catatan remeh dan hal liar lain

Jumat, 15 Januari 2016

TEMBAKAN MERIAM SULTAN, BUAT KAPUAS TERSENYUM KEMBALI

06.45 Posted by Kristiawan Balasa 2 comments


Peradaban Pontianak sebagai sebuah kota dimulai dari sungai. Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie ketika itu, konon menembakkan meriam dan jatuh tepat di persimpangan sungai Kapuas dan sungai Landak. Masjid Jami pun dibangun, baru kemudian menyusul Keraton Kadriah. Tampak pemimpin pertama kerajaan mendahulukan tiang agama, baru pusat kekuasaan.

Sungai-sungai yang dulu pusat kota, ditinggalkan. Orang-orang menghambur ke darat, merayapi aspal hitam dan pohon beton. Sungai jarang disapa, identitas kota itu ibarat kaum papa. Tak diperhatikan, lebih banyak menampung limbah ketimbang jejak-jejak pembangunan.

Sampah dan perilaku buruk masyarakat saling balap. Sementara mereka yang acap memandang cokelat air Kapuas yang katanya “bile kite minum aeknye, biar pon pergi jaoh ke mane, sunggoh susah tuk melupakannye”, lebih memilih jadi penonton setia.

Tahun 2013, meriam Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie kembali menembak. Peluru dan mesiu muda, menemui api semangat yang sama. Hanya ingin berbuat sesuatu sebagai kado Hari Jadi Kota Pontianak ke-242, sungai dan parit yang ‘ditinggal’ hati pemiliknya itu ingin mereka rawat.

Gerakan Senyum Kapuas (GSK) lahir, dari rahim kepedulian.

“Mengingat parit dan sungai Kapuas sudah banyak dipenuhi sampah dan tercemar. Ditambah lagi pola hidup masyarakat Pontianak yang kurang ramah lingkungan. Padahal, sungai Kapuas sumber air utama masyarakat,” ujar Nizar Hartady, founder GSK.

Nyatanya, meski hanya disiarkan melalui media sosial, meriam Sultan mampu memuntahkan kurang lebih 2000 relawan. Ini adalah bukti, seseorang hanya perlu menyulut api, lewat aksi. Tepat di Hari Jadi Pontianak, 23 Oktober 2013, peluru dan mesiu muda itu menghantam pinggiran sungai Kapuas, mendebam parit-parit penjuru kota. Tujuannya satu, mewujudkan badan air kota yang, bersih, rapi dan indah. Sekaligus meluluhlantakkan ketidakacuhan masyarakat.

Meriam Sultan jenis ini tidak sekadar fokus pada aliran air. Namun juga edukasi lingkungan dan penghijauan kota. Sedikitnya, ada tiga program kerja GSK. Pertama, GSK Siap Kotor, kegiatan membersihkan parit atau tepian sungai Kapuas bersama komunitas, dinas terkait dan masyarakat, yang dilakukan dua kali dalam satu bulan. Hingga saat ini, sudah lebih dari 30 parit, mereka bersihkan. 

Kedua, GSK Green School. Edukasi menjadi modal penting perubahan. Kesadaran sejak dini untuk bersahabat dengan lingkungan, mereka bagikan pada anak-anak bangku sekolah. Kini, lima sekolah tercatat menjadi bagian GSK Green School. Dan, kedepan jumlah ini akan terus bertambah.

“Terakhir, GSK Hijaukan Kote, kurang lebihnya program penghijauan kota. Masalahnya, ada banyak gerakan menanam pohon yang dilakukan, tapi tidak ditindaklanjuti. Di GSK, pohon yang kami tanam, akan dipantau perkembangannya agar terus tumbuh,” sebut Nizar.

Semua orang bebas untuk bergabung di sini. Dalam setiap aksinya, relawan dari berbagai kalangan dan komunitas pun selalu terlibat. Informasi kegiatan GSK bisa dilihat di facebook mereka, yang bernama Gerakan Senyum Kapuas. Tak ada yang lebih baik dari sebuah gerakan bersama. Tak ada yang berubah, jika hanya jadi penonton saja.

GSK juga kerap melakukan kampanye-kampanye kreatif terkait isu lingkungan. Turun ke pusat keramaian, memberi edukasi langsung pada masyarakat tentang pengolahan limbah dan sampah. Agar tak ada lagi yang menyulap badan air sebagai tempat pembuangan. Menjadikan identitas kota, indah, rapi dan bersih.

Sebagaimana masa lalu, saat Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie, lebih dulu membangun masjid ketimbang kerajaan. Sebab agama lebih penting dari kekuasaan. Dan, seperti yang kita tahu, keindahan dan kebersihan adalah sebagian dari iman.


ditulis untuk halaman komunitas harian Suara Pemred edisi 13 Desember 2015

2 komentar:

  1. sedih banget kalau dengar dan lihat sungai kotor, aku dulu masih meraaakan main di sungai yang jernih , sekarang tinggal mimpi

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku ndak pernah main di sungai, soalnya ndak bisa berenang :(

      Hapus