Kecamatan Sukadana, Kayong Utara. Mendekam dalam tempat khusus berukuran satu kali satu meter. Ia tak boleh terbias cahaya. Suara bising dapat mengganggunya. Di tempat itulah ia menghabiskan waktu selama tujuh tahun.

Tuberkulosis (TBC) otak yang ia derita bukannya tanpa upaya menyembuhan. Orang tuanya sudah membawanya berobat ke daerah sekitar, namun tak berbuah kesembuhan. Tidak adanya rumah sakit di Kayong Utara dan kemungkinan besarnya biaya pengobatan jadi beban pikiran. Hingga suatu ketika, lidah angin menyampaikan kabar itu ke telinga pengampu Klinik Alam Sehat Lestari (Asri).

Penjemputan dilakukan.

Sayangnya, itu bukan perkara membalikkan telapak tangan. Jarak yang lumayan jauh, ditambah kilau cahaya dan suara bising yang bisa mengganggu Dardi, membuat dokter dan perawat memutar otak. Rencana disusun. Tengah malam, menunggu jalanan sepi, Dardi dibawa ke Klinik Asri, di Jalan Sungai Mengkuang, Pangkalan Buton, Sukadana.

Kaca mata rayban hitam dikenakan. Pendengarannya diusahakan tak merekam suara ribut. Anak tiga belas tahun yang jadi pasien pertama paling berisiko Klinik Asri di tahun pertamanya berdiri itu, harus segera diobati. Pengobatannya bisa saja mengakibatkan Dardi meninggal. Dokter pun dilema.

“Kami bimbang, apakah bisa berhasil atau tidak. Ternyata sukses, perkembangan awal, setelah beberapa hari ia bisa ke WC sendiri,” kenang Hotlin Ompusunggu, Direktur Operasi Klinik Asri, Rabu (27/1).

Setelah itu, pengobatan rutin enam bulan pertama dijalani. Dardi yang sakit sejak berumur enam, dan terus berada di kamarnya tanpa keluar selama tujuh tahun, membuat anak tiga belas tahun itu, tinggal dalam pikiran anak berumur enam. Psikiater disiapkan untuk mendampinginya agar berani keluar rumah. Setahun setelahnya, Dardi sembuh total.

Obat TBC yang pada 2007 belum digratiskan, buat biaya perawatan cukup besar. Namun, itu bukan kendala. Sebab, Klinik Asri menerima pembayaran tidak hanya dalam bentuk uang. Tapi juga kerajinan, bibit pohon, pupuk dan lainnya. Alhasil, keluarga Dardi berhasil melunasi biaya pengobatan, dengan tikar buatan tangan.

“Sekarang dia sudah bekerja, sembuh total setahun setelahnya. Itu jadi semangat bagi Asri untuk berprogram. Program kesehatan berafiliasi dengan lingkungan,” tambah Hotlin.

Klinik Asri sendiri hanyalah satu dari sekian program lembaga nirlaba bernama panjang Alam Sehat Lestari itu. Berangkat dari keprihatinan Kinari Webb, salah seorang dokter asal Amerika yang sejak 1993 datang ke Taman Nasional Gunung Palung, Kayong Utara untuk mempelajari orangutan, yayasan itu didirikan.

Banyaknya kerusakan hutan, deforestasi di Gunung Palung. Padahal ada keragaman hayati. Dalam 100 meter saja, tumbuh lebih dari 100 spesies pohon. Termasuk berbagai jenis tupai dan orangutan,” sahut Kinari menjelaskan.

Berdiri sejak 2007, dengan kenyataan buruknya kualitas hutan, ekonomi dan kesehatan, yang sebenarnya ada dalam satu rangkaian, membuat tekatnya bersama Hotlin Ompusunggu dan sejumlah rekan tak terhalang. Gunung Palung merupakan sumber kehidupan masyarakat. Kebutuhan air, udara sehat, akan membuat kualitas hidup warga sekitar lebih baik. 

Ada lingkaran setan, antara kebutuhan masyarakat, ekonomi dan kesehatan yang mudah mereka dapat dari hutan dengan kelestariannya. Menjadi seorang penebang hutan, adalah profesi yang biasa saat itu. Dapur ngebul, dari batang-batang pohon yang mereka potong.

Semakin banyak kebutuhan yang diperlukan, makin banyak pula pohon Gunung Palung yang ditebang. Apalagi jika sudah menyangkut biaya berobat yang mahal. Maklum, mereka harus berangkat ke Ketapang, untuk mendapatkan perawatan maksimal. Rumah sakit terdekat, hanya ada di sana.

“Dengan pendekatan 400 jam dalam setahun kepada masyarakat, kita tanya apa yang mereka perlukan untuk menjaga hutan, sebagian besar menjawab layanan kesehatan,” timpal Hotlin.

Karenanya Klinik Asri dipilih sebagai program awal. Memberi layanan kesehatan, dibarengi mengubah perekonomian masyarakat yang sebelumnya berada di hutan, tentu bukan hal gampang. Mau tidak mau masyarakat harus dibuat beralih profesi. Pelatihan pola penanaman dengan tidak membuka lahan baru pun diberikan. Tidak hanya itu, pengolahan limbah alam jadi pupuk, juga diajarkan. Demi menekan harga pupuk yang tinggi.

Sejumlah terobosan, layanan kesehatan yang berafiliasi dengan kelestarian lingkungan dilakukan. Salah satunya pembayaran biaya pengobatan yang bisa menggunakan selain uang. Misalnya kerajinan tangan. Harga ambil Asri, sengaja dibuat lebih tinggi. Untuk keranjang kecil dari pandan yang biasa dipasaran seharga Rp. 5 ribu, dihargai Rp. 20 ribu.

Kunci sukses Asri, memenuhi apa yang masyarakat butuhkan. Yang penting bagaimana kerja sama dengan semua pihak. Masalah pembayaran, bibit-bibit pohon dari warga, kita gunakan untuk reboisasi hutan Gunung Palung, termasuk pupuknya,” terang Hotlin.

Tak hanya kemudahan membayar biaya pengobatan, Klinik Asri pun memberikan diskon bagi setiap desa yang bisa melestarikan hutannya. Desa-desa sekitar taman nasional dibedakan berdasarkan tingkat kelestarian hutan dengan status warna. Hijau untuk desa bebas kerusakan, mendapat diskon 70 persen. Kemudian berturut-turut warna biru, kuning dan merah dengan pengurangan diskon 20 persen dari warna hijau.

“Ada monitor tiap triwulan, pengolahan kayu, masih berladang di hutan atau tidak. Ada tujuh indikator. Warga akan dapat diskon. Khusus bayar dengan bibit pohon, harus tanaman asli hutan, dan bermanfaat bagi masyarakat, seperti petai, jengkol,” terangnya. 

Awal Asri berjalan, dari 23 desa yang menjadi sasaran, karena berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung, hanya 21 saja yang setuju. Penolakan terjadi karena di dalam dua desa tersebut, berdiri sawmill (tempat penggergajian kayu) besar. Oknum kepala desa diduga ada di belakangnya. Butuh waktu seminggu untuk mengatasi hal itu. Pengumpulan tanda tangan warga dari rumah ke rumah jadi penguat.

“Tahun 2007, dari 133 KK yang dijadikan sampel dari setiap desa di batas taman nasional, rata-rata semuanya kerja kayu. Kebanyakan tangan pertama, tapi ada juga cukongnya. Data terakhir, akhir 2015 kemarin, tinggal 180 orang saja yang jadi penebang. Sebagian besar musiman,” tambah Kinari.

Perubahan signifikan terjadi. Mereka yang dulunya menebang hutan untuk ekonomi, kini beralih menjadi petani. Bahkan 52 persen diantaranya meminta pelatihan kebun organik. Pelatihan pertanian tersebut, nyatanya meningkatkan panen. Dari yang tiga kali dalam sekali tanam, sekarang mencapai tujuh.

Berubahnya ketergantungan masyarakat akan hutan Gunung Palung membuat Asri ingin lebih berbuat banyak. Kini, mereka tengah membangun rumah sakit yang letaknya tak jauh dari klinik. Tempat itu lebih representatif daripada klinik saat ini yang menyewa rumah warga. Meski di dalamnya sudah dilengkapi dengan laboraturium, ruang kerja dokter hingga ruang rawat inap.

Selama ini, Klinik Asri juga menjalin kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kayong Utara, misalnya menggelar pelatihan bidan demi menekan angka kematian. Juga bantuan obat gratis dari pemerintah. Sementara untuk layanan BPJS, masih dalam proses.

Rumah Sakit Asri yang dijadwalkan selesai Juli 2016 dan beroperasi dua bulan setelahnya itu, digadang-gadang akan jadi rumah sakit pertama di Kayong Utara. Desain ruangan pun dibuat memanjang seperti rumah, sesuai permintaan warga.

“Untuk mendukung rumah sakit yang sedang dibangun, ada tiga dokter spesialis yang sedang kita sekolahkan. Diantaranya, dokter kandungan, penyakit dalam, dan bedah,” pungkas Kinari.

ditulis untuk harian Suara Pemred edisi Rabu, 3 Februari 2016

0 komentar:

Posting Komentar