Anjing
itu bukan menggonggong pada orang asing, tapi justru pada majikannya sendiri.
Anjing itu akan ada di mana majikannya ada, sambil mempertontonkan taringnya
yang selalu diasah, beradu pisau angin. Anjing itu selalu menunjukkan liurnya yang
rembes seakan ujung gigi adalah rahim, pada sang majikan. Anjing itu meneteskan
liur yang bukan haus daging atau tulang. Anjing itu lapar perhatian, pula
keadilan. Anjing itu tahu, majikannya tahu.
Anjing itu menyalak, memenuhi layar kaca,
menempatkan guk-guk-guk di baris paling depan surat kabar peternakan. Anjing
itu tahu, masanya akan tiba, saat ia tak akan lagi dalam kungkungan. Anjing itu
melihat bagaimana kucing dan tikus saling bunuh untuk isi perut. Anjing itu
memandang ayam-ayam mengais makan bahkan saat kokok mereka sendiri belum
berkumandang. Anjing itu merasa, peternakan seluas kota mati Chernobyl itu,
punya satu binatang paling buas, sang Majikan. Anjing itu tak tahan, tak
melawan. Anjing itu merasakan perutnya bernyanyi, tapi ia tak henti
menggonggong. Anjing itu menekuni tanah kering, dan tetap menggonggong. Anjing
itu bosan, tak bersuara.
Anjing
itu bersama anjing-anjing lain berbaris layaknya angkatan bersenjata dalam
film-film perang Amerika. Anjing itu hanya bermodal mulut, dan rasa jengah yang
memuncak. Anjing itu tahu, satu-satunya cara agar tak hidup berkalung rantai
adalah menyalak, bahkan serang dan gigit. Anjing itu mengingatkan pada Anjing Hitam
di sebelahnya agar tetap menggonggong dan tak mundur barang selangkah. Anjing
itu memimpin anjing lain, berdiri depan pagar istana, membakar ban, dan terus
menggonggong.
Anjing
itu menamai dirinya Spartacus, ia terinspirasi dari kisah perlawanan gladiator
Trakia itu terhadap kekaisaran Romawi. Anjing itu percaya ia dilahirkan sebagai
pendobrak. Anjing itu sudah merencanakan pemberontakan besar hari ini. Anjing
itu berkata pada cermin setiap pagi, “Aku Spartacus, yang tak akan gentar
melawan tiran!”
Anjing
itu yakin, bila semua anjing menggonggong, khafilah tak akan berlalu.
***
Sang
Majikan berkata, “Anjing-anjing itu gila dan sudah waktunya dimusnahkan!”
Sang
Majikan kecolongan, geming pada gonggong anjing peliharaannya yang paling manut
tempo hari. Sang Majikan menganggap gonggong anjingnya yang selalu menunduk dan
tekun menjilati kakinya itu tidak perlu ditanggapi berlebih, sebab kunci
kandang-kandang sudah ia pegang. Sang Majikan merasa akan menang, karena sebelum
menjadi majikan, ia bahkan telah melenyapkan banyak orang. Sang Majikan
melangit, berpikir bahwa anjing tak lebih pintar dari gali atau orang komunis.
Sang Majikan bisa mencoba cara yang sama; dengan gonggong balasan atau tim
pemburu binatang.
Sang
Majikan memerintahkan anjing kesayangannya untuk mengumpulkan anjing-anjing
lain yang ekornya masih ia pegang. Sang Majikan merencanakan gonggong balasan,
untuk memenuhi surat kabar, mengotori layar kaca. Sang Majikan bisa membredel,
bahkan membumihanguskan surat kabar dan stasiun televisi atau radio yang
dianggapnya ikut menggonggong dengan irama sumbang seperti gonggong
anjing-anjing di depan istananya. Sang Majikan merasa, itu gertakan dan hukuman
paling baik untuk mereka. Sang Majikan yakin seratus persen bisa mengimbangi,
melawan, dan memukul mundur, dan memusnahkan anjing-anjing kudis itu,
sebagaimana ia merampas peternakan dari seorang komunis dan jadi majikan
seperti sekarang.
Sang
Majikan bahkan sudah mempersiapkan tim pemburu binatang untuk berjaga; satu
senti dari hidung, satu depa dari depan pintu, sepuluh meter dari istana, juga
pusat konsentrasi anjing-anjing sialan itu. Sang Majikan akan melakukan apa
saja untuk mempertahankan singgasana. Sang Majikan tahu, pembungkaman dan
kekerasan adalah cara apik menangani pemberontak.
Sang
Majikan akhirnya membredel surat kabar, stasiun televisi dan merobohkan
menara-menara radio. Sang Majikan yang membawa hewan-hewan di peternakan itu
pada kemajuan ilmu pengetahuan, kelimpungan. Sang Majikan bisa membuat hewan
berisi kepala manusia, dan kerepotan setelahnya. Sang Majikan tak sadar, bila hewan-hewan percobaannya
itu berkembang pelesat. Sang Majikan tak mampu membalas gonggong anjing sialan
itu dengan nyalak anjing-anjing yang ekornya ia pegang. Sang Majikan memakai
jalan kedua; pembasmi hama.
***
Pembasmi
hama jadi nama operasi khusus tim pemburu binatang sang Majikan. Pembasmi hama
bukan kumpulan orang sembarangan, mereka bekas tentara republik dan tempat di
mana sang Majikan berasal. Pembasmi hama punya reputasi mentereng. Pembasmi
hama pernah buat lenyap pengganggu keamanan negara dengan ciri tatto di tubuh.
Pembasmi hama tak perlu bukti lain, cukup satu-dua tatto di lengan, maka orang
itu niscaya akan terkapar tanpa nyawa dan dibiarkan gelimpangan di mana saja.
Pembasmi hama menyebut mereka gali. Pembasmi hama, saat sang Majikan masih
menjadi bagiannya, bahkan pernah bantu negara bersih-bersih orang dengan cap
komunis. Pembasmi hama sekarang, pembersih kandang sang Majikan. Pembasmi hama
siap melakukan genosida selanjutnya.
Pembasmi
hama sudah bersiap di posisi mereka. Pembasmi hama datang menenteng senapan dan
jerat leher. Pembasmi hama mendapat perintah tembak di tempat, sebab tak ada
yang ingin pelihara anjing-anjing laknat. Pembasmi hama tak peduli gonggongan
itu, telinga mereka tertutup tembok tebal kedap suara, juga hatinya. Pembasmi hama
hanya peduli perintah sang Majikan, karena bersetia adalah janji tanpa ingkar.
Pembasmi hama bukan penakut taring, liur dan gonggong anjing, bagi mereka,
desing peluru jauh bikin binasa.
Pembasmi
hama akan mulai mengokang, bila selangkah saja anjing-anjing sialan itu
melewati batas. Pembasmi hama merasa ini pekerjaan mudah, tidak seperti saat
mereka membasmi gali yang berlangsung diam-diam seperti maling dinas malam.
Pembasmi hama berhadapan langsung dengan gonggong anjing dan taring yang tak
bisa melayang melukai mereka. Pembasmi hama di atas angin, meski bau liur
anjing yang menyeringai dibawa menjumpai hidung. Pembasmi hama mendengar
aba-aba, saat dengan kilat, anjing-anjing itu menjungat, meluntang-lantungkan
liur dan menunggu taring merumah pada daging mereka.
“Pembasmi
hama, tembak!”
***
Satu
hari setelah pemberontakan, peternakan sepi. Satu hari yang jauh beda dari
kemarin. Satu hari tanpa gonggong. Satu hari dengan kesibukan baru para
pembasmi hama; mengumpulkan bangkai anjing dan bersiap membakarnya. Satu hari
yang buat tawa ledak dari mulut sang Majikan. Satu hari saat anjing-anjing yang
selamat sembunyi masuk semak. Satu hari yang melelahkan juga mencekam, sebab
pembasmi hama lebur mencari mereka seperti bermain petak umpet.
Satu
hari di mana salah seorang pembasmi hama bertanya, “Kenapa tidak kita biarkan
saja bangkai ini tergeletak seperti gali?”
“Satu
hari ini, kita harus bersih-bersih, sebab besok bukan tak mungkin orang-orang
akan datang dan berkata kita melanggar hak asasi.”
Satu
hari itu, isi peternakan bimbang; kembali melawan atau cari selamat.
Satu
hari sebelum pemberontakan, anjing-anjing itu memang gentar. Satu hari dengan
debar antara tak sabar dan takut sesumbar mereka akan menang. Satu hari di mana
suara dipersiapkan. Satu hari saat hati, lidah, taring berpadu untuk gonggong
lebih keras, nyalak lebih garang dan menyeringai lebih giat. Satu hari yang
diyakini anjing itu sebagai segalanya, sebab perang tanpa persiapan, adalah
mati sia-sia.
“Satu
hari untuk leher tanpa rantai, hidup tanpa jadi percobaan dan badan tanpa
pentungan!” teriak Spartacus saat memobilisasi anjing-anjing lain di hari
pemberontakan, “Satu hari untuk hidup tanpa tiran!”
“Satu
hari untuk hidup tanpa tiran!”
***
Spartacus
tak ditemukan. Spartacus terakhir terlihat berada paling depan dari pasukan
anjing yang mencoba merangsek ke dalam istana sang Majikan. Spartacus terpisah,
saat anjing-anjing di baris belakangnya kocar-kacir mendengar suara tembakan.
Spartacus sebenarnya sudah menduga hal itu. Spartacus telah membagi
anjing-anjing itu menjadi tiga kelompok. Spartacus bersama pasukan paling
banyak menyerang dari depan, mengalihkan perhatian para pembasmi hama, dua pasukan
lain yang masing-masing berjumlah sepuluh, menyerang dari taman samping dan
dapur istana.
“Spartacus,
mungkin ini tak akan berhasil!” kata Anjing Hitam saat mereka jungat dan siap
menyerang.
“Spartacus
dari Trakia terus melawan prajurit Romawi dibawah pimpinan Crassus walau kalah
jumlah!” jawabnya.
Spartacus
tak gentar. Spartacus gesit menghindar, bergerak zig-zag agar tak tertembak,
lewat gonggongan panjang Spartacus, dua pasukan lain menyerang. Spartacus hanya
berjarak dua meter dari pembasmi hama di depan pagar, saat dua puluh anjing
dari pasukan lain berhasil masuk halaman. Spartacus mendengar suara tembakan
pecah dari arah entah. Spartacus merasa sesuatu membentur kepalanya, kemudian
semua hitam.
***
Spartacus
hidup dalam dongeng sebelum tidur anak-anak di peternakan sebesar kota mati
Chernobyl itu. Satu hari setiap bulan, tepatnya di hari Rabu minggu pertama,
akan ada sekelompok hewan berdiri di sepanjang pagar istana; anjing
menggonggong, kucing mengeong, ayam berkokok, dan sebagainya. Pembasmi hama
selalu siap melenyapkan mereka, tapi tak ada perintah untuk itu. Sang Majikan
merasa dirugikan bila harus ada lagi yang dimusnahkan seperti anjing-anjing
dibawah pimpinan Spartacus. Anjing itu memang tak berhasil melawan tiran, tapi
ia tak menyerah dan terus menggonggong di hati hewan sepeternakan.
Pontianak, Juli 2015



