catatan remeh dan hal liar lain

Senin, 18 Januari 2016

FORSAS KALBAR, BANGUNKAN PUTRI TIDUR YANG LELAP

09.04 Posted by Kristiawan Balasa , No comments

Sastra Kalimantan Barat ibarat Putri Tidur yang tengah menunggu Pangeran tampan. Yang datang dengan kuda putih dan mengecupnya. Membangunkannya dari tidur panjang di atas ranjang yang apik nan cantik. Dalam mimpi indah kebesaran. Mewarnai dunia kesusastraan nasional.

Cerita karangan Charles Perrault, penulis dongeng Perancis, yang dipublikasikan tahun 1697 itu, serupa meski tak sama dengan kondisi sastra Kalimantan Barat kini. Yang bahkan oleh sebagian orang, dianggap mati suri. Nama-nama besar lahir sendiri. Rahim-rahim diskusi, sepi. Mereka yang berangan jadi penulis, memanjat dinding tinggi seorang diri.

Parlindungan Nadeak, dosen sastra Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura, seusai membahas puisi Ahmadun Yosi Herfanda, dalam diskusi sastra yang digagas Forum Sastra Kalimantan Barat, bekerja sama dengan prodi PBSI FKIP Untan dan Himbasi FKIP Untan di Aula FKIP Untan, Minggu (17/1) berpendapat sama.

Aktivitas seniman sastra sudah puluhan tahun tak terlihat wujudnya. Terakhir kali ia mengikuti diskusi serupa, di Aula Radio Republik Indonesia tahun 1989 lalu. Saat itu, Surya AK, salah seorang tokoh dan pekerja media, mengkoordinir para pegiat dan penikmat sastra untuk berkumpul dan berbagi.

“Dulu jauh lebih ramai dari sekarang, minimal satu bulan sekali ada diskusi sastra. Dengan tempat yang berpindah-pindah,” kenangnya.

Tahun 80-an, dirinya bersama pegiat sastra seperti Alm. Odies, Pradono, Alm. Fitra dan sejumlah rekan, rutin menggelar forum diskusi, hingga gaung dan karyanya diketahui masyarakat luas. Berbeda dengan pandangannya saat ini, dimana sastra Kalimantan Barat, tak jadi tuan rumah di buminya sendiri.

Peran komunitas dan diskusi menjadi bagian penting dalam geliat sastra. Seperti apa yang dilakukan Forum Sastra (Forsas) Kalimantan Barat. Tak boleh ada dikotomi. Semua lapisan masyarakat harus dipeluk. Imbasnya tentu, berkembangnya sastra lokal, hingga mewarnai kesusastraan nasional.

“Dari yang saya lihat, barangkali saya salah karena tidak mengikuti, penulis sastra Kalbar masih minim, tapi ada beberapa mahasiswa yang sudah mengarah ke sana,” ujarnya.

Besar harapannya, Forsas Kalbar mampu jadi pembakar geliat sastra lokal. Menjadi Pangeran yang membangunkan Putri Tidur dengan kecupan. Apa yang dikerjakan kini, harus terus berlanjut. Apresiasi dari penikmat sastra, pekarya, akademisi, praktisi dan masyarakat luas adalah bagian dari mimpi tidur panjang. Sastra Kalbar mesti bangun. Bergerak dan tumbuh.

“Forsas harus dibantu supaya berkembang, dan tidak hanya ada di Pontianak, namun juga daerah. Sehingga ada forum yang kuat, dan bisa mengakomodasi semua pengarang lokal,” harapnya.

Ketika ditanya mengapa sastra Kalbar tidur begitu lama, ia menjawab ragu. Sulit mencari penyebab, katanya. “Barangkali kita terlalu susah berolah pikir, sudah dininabobokan teknologi. Sekarang semuanya ada, sehingga kita tidak mendidik generasi sekarang bagaimana memahami manusia, sebagaimana mestinya manusia. Karena karya sastra selalu menuliskan tentang manusia, segala adanya dengan bermacam-macam sudut dan definisi,” paparnya.

Perihal harapan Parlindungan Nadeak tentang bagaimana Forsas Kalbar ke depan, diamini Ilham Setia, Ketua Forsas Kalbar. Menggairahkan kembali sastra Kalimantan Barat memang jadi tujuan utama berdirinya Forsas. Cabang di 13 kabupaten kota di Kalbar pun sudah terbentuk. Hanya tinggal kabupaten Melawi, yang belum dijelajahi. Namun, dari 13 wilayah itu, baru kabupaten Sintang yang benar-benar aktif. Sisanya, masih terkendala perekrutan anggota.

Bedah puisi dalam tajuk “Membaca Ahmadun Yosi Herfanda” yang dihelat Minggu pagi, adalah salah satu kegiatan untuk membangunkan sastra bumi Khatulistiwa. Puisi-puisi Ahmadun dipilih, selain karena ia merupakan salah satu penyair nasional yang mumpuni, juga untuk merayakan hari lahirnya yang jatuh di 17 Januari.

“Kita juga mengundang sastrawan nasional untuk berbagi dan meningkatkan kualitas penulis Kalbar. Kalau bicara tentang penulis, secara kuantitas lebih ramai dibandingkan beberapa tahun silam. Namun jika bicara kualitas, perlu dipilah kembali,” jelasnya.

Penulis di Kalbar, menurutnya sudah memiliki kualitas yang baik, dan ada pula yang sedang mengarah ke sana. Karenanya penting sekali untuk meningkatkan kualitas yang ada. Menulis, memang kerja individu. Namun untuk jadi penulis, seseorang harus memiliki teman. Dan Forsas hadir, jadi wadah untuk itu.

Sejumlah program kini tengah dirancang, sebagian yang sudah berjalan di antaranya diskusi sastra dan kampanye kepenulisan. Bekerja sama dengan komunitas lain, saling berbagi dengan mahasiswa dan masyarakat luas. Meningkatkan minat menulis pada generasi muda, juga satu tantangan.

Langkah Forsas bukan tanpa kerikil. Para pengurus muda dengan segala kesibukannya, juga masalah finansial, jadi bayang-bayang tak terelakan. Tapi itu semua bisa dikesampingkan. Selama ada niat, usaha dan keyakinan, jalan akan terbuka. Menuju Roma pun, tak hanya satu cara.

“Saya harap siapapun di Kalimantan Barat jika menganggap ini penting, mari bergabung membangkitkan sastra Kalbar,” ajaknya.
*

Pangeran berkuda putih tengah menyusur jalan. Putri Tidur masih lelap dalam mimpi kebesaran. Kita bisa memilih untuk melebarkan jalan, membuang penghalang lantas berangkat bersama Pangeran. Atau duduk diam, menonton Charles Perrault menulis ulang ceritanya. Yang entah berakhir apa.



Ditulis untuk harian Suara Pemred, edisi 18 Januari 2016, dengan judul Forsas Rangkul Penyair, Membangkitkan Sastra di Bumi Khatulistiwa

Jumat, 15 Januari 2016

TEMBAKAN MERIAM SULTAN, BUAT KAPUAS TERSENYUM KEMBALI

06.45 Posted by Kristiawan Balasa 2 comments


Peradaban Pontianak sebagai sebuah kota dimulai dari sungai. Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie ketika itu, konon menembakkan meriam dan jatuh tepat di persimpangan sungai Kapuas dan sungai Landak. Masjid Jami pun dibangun, baru kemudian menyusul Keraton Kadriah. Tampak pemimpin pertama kerajaan mendahulukan tiang agama, baru pusat kekuasaan.

Sungai-sungai yang dulu pusat kota, ditinggalkan. Orang-orang menghambur ke darat, merayapi aspal hitam dan pohon beton. Sungai jarang disapa, identitas kota itu ibarat kaum papa. Tak diperhatikan, lebih banyak menampung limbah ketimbang jejak-jejak pembangunan.

Sampah dan perilaku buruk masyarakat saling balap. Sementara mereka yang acap memandang cokelat air Kapuas yang katanya “bile kite minum aeknye, biar pon pergi jaoh ke mane, sunggoh susah tuk melupakannye”, lebih memilih jadi penonton setia.

Tahun 2013, meriam Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie kembali menembak. Peluru dan mesiu muda, menemui api semangat yang sama. Hanya ingin berbuat sesuatu sebagai kado Hari Jadi Kota Pontianak ke-242, sungai dan parit yang ‘ditinggal’ hati pemiliknya itu ingin mereka rawat.

Gerakan Senyum Kapuas (GSK) lahir, dari rahim kepedulian.

“Mengingat parit dan sungai Kapuas sudah banyak dipenuhi sampah dan tercemar. Ditambah lagi pola hidup masyarakat Pontianak yang kurang ramah lingkungan. Padahal, sungai Kapuas sumber air utama masyarakat,” ujar Nizar Hartady, founder GSK.

Nyatanya, meski hanya disiarkan melalui media sosial, meriam Sultan mampu memuntahkan kurang lebih 2000 relawan. Ini adalah bukti, seseorang hanya perlu menyulut api, lewat aksi. Tepat di Hari Jadi Pontianak, 23 Oktober 2013, peluru dan mesiu muda itu menghantam pinggiran sungai Kapuas, mendebam parit-parit penjuru kota. Tujuannya satu, mewujudkan badan air kota yang, bersih, rapi dan indah. Sekaligus meluluhlantakkan ketidakacuhan masyarakat.

Meriam Sultan jenis ini tidak sekadar fokus pada aliran air. Namun juga edukasi lingkungan dan penghijauan kota. Sedikitnya, ada tiga program kerja GSK. Pertama, GSK Siap Kotor, kegiatan membersihkan parit atau tepian sungai Kapuas bersama komunitas, dinas terkait dan masyarakat, yang dilakukan dua kali dalam satu bulan. Hingga saat ini, sudah lebih dari 30 parit, mereka bersihkan. 

Kedua, GSK Green School. Edukasi menjadi modal penting perubahan. Kesadaran sejak dini untuk bersahabat dengan lingkungan, mereka bagikan pada anak-anak bangku sekolah. Kini, lima sekolah tercatat menjadi bagian GSK Green School. Dan, kedepan jumlah ini akan terus bertambah.

“Terakhir, GSK Hijaukan Kote, kurang lebihnya program penghijauan kota. Masalahnya, ada banyak gerakan menanam pohon yang dilakukan, tapi tidak ditindaklanjuti. Di GSK, pohon yang kami tanam, akan dipantau perkembangannya agar terus tumbuh,” sebut Nizar.

Semua orang bebas untuk bergabung di sini. Dalam setiap aksinya, relawan dari berbagai kalangan dan komunitas pun selalu terlibat. Informasi kegiatan GSK bisa dilihat di facebook mereka, yang bernama Gerakan Senyum Kapuas. Tak ada yang lebih baik dari sebuah gerakan bersama. Tak ada yang berubah, jika hanya jadi penonton saja.

GSK juga kerap melakukan kampanye-kampanye kreatif terkait isu lingkungan. Turun ke pusat keramaian, memberi edukasi langsung pada masyarakat tentang pengolahan limbah dan sampah. Agar tak ada lagi yang menyulap badan air sebagai tempat pembuangan. Menjadikan identitas kota, indah, rapi dan bersih.

Sebagaimana masa lalu, saat Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie, lebih dulu membangun masjid ketimbang kerajaan. Sebab agama lebih penting dari kekuasaan. Dan, seperti yang kita tahu, keindahan dan kebersihan adalah sebagian dari iman.


ditulis untuk halaman komunitas harian Suara Pemred edisi 13 Desember 2015