catatan remeh dan hal liar lain

Minggu, 20 Maret 2016

KUPU-KUPU KAMERAD

01.42 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Dimuat di Pontianak Post, edisi Minggu, 31 Januari 2016

Kau akan takjub bila mengunjungi desa ini di akhir Oktober. Matamu akan sibuk oleh cara-cara Tuhan menyombongkan diri. Di taman batas desa, hamparan bunga warna-warni tumbuh kukuh. Bunga-bunga itu hanya lahir di sana dan akan mekar sebulan penuh. Tidak di bulan lain, tidak pula di tanah lain. Kupu-kupu dengan sayap lukisan alam serupa lahar gunung api, menghisap nektar, kemudian terbang ke sana ke mari. Berpusing di desa.

Di bulan lain, tak ada yang istimewa dari lapang itu, hanya tanah dengan ilalang mengakar bumi. Namun, menjelang akhir Oktober, dalam semalam, ilalang-ilalang itu seperti tersedot ke tanah. Kemudian berganti dengan bunga warna-warni yang berjenis entah, dengan kupu-kupu bersayap lahar gunung api tengger mencumbunya. Ada cerita yang mengatakan, seperti ada tangan besar setan yang muncul dan menarik hilang ilalang. Tapi tentu hal itu patah seketika karena yang lahir setelahnya adalah bunga-bunga indah yang tak mungkin ditiupkan dari neraka.

Kabar angin lain berkisah, ilalang itu serupa inang bagi tali putri. Semang yang kemudian dimakan oleh bunga ganjil warna-warni. Bunga-bunga itu hidup dalam tubuh ilalang kemudian keluar di saat yang mereka inginkan. Tapi, tak mungkin tangkai sebesar kelingking anak remaja itu tinggal dalam selimut selembar ilalang.

Ada satu cerita menurutku yang lebih masuk akal (biar kujelaskan, maksudku, bisa lebih aku terima, dan punya daya jual), bunga dan kupu-kupu itu adalah jelmaan korban pembantaian tentara republik yang mati syahid. Aku mendapat cerita ini dari seorang petani penghuni desa yang kutemui baru saja. Ia berkata, dulu di bawah bunga-bunga itu, ratusan orang dikubur secara massal. Tak ada yang dimandikan, apa lagi disalatkan. Mereka disusun, setelah dibungkus dengan daun pisang yang tumbuh sepanjang jalan.

“Awalnya, semua dibiarkan gelimpangan, di tepi jalan, di dalam selokan bahkan dalam kandang-kandang peliharaan. Tak ada yang mau urus. Tak banyak warga desa yang tersisa selain anak-anak yang jumlahnya delapan belas. Aku berumur empat belas saat itu dan tak tahu harus berbuat apa. Yang paling tua di antara kami berumur enam belas dan ia seorang wanita. Tak ada lain yang dilakukannya selain menangis sepanjang hari. Sampai di hari ketiga, kami—dua belas anak laki-laki—merasa tak tahan berdiam diri dan membiarkan orang tua kami sendiri jadi bangkai dan mumi dalam kepala.”

“Aku bersama yang lain mencari apa yang tersisa untuk menggali. Dalam takut dan ingatan tentang darah dan tiga truk yang menjadi awal malam mencekam, kami keruk tanah dalam ritme derap sepatu lars yang entah datang dari mana. Mungkin ingatan buruk memang lebih mudah terekam dan bangkit tiba-tiba. Kadang ketika menggali, kami dikejutkan suara tembakan atau teriakan yang hanya didengar satu-dua kepala. Aku juga sempat mendengarnya, tapi ada juga yang tidak, maka kukatakan pada mereka lidah angin sedang ingin bercanda. Kadang kala, kupikir, suara itu tak pernah keluar dari desa kami. Datang dan pergi seperti bola pimpong. Butuh waktu lebih dari sehari untuk menggali, anak-anak perempuan mendapat jatah menghitung semua mayat dan jika bisa, membawanya ke mari. Itu pun baru berjalan setelah kami yakinkan berkali-kali bahwa Tuhan tak suka ada bangkai manusia berserakan, apalagi orang tua dan kerabat dekat.”

Mereka sudah berjuang demi tanah yang mereka rebut dari Belanda juga Jepang, tapi kemudian dimusnahkan seperti wabah terkutuk. Tak ada yang sama rasa, sama rata! Terlalu lama dijajah, merdeka malah balas menjajah, rakus, lapar di tanah sendiri! Aku menggunakan kata-kata terakhir Kamerad Gledek—Bapakku, sebelum ia ditembak di kantor partai—untuk membuka upacara pemakaman ganjil itu. Tak ada kain mori untuk semua jenazah, karenanya, kami membungkus mereka dengan daun-daun pisang yang tumbuh sepanjang jalan. Tak tahu juga siapa yang pertama kali mencetus ide itu, walau akhirnya aku setuju dan merasa konyol karena seperti melihat tumpukan lontong raksasa yang menunggu dikubur.”

“Bapak ingat betul peristiwa itu?” ujarku, akhirnya memotong cerita.

“Sudah kukatakan, mungkin kenangan buruk lebih mudah terekam dan hidup lebih lama dalam ingatan. Kau tahu, apa yang bikin aku ingat jelas hari itu?”

“Apa?”

“Aku melihat semua mayat tersenyum.”

“Ratusan mayat?”

Seratus delapan puluh tiga mayat.”

“Teman-teman Bapak melihatnya?”

“Entahlah. Aku pun tak bertanya, tapi kulihat bunga-bunga indah mekar di wajah mereka. Dan, yang jelas, setelah kami meratakan tanah itu, ulat-ulat sebesar jempol kaki orang dewasa mulai muncul, lahir dari rahim tanah, kemudian seperti lokomotif berjalan berderet-deret menuju hutan. Kami takjub dan anehnya, tak ada satu pun anak perempuan yang berteriak takut atau jijik. Kami biarkan ulat-ulat itu, dan hanya mengekornya dengan mata. Mungkin mereka telah lihat yang jauh lebih menyeramkan dari sekadar ulat; rombongan tentara republik yang berjalan dalam barisan dan menembaki apa saja yang muncul di depannya, bahkan merangsek ke dalam rumah dan membakar yang tersisa.”

“Seperti Bandung lautan api?”

“Lebih mulia dari itu, penghuninya pun harus mati. Mungkin karena mereka tahu di desa ini, kamerad-kamerad terbaik dilahirkan hingga namanya harum dan berjaya di ibu kota negara. Mereka tak ingin ada lagi kudeta. Itu pun kurasa hanya akal-akalannya saja, sebab, sehari sebelum tentara itu datang, aku yang sedang ikut Kamerad Gledek ke kantor partai, melihatnya marah-marah, tak percaya kabar radio yang mengatakan kudeta gagal dan jenderal-jenderal berakhir di Lubang Buaya. Menurutnya, itu hanya rekayasa karena tak pernah rencana itu tersiar dalam rapat-rapat bulanan. Maaf, aku lebih senang menyebutnya Kamerad ketimbang Bapak untuk menghormati perjuangannya.”

“Mengenai bunga dan kupu-kupu itu?”

Penjelasannya sangat meyakinkan dan, menarik untuk aku sajikan dalam catatan perjalanan. Aku datang untuk melihat langsung taman dengan kupu-kupu bersayap lahar gunung api itu. Juga untuk mengambil beberapa foto agar bisa kupamerkan dalam blog perjalananku. Kakek sempat melarang rencanaku mengunjungi desa ini, berbahaya dan jangan jadi pemicu sakit masa lalu, katanya. Meski ia satu-satunya keluarga yang aku punya, kata-katanya tak pernah aku gubris. Ia terlalu galak dan sering mengekang, padahal aku bukan anak buahnya di angkatan bersenjata.

Sengaja aku datang tiga hari sebelum hari ke lima belas di bulan Oktober untuk mengabadikan bagaimana ilalang itu hilang dan berganti bunga-bunga dengan kupu-kupu langkanya. Aku akan jadi yang pertama mengunggah dan memperlihatkannya ke dunia karena tak mungkin temanku melakukannya lebih dulu.

Ia mendapat cerita taman ini dari orang tuanya. Konon, ayahnya adalah salah satu penghuni desa. Namun,  ia terlalu percaya pada mitos kutukan desa Palu Arit.

Tak ada peradaban yang menjamah desa ini selain tanganku.

“Seminggu setelah penguburan, banyak di antara temanku yang pergi dan tak kembali ke desa. Mungkin mereka berpikir untuk mengubur juga kenangannya bersama mayat orang tua mereka. Mungkin mereka juga melihat mayat-mayat itu tersenyum, dan merasa senyum itu sebagai sebuah petunjuk untuk meninggalkan desa ini, dan orang tua mereka mati dengan tenang. Hanya tersisa delapan orang saat itu, seperti adam-hawa yang saling berpasangan, Tuhan juga menghendakinya pada kami. Kami—yang tersisa—mulai membersihkan semua yang masih bisa digunakan dan tidak lagi menghiraukan lahan penguburan. Sampai di akhir Oktober 1966, setahun setelah kejadian, kupu-kupu dengan sayap lahar gunung api muncul melayang di desa. Terbang dan berpusing di kepala kami. Kadang dua-dua. Kadang lebih. Tak ada satu pun di antara kami yang menangkapnya. Membiarkan mereka masuk ke dalam rumah, hinggap di balai-balai, bahkan tengger di kepala seperti mengelus-elus rambut kami.”

“Setelah itu, mereka seperti berbisik dan menarik kami untuk ikut. Kami berdelapan membebek di belakang (juga di bawah), berpayung ratusan kupu-kupu bersayap lahar gunung api yang melayang berkoloni. Seperti arakan merah menuju pemakaman massal yang telah berubah jadi taman bunga warna-warni yang ganjil. Semua kupu-kupu hinggap, layaknya menunjukkan kebahagiaan. Ingin memulai pesta. Mungkin di surga, semua benar-benar sama rata, sama rasa, tak ada kelas, tak ada tuan tanah. Meski kadang kupikir, tujuh bidadari untuk satu lelaki itu tak baik bagi pasangan suami istri,” seperti hendak menutup dengan kelakar, namun kembali dilanjutkan,sejak itu, kami percaya, ulat-ulat yang keluar setelah tanah kuburan rata dan menuju ke hutan itu adalah kupu-kupu bersayap lahar gunung api ini, jelmaan kamerad penduduk desa. Dan, bunga-bunga itu, adalah budi baik yang tumbuh dan tak seorang pun boleh memetiknya.”
***

Sambil melihat kamera—foto seekor kupu-kupu sebesar daun kelor tengah tengger di bunga seperti bunga matahari, namun berkelopak pelangi, aku merasakan kejanggalan cerita desa Palu Arit itu. Pak Tani yang kutemui, beberapa kali menyebut “Tuhan” dan menghubungkannya dengan para kamerad. Mungkin, ini komunis rasa nusantara, pikirku asal-asalan. Tapi, semua itu tak penting. Yang penting adalah bagaimana aku bisa membagikannya pada dunia. Tentu bukan atas nama ilmu pengetahuan apalagi tetek bengek sejarah. Masa lalu bukan sesuatu bagiku. Meski kadang-kadang, itu hal baik untuk meningkatkan kunjungan orang.

Seperti dugaan, dalam waktu tiga hari, foto-foto keajaiban ganjil taman desa Palu Arit menjadi bahan pembicaraan semua situs dunia maya dan bikin namaku ikut mengudara. Saat aku pulang dari rumah seorang teman, kupikir bom atom Amerika baru saja jatuh di kamar. Berantakan. Kudapati Kakek bersama enam anak buahnya membawa kamera dan laptop pribadiku. Ia menamparku dan mengomel sesuatu yang tak aku ingat.

Kau tahu, detik itu, aku makin merasa punya seorang Kakek, jenderal angkatan bersenjata yang paling aneh.**


Pontianak, 2015

0 komentar:

Posting Komentar