catatan remeh dan hal liar lain

Jumat, 25 Maret 2016

Rutin Latihan Jelang Konser Karawitan

01.38 Posted by Kristiawan Balasa No comments


Jelang Konser Karawitan dengan tema “Cita Budaya Khatulistiwa” di Hotel Best Western Kota Baru, Ikatan Mahasiswa Seni (Ikanmas) Untan rutin menggelar latihan. Sabtu, 26 Maret 2016 nanti acara itu akan dihelat. Tak hanya persiapan para pengisi acara, persiapan teknis dari Best Western Kota Baru pun sudah dilakukan sejak beberapa hari terakhir.

Dalam konser tersebut, akan ada 7 komposer yang menampilkan ide masing-masing. Dihadiri pejabat setempat, konser itu dipastikan akan menyuguhkan penampilan yang memukau. Bagaimana tidak, pagelaran seni musik dan tari kekayaan budaya daerah, disajikan generasi muda. Gamelan Saraswati, Ikanmas Melayu Esemble, dan Indonesian Fashion Chamber (IFC) akan bersatu padu mengangkat identitas Indonesia.

IFC akan tampil dalam fashion show dengan busana berbahan kain daerah. Putri Pariwisata Indonesia 2014 juga akan hadir dalam pagelaran ini. Tentu Anda bisa bayangkan bagaimana kemeriahan acara perdana Best Western Kota Baru, yang direncanakan akan digelar dengan skala lebih besar di waktu depan.

Tak hanya bisa menikmati tampilan budaya, penonton yang hadir, jika beruntung bisa mendapatkan sejumlah hadiah. Mulai dari voucher menarik dan hingga uang tunai. Caranya, hanya dengan ikut dalam photoboots competition yang digelar bertepatan dengan konser karawitan.

Pastikan diri Anda untuk hadir di Konser Karawitan Best Western Kota Baru, 26 Maret 2016, mulai pukul 19.00 WIB mendatang! 

Minggu, 20 Maret 2016

KUPU-KUPU KAMERAD

01.42 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Dimuat di Pontianak Post, edisi Minggu, 31 Januari 2016

Kau akan takjub bila mengunjungi desa ini di akhir Oktober. Matamu akan sibuk oleh cara-cara Tuhan menyombongkan diri. Di taman batas desa, hamparan bunga warna-warni tumbuh kukuh. Bunga-bunga itu hanya lahir di sana dan akan mekar sebulan penuh. Tidak di bulan lain, tidak pula di tanah lain. Kupu-kupu dengan sayap lukisan alam serupa lahar gunung api, menghisap nektar, kemudian terbang ke sana ke mari. Berpusing di desa.

Di bulan lain, tak ada yang istimewa dari lapang itu, hanya tanah dengan ilalang mengakar bumi. Namun, menjelang akhir Oktober, dalam semalam, ilalang-ilalang itu seperti tersedot ke tanah. Kemudian berganti dengan bunga warna-warni yang berjenis entah, dengan kupu-kupu bersayap lahar gunung api tengger mencumbunya. Ada cerita yang mengatakan, seperti ada tangan besar setan yang muncul dan menarik hilang ilalang. Tapi tentu hal itu patah seketika karena yang lahir setelahnya adalah bunga-bunga indah yang tak mungkin ditiupkan dari neraka.

Kabar angin lain berkisah, ilalang itu serupa inang bagi tali putri. Semang yang kemudian dimakan oleh bunga ganjil warna-warni. Bunga-bunga itu hidup dalam tubuh ilalang kemudian keluar di saat yang mereka inginkan. Tapi, tak mungkin tangkai sebesar kelingking anak remaja itu tinggal dalam selimut selembar ilalang.

Ada satu cerita menurutku yang lebih masuk akal (biar kujelaskan, maksudku, bisa lebih aku terima, dan punya daya jual), bunga dan kupu-kupu itu adalah jelmaan korban pembantaian tentara republik yang mati syahid. Aku mendapat cerita ini dari seorang petani penghuni desa yang kutemui baru saja. Ia berkata, dulu di bawah bunga-bunga itu, ratusan orang dikubur secara massal. Tak ada yang dimandikan, apa lagi disalatkan. Mereka disusun, setelah dibungkus dengan daun pisang yang tumbuh sepanjang jalan.

“Awalnya, semua dibiarkan gelimpangan, di tepi jalan, di dalam selokan bahkan dalam kandang-kandang peliharaan. Tak ada yang mau urus. Tak banyak warga desa yang tersisa selain anak-anak yang jumlahnya delapan belas. Aku berumur empat belas saat itu dan tak tahu harus berbuat apa. Yang paling tua di antara kami berumur enam belas dan ia seorang wanita. Tak ada lain yang dilakukannya selain menangis sepanjang hari. Sampai di hari ketiga, kami—dua belas anak laki-laki—merasa tak tahan berdiam diri dan membiarkan orang tua kami sendiri jadi bangkai dan mumi dalam kepala.”

“Aku bersama yang lain mencari apa yang tersisa untuk menggali. Dalam takut dan ingatan tentang darah dan tiga truk yang menjadi awal malam mencekam, kami keruk tanah dalam ritme derap sepatu lars yang entah datang dari mana. Mungkin ingatan buruk memang lebih mudah terekam dan bangkit tiba-tiba. Kadang ketika menggali, kami dikejutkan suara tembakan atau teriakan yang hanya didengar satu-dua kepala. Aku juga sempat mendengarnya, tapi ada juga yang tidak, maka kukatakan pada mereka lidah angin sedang ingin bercanda. Kadang kala, kupikir, suara itu tak pernah keluar dari desa kami. Datang dan pergi seperti bola pimpong. Butuh waktu lebih dari sehari untuk menggali, anak-anak perempuan mendapat jatah menghitung semua mayat dan jika bisa, membawanya ke mari. Itu pun baru berjalan setelah kami yakinkan berkali-kali bahwa Tuhan tak suka ada bangkai manusia berserakan, apalagi orang tua dan kerabat dekat.”

Mereka sudah berjuang demi tanah yang mereka rebut dari Belanda juga Jepang, tapi kemudian dimusnahkan seperti wabah terkutuk. Tak ada yang sama rasa, sama rata! Terlalu lama dijajah, merdeka malah balas menjajah, rakus, lapar di tanah sendiri! Aku menggunakan kata-kata terakhir Kamerad Gledek—Bapakku, sebelum ia ditembak di kantor partai—untuk membuka upacara pemakaman ganjil itu. Tak ada kain mori untuk semua jenazah, karenanya, kami membungkus mereka dengan daun-daun pisang yang tumbuh sepanjang jalan. Tak tahu juga siapa yang pertama kali mencetus ide itu, walau akhirnya aku setuju dan merasa konyol karena seperti melihat tumpukan lontong raksasa yang menunggu dikubur.”

“Bapak ingat betul peristiwa itu?” ujarku, akhirnya memotong cerita.

“Sudah kukatakan, mungkin kenangan buruk lebih mudah terekam dan hidup lebih lama dalam ingatan. Kau tahu, apa yang bikin aku ingat jelas hari itu?”

“Apa?”

“Aku melihat semua mayat tersenyum.”

“Ratusan mayat?”

Seratus delapan puluh tiga mayat.”

“Teman-teman Bapak melihatnya?”

“Entahlah. Aku pun tak bertanya, tapi kulihat bunga-bunga indah mekar di wajah mereka. Dan, yang jelas, setelah kami meratakan tanah itu, ulat-ulat sebesar jempol kaki orang dewasa mulai muncul, lahir dari rahim tanah, kemudian seperti lokomotif berjalan berderet-deret menuju hutan. Kami takjub dan anehnya, tak ada satu pun anak perempuan yang berteriak takut atau jijik. Kami biarkan ulat-ulat itu, dan hanya mengekornya dengan mata. Mungkin mereka telah lihat yang jauh lebih menyeramkan dari sekadar ulat; rombongan tentara republik yang berjalan dalam barisan dan menembaki apa saja yang muncul di depannya, bahkan merangsek ke dalam rumah dan membakar yang tersisa.”

“Seperti Bandung lautan api?”

“Lebih mulia dari itu, penghuninya pun harus mati. Mungkin karena mereka tahu di desa ini, kamerad-kamerad terbaik dilahirkan hingga namanya harum dan berjaya di ibu kota negara. Mereka tak ingin ada lagi kudeta. Itu pun kurasa hanya akal-akalannya saja, sebab, sehari sebelum tentara itu datang, aku yang sedang ikut Kamerad Gledek ke kantor partai, melihatnya marah-marah, tak percaya kabar radio yang mengatakan kudeta gagal dan jenderal-jenderal berakhir di Lubang Buaya. Menurutnya, itu hanya rekayasa karena tak pernah rencana itu tersiar dalam rapat-rapat bulanan. Maaf, aku lebih senang menyebutnya Kamerad ketimbang Bapak untuk menghormati perjuangannya.”

“Mengenai bunga dan kupu-kupu itu?”

Penjelasannya sangat meyakinkan dan, menarik untuk aku sajikan dalam catatan perjalanan. Aku datang untuk melihat langsung taman dengan kupu-kupu bersayap lahar gunung api itu. Juga untuk mengambil beberapa foto agar bisa kupamerkan dalam blog perjalananku. Kakek sempat melarang rencanaku mengunjungi desa ini, berbahaya dan jangan jadi pemicu sakit masa lalu, katanya. Meski ia satu-satunya keluarga yang aku punya, kata-katanya tak pernah aku gubris. Ia terlalu galak dan sering mengekang, padahal aku bukan anak buahnya di angkatan bersenjata.

Sengaja aku datang tiga hari sebelum hari ke lima belas di bulan Oktober untuk mengabadikan bagaimana ilalang itu hilang dan berganti bunga-bunga dengan kupu-kupu langkanya. Aku akan jadi yang pertama mengunggah dan memperlihatkannya ke dunia karena tak mungkin temanku melakukannya lebih dulu.

Ia mendapat cerita taman ini dari orang tuanya. Konon, ayahnya adalah salah satu penghuni desa. Namun,  ia terlalu percaya pada mitos kutukan desa Palu Arit.

Tak ada peradaban yang menjamah desa ini selain tanganku.

“Seminggu setelah penguburan, banyak di antara temanku yang pergi dan tak kembali ke desa. Mungkin mereka berpikir untuk mengubur juga kenangannya bersama mayat orang tua mereka. Mungkin mereka juga melihat mayat-mayat itu tersenyum, dan merasa senyum itu sebagai sebuah petunjuk untuk meninggalkan desa ini, dan orang tua mereka mati dengan tenang. Hanya tersisa delapan orang saat itu, seperti adam-hawa yang saling berpasangan, Tuhan juga menghendakinya pada kami. Kami—yang tersisa—mulai membersihkan semua yang masih bisa digunakan dan tidak lagi menghiraukan lahan penguburan. Sampai di akhir Oktober 1966, setahun setelah kejadian, kupu-kupu dengan sayap lahar gunung api muncul melayang di desa. Terbang dan berpusing di kepala kami. Kadang dua-dua. Kadang lebih. Tak ada satu pun di antara kami yang menangkapnya. Membiarkan mereka masuk ke dalam rumah, hinggap di balai-balai, bahkan tengger di kepala seperti mengelus-elus rambut kami.”

“Setelah itu, mereka seperti berbisik dan menarik kami untuk ikut. Kami berdelapan membebek di belakang (juga di bawah), berpayung ratusan kupu-kupu bersayap lahar gunung api yang melayang berkoloni. Seperti arakan merah menuju pemakaman massal yang telah berubah jadi taman bunga warna-warni yang ganjil. Semua kupu-kupu hinggap, layaknya menunjukkan kebahagiaan. Ingin memulai pesta. Mungkin di surga, semua benar-benar sama rata, sama rasa, tak ada kelas, tak ada tuan tanah. Meski kadang kupikir, tujuh bidadari untuk satu lelaki itu tak baik bagi pasangan suami istri,” seperti hendak menutup dengan kelakar, namun kembali dilanjutkan,sejak itu, kami percaya, ulat-ulat yang keluar setelah tanah kuburan rata dan menuju ke hutan itu adalah kupu-kupu bersayap lahar gunung api ini, jelmaan kamerad penduduk desa. Dan, bunga-bunga itu, adalah budi baik yang tumbuh dan tak seorang pun boleh memetiknya.”
***

Sambil melihat kamera—foto seekor kupu-kupu sebesar daun kelor tengah tengger di bunga seperti bunga matahari, namun berkelopak pelangi, aku merasakan kejanggalan cerita desa Palu Arit itu. Pak Tani yang kutemui, beberapa kali menyebut “Tuhan” dan menghubungkannya dengan para kamerad. Mungkin, ini komunis rasa nusantara, pikirku asal-asalan. Tapi, semua itu tak penting. Yang penting adalah bagaimana aku bisa membagikannya pada dunia. Tentu bukan atas nama ilmu pengetahuan apalagi tetek bengek sejarah. Masa lalu bukan sesuatu bagiku. Meski kadang-kadang, itu hal baik untuk meningkatkan kunjungan orang.

Seperti dugaan, dalam waktu tiga hari, foto-foto keajaiban ganjil taman desa Palu Arit menjadi bahan pembicaraan semua situs dunia maya dan bikin namaku ikut mengudara. Saat aku pulang dari rumah seorang teman, kupikir bom atom Amerika baru saja jatuh di kamar. Berantakan. Kudapati Kakek bersama enam anak buahnya membawa kamera dan laptop pribadiku. Ia menamparku dan mengomel sesuatu yang tak aku ingat.

Kau tahu, detik itu, aku makin merasa punya seorang Kakek, jenderal angkatan bersenjata yang paling aneh.**


Pontianak, 2015

Sabtu, 19 Maret 2016

Earth Hour, BEST WESTERN Kota Baru Gelap Gulita

22.16 Posted by Kristiawan Balasa No comments
FOTO BEST WESTERN KOTA BARU

BEST WESTERN Kota Baru, Pontianak mendadak gelap, pada Sabtu, 19 Maret 2016. Sejak pukul 20.30-21.30 WIB, semua lampu padam. Sumber cahaya hanya berasal dari layar ponsel atau lilin yang menyala. Hal itu sengaja dilakukan pihak hotel, mengajak semua tamu untuk memperingati Earth Hour 2016.

Earth Hour (EH) sendiri adalah sebuah kegiatan global yang diadakan oleh Word Wide Fund for Nature (WWF). Kegiatannya sederhana, hanya melakukan pemadaman lampu yang tidak diperlukan di rumah atau perkantoran selama satu jam. Tujuannya, untuk meningkatkan kesadaran penghematan energi dan sebuah tindakan serius menghadapi perubahan iklim.

WWF dan Leo Burnett, pertama kali menghelat EH tahun 2007. Saat itu, 2,2 Juta penduduk Sydney, Australia berpartisipasi memadamkan semua lampu yang tidak diperlukan. Setelah itu, seperti wabah, beberapa kota di dunia ikut berpartisipasi setahun setelahnya. EH 2016 sendiri, dilaksanakan 19 Maret 2016, mulai pukul 20.30-21.30 WIB.

Berpartisipasi dalam EH, bukan barang baru bagi BEST WESTERN Kota Baru. Mulai tahun lalu BEST WESTERN Kota Baru sudah mendukung progam WWF ini. Di tahun ini, semua tamu diajak turun aksi. Pihak hotel mengajak tamu untuk mematikan lampu kamar di jam yang telah ditentukan. Snack dan kopi disediakan pihak hotel untuk semua tamu, baik yang menginap, ataupun tidak.

Dengan adanya kegiatan ini, pihak BEST WESTERN Kota Baru berharap dapat membangun keterlibatan masyarakat secara luas dalam melakukan aksi kecil dengan dampak besar. EH memiliki banyak manfaat. Tak sekadar menghemat listrik, tapi juga mencoba mengkritisi perubahan iklim yang merupakan ancaman kehidupan di bumi.


Perubahan iklim yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global. Naiknya permukaan air laut, perubahan musim yang sulit ditebak, kemarau atau musim dingin yang panjang. Perubahan terjadi secara besar-besaran. Tak ada pilihan lebih baik, selain berusaha bersama, mengubah apa yang telah berubah.

Jumat, 18 Maret 2016

BEST WESTERN SIAP GELAR KONSER KARAWITAN

03.56 Posted by Kristiawan Balasa No comments


Budaya merupakan suatu tradisi yang sudah terjadi dari dahulu dan harus dilestarikan secara turun temurun. Menjaga dan melestarikan budaya adalah suatu keharusan. Karena budaya ialah identitas suatu daerah atau suatu bangsa.

BEST WESTERN Kota Baru yang diwakili oleh M.Rizal Razikan selaku General Manager mengatakan, bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan kepada generasi muda yang selalu menjunjung tinggi dan cinta akan budaya. Serta memberikan apresiasi terhadap prestasi yang sudah dicapai. Tak hanya prestasi di dalam bahkan prestasi di luar negeri.

Dari dasar itulah hotel BEST WESTERN Kota Baru ingin menyelenggarakan konser karawitan yang rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 26 Maret 2016. Menggandeng teman-teman dari IKANMAS (Ikatan Mahasiswa Seni ) FKIP Seni Untan prodi seni musik dan tari, BEST WESTERN dan FKIP Seni Untan akan bekerja keras untuk mempersiapkan acara ini dengan baik. Para talent juga siap bekerja keras demi mempersembahkan penampilan terbaik.

Acara dengan tema “CITA BUDAYA KHATULISTIWA” merupakan pagelaran yang dipersembahkan untuk masyarakat kota Pontianak. Sejumlah persiapan, sudah mulai dilaksanakan sejak kemarin. Kegiatan ini mendapat dukungan dari banyak pihak. Pagelaran yang akan disajikan nantinya, adalah pagelaran seni musik dan tari, yang mengacu pada kekayaan budaya daerah. Adanya Konser Karawitan ini diharapkan dapat mempengaruhi generasi muda untuk tetap mencintai budaya.

Gamelan saraswati dan Ikanmas Melayu Esemble menjadi penampilan yang siap menyuguhkan atraksi terbaik pada penonton. Kolaborasi musik melayu dan jawa akan bersatupadu memanjakan semua indera penonton. Latihan yang mereka gelar setiap malam, tentu akan menghasilkan pertunjukan yang maksimal. Dalam acara yang dibuka untuk umum dengan HTM. Rp. 20.000,- (free coffe break) ini, penonton bisa ikut serta dalam photoboots competition. Akan ada hadiah voucher menarik dari BEST WESTERN Kota Baru untuk 10 foto terbaik, dan voucher plus uang tunai khusus bagi 3 foto terbaik.


Informasi lebih lanjut, Anda bisa langsung menghubungi Wendha di nomor 08115633320/089694133320. Pastikan Anda jadi bagian dari gema Konser Karawitan Cita Budaya Khatulistiwa ini!