Tak
banyak yang tahu bahwa Sultan Hamid II, putra kesultanan Kadriah, Pontianak
adalah pencipta lambang negara Indonesia. Apalagi, saat ini sebutan Garuda
Pancasila lebih familiar di telinga. Padahal, Sultan Hamid II menamai lambang
sakral negara kita dengan Elang Rajawali Garuda Pancasila.
Tidak
hanya itu, bagaimana membaca pancasila dalam lambang negara pun, seringkali
keliru. Beberapa waktu lalu, Suara Pemred
berkesempatan bertemu dengan Turiman Faturahman, peneliti perjuangan Sultan
Hamid II, yang juga dosen Fakultas Hukum, Universitas Tanjungpura.
Dikatakannya, lambang negara Indonesia memiliki tiga konsep dasar. Yakni Elang
Rajawali Garuda Pancasila, perisai Pancasila yang tergantung di leher garuda,
dan identitas bangsa Indonesia, Bhineka Tunggal Ika.
Dalam
perisai tersebut, terdapat lima simbol pancasila. Sila pertama disimbolkan
dengan bintang bersudut lima. Mewakili nur atau cahaya. Ketuhanan Yang Maha
Esa, diartikan sebagai cahaya. Persis berada di tengah. Dengan perisai
tersendiri berwarna hitam.
"Lalu
empat bidang lainnya, warnanya merah putih, sesuai dengan warna bendera kita.
Jadi sila ke satu itu, cahaya bagi keempat sila lainnya, "tuturnya.
Membaca
pancasila dalam lambang negara, haruslah melingkar. Sila pertama berada di
tengah, sebagai pusat. Seperti tawaf mengelilingi Ka'bah. Bukan dibaca secara
linier atau piramida. Sila kedua disimbolkan dengan kalung bersegi empat dan
lingkaran berjumlah tujuh belas. Lingkar sebagai lambang wanita. Dan
bentuk petak, simbol laki-laki. Lambang regenerasi.
"Artinya
Tuhan Yang Maha Esa (sila pertama) itu menginginkan bangsa Indonesia,
kemanusiaannya adil dan beradab. Laki juga perempuan. Itu paham humanisme,”
sebutnya.
Manusia
harus beradab. Berpikir adil. Karena adil mendekati takwa. Ketuhanan Yang Maha
Esa. Manusia yang adil dan beradab membutuhkan suatu wadah. Yakni, Persatuan
Indonesia. Sila ketiga.
"Karenanya
menurut Sultan Hamid II, persatuan Indonesia, bukan kesatuan. Berujung pada
pemikiran federalis. Berlambang pohon beringin," terangnya.
Lambang
pohon beringin dipakai sebagai bentuk apresiasi Sultan Hamid II pada
Purwacaraka, yang memberikan sumbangan pemikiran padanya. Pohon beringin
merupakan simbol bersatunya rakyat dan penguasa. Di mana, biasanya pohon ini berada
di alun-alun kerajaan, seperti di Yogyakarta. Yang mana alun-alun adalah tempat
rakyat menyampaikan aspirasi kepada rajanya.
Lalu
sila ke empat, perihal demokrasi. Bermusyawarah dan mufakat yang berlambang
banteng. Apresiasi rancangan Muhammad Yamin. Sila ke lima, keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia. Bersimbol sederhana, padi dan kapas. Lambang sandang
pangan. Jika dua hal itu terpenuhi, rakyat Indonesia, dipastikan makmur.
Berdaulat jika semua dari dalam negeri. Sejatinya, Pancasila turut mengajarkan
bagaimana sebaiknya membangun sebuah bangsa. Yakni kedaulatan sandang dan
pangan.
Sebagaimana
yang dikatakan di awal, ikhwal susunan simbol sila dalam perisai pancasila.
Ketuhanan Yang Maha Esa berada di tengah. Artinya, jika sudah tidak ada cahaya
Tuhan, tidak ada kecerdasan spiritual, otomatis sila-sila lain akan hancur.
Merah putih yang menjadi dasar warna empat sila bernasib sama.
"Apakah
saat ini sedang terjadi hal itu?" ujar Turiman bertanya.
Kemudian,
di tengah perisai, terdapat garis tebal melingkar, yang menjadi identitas garis
khatulistiwa. Selain ingin mengatakan bahwa Indonesia ada di tengah dunia.
Dengan garis itu, Sultan Hamid II juga ingin menunjukkan, pembuat lambang negara
berasal dari tanah khatulistiwa.
Namun,
yang terpenting menurut Turiman, adalah cara bangsa Indonesia membaca pancasila
dalam lambang negara. Filosofinya dimulai dari tengah. Baru kemudian sila
kedua, ketiga, keempat dan kelima.
Dengan
demikian, ada yang dijadikan pusat. Yakni sila pertama sebagai sila utama. Sila
pertama menjadi nur bagi sila lainnya. Pembacaan secara linier, atau piramida,
merupakan cara baca positivisme, milik bangsa Barat.
"Nilai-nilai
ketuhanan itu yang mulai luntur saat ini. Kita sudah tidak mengimplementasikan
semiotika hukum yang ada di pancasila," sesalnya.
Kekeliruan
lain juga muncul dalam mengartikan Bhineka Tunggal Ika. Selama ini kita kerap
mengartikannya sebagai berbeda-beda tapi tetap satu jua. Menurut Turiman, itu
keliru. Dengan makna seperti itu, akhirnya yang ditonjolkan adalah perbedaan.
Beda suku, beda agama, beda bendera. Sejatinya, bhineka itu berarti keragaman.
"Tunggal
itu artinya satu. Sementara ika, artinya itu. Jadi Bhineka Tunggal Ika, yang
beragam itu satu itu. Yang satu itu, beranekaragam,” terangnya.
Pemaknaan
yang sudah masuk ke dalam pemikiran bangsa Indonesia sejak puluhan tahun,
akhirnya memengaruhi seseorang dalam bersikap. Saling mengkafirkan satu sama
lain pun tak bisa dihindari. Beda pilihan, jadi penyebab keributan. Kekayaan
keberagaman, tak dipikirkan. Padahal, Tuhan sendiri mengatakan sengaja
menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, untuk saling mengenal.
Ditulis untuk Harian Suara Pemred edisi 11 Januari 2016.


