catatan remeh dan hal liar lain

Senin, 24 Agustus 2015

Patah Hati adalah Cara Terbaik untuk Hidup Kembali

23.09 Posted by Kristiawan Balasa No comments

Hatinya patah lagi. Entah masih berbentuk atau tidak kali ini. Yang jelas, di sini ia kembali meratap. Aku tidak asal menebak. Aku tahu kisah-kisahnya berawal. Aku tahu bagaimana kisah-kisahnya berakhir.

Dan, datanglah ia menemuiku. Meminjam pundak, bersiap mendongeng hikayat.

“Aku tak tahu ia sebrengsek itu.”

Kau juga tak tahu aku secinta ini. Kalimat itu lantang dalam hati. Hati yang tak pernah ia singgahi.

“Ini bukan kali pertama kau patah hati. Seingatku, tujuh atau delapan kali. Harusnya kau cukup terlatih.”

“Kau tak tahu rasanya patah hati!”

Aku memicing. Mataku menusuk tepat bibirnya. Semudah itu bibir tipisnya berucap. Bibir tipis yang selalu ingin aku lumat.

“Aku pernah patah hati. Berkali-kali malah.”

“Kau tak pernah ceritakan itu.”

“Kau tak perlu tahu.”

Ia mengeratkan pelukannya. Dadaku berdetak cepat. Makin cepat hingga bunyinya terdengar jelas. Beruntung kesedihannya menutupi suara itu. Jika tidak, aku pasti mati kutu.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya mengejutkan.
*

Yang tak aku sukai dari persahabatan, ialah akhir yang berujung cinta. Apalagi jika hanya satu hati yang merasakannya. Ingin menyatakan, tapi takut merusak semua yang terbangun bertahun-tahun. Tetap diam, ah, terlalu pedih ketika hanya bisa jadi pendengar.

Satu hal yang aku suka, saat ia kembali jatuh cinta; senyumnya, dan alasan untuk aku berhenti berharap. Sialnya, dua hal itu ada di tempat yang berbeda. Senyum itu lekat di kepala, sedangkan harapan bersemayam dalam dada. Dua kubu musuh abadi dalam peperangan cinta sejati.

Saat ia jatuh cinta dan aku berhenti berharap. Senyumnya seperti waktu, berputar tanpa henti. Begitu pun ketika ia patah hati. Senyumnya hilang, dan harapku datang. Sampai sekarang aku masih berpikir, bagaimana membuat dua kubu itu berdamai. Setidaknya, mereka bisa sejalan bagiku.
*

“Kau cantik sekali, Sayang.”

Aku tak mampu menahannya. Kata-kata itu keluar begitu saja. Tiba-tiba. Tanpa rencana.

“Dari dulu ke mana saja kau?” ledeknya manja. Matanya ia palingkan. Wajahnya kemerahan. Lesung pipinya membuat aku terjebak dalam senyum itu.

“Ayo, mempelai pria sudah menunggumu!”

Ini hari bahagianya. Sebentar lagi, ia akan menjadi milik seseorang yang sah di bawah panji agama. Akhirnya semua menjadi sejalan; senyumnya, dan harapku. Ia akan tersenyum dan mematikan asaku. Selamanya. Perang telah berhenti; kedamaian yang aku nanti.


Aku mengekor di ujung gaun panjangnya. Memeganginya agar jalannya tak kepayahan. Ia tampak anggun. Lebih dari sekadar cantik. Mungkin aku juga akan terlihat cantik bila mengenakan gaun itu. Mungkin, ini memang waktunya melepasmu, dan berganti harapan baru.**

0 komentar:

Posting Komentar