catatan remeh dan hal liar lain

Jumat, 22 April 2016

MEMBACA PANCASILA DALAM LAMBANG NEGARA ALA SULTAN HAMID II

18.33 Posted by Kristiawan Balasa , No comments

Tak banyak yang tahu bahwa Sultan Hamid II, putra kesultanan Kadriah, Pontianak adalah pencipta lambang negara Indonesia. Apalagi, saat ini sebutan Garuda Pancasila lebih familiar di telinga. Padahal, Sultan Hamid II menamai lambang sakral negara kita dengan Elang Rajawali Garuda Pancasila.

Tidak hanya itu, bagaimana membaca pancasila dalam lambang negara pun, seringkali keliru. Beberapa waktu lalu, Suara Pemred berkesempatan bertemu dengan Turiman Faturahman, peneliti perjuangan Sultan Hamid II, yang juga dosen Fakultas Hukum, Universitas Tanjungpura. Dikatakannya, lambang negara Indonesia memiliki tiga konsep dasar. Yakni Elang Rajawali Garuda Pancasila, perisai Pancasila yang tergantung di leher garuda, dan identitas bangsa Indonesia, Bhineka Tunggal Ika.

Dalam perisai tersebut, terdapat lima simbol pancasila. Sila pertama disimbolkan dengan bintang bersudut lima. Mewakili nur atau cahaya. Ketuhanan Yang Maha Esa, diartikan sebagai cahaya. Persis berada di tengah. Dengan perisai tersendiri berwarna hitam.

"Lalu empat bidang lainnya, warnanya merah putih, sesuai dengan warna bendera kita. Jadi sila ke satu itu, cahaya bagi keempat sila lainnya, "tuturnya.

Membaca pancasila dalam lambang negara, haruslah melingkar. Sila pertama berada di tengah, sebagai pusat. Seperti tawaf mengelilingi Ka'bah. Bukan dibaca secara linier atau piramida. Sila kedua disimbolkan dengan kalung bersegi empat dan lingkaran berjumlah tujuh belas. Lingkar sebagai lambang wanita. Dan bentuk petak, simbol laki-laki. Lambang regenerasi.

"Artinya Tuhan Yang Maha Esa (sila pertama) itu menginginkan bangsa Indonesia, kemanusiaannya adil dan beradab. Laki juga perempuan. Itu paham humanisme,” sebutnya.

Manusia harus beradab. Berpikir adil. Karena adil mendekati takwa. Ketuhanan Yang Maha Esa. Manusia yang adil dan beradab membutuhkan suatu wadah. Yakni, Persatuan Indonesia. Sila ketiga.
"Karenanya menurut Sultan Hamid II, persatuan Indonesia, bukan kesatuan. Berujung pada pemikiran federalis. Berlambang pohon beringin," terangnya.

Lambang pohon beringin dipakai sebagai bentuk apresiasi Sultan Hamid II pada Purwacaraka, yang memberikan sumbangan pemikiran padanya. Pohon beringin merupakan simbol bersatunya rakyat dan penguasa. Di mana, biasanya pohon ini berada di alun-alun kerajaan, seperti di Yogyakarta. Yang mana alun-alun adalah tempat rakyat menyampaikan aspirasi kepada rajanya.

Lalu sila ke empat, perihal demokrasi. Bermusyawarah dan mufakat yang berlambang banteng. Apresiasi rancangan Muhammad Yamin. Sila ke lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bersimbol sederhana, padi dan kapas. Lambang sandang pangan. Jika dua hal itu terpenuhi, rakyat Indonesia, dipastikan makmur. Berdaulat jika semua dari dalam negeri. Sejatinya, Pancasila turut mengajarkan bagaimana sebaiknya membangun sebuah bangsa. Yakni kedaulatan sandang dan pangan.

Sebagaimana yang dikatakan di awal, ikhwal susunan simbol sila dalam perisai pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa berada di tengah. Artinya, jika sudah tidak ada cahaya Tuhan, tidak ada kecerdasan spiritual, otomatis sila-sila lain akan hancur. Merah putih yang menjadi dasar warna empat sila bernasib sama.

"Apakah saat ini sedang terjadi hal itu?" ujar Turiman bertanya.

Kemudian, di tengah perisai, terdapat garis tebal melingkar, yang menjadi identitas garis khatulistiwa. Selain ingin mengatakan bahwa Indonesia ada di tengah dunia. Dengan garis itu, Sultan Hamid II juga  ingin menunjukkan, pembuat lambang negara berasal dari tanah khatulistiwa.

Namun, yang terpenting menurut Turiman, adalah cara bangsa Indonesia membaca pancasila dalam lambang negara. Filosofinya dimulai dari tengah. Baru kemudian sila kedua, ketiga, keempat dan kelima.

Dengan demikian, ada yang dijadikan pusat. Yakni sila pertama sebagai sila utama. Sila pertama menjadi nur bagi sila lainnya. Pembacaan secara linier, atau piramida, merupakan cara baca positivisme, milik bangsa Barat.

"Nilai-nilai ketuhanan itu yang mulai luntur saat ini. Kita sudah tidak mengimplementasikan semiotika hukum yang ada di pancasila," sesalnya.

Kekeliruan lain juga muncul dalam mengartikan Bhineka Tunggal Ika. Selama ini kita kerap mengartikannya sebagai berbeda-beda tapi tetap satu jua. Menurut Turiman, itu keliru. Dengan makna seperti itu, akhirnya yang ditonjolkan adalah perbedaan. Beda suku, beda agama, beda bendera. Sejatinya, bhineka itu berarti keragaman.

"Tunggal itu artinya satu. Sementara ika, artinya itu. Jadi Bhineka Tunggal Ika, yang beragam itu satu itu. Yang satu itu, beranekaragam,” terangnya.

Pemaknaan yang sudah masuk ke dalam pemikiran bangsa Indonesia sejak puluhan tahun, akhirnya memengaruhi seseorang dalam bersikap. Saling mengkafirkan satu sama lain pun tak bisa dihindari. Beda pilihan, jadi penyebab keributan. Kekayaan keberagaman, tak dipikirkan. Padahal, Tuhan sendiri mengatakan sengaja menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, untuk saling mengenal.

Ditulis untuk Harian Suara Pemred edisi 11 Januari 2016.

Selasa, 19 April 2016

MELANJUTKAN PERJUANGAN KASAN GENDON

00.33 Posted by Kristiawan Balasa , 1 comment

FOTO: KRISTIAWAN BALASA

Tiga puluh delapan anak dengan pakaian putih hitam, maju dalam beberapa kelompok. Mengepal tinju, membentuk kuda-kuda, memukul angin. Kadang enam-enam, atau empat-empat, mempertontonkan langkah dasar gerakan silat Wekasan Suprih Ngudi Tunggal, di pelataran lapangan latih di Gg. Margodadirejo 1, Pontianak Kota, Sabtu (16/4) malam.

Gerakan mereka kompak. Terlihat begitu terampil dengan power kuat, di antara tabuhan gamelan rancak. Satu kelompok maju dengan memamerkan langkan dasar 1-4, hingga langkah ke 18, diselingi tepuk tangan penonton sebagai tanda pergantian langkah.

Tiga orang anak kemudian maju mempertontonkan keterampilan seni silat Wekasan. Tangan kosong, golok dan toya. Usia mereka rerata lima belasan. Tabuhan gendang yang mengiringi menjadi ruh irama gerakan. Mula-mula tangan kosong, gerak kilat dengan intuisi tajam membuat langit Sabtu malam itu riuh.

Apalagi ketika tampilan golok keluar. Meski hanya tampilan seni, suara golok yang memotong angin terdengar menyaingi lantunan kawarit pengiring. Melompat, menerjang, dengan satu golok di tangan. Saat anak dengan toya bambu keluar, suaranya tak kalah bikin gegar. Menghempas angin memukul tanah, hingga menimbulkan bunyi ngeri di temaram gelap.

Anak-anak ini merupakan siswa baru Persatuan Pencak Silat Wekasan Suprih Ngudi Tunggal ranting Sungai Jawi, Pontianak. Mereka baru saja menamatkan pelatihan langkah dasar yang dimulai sejak Januari 2016 lalu. Sebagian dari mereka berumur belasan dengan yang termuda masih duduk di kelas satu sekolah dasar.

Satimin, Ketua Ranting PS. Wekasan Suprih Ngudi Tunggal Ranting Sungai Jawi mengatakan, ini merupakan kegiatan tahunan. Tanda bahwa latihan langkah dasar mereka tamatkan. Setelah ini, pemantapan akan dilakukan. Akan ada yang berfokus pada seni silat, juga untuk mengikuti pertandingan. Semua tergantung dari minat anak-anak itu sendiri, katanya.

“Ini juga upaya kita melestarikan budaya Pencak Silat Wekasan Suprih Ngudi Tunggal yang dibawa oleh Mbah Kasan Gendon,” tambahnya.

Kasan Gendon yang dimaksud adalah Kasan Achmad, pemuda asal Ngambal, Kebumen, Jawa Tengah yang ditugasi Pakubuwono X Kesultanan Surakarta Hadiningrat ke Borneo Barat (Kalimantan Barat) untuk membantu melawan pemerintahan Kolonial Belanda awal abad XX. Setibanya di Pontianak, ia segera berkomunikasi dengan beberapa orang Jawa yang sudah lebih dulu menetap di Kalbar.

Salah satunya, Pangeran Poerbosoediro atau yang dikenal dengan Pangeran Suwargi Ndoro Poerbo. Seorang pangeran tanah Jawa yang tengah menjalani selong (hukum buang) karena menentang kolaborasi Kasunanan dengan Pemerintah Hindia Belanda. Pangeran Poerbo inilah yang mengajarkan Kasan Gendon ilmu kebatinan untuk melengkapi kemampuan bela dirinya.

Ada satu nama lain, yakni Gusti Suprapto Adriani, pemimpin Kesatuan Laskar Perlawanan Rakyat. Gusti Suprapto Adriani merupakan utusan Soekarno-Hatta di wilayah Borneo Barat. Selanjutnya, masyarakat Pontianak mengenal mereka bertiga dengan sebutan Tiga Serangkai.

Pemerintahan Hindia Belanda di Borneo Barat kala itu, turut bekerja sama dengan kesultanan yang ada. Sehingga, rakyat tetap berada dalam urusan para sultan. Sekitar 1918, Hindia Belanda lebih memusatkan perhatian mereka pada bidang ekonomi. Karenanya, di awal kedatangannya hingga 1940n, Kasan Gendon tidak gegabah melakukan perlawanan terang-terangan. Melainkan, lewat bawah tanah, dengan pelatihan silat sejak 1918 untuk para orang Jawa dan etnis lain seperti Melayu, Bugis dan Tionghoa.

Dari situlah nama “Gendon” berasal. Dalam bahasa Jawa, “gendon” berarti anak. Kemasyuran ilmu kanuragan yang dimiliki dan pengajaran silat yang dilakukanya membuat warga memanggilnya dengan nama itu. Mengingat ia berasal dari Jawa. “Anak yang berasal dari Jawa.”

Seiring waktu, kewibawaannya bertambah di masyarakat. Tak hanya dalam kehidupan sosial, dirinya juga jadi tokoh sentral perlawanan terhadap penjajah. Pusat pengembangan silatnya berfokus di Desa Jawa Tengah, Kecamatan Sungai Ambawang, Kampung Arang dan Desa Tebang Kacang, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya. 

“Makanya tidak heran, hingga saat ini Wekasan terus berkembang di daerah-daerah mayoritas etnis Jawa. Tidak hanya Pontianak dan Kubu Raya, bahkan sampai Ketapang,” tambahnya.

Silat berasal dari silaturahmi. Sedangkan “Wekasan Suprih Ngudi Tunggal” berarti pesan (amanat) agar bersatu. Hal ini sejalan dengan pembinaan silat dan pergerakan yang dilakukan Kasan Gendon. Perjuangannya semakin berat saat masa revolusi fisik di Borneo Barat, pacsa kedatangan Jepang sampai kekalahannya dan pasukan NICA bersama Belanda kembali datang.

Pengeboman yang dilakukan Jepang tahun 1942 di Gertak Putih Simpang Empat (sekarang sekitar Jalan Gajah Mada, Pontianak) menjadi awal mula peristiwa Mandor. Di mana para tentara Jepang menghabisi ribuan rakyat Kalbar, termasuk para cendikia, alim ulama dan tokoh-tokoh penting. Peristiwa itu memicu sakit hati Kasan Gendon dan kelompoknya.

Keganasan Jepang kala itu, nyatanya mampu diimbangi Kasan Gendon. Sebagai pembimbing spiritual para pejuan, ia dan para muridnya tak tertangkap tentara Jepang. Konon, lewat kesaktiannya yang menuliskan doa dengan kapur sirih pada rumah-rumah para murid, membuat mereka luput dari pandangan tentara Jepang.

Saat Jepang jatuh usai Hiroshima dan Nagasaki dibombardir Amerika, giliran tentara Belanda diboncengi NICA yang kembali masuk Borneo Barat. Teror dari Kasan Gendon dan muridnya semakin gencar. Kala siang mereka hanyalah petani biasa, di saat malam teror dengan mengoyak bendera Belanda dilakukan.

Hal itu membuat Belanda merasa terancam, dan ketika 1946 Kasan Gendon bergabung ke Laskar Perlawanan Rakyat pimpinan Gusti Soeprapto Andiani, dirinya ditangkap dan dipenjarakan bersama pengikutnya. Antara lain Tilah Wijaya, Achmad Djayadi, Paerun Ditawerjda, Mantawi dan Soeprapto sendiri.

Mereka bebas tahun 1949 atas perintah Bung Karno yang menginginkan semua tahanan politik dibebaskan. Sebagai gantinya Kasan Gendon harus memimpin para petani di Ambawang yang wajib memberi hasil panennya pada Belanda. Hal itu dilakukan dengan patuh sambil tetap mengajar silat.

Nasionalismenya terus ia perjuangkan untuk menyatukan semua dalam wadah perguruan pencak silat hingga ia wafat pukul 01.00 di Kampung Jawa Tengah, Sungai Ambawang, Senin, 27 Mei 1968. Atas bantuan Korsubmarsional 604 Pontianak dan Kepolisian Resort 1101 Pontianak, jenazah dibawa ke Pontianak dengan KM. Malong yang disambut puluhan ribu masyarakat dengan duka cita.


Jenazahnya dikebumikan di TPU Sungai Bangkong, berdampingan dengan makam Pangeran Poerbosoediro. Atas keberaniannya melawan penjajah, Kasan Gendon dan muridnya diangkat pemerintah sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia. Hingga kini pun, semangat nasionalisme dan kesatuan Mbah Kasan Gendon (kini dikenal dengan nama itu) kembali tumbuh dalam diri 38 anak yang baru saja menamatkan latihan langkah dasar mereka.

Ditulis untuk Suara Pemred edisi Senin, 18 April 2016

Minggu, 03 April 2016

MEREKA ISTIMEWA, SAMA SEPERTI KAMU

04.35 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Arief tengah mengabadikan peserta peringatan Hari Autis Sedunia di Tugu Digulist, Pontianak 

Arief Dwicahyo Herdhiutomo (22) tampak asyik dengan kameranya. Berpindah dari satu fokus ke fokus lain. Badannya sedikit menunduk ketika mengabadikan momen talkshow Peringatan Hari Autis Sedunia di Bundaran Tugu Digulist, Sabtu (2/4) sore. Sesekali, ia berbincang dengan orang yang ditemui.

Perawakannya biasa saja. Tinggi berisi dengan potongan rambut cepak. Anak kedua pasangan Rusmaty Atmo dan Sri Heryanti itu tak terlihat seperti anak berkebutuhan khusus. Apalagi sore itu, Arief mengenakan kaus berwarna biru, seperti halnya puluhan, bahkan mungkin ratusan orang yang sengaja membirukan bundaran.

Kamera yang dikalungkan di lehernya, seakan tak punya waktu istirahat. Usai memfoto satu objek, Arief akan mencari objek lain. Atau setelah mengobrol dengan seseorang, ia tak lupa mengabadikannya dengan DLSR hitam di tangan.

Empat tahun sudah Arief menggeluti dunia photografi. Ia hanya senang mengabadikan. Ketika diminta menjelaskan cara mengambil gambar yang baik, dengan gembira ia menjelaskan. Hampir semua fungsi tombol dan fitur kamera dimengerti. Semua dipelajarinya sendiri.

Mungkin masih ada yang berpikir anak-anak berkebutuhan khusus, sebagai seseorang yang perlu dikasihani. Tidak mandiri dan sulit diberi tanggung jawab. Kenyataanya tidak demikian. Arief saat ini bekerja sebagai staf Tata Usaha salah satu Sekolah Luar Biasa di Pontianak. Ia memang sempat kesulitan, tapi waktu membuat semua jadi lebih mudah.

“Awalnya susah, setelah setahun kerja di sana jadi mudah,” ujarnya terbata.

Komunikasi memang jadi kesulitan bagi Arief. Ibunya, Sri Heryanti bercerita, kadang ia kesulitan untuk menjelaskan suatu hal pada Arief. Terutama sesuatu yang berkaitan dengan nilai. Misalnya perihal “murah” dan “mahal” dengan rentetan angka dalam rupiah.

Tak jarang Sri kewalahan meladeni pertanyaan-pertayaan dari Arief, tapi ia tetap melayani semua tanya itu dengan senyum. Semua demi perkembangan anaknya. Memang, tak jarang persepsi masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus cukup menggangu. Tidak semua orang mengerti seperti apa mereka dan apa yang mereka butuhkan.

Dikatakan Sri, tak jarang emosi anaknya meledak-ledak. Tentu hal itu membuatnya kuatir. Ditambah, bukan seorang saja anaknya yang berkebutuhan khusus. Arief memiliki saudara kembar. Pandu Dwicahyo Herdhiutomo, yang lahir lima menit lebih dulu dari Arief.

“Kalau tiba-tiba marah, dirangkul pelan-pelan, ditenangkan,” kata Sri.

Mungkin cinta memang obat segala. Hal itu terbukti ampuh untuk menenangkan dua jagoannya. Emosi yang meledak-ledak itu, bukannya tanpa penyebab. Makanan yang mengandung MSG (Monosodium Glutamat) disebut Sri, jadi salah satu penyebab. Karenanya, ia begitu selektif mengurusi makan anak-anaknya itu.

Sebagaimana Arief, Pandu pun mengalami masalah dengan komunikasi verbalnya. Nalar mereka berdua berbeda dari orang kebanyakan. Hal itu jadi kelebihan Pandu. Ia mampu berpikir cara-cara praktis dalam menyelesaikan sesuatu. Salah satunya, dalam merakit komputer. Pandu dapat menyetel kembali rangkaian komputer yang dibongkar, jauh lebih cepat dari penyedia jasa service di toko-toko elektronik.

“Kalau Abangnya (Pandu) suka dengan IT. Dia belajar sendiri, otodidak. Sekarang sedang magang,” jelas Sri.

Perawakan Pandu sedikit berbeda dengan Arief. Rambutnya sedikit lebih panjang, dan membelah ke arah kiri. Tubuhnya lebih kurus, dengan headset yang tak pernah lepas menyumpal telinga. Ia tak terlihat canggung berada di antara orang-orang yang hadir di sana dan tampak bisa membaur dengan mudah.

Arief dan Pandu memang sudah bisa bersosialisasi dengan baik. Tapi sebagai seorang ibu, Sri Heryanti masih merasa takut untuk melepas mereka seorang diri. Padahal, kedua anaknya bahkan sudah bisa berkendara sendiri. Namun, tetap saja khawatir membayangi Sri, di belakang langkah dua anak dari tiga bersaudara itu.

“Kalau bapaknya malah biasa saja, ndak apa dilepas. Saya sendiri masih takut. Mungkin karena rasa keibuan ya,” ujarnya sambil tersenyum.

Selain bersama dua anak kembarnya, sore itu Sri Heryanti juga membawa serta anak bungsunya. Mereka sengaja datang beramai-ramai untuk memperingati Hari Autis Sedunia. Mengabarkan pada masyarakat bahwa mereka ada. Tak ada alasan bagi para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus menutup diri.

Mengusung tema “Lihatlah Aku, Inilah Duniaku”, acara yang digagas Forum Relawan Bahagia dan UPTD Autis Center Pontianak itu menggelar banyak acara. Tak hanya talkshow, lomba lukis anak berkebutuhan khusus dan kampanye Autism is Awesome membuat Hari Peringatan Autis yang baru pertama kali digelar itu menarik perhatian publik.

Ismi Ardini, Kepala UPTD Autis Center Pontianak mengatakan, selain untuk mengajak masyarakat peduli terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, acara ini juga sebagai promosi bahwa di Pontianak, ada UPTD Autis Center.

Para orang tua anak berkebutuhan khusus tak perlu bingung. UPTD Autis Center menyediakan berbagai macam informasi, juga layanan terapi, screening, konsultasi dan masih banyak lagi untuk membantu para orang tua. Selain itu, mereka juga tak harus merasa sendiri, ada Parents Scot Grup Anak Autis Pontianak, sebagai wadah para orang tua dengan anak berkebutuhan khusus.

“Alat di kami lengkap. Tak perlu kuatir. Semakin cepat diterapi, semakin cepat pula anak bersosialisasi,” kata Ismi.


Para orang tua tinggal datang ke UPTD Autis Center di Jalan Tabrani Ahmad, Pontianak Barat. Dengan terbukanya para orang tua, lebih mudah pula mendata berapa jumlah pasti anak berkebutuhan khusus di Pontianak, sehingga lebih mudah untuk membuat program-program ke depan.

Ditulis untuk Suara Pemred, edisi Minggu, 2 April 2016