Peradaban Pontianak sebagai
sebuah kota dimulai dari sungai. Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie ketika
itu, konon menembakkan meriam dan jatuh tepat di persimpangan sungai Kapuas dan
sungai Landak. Masjid Jami pun dibangun, baru kemudian menyusul Keraton
Kadriah. Tampak pemimpin pertama kerajaan mendahulukan tiang agama, baru pusat
kekuasaan.
Sungai-sungai yang dulu pusat
kota, ditinggalkan. Orang-orang menghambur ke darat, merayapi aspal hitam dan
pohon beton. Sungai jarang disapa, identitas kota itu ibarat kaum papa. Tak
diperhatikan, lebih banyak menampung limbah ketimbang jejak-jejak pembangunan.
Sampah dan perilaku buruk
masyarakat saling balap. Sementara mereka yang acap memandang cokelat air
Kapuas yang katanya “bile kite minum
aeknye, biar pon pergi jaoh ke mane, sunggoh susah tuk melupakannye”, lebih
memilih jadi penonton setia.
Tahun 2013, meriam Sultan
Syarif Abdurrahman Al-Qadrie kembali menembak. Peluru dan mesiu muda, menemui
api semangat yang sama. Hanya ingin berbuat sesuatu sebagai kado Hari Jadi Kota
Pontianak ke-242, sungai dan parit yang ‘ditinggal’ hati pemiliknya itu ingin
mereka rawat.
Gerakan Senyum Kapuas (GSK)
lahir, dari rahim kepedulian.
“Mengingat parit dan sungai Kapuas sudah banyak
dipenuhi sampah dan tercemar. Ditambah lagi pola
hidup masyarakat Pontianak yang kurang ramah lingkungan. Padahal, sungai Kapuas
sumber air utama masyarakat,” ujar Nizar Hartady, founder GSK.
Nyatanya,
meski hanya disiarkan melalui media sosial, meriam Sultan mampu memuntahkan
kurang lebih 2000 relawan. Ini adalah bukti, seseorang hanya perlu menyulut
api, lewat aksi. Tepat di Hari Jadi Pontianak, 23 Oktober 2013, peluru dan
mesiu muda itu menghantam pinggiran sungai Kapuas, mendebam parit-parit penjuru
kota. Tujuannya satu, mewujudkan badan air kota yang, bersih, rapi dan indah.
Sekaligus meluluhlantakkan ketidakacuhan masyarakat.
Meriam Sultan jenis ini tidak sekadar fokus
pada aliran air. Namun juga edukasi lingkungan dan penghijauan kota.
Sedikitnya, ada tiga program kerja GSK. Pertama, GSK Siap Kotor, kegiatan
membersihkan parit atau tepian sungai Kapuas bersama komunitas, dinas terkait
dan masyarakat, yang dilakukan dua kali dalam satu bulan. Hingga saat ini,
sudah lebih dari 30 parit, mereka bersihkan.
Kedua, GSK
Green School. Edukasi menjadi modal penting perubahan. Kesadaran sejak dini
untuk bersahabat dengan lingkungan, mereka bagikan pada anak-anak bangku sekolah.
Kini, lima sekolah tercatat menjadi bagian GSK
Green School. Dan, kedepan jumlah ini akan terus bertambah.
“Terakhir, GSK Hijaukan Kote, kurang lebihnya
program penghijauan kota. Masalahnya, ada banyak gerakan menanam pohon yang
dilakukan, tapi tidak ditindaklanjuti. Di GSK, pohon yang kami tanam, akan
dipantau perkembangannya agar terus tumbuh,” sebut Nizar.
Semua orang bebas untuk bergabung di sini.
Dalam setiap aksinya, relawan dari berbagai kalangan dan komunitas pun selalu
terlibat. Informasi kegiatan GSK bisa dilihat di facebook mereka, yang bernama Gerakan Senyum Kapuas. Tak ada yang
lebih baik dari sebuah gerakan bersama. Tak ada yang berubah, jika hanya jadi
penonton saja.
GSK juga kerap melakukan kampanye-kampanye
kreatif terkait isu lingkungan. Turun ke pusat keramaian, memberi edukasi
langsung pada masyarakat tentang pengolahan limbah dan sampah. Agar tak ada
lagi yang menyulap badan air sebagai tempat pembuangan. Menjadikan identitas
kota, indah, rapi dan bersih.
Sebagaimana masa lalu, saat Sultan Syarif
Abdurrahman Al-Qadrie, lebih dulu membangun masjid ketimbang kerajaan. Sebab agama
lebih penting dari kekuasaan. Dan, seperti yang kita tahu, keindahan dan
kebersihan adalah sebagian dari iman.
ditulis untuk halaman komunitas harian Suara Pemred edisi 13 Desember 2015

sedih banget kalau dengar dan lihat sungai kotor, aku dulu masih meraaakan main di sungai yang jernih , sekarang tinggal mimpi
BalasHapusaku ndak pernah main di sungai, soalnya ndak bisa berenang :(
Hapus