catatan remeh dan hal liar lain

Minggu, 29 November 2015

BORNEO IS CALLING, SERUAN MENCINTAI ULANG TANAH KHATULISTIWA

00.40 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
dokumen Las!

Rumah kami bukan kayu bakar kalian

Rumah kami bukan ladang uang kalian

Rumah kami bukan tempat buangan kotoran kalian

Kali ini saatnya kami mengambil kembali rumah kami

Kali ini saatnya kami pulang

Begitulah potongan lirik BorneoIs Calling dari Las!, band yang tengah ramai diperbincangkan anak muda Pontianak saat ini. Lagu yang menurut Bob (26), ia ciptakan sebagai ungkapan rindunya terhadap tanah Borneo, yang selama enam tahun ia tinggal hijrah ke Jakarta. Semua berawal dari sebuah perjalanan menuju Kapuas Hulu, medio Agustus 2015 lalu. Life On The Road, begitu nama petualangan yang mereka—personil Las!—sematkan dan jadikan film dokumenter itu.

"Di Borneo Is Calling adalah seruan untuk Wild Bornean (sebutan penggemar Las!), yang besar dan tumbuh di tanah ini, untuk kembali melihat, dan tidak menutup mata terhadap apa yang tengah terjadi sekarang,” harapnya.

Dalam Life On The Road itulah, cikal bakal Las! hadir. Bob, Dinan (26), Kajol (26) dan Diaz (23), yang tergabung dalam band, bersama dua rekan lain menuju Kapuas Hulu, tanpa ekspestasi apa pun. Berkendara mini van, mereka hanya ingin sekadar tualang untuk melihat dan membungkus akar rumput Kalimantan Barat dalam sebuah movement yang menarik.

Diyakini Diaz dan Bob, lewat dokumenter itu, mereka ingin mengabadikan keindahan dan kehilangan yang berlangsung di tanah Khatulistiwa. Terutama, deforestasi yang tak kenal batas. Kemilau Taman Nasional Danau Sentarum membikin mereka membatin. Sebab, sepanjang perjalanan, melewati Sanggau, Sintang dan Landak, hutan sawit lekat dalam pandangan.

“Sangat disayangkan para pemuda menutup mata, padahal tanah ini tengah dirampok, dipecah-pecah tanpa kita sadari. Seruan dalam Borneo Is Calling adalah seruan untuk membuka mata, dan mencintai ulang tanah ini,” sebut Bob, sang gitaris.

Setelah menyelesaikan Life On The Road kurang lebih satu bulan, 14 September 2015 mereka kembali di Pontianak. Diaz dan Kajol, mantan personil Lost At Sea yang telah bubar, agaknya tak tahan untuk kembali ke dunianya, Las! pun ditasbihkan menjadi pelabuhan bermusik mereka. Karena saat itu masih meraba-raba siapa yang akan menjadi vokalis, akhirnya Momo, vokalis Kapten Jack diminta untuk berkolaborasi.

“Waktu itu masih mencari-cari apakah Dinan atau siapa yang akan jadi vokalis. Akhirnya, ajak Momo untuk berkolaborasi dalam showcase, di Cofee Stelsel. Ternyata sukses, kita merasa ini loh, formasi yang tepat setelah Lost At Sea bubar,” ungkap Diaz.

Musik alternatif yang mereka bawakan, terasa lebih maskulin, ketimbang Lost At Sea dulu. Saat showcase, lagu Borneo Is Calling dan Seperti Peduli, mereka perkenalkan kepada publik. Sejumlah live version akustik dari dua lagu itu, turut mereka rilis di Youtube. Anda hanya perlu mencarinya dengan judul lagu disertai Las! di fitur pencarian. Atau dengan mendatangi channel Diaz Fadel.
Sambutan hangat mereka terima, hingga kini, setiap video yang mereka unggah, sudah menembus 3000 viewer. Hal ini tentu buat mereka bangga. Movement seksi, sebagaimana niatan mereka, ikhwal kepedulian lingkungan generasi muda, setidaknya memiliki titik terang.

"Anak muda harus tahu, deforestasi di Kalbar udah luar biasa. Dan kepentingan para perusahaan kepala sawit ini dilakukan oleh investor dan penguasa yang sebenarnya kita tahu siapa orangnya,” sesal Diaz, drummer Las!.

Sementara itu, di lagu Seperti Peduli, sang vokalis, Dinan mengatakan, pesan yang ingin disampaikan bukan hanya dalam lingkup Kalimantan, tapi seluruh Indonesia. Reklamasi di Bali, pembangunan jor-joran hotel di Jogja atas nama pariwisata turut menarik perhatian. Dalam carut-marut seperti itu, justru para pemuda tengah terlena dalam buaian teknologi. Padahal, alam mereka tengah dicuri.
“Mereka jauh lebih sibuk memikirkan eksistensi. Sibuk selfie-selfie, sebenarnya teknologi yang mereka pegang, bisa digunakan demi menyelamatkan alam. Meski sekadar meneruskan kampaye pergerakan,” urainya.

Lagu tersebut mengkritik para pemuda yang pura-pura peduli dengan isu alam dan lingkungan yang terjadi selama ini. Meski, pura-pura peduli mereka anggap jauh lebih baik ketimbang tidak peduli sama sekali. Sebab, ada banyak perubahan yang berawal dari ikut-ikutan.

Februari 2015 nanti, rencanya, Las! akan merilis album berbarengan dengan film dokumenter Life On The Road yang dijadikan dalam satu paket. Bisa jadi, mereka adalah band pertama di Pontianak yang melakukannya. Ditambahkan Kajol, yang juga memegang gitar, lewat karya mereka, diharapkan pemuda Kalbar lebih peka dengan isu lingkungan tempat tinggalnya.

Perubahan sekecil apa pun, bila dilakukan secara berkelanjutan, akan menghasilkan sesuatu yang besar. Sebagaimana mimpi bermusik mereka yang juga dijadikan alat perubahan. Dan bagi Las!, musik yang mengedukasi, adalah sukses dengan cara yang seksi. (kristiawan balasa)


Dimuat untuk koran Suara Pemred edisi Sabtu, 28 November 2015.

Rabu, 30 September 2015

Anjing Itu Terus Menggonggong

06.45 Posted by Kristiawan Balasa 3 comments

Anjing itu bukan menggonggong pada orang asing, tapi justru pada majikannya sendiri. Anjing itu akan ada di mana majikannya ada, sambil mempertontonkan taringnya yang selalu diasah, beradu pisau angin. Anjing itu selalu menunjukkan liurnya yang rembes seakan ujung gigi adalah rahim, pada sang majikan. Anjing itu meneteskan liur yang bukan haus daging atau tulang. Anjing itu lapar perhatian, pula keadilan. Anjing itu tahu, majikannya tahu.

 Anjing itu menyalak, memenuhi layar kaca, menempatkan guk-guk-guk di baris paling depan surat kabar peternakan. Anjing itu tahu, masanya akan tiba, saat ia tak akan lagi dalam kungkungan. Anjing itu melihat bagaimana kucing dan tikus saling bunuh untuk isi perut. Anjing itu memandang ayam-ayam mengais makan bahkan saat kokok mereka sendiri belum berkumandang. Anjing itu merasa, peternakan seluas kota mati Chernobyl itu, punya satu binatang paling buas, sang Majikan. Anjing itu tak tahan, tak melawan. Anjing itu merasakan perutnya bernyanyi, tapi ia tak henti menggonggong. Anjing itu menekuni tanah kering, dan tetap menggonggong. Anjing itu bosan, tak bersuara.

Anjing itu bersama anjing-anjing lain berbaris layaknya angkatan bersenjata dalam film-film perang Amerika. Anjing itu hanya bermodal mulut, dan rasa jengah yang memuncak. Anjing itu tahu, satu-satunya cara agar tak hidup berkalung rantai adalah menyalak, bahkan serang dan gigit. Anjing itu mengingatkan pada Anjing Hitam di sebelahnya agar tetap menggonggong dan tak mundur barang selangkah. Anjing itu memimpin anjing lain, berdiri depan pagar istana, membakar ban, dan terus menggonggong.

Anjing itu menamai dirinya Spartacus, ia terinspirasi dari kisah perlawanan gladiator Trakia itu terhadap kekaisaran Romawi. Anjing itu percaya ia dilahirkan sebagai pendobrak. Anjing itu sudah merencanakan pemberontakan besar hari ini. Anjing itu berkata pada cermin setiap pagi, “Aku Spartacus, yang tak akan gentar melawan tiran!”

Anjing itu yakin, bila semua anjing menggonggong, khafilah tak akan berlalu.
***

Sang Majikan berkata, “Anjing-anjing itu gila dan sudah waktunya dimusnahkan!”

Sang Majikan kecolongan, geming pada gonggong anjing peliharaannya yang paling manut tempo hari. Sang Majikan menganggap gonggong anjingnya yang selalu menunduk dan tekun menjilati kakinya itu tidak perlu ditanggapi berlebih, sebab kunci kandang-kandang sudah ia pegang. Sang Majikan merasa akan menang, karena sebelum menjadi majikan, ia bahkan telah melenyapkan banyak orang. Sang Majikan melangit, berpikir bahwa anjing tak lebih pintar dari gali atau orang komunis. Sang Majikan bisa mencoba cara yang sama; dengan gonggong balasan atau tim pemburu binatang.

Sang Majikan memerintahkan anjing kesayangannya untuk mengumpulkan anjing-anjing lain yang ekornya masih ia pegang. Sang Majikan merencanakan gonggong balasan, untuk memenuhi surat kabar, mengotori layar kaca. Sang Majikan bisa membredel, bahkan membumihanguskan surat kabar dan stasiun televisi atau radio yang dianggapnya ikut menggonggong dengan irama sumbang seperti gonggong anjing-anjing di depan istananya. Sang Majikan merasa, itu gertakan dan hukuman paling baik untuk mereka. Sang Majikan yakin seratus persen bisa mengimbangi, melawan, dan memukul mundur, dan memusnahkan anjing-anjing kudis itu, sebagaimana ia merampas peternakan dari seorang komunis dan jadi majikan seperti sekarang.

Sang Majikan bahkan sudah mempersiapkan tim pemburu binatang untuk berjaga; satu senti dari hidung, satu depa dari depan pintu, sepuluh meter dari istana, juga pusat konsentrasi anjing-anjing sialan itu. Sang Majikan akan melakukan apa saja untuk mempertahankan singgasana. Sang Majikan tahu, pembungkaman dan kekerasan adalah cara apik menangani pemberontak.

Sang Majikan akhirnya membredel surat kabar, stasiun televisi dan merobohkan menara-menara radio. Sang Majikan yang membawa hewan-hewan di peternakan itu pada kemajuan ilmu pengetahuan, kelimpungan. Sang Majikan bisa membuat hewan berisi kepala manusia, dan kerepotan setelahnya.  Sang Majikan tak sadar, bila hewan-hewan percobaannya itu berkembang pelesat. Sang Majikan tak mampu membalas gonggong anjing sialan itu dengan nyalak anjing-anjing yang ekornya ia pegang. Sang Majikan memakai jalan kedua; pembasmi hama.
***

Pembasmi hama jadi nama operasi khusus tim pemburu binatang sang Majikan. Pembasmi hama bukan kumpulan orang sembarangan, mereka bekas tentara republik dan tempat di mana sang Majikan berasal. Pembasmi hama punya reputasi mentereng. Pembasmi hama pernah buat lenyap pengganggu keamanan negara dengan ciri tatto di tubuh. Pembasmi hama tak perlu bukti lain, cukup satu-dua tatto di lengan, maka orang itu niscaya akan terkapar tanpa nyawa dan dibiarkan gelimpangan di mana saja. Pembasmi hama menyebut mereka gali. Pembasmi hama, saat sang Majikan masih menjadi bagiannya, bahkan pernah bantu negara bersih-bersih orang dengan cap komunis. Pembasmi hama sekarang, pembersih kandang sang Majikan. Pembasmi hama siap melakukan genosida selanjutnya.

Pembasmi hama sudah bersiap di posisi mereka. Pembasmi hama datang menenteng senapan dan jerat leher. Pembasmi hama mendapat perintah tembak di tempat, sebab tak ada yang ingin pelihara anjing-anjing laknat. Pembasmi hama tak peduli gonggongan itu, telinga mereka tertutup tembok tebal kedap suara, juga hatinya. Pembasmi hama hanya peduli perintah sang Majikan, karena bersetia adalah janji tanpa ingkar. Pembasmi hama bukan penakut taring, liur dan gonggong anjing, bagi mereka, desing peluru jauh bikin binasa.

Pembasmi hama akan mulai mengokang, bila selangkah saja anjing-anjing sialan itu melewati batas. Pembasmi hama merasa ini pekerjaan mudah, tidak seperti saat mereka membasmi gali yang berlangsung diam-diam seperti maling dinas malam. Pembasmi hama berhadapan langsung dengan gonggong anjing dan taring yang tak bisa melayang melukai mereka. Pembasmi hama di atas angin, meski bau liur anjing yang menyeringai dibawa menjumpai hidung. Pembasmi hama mendengar aba-aba, saat dengan kilat, anjing-anjing itu menjungat, meluntang-lantungkan liur dan menunggu taring merumah pada daging mereka.

“Pembasmi hama, tembak!”
***

Satu hari setelah pemberontakan, peternakan sepi. Satu hari yang jauh beda dari kemarin. Satu hari tanpa gonggong. Satu hari dengan kesibukan baru para pembasmi hama; mengumpulkan bangkai anjing dan bersiap membakarnya. Satu hari yang buat tawa ledak dari mulut sang Majikan. Satu hari saat anjing-anjing yang selamat sembunyi masuk semak. Satu hari yang melelahkan juga mencekam, sebab pembasmi hama lebur mencari mereka seperti bermain petak umpet.

Satu hari di mana salah seorang pembasmi hama bertanya, “Kenapa tidak kita biarkan saja bangkai ini tergeletak seperti gali?”

“Satu hari ini, kita harus bersih-bersih, sebab besok bukan tak mungkin orang-orang akan datang dan berkata kita melanggar hak asasi.”

Satu hari itu, isi peternakan bimbang; kembali melawan atau cari selamat.

Satu hari sebelum pemberontakan, anjing-anjing itu memang gentar. Satu hari dengan debar antara tak sabar dan takut sesumbar mereka akan menang. Satu hari di mana suara dipersiapkan. Satu hari saat hati, lidah, taring berpadu untuk gonggong lebih keras, nyalak lebih garang dan menyeringai lebih giat. Satu hari yang diyakini anjing itu sebagai segalanya, sebab perang tanpa persiapan, adalah mati sia-sia.

“Satu hari untuk leher tanpa rantai, hidup tanpa jadi percobaan dan badan tanpa pentungan!” teriak Spartacus saat memobilisasi anjing-anjing lain di hari pemberontakan, “Satu hari untuk hidup tanpa tiran!”

“Satu hari untuk hidup tanpa tiran!”
***

Spartacus tak ditemukan. Spartacus terakhir terlihat berada paling depan dari pasukan anjing yang mencoba merangsek ke dalam istana sang Majikan. Spartacus terpisah, saat anjing-anjing di baris belakangnya kocar-kacir mendengar suara tembakan. Spartacus sebenarnya sudah menduga hal itu. Spartacus telah membagi anjing-anjing itu menjadi tiga kelompok. Spartacus bersama pasukan paling banyak menyerang dari depan, mengalihkan perhatian para pembasmi hama, dua pasukan lain yang masing-masing berjumlah sepuluh, menyerang dari taman samping dan dapur istana.

“Spartacus, mungkin ini tak akan berhasil!” kata Anjing Hitam saat mereka jungat dan siap menyerang.

“Spartacus dari Trakia terus melawan prajurit Romawi dibawah pimpinan Crassus walau kalah jumlah!” jawabnya.

Spartacus tak gentar. Spartacus gesit menghindar, bergerak zig-zag agar tak tertembak, lewat gonggongan panjang Spartacus, dua pasukan lain menyerang. Spartacus hanya berjarak dua meter dari pembasmi hama di depan pagar, saat dua puluh anjing dari pasukan lain berhasil masuk halaman. Spartacus mendengar suara tembakan pecah dari arah entah. Spartacus merasa sesuatu membentur kepalanya, kemudian semua hitam.
***

Spartacus hidup dalam dongeng sebelum tidur anak-anak di peternakan sebesar kota mati Chernobyl itu. Satu hari setiap bulan, tepatnya di hari Rabu minggu pertama, akan ada sekelompok hewan berdiri di sepanjang pagar istana; anjing menggonggong, kucing mengeong, ayam berkokok, dan sebagainya. Pembasmi hama selalu siap melenyapkan mereka, tapi tak ada perintah untuk itu. Sang Majikan merasa dirugikan bila harus ada lagi yang dimusnahkan seperti anjing-anjing dibawah pimpinan Spartacus. Anjing itu memang tak berhasil melawan tiran, tapi ia tak menyerah dan terus menggonggong di hati hewan sepeternakan.


Pontianak, Juli 2015

Sabtu, 12 September 2015

Alo

22.29 Posted by Kristiawan Balasa No comments


SINO’ menyusul Sama’ ke ladang, meninggalkan bide yang setengah dikerjakan. Ia ingin memberi kabar pada suaminya. Pulai, tokoh pemuda kampung itu, kembali mengerahkan massa menuju hilir hutan Pengajit, sambil membawa Mandau dan beberapa ken bensin. Dipimpin Pulai yang berkendara honda, rombongan itu lewat depan rumahnya yang tak jauh dari betang.

Sudah hampir tiga bulan para tetua dan pemuda bersitegang. Sebabnya tak lain, Pulai, sarjana setahun lalu, yang berpengaruh di kalangan pemuda kampung menyetujui masuknya perusahaan sawit ke Pengajit.

“Kita diberi hutan oleh Jubata untuk dikelola. Untuk hidup kita. Sekarang ada orang yang mau bantu kelola. Hutan kita punya nilai ekonomis tinggi. Tak perlu capek berladang menunggu hasil yang belum pasti, bulanan atau tahunan. Belum lagi kalau banyak hama dan kemarau panjang.”

“Kampung kita kalah jauh dibanding kampung sebelah. Jalan kita rusak, hujan becek, kering berdebu. Jembatan kita kayu, bukan beton. Menunggu pemerintah seperti menunggu panen ubi yang diserang tikus. Mustahil. Anak-anak kita penyakitan. Ibu melahirkan banyak meninggal. Puskesmas jauh. Kalau perusahaan sawit itu masuk, mereka bikin jalan. Aspal! Lebar! Jembatan kita kuat. Dokter mau datang. Keluarga kita sehat. Tak perlu berladang, kita minta kerja dalam perusahaan. Tak lagi tanam palawija, kita tanam sawit!”

Para pemuda mengangguk dan seketika riuh tepuk tangan mengudara, menanggapi orasi penuh harap Pulai di rumahnya waktu itu. Pulai sengaja tak rapat di betang dan menghindar para tetua yang susah ia yakinkan. Sebenarnya, tidak semua pemuda dapat menerima begitu saja apa yang Pulai utarakan. Meski bukan berarti tak setuju. Raye tersinggung saat Pulai mengatakan banyak ibu melahirkan meninggal dan asa yang digantung di tangan dokter. Ia merasa Pulai meremehkan ibunya, dukun beranak Dayak Bakatik.

Di ladang, Sama’ sudah bersama warga lain yang tak setuju rencana Pulai. Mereka duduk melingkar, di bawah meranti tua yang sengaja tak ditebang. Tetua kampung pun turut serta. Hamparan hitam, batang dan belukar yang terbakar jadi pemandangan. Ladang yang dibelah jalan setapak itu baru di-natak minggu lalu. Musim kemarau memang dimanfaatkan warga kampung untuk membuka lahan. Orang-orang Dayak Bakatik menganut sistem ladang berpindah, namun selalu memilih tanah tepi hutan adat. Bagi mereka, Pengajit adalah sumber penghidupan. Hewan, buah, pohon, dedaunan, mereka ambil untuk hidup. Tak pernah berlebih, Jubata enggan pada orang-orang tamak.

“Mungkin lambang pramuka anak cucu kita nanti bukan lagi tunas kelapa, tapi kelapa sawit!”kelakar seorang warga sambil menunjuk gerombolan anak pulang sekolah.

Warga lain tersenyum miris.

“Sudah buta mata Pulai kena uang. Kupikir honda itu pun barang sogokan. Kalau Pengajit jadi kebun sawit, mati tradisi anak cucu kita nanti! Berladang di tanah sendiri, tapi untuk orang lain. Jangan percayalah pada bagi hasil. Tiga puluh tujuh puluh, empat puluh enam puluh, sama saja. Di hulu sana, banyak janji perusahaan yang tak sesuai. Jembatan mereka masih kayu. Jalan mereka pun tanah merah. Kita di hilir sudah kena getahnya. Air sungai lebih pekat. Bukan lagi teh, tapi kopi!” ujar seorang warga geram.

“Kenapa tidak kita datangi Pulai itu, ia pasti menuju hilir, hendak bakar tanah Pengajit! Mandau ini sudah lama tak dipakai ngayau!” seorang warga lain berdiri sambil menunjuk-nunjuk langit dengan mandau.

“Tidak! Sekarang Mandau bukan lagi buat ngayau! Apalagi ia saudara kita sendiri! Jubata hanya menguji,” Sama’ coba menenangkan.

Angin kering berembus menyambut kedatangan Sino’. Ia terkejut melihat banyak warga yang kumpul di tepi ladangnya. Kabar itu pasti sampai lebih dulu, pikirnya. Sino’ menghampiri Sama’ dan duduk di sampingnya. Lengkingan suara kera dan koak ruai menjadi alunan pengiring rapat dadakan siang itu. Terkadang, alam memang lebih paham apa yang manusia butuhkan.

Sino’ duduk gelisah, seperti ada bisul matang siap pecah pada bokongnya. Hatinya tak tenang. Bukan perkara bide yang belum ia selesaikan. Tapi Andong, anak semata wayang mereka.

“Andong tak ke sini?” tanyanya cemas pada Sama’.
***

Diperlukan rentang tangan lima orang dewasa untuk memeluk batang bengkirai tempat Andong beristirahat. Pandangannya mondar-mandir di antara dahan-dahan belian, meranti, dan kapur, tempat anggrek hutan bergantung. Ia berharap melihat Alo. Lumut-lumut karatan menopang tubuh lelahnya. Kakinya pegal lari melompat tunggang-langgang menghindari serudukan babi yang hendak ia jadikan sasaran. Ladon kembali jadi pahlawan, meski terlambat, nyalaknya mampu mengusir, bahkan balik mengejar babi itu.

Alo dua hari lalu Andong lihat di rawa nipah, saat bersama Nadu dan Simin pergi pasang bubu di hilir sungai. Ia hanya berpikir kemungkinan untuk bertemu Alo jauh lebih besar di dalam Pengajit. Mandaunya menebas semak penghalang. Tepat di samping kantong semar seekor ayam hutan mengais makan.

“Bisa untuk oleh-oleh orang rumah,” pikirnya sambil membidik ayam itu.

Seperti api mencumbu semak kering saat natak, Andong meraih sumpit dalam gendongan. Reranting tua sebisa mungkin tak dipijak. Ia tak ingin timbul suara bising tiba-tiba tertangkap telinga buruannya. Pangkal sumpit ia tempel ke bibir. Sebuah damek dengan racun getah ipuh dan aren siap dilontar. Dadanya mengembang penuh. Dalam satu dorongan napas lewat mulut, damek lesat menghunus leher ayam hutan itu.

Ayam rubuh. Andong tersenyum dan segera menghampiri buruannya.

Andong meneruskan langkah, dengan ayam di tangan kiri dan mandau di tangan kanan. Pandangannya beredar vertikal. Atas bawah. Dahan tanah. Beberapa kali matanya silau oleh sinar matahari yang menembus kanopi hijau. Koak kelasi dan lengking primata mengiringi misinya bertemu alo.

Ada perasaan ganjil yang muncul saat kucur air menggema. Ia berjalan terlalu dalam di Pengajit. Helai-helai nipah tampak dan suara malu-malu kodok sayup-sayup terdengar. Andong ingin mendekat, namun ia urungkan. Buaya sungai masih mendiami hutan perawan ini.

Kaki jerapah Andong melangkah lunglai. Serupa ranting kecil yang ia pijak, serupa sinar matahari yang meremang, serupa helai daun yang dijatuhkan angin, hatinya kuyu. Sudah setengah hari, tualangnya belum berarti. Seekor ayam hutan dalam genggaman tak buat senyumnya melebar. Alo belum ia lihat.

Sejak kecil, Andong sangat tertarik dengan Alo. Cerita-cerita yang disampaikan Sama’ tiap malam begitu hidup dalam kepalanya. Andong selalu membayangkan dirinya seorang panglima Burung.

“Panglima Burung hanya datang saat benar-benar kita butuhkan. Ia tinggal di dalam Pengajit.”

“Seorang diri?”

“Seorang diri. Kau tak boleh membunuh Alo. Ia jelmaan Panglima Burung.”

“Aku hanya melihatnya. Memesona.”

“Alo burung setia. Pejantannya akan pergi mencari makan sementara betina mengeram dalam sarang. Begitu seterusnya sampai anaknya jadi burung muda.”

“Lantas kenapa Panglima Burung menjelma ia?”

“Alo burung Dewa. Sama seperti Panglima Burung, setia pada kaumnya. Alo tak akan mengganggu bila tak diganggu. Tak menyerang bila tak benar-benar terancam. Tapi, serangannya serupa bencana. Seperti itu ajaran leluhur kita. Kau tak boleh memulai perang lebih dulu. Karenanya kau tak boleh nakal. Kau harus jadi anak baik dan penyabar. Seperti Panglima Burung.”

“Tapi kudengar Panglima Burung telah mengayau ribuan kepala.”

“Yang bahaya adalah murkanya orang sabar.”

“Aku ingin jadi Panglima Burung! Tapi kenapa Alo jarang terlihat?”

“Orang-orang kota dengan senapan dan keranjang besi membawa mereka pergi.”

Begitulah malam-malam menjelang tidurnya. Bahkan, kadang-kadang, Andong bermimpi terbang cepat dan bertengger elegan di dahan meranti, sambil pamer jambul keras oranye kilap yang selalu mengingatkannya pada Monas yang pernah ia lihat di buku pelajaran.

Dalam suatu jarak, Andong menyusur sungai menuju hilir, mengikuti arus. Itu jalan keluar satu-satunya yang ia tahu. Saat tengah asyik menikmati buah srikaya sebagai pelepas dahaga, ia mendengar koak khas yang ditunggu. Suara itu memecah ritmis jangkrik dan lengking primata yang sekali-dua terdengar. Membuat bibirnya tertarik ke atas, menegaskan tirus wajahnya.

Ia percepat langkah. Terus ke hilir. Setengah berlari. Semakin ia menemui lapang, semakin jelas suara itu terdengar. Angin kencang berembus. Membawa koak Alo dan kepul hitam. Menabraknya. Pekat. Tebal. Pedas. Sesak. Dalam samar, serupa noktah, ia melihat bayang-bayang sekelompok orang tengah membakar semak. Riuh. Tak mungkin ada natak di sore hari, pikirnya.

Seperti damek-nya yang lesat cepat, seperti itu pula lidah-lidah api menjilat semak, pepakisan dan perdu-perdu kerdil tepi Pengajit yang kering diterpa kemarau panjang. Nyala itu memamah apa saja. Siapa saja. Angin kering sore itu serupa nafsu, yang lapar, yang rakus, yang tamak.

Merah nyala menggerayangi batang-batang tinggi, menghitami hijau cokelat daun belian dan meranti pinggir hutan. Andong berbalik arah, kepul sesak mengejarnya cepat. Suara riuh seberang kabut menghilang. Nyalak anjing terdengar, sahut-sahutan dengan koak Alo yang ia rindukan. Andong merasa terhimpit. Terjepit. Kecil. Kerdil. Dalam hitam sesak yang menusuk paru, meluluhlantakkan tenaganya.

Lalu tiba-tiba seorang lelaki ber-pantong dengan badan penuh tato dan mandau terjuntai di pinggang, serta ikat kelapa berhias bulu ruai, berdiri di hadapannya. Lelaki itu membungkuk dan menjulurkan tangan, memapah Andong. Ketika melihat mata lelaki itu yang serupa manik hitam, Andong teringat pada Sino’. Ia merasa bersalah, telah curi waktu masuk ke Pengajit seorang diri. Sino’ pasti murka. Andong yang setengah semaput dibopong menjauhi kepul sesak. Ia merasa ringan dan tak lagi menjejak.

Sesampainya di sebuah tempat tinggi dan memandang jelas kepala-kepala berkumpul di tepi Pengajit, ia mendengar muntahan sumpah serapah pecah disertai jari tuding-menuding seperti puluhan anak panah siap lesat. Di sana, ia melihat Sama’ berdiri paling depan, berhadapan dengan Pulai yang memimpin kelompok seberang. Puluhan orang secepat kilat masuk ke Pengajit, berbekal mandau dan parang menebas pepohonan untuk ngeraih. Ibunya berada paling belakang, berwajah kulit kayu tembarang yang kering pucat. Mata wanita itu terlihat mondar-mandir risau. Saat itu juga Andong sadar kalau dirinya tengah dicari.

Dari ketinggian itu ia lantas berteriak. Hutan mendadak bisu. Dua kubu terkesiap kelu. Getaran lantang itu membuat mereka jadi saling menjauh, merasa-rasa adanya kehadiran Sang Panglima Pengajit. Mata-mata tipis mereka memicing ke ketinggian, membidik satu cabang meranti tepi parit. Andong berteriak lagi, memanggil Sino’. Tapi orang-orang seperti tak melihatnya. Terus terkesiap mencari-cari. Ketika teriakan itu terdengar lagi, mereka mendadak kaku mendapati sosok bersayap di kejauhan atas.

Dua ekor Alo tengger sambil berkoak lepas.

Pontianak, Januari 2015
 
Catatan:
Alo: sebutan untuk burung enggang.
Sino’: panggilan untuk ibu.
Sama’: panggilan untuk ayah.
Bide: anyaman khas Dayak Bakatik yang terbuat dari rotan dan kulit pohon, biasanya berbentuk karpet atau hiasan dinding.
Betang: rumah adat Suku Dayak.
Jubata: tuhan.
Natak: prosesi pembakaran belukar dan pohon yang telah dihampar di area ladang.
Ngayau, mengayau: memenggal kepala manusia untuk mempertahankan diri dan wilayah adat. Beberapa literatur juga mengatakan, tradisi ngayau sebagai ajang pembuktiaan kejantanan.
Pantong: pakaian adat khusus bujang Dayak Bakatik.
Ngeraih: membuat batas api.

Cerpen ini menjadi cerpen terbaik dalam ajang Lomba Cerpen Lahat Untuk Nusantara yang digelar oleh Wakil Bupati Lahat, Sumatera Selatan.

Rabu, 02 September 2015

Telinga Ini Saya Pinjam

10.25 Posted by Kristiawan Balasa No comments

Ia baru saja datang. Lebih lama satu jam dari saya yang sudah duduk di meja ini sejak pukul sembilan. Saya tidak mengenalnya. Pengunjung yang ramai, buat saya harus berbagi meja dan secara tidak langsung menjadikannya tamu, yang tak ditunggu, juga tak diundang. Duduk berjarak satu kursi dari samping.

Tak ada yang istimewa. Kedatangannya tidak buat mata saya sampai mengeluarkan ekor yang mengikutinya. Apalagi mencuri pandang. Saya tidak merasa ada yang harus saya ambil diam-diam dari kedatangannya yang tiba-tiba. Mata saya tetap berpaku pada laptop yang dipenuhi artikel sebuah portal pendidikan jomblo terkemuka. Beberapa tulisan saya dimuat di sana. Kata-kata, memang seringkali lahir dari kesendirian yang mengawini sepi.

Konsentrasi saya dibuat buyar oleh suara perempuan—yang baru saja datang—di sebelah. Entah apa yang ada di kepalanya hingga memutar musik dengan suara sekencang itu. Mungkin ia tak suka sunyi senyap perpustakaan. Mungkin ia terlalu sering dikoyak-koyak sepi, hingga walau terbaring dua buah buku tebal dengan jumlah halaman yang saya taksir lebih dari lima ratus itu, tak buat kepalanya ramai.

Sejak itu, ia mengambil alih perhatian saya.

Ia mencatat apa-apa yang ia baca. Menyalinnya kembali seperti merajut kenangan. Pelan dan takzim. Mungkin ia melakukannya sembari mengingat-ingat potongan masa lalu—entah pelajaran di kelas, obrolan dengan seseorang, atau gelombang bunyi yang tertangkap telinga—sebab, beberapa kali ia menengadah dengan pensil mengetuk jidat dan, mengangguk tanpa ritme yang jelas. Tak jarang ia tersenyum disela anggukan seperti seorang anak kecil yang kembali ingat di mana ibunya menyimpan cokelat. Tanpa sadar, saya mengikutinya. Bukan karena aneh, ia justru terlihat menggemaskan. Mirip pacar saya yang jauh di seberang.

Seorang petugas perpustakaan menegurnya dan segera ia mematikan musik yang diputar. Garukan di kepalanya, yang saya rasa bukan karena gatal, menyertai senyum malu memohon maaf pada petugas itu. Saya masih menatapnya dan makin menggila. Sialnya, ia memergoki dan menyimpul pelangi di bibir yang dikulum.

Dari percakapannya dengan petugas perpustakaan, saya tahu ia berasal dari kota ini, namun kuliah di Jakarta dan mengambil jurusan farmasi. Itu tidak mengherankan karena dua buku yang kaku di hadapannya sudah jadi petunjuk jalan. Sejak kepergok tadi, mata saya kembali menatap layar. Hanya saja, telinga saya rutin mencuri dengar. Hal terakhir yang tertangkap, adalah suara gesekan sepatu dengan ubin yang menjauh dan membuat kepala saya menoleh.

Ia berjalan menyusur rak. Rak-rak buku yang menjadi lapis kedua dinding ruangan membuat setiap geraknya mudah saya ikuti. Mata dan jarinya menjelajah dari satu buku ke buku lain, dari satu baris ke baris lain, dari satu rak ke rak lain. Seperti sedang membaui teritori, ia mengamati tiap jengkal daerah yang dilewati. Mungkin ini bukan hal baik untuk Anda dengar, hanya saja selain memerhatikan wajahnya dari samping, mata saya ikut tualang ke wilayah lain. Seputar dada yang kemudian tak saya acuhkan karena merasa kurang nyaman ketika mendengar suara seorang anak kecil lepas dari tangan ibunya, masuk ke dalam ruangan.

Saya tidak benar-benar yakin tentang siapa yang seharusnya merasa kurang nyaman. Sebagian besar lelaki melakukannya. Tidak, saya tidak sedang mencari alibi. Anda bisa mencari artikelnya di internet. Itu perihal psikologi. Hal yang sejak kecil tertanam di benak kami.

Langkah kakinya mendekat, sambil menjinjing sebuah buku yang mungkin saja jadi tujuannya mengembara rak. Rasanya, saya ingin menarik perkataan di awal; ia menarik, jauh lebih menarik jika dilihat dari depan. Manik cokelat dalam bola matanya yang dilapisi kacamata berframe hitam seperti sebuah lukisan pemandangan alam yang dibingkai Tuhan. Saya tidak bisa jatuh lebih jauh dari helai rambutnya yang sesat di jidat. Bibirnya mungil, bak nastar keju yang biasa Ibu buat. Remahannya pasti nikmat untuk dilumat. Ah, lelaki memang sering berfantasi.

Ia tak menjatuhkan bokongnya di tempat semula, melainkan berpindah di samping saya. Sebisa mungkin, saya berpura fokus pada laptop, tak menoleh padanya barang sesenti. Ia berdehem. Sungguh basa-basi paling basi, batin saya. Buku bersampul hijau itu dibukanya, perlahan. Sambil membolak-balik halaman, ia memindahkan buku catatannya agar tepat di hadapan.

Anda tahu, rasanya berpura dalam jarak yang sedemikian dekat itu sangat menggelikan? Saya merasa seperti sepasang kekasih yang ingin mengakhiri hubungan namun enggan memulai duluan. Sepasang kekasih yang saling tahu keburukan masing-masing dan ingin kembali menjadi asing. Saya berpura, isi kepala berpesta.

Saya memberanikan diri menyapa, setelah sebelumnya mencuri pandang pada buku catatan yang ia bawa. Tulisanmu bagus, kata saya. Bukan awal yang baik untuk memulai sebenarnya. Seharusnya, saya bisa bertanya tentang buku yang ia baca atau berpura tahu buku dalam tatapannya. Tak ada lelaki paling tahu selain mereka yang berhadapan dengan wanita dalam rasa menggebu. Biasanya begitu.

“Terima kasih,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Bisa dipastikan, ia mengganggap saya konyol. Obrolan aneh yang jauh dari banyol. Untungnya, ia bertindak sebagai pahlawan. Memutus hening panjang di antara kami dengan kembali bercakap. Ia menanyakan bagaimana buku-buku di sini karena ini kunjungannya untuk pertama kali. Saya menjelaskan ala kadarnya karena lebih sering datang untuk membaca roman atau meminjam fasilitas internet. Percakapan basa-basi pun kembali muncul saat saya menanyakan ihwal kuliahnya dan ia mengajukan pertanyaan yang sama.

Dari percakapan yang kaku itu, saya tahu ia pembaca roman yang tekun. Hanya saja lebih pada cerita populer yang menye-menye dari jatuh-patah hati.

“Jatuh-patah hati, selalu mampu bereingkarnasi dari satu cerita ke cerita lain. Seperti tidak mati, abadi,” kata saya.

“Kalau hal-hal seperti itu mati, neraka menjamur di bumi.”

“Jadi menurutmu, bumi tempat lembab?”

“Tidak semua jamur tumbuh di tempat lembab, selangkangan itu daerah “panas” yang biasa ditumbuhi jamur.”

Sebenarnya, saya ingin menjawab bahwa selangkangan adalah daerah lembab, dalam artian sebenarnya, namun tak terucap. Saya memaku wajahnya. Ia mengerling dengan anggun yang lain.

Sialnya, ternyata itu hanya bayangan di kepala. Ia tidak benar-benar melakukannya. Roman-roman dengan bumbu stensil agaknya meracuni otak saya. Terakhir, saya membaca kumpulan cerpen 1 Perempuan 14 Laki-Laki yang sebagian besar isinya dibubuhi adegan ranjang dan percakapan penuh hasrat terpendam. Jatuh-patah hati yang tidak melulu ditangisi.

Ia, yang batu di depan buku, mencair. Memindah ulangan kalimat yang ia baca kuat, lewat ujung pensil ke catatan warna-warni.

Tak jelas dari mana datangnya, seorang anak kecil hadir di antara kami. Anak kecil itu muncul bak lahir dari rahim, kepalanya menyembul, kemudian disusul tangannya yang mencoba meraih benda-benda atas meja. Seperti seorang ibu, perempuan itu mengangkat dan memangku anak kecil itu.

“Aku suka anak-anak,” katanya sambil tersenyum.

“Semua wanita akan suka anak-anak, pada akhirnya,” tukas saya.

“Ya, pada akhirnya,” katanya sambil meladeni anak itu yang selesai mencoret buku catatannya, lantas turun dan hilang di antara meja-meja,” karena kewajiban mereka.”

“Karena kewajiban mereka,” ulang saya sedikit lebih pelan.

Kami lantas bercerita panjang lebar, luas percakapannya sampai menyentuh perihal jatuh-patah hati yang sebenarnya. Sampai di detik itu, ia menjadi dominan. Saya hanya mengangguk untuk menyetujui ucapannya dan mengangkat bahu bila kurang paham.

Ia berkisah tentang dirinya, masa lalunya, terutama mantan pacarnya yang selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Mimiknya berubah melankolis, meski kadang-kadang tertawa untuk menutupi lukanya. Perempuan memang lihai untuk masalah itu.

Dalam beberapa kesempatan, saya ingin memotong bicaranya, menyatakan simpati dan  mengaku pernah melakukan hal sama dan menyesal, juga tahu bagaimana sakitnya. Namun saya urungkan karena teringat akan Tamina, pelayan kafe kelahiran Praha, salah satu tokoh Milan Kundera di Kitab Lupa dan Gelak Tawa. Seorang wanita cantik, juga seorang pendengar yang baik.

Saya ingin meneladaninya, dengan tidak menyela seorang pemborong cerita yang memiliki semangat juang juru dongeng. Saya tidak akan berkata “Ya, sama seperti saya, saya...” dan terus bercerita tentang diri saya sendiri. Kemudian teman bicara saya akan menunggu kesempatan yang sama untuk melakukannya. Di beberapa bagian, saya paham, terkadang hidup adalah perkara mencari telinga. Bukan karena seseorang harus bercerita, tapi karena ia butuh didengar. Mungkin itu alasan beberapa orang menulis novel tentang kisah hidupnya.

Akibat cerita perempuan itu, dan dalam upaya meneladani Tamina, kelebat masa lalu saya pun turut hadir dalam kepala. Saya tetap menatap mata perempuan itu dan memberi sedikit gerakan sebagai tanda masih menekuninya, tapi pikiran saya jauh melayang ke mana-mana. Saya tidak meratap kesalahan terdahulu, atau menghakimi diri sendiri dengan merasa pandir. Sebab saya percaya, jatuh-patah hati adalah titik balik yang mendewasakan, bagi mereka yang mau belajar. Sekolah tidak mengajarkan bagaimana cara yang baik dalam percintaan, tapi pengajar di sana sering berkata guru terbaik adalah pengalaman. Menjadi nakal, mungkin pengalaman menyenangkan.

Ia menyelesaikan ceritanya dengan tawa dan sesekali mengetuk meja.

“Sungguh hari yang aneh!” katanya masih dengan tawa, mungkin berusaha menutupi kagoknya. Ia mengemaskan barang-barang setelah mengintip ponselnya yang tertimpa buku catatan. “Aku harus pergi.”

Punggungnya menjauh, dan saya masih hidup dalam tempurung kepala saya sendiri. Saya tidak lagi berharap ia akan berbalik, menyebut nama dan memberikan nomor whatsapp atau pin BB-nya. Saya justru teringat pacar saya di Yogjakarta, satu jam empat puluh lima menit jaraknya bila menggunakan pesawat dari kota ini. Sebagaimana yang tertera di portal penjualan tiket pesawat online. Saya merasa malu karena pikiran yang muncul saat pertama perempuan itu menarik perhatian. Hampir saja, saya tidak belajar dari pengalaman.
***

Terima kasih telah meminjami saya telinga, semoga Anda ikut meneladani Tamina dengan tidak berkata “Ya, sama seperti saya, saya...” selama saya bercerita.


Pontianak, Juni 2015

Permainan Tradisional Berpengaruh terhadap Perkembangan

10.08 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Dimuat di Harian Suara Pemred, edisi 5 Agustus 2015

Tumpukan kaleng bekas minuman jamuan lebaran ringsek di samping rumah. Bapak merapikan, mengemasnya dalam karung. Nanti malam dibuang, katanya. Saya diam sejenak, kemudian teringat bagaimana dulu, kaleng-kaleng bekas itu terasa sangat berharga. Bersama teman lain, saya akan menyimpan kaleng-kaleng itu baik-baik, bahkan harus saling rebut bila tak sengaja menemukannya di jalan. Menjaganya seperti harta karun yang tak boleh orang tahu. Sebab selain bisa dijual sebagai tambahan uang jajan, kaleng-kaleng itu menjadi bagian dari ritual kesenangan lain. Tiap sore, di halaman depan rumah saya—luasnya kira-kira sebesar lapangan bulu tangkis—kami akan berkumpul, menyusun kaleng-kaleng itu seperti piramid dengan ketinggian empat sampai lima lapis, kemudian hompimpa; satu orang berjaga dan yang lain lari sembunyi.

Ya, kami bermain tapok kaleng. Permainan yang tidak lagi saya lihat pada lebaran kali ini (mungkin juga tahun lalu). Halaman depan rumah saya, bisu. Tak ada teriakan, “tebakar!”, “belender!”, atau suara tubrukan kaki yang menendang kuat kaleng-kaleng kosong. Anak-anak di pemukiman tempat saya tinggal kini, lebih sering terlihat duduk-duduk sambil menatap layar smartphone. Walau bergerombol, mereka takzim pada hening masing-masing. Meski kadang-kadang terdengar teriakan, yang condong pada umpatan, saat kerajaan atau clan mereka mulai perang, atau karena smartphone yang lowbat.

Ada banyak permainan tradisional yang tak lagi saya jumpai di halaman depan rumah; ular naga, galah kepung, tapok pipit, taba’, kejar benteng, kelereng, juga lompat tali. Hanya sepak bola gawang sendal dan layangan yang rutin terlihat. Bahkan, untuk mainan rumahan seperti monopoli dan congklak pun tak pernah lagi tertangkap mata. Padahal, permainan congklak misalkan, disebut oleh Lombard sebagai salah satu contoh baik permainan tradisional yang nonkompetitif. Dimana, tujuannya untuk menghibur melalui hubungan timbal-balik yang menenangkan daripada merangsang sebuah persaingan ilusi.

Sukirman dalam bukunya “Permainan Tradisional Jawa” menyebutkan, permainan tradisional anak merupakan unsur kebudayaan, karena mampu memberi pengaruh terhadap perkembangan kejiwaan, sifat, dan kehidupan sosial anak. Lebih jauh, dalam buku “Peran Permainan Tradisional yang Bermuatan Edukatif dalam Menyumbang Pembentukan Karakter dan Identitas Bangsa”, Misbach mengatakan permainan tradisional anak di nusantara ini dapat menstimulasi berbagai aspek perkembangan anak.

Pertama, aspek motorik; melatih daya tahan, daya lentur, sensorimotorik, motorik kasar dan motorik halus. Kedua, aspek kognitif; mengembangkan imajinasi, kreatifitas, problem solving, strategi, antisipatif, dan pemahaman kontekstual. Ketiga, aspek emosi; katarsis emosional, mengasah empati dan pengendalian diri. Keempat, aspek bahasa; pemahaman konsep-konsep nilai. Kelima, aspek sosial; menjalin relasi, kerjasama, melatih kematangan sosial dengan teman sebaya dan meletakkan pondasi untuk melatih keterampilan sosialisasi berlatih peran dengan orang yang lebih dewasa/masyarakat. Keenam, aspek spiritual; menyadari keterhubungan dengan sesuatu yang bersifat agung (trancendental). Ketujuh, aspek ekologis; memahami pemanfaatan elemen-elemen alam sekitar secara bijaksana. Kedelapan, aspek nilai-nilai/moral; menghayati nilai-nilai moral yang diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi selanjutnya.

Dari dua pamahaman di atas, dapat ditarik satu benang merah, bahwa nyatanya makna di balik nilai-nilai dalam permainan tradisional mengandung pesan-pesan moral dengan muatan lokal suatu daerah. Karena selain melibatkan masyarakat—anak-anak adalah bagian dari masyarakat, permainan tradisional juga selaras dengan keadaan alam sekitar. Maka, sangat disayangkan apabila permainan tradisional di era digital kini, terpinggirkan, bahkan bisa dikatakan terancam punah, kalah saing oleh permainan virtual, dan dapat berakibat pada hilangnya kebudayaan.

Pergeseran ini tidak terlepas dari berkembangnya teknologi informasi dalam era globalisasi. William F. Ogburn, sosiolog Amerika menyatakan bahwa perubahan sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan baik materil maupun non material. Ogburn berpendapat, budaya material berubah lebih cepat dibanding dengan budaya non material yang dapat menyebabkan terjadinya culture lag.

Anak-anak generasi 90’n hingga 2000’n awal masih menggunakan benda-benda yang ada di alam sekitar untuk bermain. Mulai dari pelepah daun pisang yang dibuat jadi senapan, meriam bambu, kaleng bekas untuk tapok kaleng, hingga kulit jeruk bali yang disulap mobil-mobilan atau sampan. Bentuk-bentuk materil dari alam itu kemudian disingkirkan oleh gadget, laptop, terutama internet, yang menawarkan beragam permainan dengan label kekinian. Secara tidak langsung, hal ini membenarkan apa yang disebut Ogburn sebagai culture lag.

Jika dibandingkan, antara permainan tradisional dan game virtual, keduanya sama-sama mampu melatih ketangkasan, kreativitas juga imajinasi. Hanya saja game virtual memiliki lebih banyak sisi negatif, apalagi jika seorang anak sudah sampai pada tahap ketergantungan.

Dalam sebuah riset mengenai dampak video game pada aktivitas otak yang dilakukan oleh Akio Mori, seorang profesor dari Tokyos Nihon University, menghasilkan dua poin penting.

Pertama, penurunan aktivitas gelombang otak depan yang memiliki peranan sangat penting dengan pengendalian emosi dan agresivitas, sehingga mereka cepat mengalami perubahan mood, seperti mudah marah, mengalami masalah dalam hubungan sosial, tidak konsentrasi, dan lain sebagainya.

Kedua, penurunan aktivitas gelombang beta, yang merupakan efek jangka panjang yang tetap berlangsung meskipun gamer tidak sedang bermain game. Dengan kata lain, para gamer mengalami autonomic nerves, yaitu tubuh mengalami pengelabuhan kondisi di mana sekresi adrenalin meningkat, sehingga denyut jantung, tekanan darah., dan kebutuhan oksigen terpacu untuk meningkat. Bila tubuh dalam keadaan seperti ini, maka yang terjadi pada gamer adalah otak mereka merespon bahaya sesungguhnya.

Dunia anak-anak adalah dunia yang menyenangkan. Perkembangan zaman tentu mempengaruhi apa dan bagaimana anak-anak menghabiskan masa kecilnya. Mereka tidak akan tahu permainan tradisional bila tak dikenalkan. Mereka memainkan game virtual, karena disediakan. Kadang-kadang, saya merasa beruntung bisa merasakan masa kecil yang “ketinggalan zaman”. Bahkan, saat ini, saya rindu menendang susunan kaleng kosong setelah sebelumnya lari sekuat tenaga, lalu berteriak, “Pembele!”


Mungkin saya hanya seorang dewasa yang sedang pelesir ke masa kecil. Sebab, anak-anak punya dunianya sendiri. Seperti kata Si Pangeran Kecil, tokoh dalam novel klasik Antoine de Saint Exuperry, “Dasar kalian orang dewasa. Tahu apa kalian tentang dunia? Pengen tahu aja urusan anak kecil. Huh!”**