catatan remeh dan hal liar lain

Rabu, 30 September 2015

Anjing Itu Terus Menggonggong

06.45 Posted by Kristiawan Balasa 3 comments

Anjing itu bukan menggonggong pada orang asing, tapi justru pada majikannya sendiri. Anjing itu akan ada di mana majikannya ada, sambil mempertontonkan taringnya yang selalu diasah, beradu pisau angin. Anjing itu selalu menunjukkan liurnya yang rembes seakan ujung gigi adalah rahim, pada sang majikan. Anjing itu meneteskan liur yang bukan haus daging atau tulang. Anjing itu lapar perhatian, pula keadilan. Anjing itu tahu, majikannya tahu.

 Anjing itu menyalak, memenuhi layar kaca, menempatkan guk-guk-guk di baris paling depan surat kabar peternakan. Anjing itu tahu, masanya akan tiba, saat ia tak akan lagi dalam kungkungan. Anjing itu melihat bagaimana kucing dan tikus saling bunuh untuk isi perut. Anjing itu memandang ayam-ayam mengais makan bahkan saat kokok mereka sendiri belum berkumandang. Anjing itu merasa, peternakan seluas kota mati Chernobyl itu, punya satu binatang paling buas, sang Majikan. Anjing itu tak tahan, tak melawan. Anjing itu merasakan perutnya bernyanyi, tapi ia tak henti menggonggong. Anjing itu menekuni tanah kering, dan tetap menggonggong. Anjing itu bosan, tak bersuara.

Anjing itu bersama anjing-anjing lain berbaris layaknya angkatan bersenjata dalam film-film perang Amerika. Anjing itu hanya bermodal mulut, dan rasa jengah yang memuncak. Anjing itu tahu, satu-satunya cara agar tak hidup berkalung rantai adalah menyalak, bahkan serang dan gigit. Anjing itu mengingatkan pada Anjing Hitam di sebelahnya agar tetap menggonggong dan tak mundur barang selangkah. Anjing itu memimpin anjing lain, berdiri depan pagar istana, membakar ban, dan terus menggonggong.

Anjing itu menamai dirinya Spartacus, ia terinspirasi dari kisah perlawanan gladiator Trakia itu terhadap kekaisaran Romawi. Anjing itu percaya ia dilahirkan sebagai pendobrak. Anjing itu sudah merencanakan pemberontakan besar hari ini. Anjing itu berkata pada cermin setiap pagi, “Aku Spartacus, yang tak akan gentar melawan tiran!”

Anjing itu yakin, bila semua anjing menggonggong, khafilah tak akan berlalu.
***

Sang Majikan berkata, “Anjing-anjing itu gila dan sudah waktunya dimusnahkan!”

Sang Majikan kecolongan, geming pada gonggong anjing peliharaannya yang paling manut tempo hari. Sang Majikan menganggap gonggong anjingnya yang selalu menunduk dan tekun menjilati kakinya itu tidak perlu ditanggapi berlebih, sebab kunci kandang-kandang sudah ia pegang. Sang Majikan merasa akan menang, karena sebelum menjadi majikan, ia bahkan telah melenyapkan banyak orang. Sang Majikan melangit, berpikir bahwa anjing tak lebih pintar dari gali atau orang komunis. Sang Majikan bisa mencoba cara yang sama; dengan gonggong balasan atau tim pemburu binatang.

Sang Majikan memerintahkan anjing kesayangannya untuk mengumpulkan anjing-anjing lain yang ekornya masih ia pegang. Sang Majikan merencanakan gonggong balasan, untuk memenuhi surat kabar, mengotori layar kaca. Sang Majikan bisa membredel, bahkan membumihanguskan surat kabar dan stasiun televisi atau radio yang dianggapnya ikut menggonggong dengan irama sumbang seperti gonggong anjing-anjing di depan istananya. Sang Majikan merasa, itu gertakan dan hukuman paling baik untuk mereka. Sang Majikan yakin seratus persen bisa mengimbangi, melawan, dan memukul mundur, dan memusnahkan anjing-anjing kudis itu, sebagaimana ia merampas peternakan dari seorang komunis dan jadi majikan seperti sekarang.

Sang Majikan bahkan sudah mempersiapkan tim pemburu binatang untuk berjaga; satu senti dari hidung, satu depa dari depan pintu, sepuluh meter dari istana, juga pusat konsentrasi anjing-anjing sialan itu. Sang Majikan akan melakukan apa saja untuk mempertahankan singgasana. Sang Majikan tahu, pembungkaman dan kekerasan adalah cara apik menangani pemberontak.

Sang Majikan akhirnya membredel surat kabar, stasiun televisi dan merobohkan menara-menara radio. Sang Majikan yang membawa hewan-hewan di peternakan itu pada kemajuan ilmu pengetahuan, kelimpungan. Sang Majikan bisa membuat hewan berisi kepala manusia, dan kerepotan setelahnya.  Sang Majikan tak sadar, bila hewan-hewan percobaannya itu berkembang pelesat. Sang Majikan tak mampu membalas gonggong anjing sialan itu dengan nyalak anjing-anjing yang ekornya ia pegang. Sang Majikan memakai jalan kedua; pembasmi hama.
***

Pembasmi hama jadi nama operasi khusus tim pemburu binatang sang Majikan. Pembasmi hama bukan kumpulan orang sembarangan, mereka bekas tentara republik dan tempat di mana sang Majikan berasal. Pembasmi hama punya reputasi mentereng. Pembasmi hama pernah buat lenyap pengganggu keamanan negara dengan ciri tatto di tubuh. Pembasmi hama tak perlu bukti lain, cukup satu-dua tatto di lengan, maka orang itu niscaya akan terkapar tanpa nyawa dan dibiarkan gelimpangan di mana saja. Pembasmi hama menyebut mereka gali. Pembasmi hama, saat sang Majikan masih menjadi bagiannya, bahkan pernah bantu negara bersih-bersih orang dengan cap komunis. Pembasmi hama sekarang, pembersih kandang sang Majikan. Pembasmi hama siap melakukan genosida selanjutnya.

Pembasmi hama sudah bersiap di posisi mereka. Pembasmi hama datang menenteng senapan dan jerat leher. Pembasmi hama mendapat perintah tembak di tempat, sebab tak ada yang ingin pelihara anjing-anjing laknat. Pembasmi hama tak peduli gonggongan itu, telinga mereka tertutup tembok tebal kedap suara, juga hatinya. Pembasmi hama hanya peduli perintah sang Majikan, karena bersetia adalah janji tanpa ingkar. Pembasmi hama bukan penakut taring, liur dan gonggong anjing, bagi mereka, desing peluru jauh bikin binasa.

Pembasmi hama akan mulai mengokang, bila selangkah saja anjing-anjing sialan itu melewati batas. Pembasmi hama merasa ini pekerjaan mudah, tidak seperti saat mereka membasmi gali yang berlangsung diam-diam seperti maling dinas malam. Pembasmi hama berhadapan langsung dengan gonggong anjing dan taring yang tak bisa melayang melukai mereka. Pembasmi hama di atas angin, meski bau liur anjing yang menyeringai dibawa menjumpai hidung. Pembasmi hama mendengar aba-aba, saat dengan kilat, anjing-anjing itu menjungat, meluntang-lantungkan liur dan menunggu taring merumah pada daging mereka.

“Pembasmi hama, tembak!”
***

Satu hari setelah pemberontakan, peternakan sepi. Satu hari yang jauh beda dari kemarin. Satu hari tanpa gonggong. Satu hari dengan kesibukan baru para pembasmi hama; mengumpulkan bangkai anjing dan bersiap membakarnya. Satu hari yang buat tawa ledak dari mulut sang Majikan. Satu hari saat anjing-anjing yang selamat sembunyi masuk semak. Satu hari yang melelahkan juga mencekam, sebab pembasmi hama lebur mencari mereka seperti bermain petak umpet.

Satu hari di mana salah seorang pembasmi hama bertanya, “Kenapa tidak kita biarkan saja bangkai ini tergeletak seperti gali?”

“Satu hari ini, kita harus bersih-bersih, sebab besok bukan tak mungkin orang-orang akan datang dan berkata kita melanggar hak asasi.”

Satu hari itu, isi peternakan bimbang; kembali melawan atau cari selamat.

Satu hari sebelum pemberontakan, anjing-anjing itu memang gentar. Satu hari dengan debar antara tak sabar dan takut sesumbar mereka akan menang. Satu hari di mana suara dipersiapkan. Satu hari saat hati, lidah, taring berpadu untuk gonggong lebih keras, nyalak lebih garang dan menyeringai lebih giat. Satu hari yang diyakini anjing itu sebagai segalanya, sebab perang tanpa persiapan, adalah mati sia-sia.

“Satu hari untuk leher tanpa rantai, hidup tanpa jadi percobaan dan badan tanpa pentungan!” teriak Spartacus saat memobilisasi anjing-anjing lain di hari pemberontakan, “Satu hari untuk hidup tanpa tiran!”

“Satu hari untuk hidup tanpa tiran!”
***

Spartacus tak ditemukan. Spartacus terakhir terlihat berada paling depan dari pasukan anjing yang mencoba merangsek ke dalam istana sang Majikan. Spartacus terpisah, saat anjing-anjing di baris belakangnya kocar-kacir mendengar suara tembakan. Spartacus sebenarnya sudah menduga hal itu. Spartacus telah membagi anjing-anjing itu menjadi tiga kelompok. Spartacus bersama pasukan paling banyak menyerang dari depan, mengalihkan perhatian para pembasmi hama, dua pasukan lain yang masing-masing berjumlah sepuluh, menyerang dari taman samping dan dapur istana.

“Spartacus, mungkin ini tak akan berhasil!” kata Anjing Hitam saat mereka jungat dan siap menyerang.

“Spartacus dari Trakia terus melawan prajurit Romawi dibawah pimpinan Crassus walau kalah jumlah!” jawabnya.

Spartacus tak gentar. Spartacus gesit menghindar, bergerak zig-zag agar tak tertembak, lewat gonggongan panjang Spartacus, dua pasukan lain menyerang. Spartacus hanya berjarak dua meter dari pembasmi hama di depan pagar, saat dua puluh anjing dari pasukan lain berhasil masuk halaman. Spartacus mendengar suara tembakan pecah dari arah entah. Spartacus merasa sesuatu membentur kepalanya, kemudian semua hitam.
***

Spartacus hidup dalam dongeng sebelum tidur anak-anak di peternakan sebesar kota mati Chernobyl itu. Satu hari setiap bulan, tepatnya di hari Rabu minggu pertama, akan ada sekelompok hewan berdiri di sepanjang pagar istana; anjing menggonggong, kucing mengeong, ayam berkokok, dan sebagainya. Pembasmi hama selalu siap melenyapkan mereka, tapi tak ada perintah untuk itu. Sang Majikan merasa dirugikan bila harus ada lagi yang dimusnahkan seperti anjing-anjing dibawah pimpinan Spartacus. Anjing itu memang tak berhasil melawan tiran, tapi ia tak menyerah dan terus menggonggong di hati hewan sepeternakan.


Pontianak, Juli 2015

3 komentar: