Dimuat di Pontianak Post Edisi 10 Agustus 2014
Di kota
kami mengalir sungai kesedihan, kata orang ia lahir dari air mata hujan.
Sebentar, bukankah hujan adalah air, air mata dari air? Apakah seperti manusia
yang melahirkan manusia? Ah, kata-kata orang memang seringkali buat pening
kepala.
Sampai
kini pun aku masih kurang paham akan nama sungai kesedihan. Mungkin air mata
hujan yang dimaksud adalah tangis makhluk-makhluk khayangan. Bidadari dan
malaikat yang sedang dihampiri duka, menangis sejadijadinya hingga mengaliri
sungai kota kami. Tapi, duka seperti apa yang singgah di hati mereka sampai
semua ini terjadi?
Pertanyaanku
terjawab di suatu sore yang ramah, ketika arus sungai kesedihan itu mulai
mengombang-ambingkan hati, kakek bercerita padaku, tentang negeri di atas
awan.
“Negeri
itu ada di lapis langit ketujuh, namanya negeri keringkerontang. Bukan mata air
yang menjadi asal-usul namanya, melainkan air mata.”
Aku
memerhatikan cerita kakek dengan seksama, tak satu kata pun melompat dari
mulutku. Kakek memang senang mendongeng. Sejak ibu meninggal, sepuluh tahun
lalu, ia yang mengambil peran itu. Seringnya, kakek mendongeng tiba-tiba.
Seperti saat sekarang, ketika aku tengah duduk di bantaran sungai kesedihan.
Ingin menentramkan diri karena patah hati. Entah dari mana ia datang, saat aku
memalingkan wajah, ia sudah ada di sebelah.
“Di sana,
cinta adalah sesuatu yang langka. Sudah berabad-abad penghuninya hidup dalam
hampa.”
Mendengar
itu, aku merasa dibikin mengambang. Tahu benar kakek akan apa yang dirasakan
cucunya sekarang. Padahal, walau duduk di tepi sungai ini, aku tidak sedang meratap.
Setidaknya, itu yang otakku bilang. Atau jangan-jangan, wajahku yang berkata demikian.
“Penghuninya
terlalu sibuk mengurusi cinta orang-orang bumi, hingga cintanya sendiri mereka
abaikan,” kakek melanjutkan ceritanya dengan terbatuk.
“Benar
malaikat dan bidadari?” tanyaku penasaran. Untuk sementara, dukaku terkubur
cerita kakek.
“Kau sudah
tahu rupanya,” jawab kakek sambil menggaruk siku kanannya.
Ternyata,
dugaanku benar, tapi aku masih kurang mengerti bagaimana hubungan malaikat dan
bidadari. Apakah mereka berpasang-pasangan seperti manusia, atau diciptakan
untuk sendiri, hanya saja sekali lagi, orang-orang sering berkata bahwa
malaikat itu lelaki dan bidadari adalah wanita, dan karena perkataan orang-orang itu aku
berkesimpulan; malaikat telah mengabaikan cinta bidadari, ataupun sebaliknya.
“Di
sudut-sudut taman negeri keringkerontang, tidak ada lagi pasangan malaikat dan
bidadari yang menggambar awan. Mereka duduk sendiri-sendiri memandang matahari
atau bulan, menyibukkan diri dengan membersihkan busur dan panah-panah hati
cinta orang bumi, sambil menikmati secawan rindu yang mereka peras dari jarak
dan temu sejoli-sejoli itu. Selalu begitu, setiap hari,” kakek melanjutkan
tanpa aku minta.
Mataku tak
lepas dari wajahnya. Sedangkan matanya, seperti teropong, bulat besar memandang
jauh entah apa di seberang. Kerutan di sekitar kelopak matanya, tidak menutupi
cahaya mata kakek. Ada bias-bias yang muncul. Mungkin karena saat itu langit
sedang mempersiapkan pertunjukan andalannya di ufuk barat; senja.
Mendengar
lanjutan cerita kakek dan merasai senja seperti sekarang ini, buat aku kembali
teringat pada mantan pacarku. Ia tinggal di seberang. Kemarin sore, aku
mengajaknya ke kafe Serasan. Kafe pinggir sungai yang menjadi tempat favorit
kami. Aku datang terlebih dahulu dan memilih duduk di kursi paling pojok, yang
tepat berdiri di atas sungai. Tempat itu memungkinkan aku dan ia bisa menikmati
senja dan segala kehidupannya dengan lebih memesona. Sayangnya, sore itu ia
tidak datang, tanpa kabar. Dan malamnya, selepas isya, ia mengirimkan pesan
singkat padaku, menginginkan hubungan kami diakhiri dan tak mau lagi bertemu.
“Dulunya,
negeri itu bernama surga, tempat tinggal sempurna untuk cinta dan keabadian.”
Telingaku terbakar mendengar cerita kakek, mataku yang tadinya takjub akan
cahaya yang memancar dari matanya berubah memicing. Jika surga saja bisa
berubah menjadi negeri keringkerontang, kenapa bumi tidak? Tapi tak kupotong
dengan tanya. Dan, ia terus bercerita.
“Hingga
suatu ketika, Tuhan menciptakan makhluk bernama manusia, yang kemudian
dijatuhkan ke bumi karena melanggar aturan di sana. Sejak saat itu, keadaan
berubah perlahan. Malaikat dan bidadari terlalu asik mengikuti perkembangan
orang-orang di bawah awan. Menyiasati cinta miliknya untuk orang-orang di bumi,
membagikan sesuka hati lalu mengambilnya kembali. Bagi mereka, senyum orang
bumi adalah ingkar yang paling dinanti. Bentuk cinta sederhana yang mereka beri
untuk keindahan atau penyesalan di masa depan. Mereka memang tidak bisa
mengendalikan hati semua orang bumi, dan di situlah letak keseruan permainan ini. Menjodohjodohkan,
menjadi trend di negeri atas awan seabad setelah manusia bumi
pertama diturunkan.”
“Jadi kita
yang ada di bumi hanya mainan bagi mereka di langit?” Pertanyaan itu terlontar
begitu saja. Betapa sialnya jadi manusia, hatinya tak lebih seperti peliharaan.
Padahal patah hati itu begitu menyakitkan. Sebenarnya, aku mulai merasa tersindir
oleh cerita kakek. Karena senyumku saat bersamanya dulu, mungkin saja akan
berbuah penyesalan. Aku cukup pesimis itu akan tetap menjadi keindahan. Dan,
apa mungkin, putusnya hubungan kami, karena penghuni negeri atas awan?
“Aku belum
menyelesaikan ceritaku,” kakek protes.
“Lanjutkanlah,”
jawabku kecut.
“Istilah
itu sendiri mereka dapat dari pasangan bumi, yang seringkali berpikir telah
dipertemukan dengan jodohnya di bulan pertama mereka dijadikan korban panah
penghuni surga. Ya Tuhan, jika ia memang jodohku, dekatkanlah, jika
bukan,maka jadikanlah ia jodohku. Begitu kira-kira doa yang acapkali
memecah tawa penghuni surga. Tawa yang kemudian mencandu telinga penghuninya,
membuat mereka menyebarkan cintanya untuk orang bumi dan melupakan cinta di negerinya;
untuk dirinya sendiri dan teman seabadi.” Kakek bercerita sambil mempraktikkan
seseorang yang tengah berdoa.
Perutku
gatal terpingkal mendengar doa itu. Aku mulai bisa tertawa lepas semenjak tadi
malam. Kakek benar-benar mengikuti perkembangan anak muda, pikirku.
“Kenapa
tertawa? Sudah lupa kau, Nak, pada patah hatimu?”
Aku
kembali diam. “Ah, kakek ini,” kataku malu-malu. “Lanjutkan, Kek.”
“Setiap
malaikat atau bidadari, bisa mengendalikan lebih dari sepasang hati orang bumi.
Ibarat catur, mereka menguasai lebih dari satu pion. Mulai dari raja sampai
prajurit, mereka yang pegang kendali.”
Aku
kembali berpikir, mesti aku tidak tahu pasti berapa jumlah penghuni negeri
keringkerontang, bila satu bisa mengendalikan lebih, tentu banyak waktu yang
mereka habiskan untuk hati-hati itu. Dan, sudah pasti, karena permainan ini,
teman seabadi malaikat atau bidadari merasa sepi. Di negeriku, permainan hadir
untuk mengusir sepi, tapi di sana sebaliknya, justru permainan
jodoh-menjodohkan ini adalah trend penyebab sunyi.
Tapi
terkadang tidak juga. Aku pernah beberapa kali bertengkar dengannya karena
terlalu asik bermain playstation, atau game-game online. Ia cemburu dan merasa
diduakan. Lihatlah, betapa egoisnya perempuan. Tak mau dibandingkan satu sama
lain tapi merasa diduakan oleh sebuah permainan. Padahal, sejak dulu, fitrah
lelaki memanglah bermain, tentu saja selain memimpin. Kupikir tak ada ayah yang
sempurna bila tak bisa mengajak anaknya bermain. Tapi tentu tidak seperti
malaikat atau bidadari penghuni negeri keringkerontang itu, kami –lelaki bumi,
tidak memainkan hati orang lain, apalagi perempuan. Setidaknya, itu bukan aku.
“Kau
mendengarkan ceritaku?” kakek memecah lamunanku. Mungkin sejak tadi ia
memperhatikan aku dari balik keriputnya. Karena sejak ceritanya mulai menyinggung
masalah hati, aku melebarkan pandangan ke arah sungai kesedihan, sambil
berharap, semoga kesedihanku hanyut bersama arusnya.
Aku
mengangguk, kakek membenarkan
letak kopiah putih di kepalanya dan kain sarungnya yang tertiup angin, kemudian
kembali melanjutkan kisahnya.
“Setiap
malam, kehampaan mengunjungi teman seabadi penghuni negeri keringkerontang,
menjinjing riuh masa lalu untuk kembali diputarkan dalam ingatan. Sudut-sudut
taman mulai jarang didatangi, setelah sebagian dari mereka terlalu dalam
memainkan permainan ini, pavilion menjadi tempat sakral yang tidak boleh
ditinggalkan. Mereka hanya sesekali keluar untuk turun ke bumi, memanah hati
penghuninya kemudian kembali untuk mengendalikannya dari dalam sana. Bahkan ada
seorang malaikat yang akhirnya tinggal di bumi karena tidak ingin sedetik pun
tertinggal dari perkembangan hati yang ia mainkan.”
Lewat
telinga, cerita kakek terjebak di kepala, dan berhasil mengundang potret-potret
masa lalu ikut serta. Semakin panjang ia bercerita, semakin banyak wajah mantan
pacarku berlalulalang bersamanya. Rasa-rasanya ingin aku meminta kakek
menghentikan cerita, namun aku juga penasaran akan nasib malaikat atau bidadari
yang terabaikan di atas sana. Juga, nasib malaikat yang satu ini.
“Ada malaikat
yang akhirnya tinggal di bumi?”
“Boleh aku
selesaikan lebih dahulu ceritaku?”
Aku jawab
pertanyaannya dengan membusurkan pandanganku tepat pada matanya.
“Perubahan
itu membuat air mata teman seabadi penghuni negeri keringkerontang yang merasa
sepi seringkali jatuh. Tumpah deras, meresap ke dalam awan, tertampung
sementara waktu, hingga tak bisa lagi ditahan dan harus dilahirkan. Kejadian
semacam ini tidak hanya terjadi di malam hari. Hampir setiap waktu ada air mata
yang tercurah.”
Kakek
menghentikan ceritanya sampai di situ. Azan magrib terpaksa mengakhiri cerita
kakek. Wajah mantan pacarku dan jumlah penghuni negeri keringkerontang masih
bertarung di dalam kepala. Dan wajah cantik itu tetap jadi pemenangnya. Sekali
lagi, aku tidak tahu pasti jumlah penghuni negeri keringkerontang, tapi jika
itu terjadi selama berabad-abad, mungkin cerita kakek adalah sebab aliran air
di sungai kesedihan kota kami.
“Pulanglah.
Mandi, dan sholat. Selepas dari surau nanti, kita lanjutkan cerita ini.” Aku
mencium tangan kakek kemudian ia beranjak dari duduknya dan berjalan menyusuri
bantaran sungai menuju surau di dekat jembatan. Di langkah ketiganya ia
membalik badan dan memanggilku, “Nak, memang benar, ada malaikat yang tinggal
di bumi, dan ia menetap di hatimu.”
Kakiku
mengakar tanah, tubuhku kaku. Kakek menjauh perlahan tanpa menoleh, bayangannya
tinggi bergerak di atas sungai kesedihan kota kami. Aku merasa tak pernah
memainkan hati, juga mengawasi cinta orang lain. Atau, apa mungkin
cinta kedua orang tuaku?
Kerajaan
mantan pacar di kepalaku runtuh. Terkudeta kata-kata kakek.**
Pontianak, 27 Mei 2014

0 komentar:
Posting Komentar