Dimuat di Pontianak Post, edisi Minggu, 31 Januari 2016
Kau akan takjub bila mengunjungi desa ini di akhir
Oktober. Matamu akan sibuk oleh cara-cara Tuhan menyombongkan diri. Di taman
batas desa, hamparan bunga warna-warni tumbuh kukuh. Bunga-bunga itu hanya
lahir di sana dan akan mekar sebulan penuh. Tidak di bulan lain, tidak pula di
tanah lain. Kupu-kupu dengan sayap lukisan alam serupa lahar gunung api, menghisap nektar,
kemudian terbang ke sana ke mari. Berpusing di desa.
Di bulan lain, tak ada yang istimewa dari lapang
itu, hanya tanah dengan ilalang mengakar bumi. Namun, menjelang akhir Oktober, dalam
semalam, ilalang-ilalang itu seperti tersedot ke tanah. Kemudian berganti dengan
bunga warna-warni yang berjenis entah, dengan kupu-kupu bersayap lahar gunung
api tengger mencumbunya. Ada cerita yang mengatakan, seperti ada tangan besar
setan yang muncul dan menarik hilang ilalang. Tapi tentu hal itu patah seketika
karena yang lahir setelahnya adalah bunga-bunga indah yang tak mungkin
ditiupkan dari neraka.
Kabar angin lain berkisah, ilalang itu serupa inang bagi tali putri.
Semang yang kemudian dimakan oleh bunga ganjil warna-warni. Bunga-bunga itu
hidup dalam tubuh ilalang kemudian keluar di saat yang mereka inginkan. Tapi, tak mungkin tangkai sebesar kelingking anak remaja
itu tinggal dalam selimut selembar ilalang.
Ada satu cerita menurutku yang lebih masuk akal
(biar kujelaskan, maksudku, bisa lebih aku terima, dan punya daya jual), bunga dan kupu-kupu
itu adalah jelmaan korban pembantaian tentara republik yang mati syahid. Aku
mendapat cerita ini dari seorang petani penghuni desa yang kutemui baru saja. Ia berkata, dulu di
bawah bunga-bunga itu, ratusan orang dikubur secara massal. Tak ada yang
dimandikan, apa lagi
disalatkan. Mereka disusun, setelah dibungkus
dengan daun pisang yang tumbuh sepanjang jalan.
“Awalnya, semua dibiarkan gelimpangan, di tepi
jalan, di dalam selokan bahkan dalam kandang-kandang peliharaan. Tak ada yang
mau urus. Tak banyak warga desa yang tersisa selain anak-anak yang jumlahnya delapan belas. Aku berumur
empat belas saat
itu dan tak tahu harus berbuat apa. Yang paling tua di antara kami berumur enam
belas dan ia seorang wanita. Tak ada lain yang dilakukannya selain menangis
sepanjang hari. Sampai di hari ketiga, kami—dua belas anak laki-laki—merasa tak
tahan berdiam diri dan membiarkan orang tua kami sendiri jadi bangkai dan mumi
dalam kepala.”
“Aku bersama yang lain mencari apa yang tersisa
untuk menggali. Dalam takut dan ingatan tentang darah dan tiga
truk yang menjadi awal malam mencekam, kami keruk tanah dalam ritme derap sepatu lars yang entah
datang dari mana. Mungkin ingatan buruk memang lebih mudah terekam dan bangkit
tiba-tiba. Kadang ketika menggali, kami dikejutkan suara tembakan atau teriakan
yang hanya didengar satu-dua kepala. Aku juga sempat mendengarnya, tapi ada
juga yang tidak, maka kukatakan pada mereka lidah angin sedang ingin bercanda. Kadang kala, kupikir, suara itu tak pernah keluar dari
desa kami. Datang dan pergi seperti bola pimpong. Butuh
waktu lebih dari sehari untuk menggali, anak-anak perempuan mendapat jatah
menghitung semua mayat dan jika bisa, membawanya ke mari. Itu pun baru berjalan
setelah kami yakinkan berkali-kali bahwa Tuhan
tak suka ada bangkai manusia berserakan,
apalagi orang tua dan kerabat dekat.”
“Mereka sudah berjuang demi tanah
yang mereka rebut dari Belanda juga Jepang, tapi kemudian dimusnahkan seperti
wabah terkutuk. Tak
ada yang sama rasa, sama rata! Terlalu lama dijajah, merdeka malah balas
menjajah, rakus, lapar di tanah sendiri!
Aku menggunakan kata-kata terakhir Kamerad Gledek—Bapakku, sebelum ia ditembak
di kantor partai—untuk membuka upacara pemakaman ganjil itu. Tak ada kain mori
untuk semua jenazah, karenanya, kami membungkus mereka dengan daun-daun pisang
yang tumbuh sepanjang jalan. Tak tahu juga siapa yang pertama kali mencetus ide
itu, walau akhirnya aku setuju dan merasa konyol karena seperti melihat
tumpukan lontong raksasa yang menunggu dikubur.”
“Bapak ingat betul peristiwa itu?” ujarku, akhirnya
memotong cerita.
“Sudah kukatakan, mungkin kenangan buruk lebih mudah terekam dan
hidup lebih lama dalam ingatan. Kau tahu, apa yang bikin aku ingat jelas hari
itu?”
“Apa?”
“Aku melihat semua mayat tersenyum.”
“Ratusan mayat?”
“Seratus
delapan puluh tiga mayat.”
“Teman-teman Bapak melihatnya?”
“Entahlah. Aku pun tak bertanya, tapi kulihat
bunga-bunga indah mekar di wajah mereka. Dan, yang jelas, setelah kami
meratakan tanah itu, ulat-ulat sebesar jempol
kaki orang dewasa mulai muncul, lahir dari rahim tanah,
kemudian seperti lokomotif
berjalan berderet-deret menuju hutan. Kami takjub dan anehnya, tak ada satu pun
anak perempuan yang berteriak takut atau jijik. Kami biarkan ulat-ulat itu, dan hanya mengekornya
dengan mata. Mungkin mereka telah lihat yang jauh lebih menyeramkan dari
sekadar ulat; rombongan tentara republik yang berjalan dalam barisan dan
menembaki apa saja yang muncul di depannya, bahkan merangsek ke dalam rumah dan
membakar yang tersisa.”
“Seperti Bandung lautan api?”
“Lebih mulia dari itu, penghuninya pun harus mati.
Mungkin karena mereka tahu di desa ini, kamerad-kamerad terbaik dilahirkan
hingga namanya harum dan berjaya di ibu kota negara. Mereka tak ingin ada lagi
kudeta. Itu pun kurasa hanya akal-akalannya saja, sebab, sehari sebelum tentara
itu datang, aku yang sedang ikut Kamerad Gledek ke kantor partai, melihatnya
marah-marah, tak percaya kabar radio yang mengatakan kudeta gagal dan
jenderal-jenderal berakhir di Lubang
Buaya. Menurutnya, itu
hanya rekayasa karena tak pernah rencana itu tersiar dalam rapat-rapat bulanan.
Maaf, aku lebih senang menyebutnya Kamerad ketimbang Bapak untuk menghormati
perjuangannya.”
“Mengenai bunga dan kupu-kupu itu?”
Penjelasannya sangat meyakinkan dan,
menarik untuk aku sajikan dalam catatan perjalanan.
Aku datang untuk melihat langsung taman dengan kupu-kupu bersayap lahar gunung
api itu. Juga untuk mengambil
beberapa foto agar bisa kupamerkan dalam blog perjalananku. Kakek sempat
melarang rencanaku mengunjungi desa ini, berbahaya dan jangan jadi pemicu sakit
masa lalu, katanya. Meski ia satu-satunya
keluarga yang aku punya, kata-katanya tak
pernah aku gubris. Ia terlalu galak dan sering mengekang, padahal aku bukan anak buahnya di angkatan bersenjata.
Sengaja aku datang tiga hari sebelum hari ke lima
belas di bulan Oktober untuk mengabadikan bagaimana ilalang itu hilang dan
berganti bunga-bunga dengan kupu-kupu langkanya. Aku akan jadi yang pertama mengunggah dan
memperlihatkannya ke dunia karena tak mungkin temanku melakukannya lebih
dulu.
Ia mendapat cerita taman ini dari orang tuanya. Konon,
ayahnya adalah salah satu penghuni desa. Namun,
ia terlalu percaya pada mitos kutukan desa Palu Arit.
Tak ada peradaban yang menjamah desa ini selain
tanganku.
“Seminggu setelah penguburan, banyak di antara
temanku yang pergi dan tak kembali ke desa. Mungkin mereka berpikir untuk
mengubur juga kenangannya bersama mayat orang tua mereka. Mungkin mereka juga
melihat mayat-mayat itu tersenyum,
dan merasa senyum itu sebagai sebuah petunjuk untuk meninggalkan desa ini, dan orang tua mereka mati
dengan tenang. Hanya tersisa delapan orang saat itu, seperti adam-hawa yang
saling berpasangan, Tuhan juga menghendakinya
pada kami. Kami—yang tersisa—mulai membersihkan semua yang masih bisa digunakan
dan tidak lagi menghiraukan lahan penguburan. Sampai di akhir Oktober 1966, setahun setelah kejadian, kupu-kupu
dengan sayap lahar gunung api muncul melayang di desa. Terbang dan berpusing di
kepala kami. Kadang dua-dua. Kadang lebih. Tak ada satu pun di antara kami yang
menangkapnya. Membiarkan mereka masuk ke dalam rumah, hinggap di balai-balai, bahkan
tengger di kepala seperti mengelus-elus rambut kami.”
“Setelah itu, mereka seperti berbisik dan menarik
kami untuk ikut. Kami berdelapan membebek di belakang (juga di bawah),
berpayung ratusan kupu-kupu bersayap lahar gunung api yang melayang berkoloni.
Seperti arakan merah menuju pemakaman massal yang telah berubah jadi taman
bunga warna-warni yang ganjil. Semua kupu-kupu hinggap, layaknya menunjukkan
kebahagiaan. Ingin memulai pesta.
Mungkin di surga, semua benar-benar sama rata, sama rasa, tak ada kelas, tak
ada tuan tanah. Meski kadang kupikir,
tujuh bidadari untuk satu lelaki itu tak baik bagi pasangan suami istri,” seperti hendak
menutup dengan kelakar, namun kembali dilanjutkan, “sejak
itu, kami percaya, ulat-ulat yang keluar setelah tanah kuburan rata dan menuju
ke hutan itu adalah kupu-kupu bersayap lahar gunung api ini, jelmaan kamerad penduduk
desa. Dan, bunga-bunga itu, adalah budi baik yang tumbuh dan tak seorang pun
boleh memetiknya.”
***
Sambil melihat
kamera—foto seekor kupu-kupu sebesar daun kelor tengah tengger di bunga seperti
bunga matahari, namun berkelopak pelangi, aku merasakan kejanggalan cerita desa
Palu Arit itu. Pak Tani yang kutemui, beberapa kali menyebut “Tuhan” dan
menghubungkannya dengan para kamerad. Mungkin, ini komunis rasa nusantara,
pikirku asal-asalan. Tapi, semua itu tak penting. Yang penting adalah bagaimana
aku bisa membagikannya pada dunia. Tentu bukan atas nama ilmu pengetahuan
apalagi tetek bengek sejarah. Masa lalu bukan sesuatu bagiku. Meski
kadang-kadang, itu hal baik untuk meningkatkan kunjungan orang.
Seperti dugaan, dalam waktu tiga hari, foto-foto
keajaiban ganjil taman desa Palu Arit menjadi bahan pembicaraan semua situs
dunia maya dan bikin namaku ikut mengudara. Saat aku pulang dari rumah seorang
teman, kupikir bom atom Amerika baru saja
jatuh
di kamar. Berantakan. Kudapati Kakek bersama enam anak
buahnya membawa kamera dan laptop pribadiku. Ia menamparku dan
mengomel sesuatu yang tak aku ingat.
Kau tahu, detik itu, aku makin merasa punya seorang Kakek, jenderal angkatan
bersenjata yang paling aneh.**
Pontianak,
2015

0 komentar:
Posting Komentar