SINO’ menyusul Sama’ ke ladang, meninggalkan bide yang setengah dikerjakan. Ia ingin memberi kabar pada suaminya. Pulai, tokoh pemuda kampung itu, kembali mengerahkan massa menuju hilir hutan Pengajit, sambil membawa Mandau dan beberapa ken bensin. Dipimpin Pulai yang berkendara honda, rombongan itu lewat depan rumahnya yang tak jauh dari betang.
Sudah hampir tiga bulan para tetua dan pemuda bersitegang. Sebabnya tak lain, Pulai, sarjana setahun lalu, yang berpengaruh di kalangan pemuda kampung menyetujui masuknya perusahaan sawit ke Pengajit.
“Kita diberi hutan oleh Jubata untuk dikelola. Untuk hidup kita. Sekarang ada orang yang mau bantu kelola. Hutan kita punya nilai ekonomis tinggi. Tak perlu capek berladang menunggu hasil yang belum pasti, bulanan atau tahunan. Belum lagi kalau banyak hama dan kemarau panjang.”
“Kampung kita kalah jauh dibanding kampung sebelah. Jalan kita rusak, hujan becek, kering berdebu. Jembatan kita kayu, bukan beton. Menunggu pemerintah seperti menunggu panen ubi yang diserang tikus. Mustahil. Anak-anak kita penyakitan. Ibu melahirkan banyak meninggal. Puskesmas jauh. Kalau perusahaan sawit itu masuk, mereka bikin jalan. Aspal! Lebar! Jembatan kita kuat. Dokter mau datang. Keluarga kita sehat. Tak perlu berladang, kita minta kerja dalam perusahaan. Tak lagi tanam palawija, kita tanam sawit!”
Para pemuda mengangguk dan seketika riuh tepuk tangan mengudara, menanggapi orasi penuh harap Pulai di rumahnya waktu itu. Pulai sengaja tak rapat di betang dan menghindar para tetua yang susah ia yakinkan. Sebenarnya, tidak semua pemuda dapat menerima begitu saja apa yang Pulai utarakan. Meski bukan berarti tak setuju. Raye tersinggung saat Pulai mengatakan banyak ibu melahirkan meninggal dan asa yang digantung di tangan dokter. Ia merasa Pulai meremehkan ibunya, dukun beranak Dayak Bakatik.
Di ladang, Sama’ sudah bersama warga lain yang tak setuju rencana Pulai. Mereka duduk melingkar, di bawah meranti tua yang sengaja tak ditebang. Tetua kampung pun turut serta. Hamparan hitam, batang dan belukar yang terbakar jadi pemandangan. Ladang yang dibelah jalan setapak itu baru di-natak minggu lalu. Musim kemarau memang dimanfaatkan warga kampung untuk membuka lahan. Orang-orang Dayak Bakatik menganut sistem ladang berpindah, namun selalu memilih tanah tepi hutan adat. Bagi mereka, Pengajit adalah sumber penghidupan. Hewan, buah, pohon, dedaunan, mereka ambil untuk hidup. Tak pernah berlebih, Jubata enggan pada orang-orang tamak.
“Mungkin lambang pramuka anak cucu kita nanti bukan lagi tunas kelapa, tapi kelapa sawit!”kelakar seorang warga sambil menunjuk gerombolan anak pulang sekolah.
Warga lain tersenyum miris.
“Sudah buta mata Pulai kena uang. Kupikir honda itu pun barang sogokan. Kalau Pengajit jadi kebun sawit, mati tradisi anak cucu kita nanti! Berladang di tanah sendiri, tapi untuk orang lain. Jangan percayalah pada bagi hasil. Tiga puluh tujuh puluh, empat puluh enam puluh, sama saja. Di hulu sana, banyak janji perusahaan yang tak sesuai. Jembatan mereka masih kayu. Jalan mereka pun tanah merah. Kita di hilir sudah kena getahnya. Air sungai lebih pekat. Bukan lagi teh, tapi kopi!” ujar seorang warga geram.
“Kenapa tidak kita datangi Pulai itu, ia pasti menuju hilir, hendak bakar tanah Pengajit! Mandau ini sudah lama tak dipakai ngayau!” seorang warga lain berdiri sambil menunjuk-nunjuk langit dengan mandau.
“Tidak! Sekarang Mandau bukan lagi buat ngayau! Apalagi ia saudara kita sendiri! Jubata hanya menguji,” Sama’ coba menenangkan.
Angin kering berembus menyambut kedatangan Sino’. Ia terkejut melihat banyak warga yang kumpul di tepi ladangnya. Kabar itu pasti sampai lebih dulu, pikirnya. Sino’ menghampiri Sama’ dan duduk di sampingnya. Lengkingan suara kera dan koak ruai menjadi alunan pengiring rapat dadakan siang itu. Terkadang, alam memang lebih paham apa yang manusia butuhkan.
Sino’ duduk gelisah, seperti ada bisul matang siap pecah pada bokongnya. Hatinya tak tenang. Bukan perkara bide yang belum ia selesaikan. Tapi Andong, anak semata wayang mereka.
“Andong tak ke sini?” tanyanya cemas pada Sama’.
***
Diperlukan rentang tangan lima orang dewasa untuk memeluk batang bengkirai tempat Andong beristirahat. Pandangannya mondar-mandir di antara dahan-dahan belian, meranti, dan kapur, tempat anggrek hutan bergantung. Ia berharap melihat Alo. Lumut-lumut karatan menopang tubuh lelahnya. Kakinya pegal lari melompat tunggang-langgang menghindari serudukan babi yang hendak ia jadikan sasaran. Ladon kembali jadi pahlawan, meski terlambat, nyalaknya mampu mengusir, bahkan balik mengejar babi itu.
Alo dua hari lalu Andong lihat di rawa nipah, saat bersama Nadu dan Simin pergi pasang bubu di hilir sungai. Ia hanya berpikir kemungkinan untuk bertemu Alo jauh lebih besar di dalam Pengajit. Mandaunya menebas semak penghalang. Tepat di samping kantong semar seekor ayam hutan mengais makan.
“Bisa untuk oleh-oleh orang rumah,” pikirnya sambil membidik ayam itu.
Seperti api mencumbu semak kering saat natak, Andong meraih sumpit dalam gendongan. Reranting tua sebisa mungkin tak dipijak. Ia tak ingin timbul suara bising tiba-tiba tertangkap telinga buruannya. Pangkal sumpit ia tempel ke bibir. Sebuah damek dengan racun getah ipuh dan aren siap dilontar. Dadanya mengembang penuh. Dalam satu dorongan napas lewat mulut, damek lesat menghunus leher ayam hutan itu.
Ayam rubuh. Andong tersenyum dan segera menghampiri buruannya.
Andong meneruskan langkah, dengan ayam di tangan kiri dan mandau di tangan kanan. Pandangannya beredar vertikal. Atas bawah. Dahan tanah. Beberapa kali matanya silau oleh sinar matahari yang menembus kanopi hijau. Koak kelasi dan lengking primata mengiringi misinya bertemu alo.
Ada perasaan ganjil yang muncul saat kucur air menggema. Ia berjalan terlalu dalam di Pengajit. Helai-helai nipah tampak dan suara malu-malu kodok sayup-sayup terdengar. Andong ingin mendekat, namun ia urungkan. Buaya sungai masih mendiami hutan perawan ini.
Kaki jerapah Andong melangkah lunglai. Serupa ranting kecil yang ia pijak, serupa sinar matahari yang meremang, serupa helai daun yang dijatuhkan angin, hatinya kuyu. Sudah setengah hari, tualangnya belum berarti. Seekor ayam hutan dalam genggaman tak buat senyumnya melebar. Alo belum ia lihat.
Sejak kecil, Andong sangat tertarik dengan Alo. Cerita-cerita yang disampaikan Sama’ tiap malam begitu hidup dalam kepalanya. Andong selalu membayangkan dirinya seorang panglima Burung.
“Panglima Burung hanya datang saat benar-benar kita butuhkan. Ia tinggal di dalam Pengajit.”
“Seorang diri?”
“Seorang diri. Kau tak boleh membunuh Alo. Ia jelmaan Panglima Burung.”
“Aku hanya melihatnya. Memesona.”
“Alo burung setia. Pejantannya akan pergi mencari makan sementara betina mengeram dalam sarang. Begitu seterusnya sampai anaknya jadi burung muda.”
“Lantas kenapa Panglima Burung menjelma ia?”
“Alo burung Dewa. Sama seperti Panglima Burung, setia pada kaumnya. Alo tak akan mengganggu bila tak diganggu. Tak menyerang bila tak benar-benar terancam. Tapi, serangannya serupa bencana. Seperti itu ajaran leluhur kita. Kau tak boleh memulai perang lebih dulu. Karenanya kau tak boleh nakal. Kau harus jadi anak baik dan penyabar. Seperti Panglima Burung.”
“Tapi kudengar Panglima Burung telah mengayau ribuan kepala.”
“Yang bahaya adalah murkanya orang sabar.”
“Aku ingin jadi Panglima Burung! Tapi kenapa Alo jarang terlihat?”
“Orang-orang kota dengan senapan dan keranjang besi membawa mereka pergi.”
Begitulah malam-malam menjelang tidurnya. Bahkan, kadang-kadang, Andong bermimpi terbang cepat dan bertengger elegan di dahan meranti, sambil pamer jambul keras oranye kilap yang selalu mengingatkannya pada Monas yang pernah ia lihat di buku pelajaran.
Dalam suatu jarak, Andong menyusur sungai menuju hilir, mengikuti arus. Itu jalan keluar satu-satunya yang ia tahu. Saat tengah asyik menikmati buah srikaya sebagai pelepas dahaga, ia mendengar koak khas yang ditunggu. Suara itu memecah ritmis jangkrik dan lengking primata yang sekali-dua terdengar. Membuat bibirnya tertarik ke atas, menegaskan tirus wajahnya.
Ia percepat langkah. Terus ke hilir. Setengah berlari. Semakin ia menemui lapang, semakin jelas suara itu terdengar. Angin kencang berembus. Membawa koak Alo dan kepul hitam. Menabraknya. Pekat. Tebal. Pedas. Sesak. Dalam samar, serupa noktah, ia melihat bayang-bayang sekelompok orang tengah membakar semak. Riuh. Tak mungkin ada natak di sore hari, pikirnya.
Seperti damek-nya yang lesat cepat, seperti itu pula lidah-lidah api menjilat semak, pepakisan dan perdu-perdu kerdil tepi Pengajit yang kering diterpa kemarau panjang. Nyala itu memamah apa saja. Siapa saja. Angin kering sore itu serupa nafsu, yang lapar, yang rakus, yang tamak.
Merah nyala menggerayangi batang-batang tinggi, menghitami hijau cokelat daun belian dan meranti pinggir hutan. Andong berbalik arah, kepul sesak mengejarnya cepat. Suara riuh seberang kabut menghilang. Nyalak anjing terdengar, sahut-sahutan dengan koak Alo yang ia rindukan. Andong merasa terhimpit. Terjepit. Kecil. Kerdil. Dalam hitam sesak yang menusuk paru, meluluhlantakkan tenaganya.
Lalu tiba-tiba seorang lelaki ber-pantong dengan badan penuh tato dan mandau terjuntai di pinggang, serta ikat kelapa berhias bulu ruai, berdiri di hadapannya. Lelaki itu membungkuk dan menjulurkan tangan, memapah Andong. Ketika melihat mata lelaki itu yang serupa manik hitam, Andong teringat pada Sino’. Ia merasa bersalah, telah curi waktu masuk ke Pengajit seorang diri. Sino’ pasti murka. Andong yang setengah semaput dibopong menjauhi kepul sesak. Ia merasa ringan dan tak lagi menjejak.
Sesampainya di sebuah tempat tinggi dan memandang jelas kepala-kepala berkumpul di tepi Pengajit, ia mendengar muntahan sumpah serapah pecah disertai jari tuding-menuding seperti puluhan anak panah siap lesat. Di sana, ia melihat Sama’ berdiri paling depan, berhadapan dengan Pulai yang memimpin kelompok seberang. Puluhan orang secepat kilat masuk ke Pengajit, berbekal mandau dan parang menebas pepohonan untuk ngeraih. Ibunya berada paling belakang, berwajah kulit kayu tembarang yang kering pucat. Mata wanita itu terlihat mondar-mandir risau. Saat itu juga Andong sadar kalau dirinya tengah dicari.
Dari ketinggian itu ia lantas berteriak. Hutan mendadak bisu. Dua kubu terkesiap kelu. Getaran lantang itu membuat mereka jadi saling menjauh, merasa-rasa adanya kehadiran Sang Panglima Pengajit. Mata-mata tipis mereka memicing ke ketinggian, membidik satu cabang meranti tepi parit. Andong berteriak lagi, memanggil Sino’. Tapi orang-orang seperti tak melihatnya. Terus terkesiap mencari-cari. Ketika teriakan itu terdengar lagi, mereka mendadak kaku mendapati sosok bersayap di kejauhan atas.
Dua ekor Alo tengger sambil berkoak lepas.
Pontianak, Januari 2015
Catatan:
Alo: sebutan untuk burung enggang.
Sino’: panggilan untuk ibu.
Sama’: panggilan untuk ayah.
Bide: anyaman khas Dayak Bakatik yang terbuat dari rotan dan kulit pohon, biasanya berbentuk karpet atau hiasan dinding.
Betang: rumah adat Suku Dayak.
Jubata: tuhan.
Natak: prosesi pembakaran belukar dan pohon yang telah dihampar di area ladang.
Ngayau, mengayau: memenggal kepala manusia untuk mempertahankan diri dan wilayah adat. Beberapa literatur juga mengatakan, tradisi ngayau sebagai ajang pembuktiaan kejantanan.
Pantong: pakaian adat khusus bujang Dayak Bakatik.
Ngeraih: membuat batas api.