Jatuh
cinta padanya itu seperti melompat dari gedung pencakar langit. Otakku berkata
ini bodoh dan mendekati ajal. Sementara hatiku berkata, kau pasti bisa terbang.
Aku
pertama kali melihat senyum itu di Kantor Pos, dua bulan lalu. Kalian tahu,
Tuhan memang benar-benar pelukis yang Agung. Ia tidak hanya menggambar pelangi
cembung di kanvas langit setelah hujan. Ia juga melukiskannya di wajah gadis
itu, sebuah pelangi cekung yang timbul sehabis aku berdesakan dalam antrian.
Sebentar, kupikir seharusnya berdesakan bukan berarti mengantri. Entahlah.Yang
jelas, senyum itu yang membuat aku melompat dari gedung pencakar langit
setelah sebelumnya mempercayai kata hatiku.
Jadwal
pertemuanku dengannya masih satu bulan lagi. Tapi, semenjak pertemuan pertama
kami, aku selalu mencuri-curi waktu untuk melihat senyumnya. Dia akan ada di
senin dan jum’at, di loket kanan kursi tunggu. Aku tahu karena aku terbiasa
datang di hari itu dan melihatnya selalu ada di sana. Meski hanya beberapa
menit. Karena tentu akan aneh bila aku duduk berlama-lama di kursi tunggu,
apalagi jika sedang sepi.
Hampir
dua bulan aku habiskan hanya dengan menikmati senyumnya dari kejauhan. Sama
seperti hari ini. Aku terlalu takut untuk menemuinya. Walaupun sebenarnya, aku
seorang pria pemberani. Aku berani memulai percakapan lebih dulu. Aku berani
memuji wanita yang cantik menurutku. Jika kalian tak percaya, tanyakan saja
pada Surti, mantan pacarku. Aku langsung memuji kecantikannya saat pertama kami
berjumpa. Kemudian menggodanya dengan siulan. Di depan pangkalan ojek waktu
itu.
Makin
lama, rasa ini makin menggebu. Ada getar di dada saat mata kami tak sengaja
bertemu. Seperti getar pada senar gitar, yang melantunkan nada merdu. Namun,
tiba-tiba saja senar itu putus. Pak Satpam menepuk pundakku, membuyarkan
lamunan, menanyakan keperluan. “Menunggu orang, Pak”, kataku gagap. Kemudian
keluar meninggalkan lukisan Tuhan.
***
Ini
jum’at terakhir di bulan kedua. Akhir bulan depan aku akan bertemu langsung
dengannya. Hanya saja, aku sudah tidak sabar ingin menatapnya dekat. Hari ini,
dengan tekad bulat, aku datang menjinjing sesuatu. Sebuah surat. Aku akan
mengirimkan ini untuknya. Aku belum menuliskan alamat di amplop ini, sengaja
aku biarkan dia yang membantuku menuliskannya.
Kertas
di dalam amplop pun masih putih. Kosong. Tidak ada coretan sama sekali. Aku
pernah mendengar sebuah lirik lagu dari radio tetangga, “kita terlahir bagai
selembar kertas putih, tinggal kulukis dengan tinta pesan damai, kan terwujud
harmoni”. Nantinya, dia yang akan menuliskan ‘kita’ di kertas putih ini.
Karena tentu kalian tahu, kami akan menjadi harmoni yang penuh damai dalam kata
itu. Kemudian, surat ini akan aku kirimkan ke hatinya. Tepat sesuai rencanaku.
Semoga ini jum’at berkah.
Aku
datang dengan pakaian terbaikku. Celana kain hitam yang aku beli di lelong
kemarin. Kemeja kotak-kotak dengan sedikit lubang di kerah leher belakang. Dan
sepatu pantopel hitam. Sebelumnya, aku jarang menggunakan sepatu. Langkahku terasa
janggal hari ini. Biasanya hanya sandal jepit.
Di
dalam, orang-orang mengular tepat di depan loket yang menghadap kursi tunggu.
Tapi mereka tidak membawa surat, juga barang bungkusan. Aku tidak melihat
amplop atau kotak di sana. Hanya kertas lecek, meski sebagian ada yang masih
bagus. Menurut hematku, itu sebuah kertas rekening. Aku pernah melihatnya di
rumah Pak Darto, pemilik kontrakan yang aku tinggali. Mungkin saja memang
rekening, entah listrik atau air, aku tidak pernah bisa membedakannya.
Aku
masih duduk di kursi tunggu. Tidak langsung menghampirinya. Aku membiarkan
mataku memerhatikan senyum gadis itu dari jauh. Membiarkan bibir pelangi cekung
miliknya menghipnotis mataku. Pipinya tertarik ke atas. Matanya kecil,
dilindungi bulu mata jari penari. Lentik. Alisnya nyaris menyatu. Bertemu tepat
di tengah. Tempat hidung bangirnya berdiri mewah. Mata ini selesai pemanasan.
Sekarang, waktunya aku menghampirinya langsung. Membawa suratku. Semoga kuat.
Tak gagap.
Aku
merapikan pakaianku, kemudian melangkah maju.
“Silakan,
ada yang bisa dibantu?” katanya sambil tersenyum.
Ya
Tuhan, dia tersenyum padaku. Hanya padaku. Pelangi itu kini tepat di depan
mataku Tuhan. Izinkan aku memotongnya. Akan aku pajang dengan figura di ruang
tamuku.
“Ng..anu.
Mau kirim surat,” jawabku sambil menyodorkan amplop yang sedari tadi aku
pegang.
“Alamatnya?”
“Bisa
tolong dituliskan, mbak?”
“Ya..”
“Alamat
hati mbaknya.”
Dia
menatapku bingung. Kini, giliran aku yang memamerkan senyumku. Dengan barisan
gigi agak kuning hasil cetakan rokok dan kopi.
“Sekalian
di sini mbak. Kita.” Aku tak sengaja menyentuh tangannya ketika
mengambil kembali amplop itu,dan dengan sengaja menahannya cukup
lama, kemudian mengeluarkan secarik kertas putih
di dalamnya. Dia melihatku aneh. Lalu mundur satu langkah.
“SATPAM!!”
***
Seharusnya
ini hari menyenangkan untukku. Inilah hari dimana aku akan menatapnya dekat.
Tapi setelah kejadian kemarin. Tentu saja tidak. Aku bahkan enggan datang ke
sana. Aku tahu, hari ini dia akan berpindah ke loket sebelah kanan pintu
keluar. Untuk melayani kami, penerima BLSM. Kalian tahu, dengan bantuan
langsung pemerintah pun, aku tidak bisa mendapatkan cintaku, apalagi
memperbaiki hidupku. Omong kosong!
Jatuh
cinta padanya memang seperti melompat dari gedung pencakar langit. Dan
harusnya, aku percaya kata otakku.

0 komentar:
Posting Komentar