catatan remeh dan hal liar lain

Senin, 02 Mei 2016

BEASISWA UANG JAJAN, BANTU SISWA KURANG MAMPU "MAKAN" BANGKU KULIAH

05.13 Posted by Kristiawan Balasa , No comments


Seperti halnya sakit, pendidikan kerap dicap “haram” bagi masyarakat miskin. Mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi harus berpikir matang, tidak sedikit rupiah mesti dikeluarkan. Akibatnya, banyak dari mereka justru busuk, bahkan sebelum mengkal. Alih-alih mengenyam bangku kuliah, rasa takut keburu bikin takluk.

Bukan hanya masalah biaya, cemas tak bisa masuk di universitas yang diharap, melengkapi fenomena. Abdul Jabbar (26), Ketua komunitas BeasiswaUang Jajan berkata, dua hal itu sering ia temui selama empat tahun menggawangi komunitas yang fokus di bidang pendidikan ini. Jumlah saingan yang mencapai ribuan, bikin ciut sebelum juang.

“Selain biaya, siswa-siswa ini takut dan bingung bagaimana masuk kampusnya. Harus bersaing dengan sekian ribu orang. Karenanya tidak cuma motivasi yang kami diberi, tapi juga pembekalan. Seperti bimbel (bimbingan belajar) dan try out SNMPTN,” ujarnya saat berbincang dengan Suara Pemred, Minggu (1/5) pagi.

Empat tahun berdiri, setidaknya sudah ratusan siswa yang mereka bantu jadi mahasiswa. Sebagian besar tak harus membayar karena memperoleh beasiswa. Selain karena nilai baik, juga berkat bekal informasi beasiswa yang kini banyak jumlahnya. Hal yang tidak terjadi saat Jabbar kuliah dulu.
Masuk Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura tahun 2008, ia di hadapkan pada kenyataan “kuliah butuh biaya besar”. 

Akibatnya, ketika menjabat Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Untan 2011, banyak rekan mahasiswa yang minta bantuan pada BEM untuk bernegosiasi dengan pihak Untan, agar dapat keringanan membayar uang semester dengan dicicil.

“Saat itu belum ada beasiswa Bidik Misi seperti sekarang. Memang jumlah teman yang minta bantuan tidak banyak, belasan orang. Tapi kalau belasan ini bisa ditanggung temannya, kan lebih baik,” kisahnya.

Dengan alasan itu, dirinya sempat membikin program donasi tiap angkatan. Mengumpulkan uang, membantu rekan seangkatan yang kesulitan membayar biaya kuliah. Tidak seperti sekarang, penerima beasiswa Bidik Misi bisa mencapai 1000 orang seangkatan, dulu hanya ada beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dan Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM) yang penerimanya hitungan jari.

Keadaan kini berbalik. Ada banyak beasiswa yang bisa didapat ketika kuliah. Biaya kuliah memang mahal, namun bisa gratis asal dapat beasiswa. Atas dasar itu, Jabbar berpikir terbalik, yang harus didorong sekarang adalah siswa-siswa kurang mampu agar melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Karenanya kita sekarang menjaring siswa kurang mampu dari Pontianak, Kubu Raya, bahkan juga Sambas dan Ketapang. Memotivasi mereka jangan takut kuliah, kalau memang layak dapat beasiswa, pasti dapat. Kita bantu untuk itu,” lanjutnya.

Siswa-siswa itu kemudian diberi bekal agar melenggang mulus ke bangku kuliah. Walau sebenarnya tak mulus-mulus benar. Calon mahasiswa itu meski tekun belajar penuh sebulan. Mengunyah soal-soal serta menguatkan mental.

Belajar dalam kelompok kecil agar lebih efektif -dokumentasi komunitas

Sebulan jelang tes masuk perguruan tinggi, bimbel komunitas rutin didatangi. Setiap sore kecuali hari Minggu. Kadang, jadwalnya menyesuaikan enam orang pengajar yang sebagian besar mahasiswa. Setiap kali digelar, maksimal diikuti 40 orang. Kelas pun dibagi dalam kelompok dengan jumlah 10 orang, agar belajar mengajar efektif dan intensif.

Kelasnya dilangsungkan di SMA Santun Untan dan Sekretariat Beasiswa Uang Jajan di Komplek Untan. Bagi para siswa yang jauh dari Pontianak, biasanya datang seminggu sebelum tes masuk. Waktu itulah yang dimanfaatkan untuk belajar bersama, tak jarang dengan jumlah berjubel.

“Selain belajar menyelesaikan soal, kita juga membantu mereka jurusan mana yang kiranya sesuai dengan minat dan bakat mereka,” tambah pemuda yang pernah meraih penghargaan Pemuda Pelopor Kalbar bidang Pendidikan tahun 2015 ini.

Latihan soal SNMPTN dan modul belajar mereka dapat dari sejumlah lembaga, salah satunya Salman ITB. Termasuk dalam try out yang digelar beberapa waktu lalu di Auditorium Untan, yang diikuti lebih dari 600 siswa se-Kalbar. Perihal bantuan menentukan jurusan, dikatakan Jabbar, dari komunitas memberi pandangan dan pemahaman tak hanya bakat minat, namun juga kebutuhan daerah asal mereka.

“Walaupun kami tidak jamin seratus persen bisa masuk di universitas ini itu, semua gratis, jadi kita coba maksimalkanlah. Untuk bantuan pemilihan jurusan, kita juga beri pertimbangan keadaan kampung ia berasal. Karena ide kita memang mereka harus bangun daerah,” terangnya.

Siswa yang mengikuti program Beasiswa Uang Jajan, ternyata tak hanya lulus di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Beberapa kuliah UPI Bandung, juga UI Jakarta. Sebagian besar mendapat beasiswa Bidik Misi. Mereka tak perlu bayar uang kuliah. Malah diberi uang saku per bulan sebesar Rp 650 ribu.

Lantas, mengapa namanya Beasiswa Uang Jajan?

Menurut Jabbar yang juga Ketua Pemuda Pelopor Kalbar, beasiswa bukan semata-mata berbentuk uang. Bisa juga pendampingan, seperti program yang dijalankan komunitas yang masuk nominasi Organisasi Pemuda Berprestasi 2015 Kemenpora RI ini.

Hanya saja, program-program yang mereka lakukan memang bersumber dari uang jajan pribadi. Relawan komunitas ini menyisihkan jatah jajan mereka. Kemudian dalam jangka waktu tertentu, uang tersebut digabung bersama untuk membiayai program. Sejumlah donatur juga membantu pembiayaan.

“Dari uang itulah kemudian kita bikin program, makanya kita kasi nama Beasiswa Uang Jajan,” jelasnya.

Selain relawan dan donatur, mahasiswa jebolan program komunitas ini yang mendapat beasiswa, juga menyisihkan uang beasiswanya untuk memberi “beasiswa” pada calon mahasiswa lain. Lingkaran ini makin lama makin besar dan membantu lebih banyak orang.

Kadang, bantuan dalam bentuk uang juga diberikan. Terutama demi membantu mereka yang ingin kuliah, namun sulit biaya pendaftaran tes masuk perguruan tinggi. “Kita biasa bantu untuk bayar pendaftaran, kalau cuma seratus-dua ratus, kita masih bisa bantu. Hanya untuk yang benar-benar tidak mampu. Kalau lebih dari (jumlah) itu, kita belum bisa,” tuturnya sambil tersenyum.


Uang jajan nyatanya tak hanya mengenyangkan diri sendiri, tapi juga banyak orang. Label “haram” kuliah bagi masyarakat kurang mampu terbukti bisa dihapuskan. Sekarang tinggal bagaimana kita menjadi penghapus, atau spidol baru, untuk menuliskan pendidikan “halal” bagi semua orang.

Ditulis untuk feature Hari Pendidikan Nasional Harian Suara Pemred, edisi 2 Mei 2016 

Jumat, 22 April 2016

MEMBACA PANCASILA DALAM LAMBANG NEGARA ALA SULTAN HAMID II

18.33 Posted by Kristiawan Balasa , No comments

Tak banyak yang tahu bahwa Sultan Hamid II, putra kesultanan Kadriah, Pontianak adalah pencipta lambang negara Indonesia. Apalagi, saat ini sebutan Garuda Pancasila lebih familiar di telinga. Padahal, Sultan Hamid II menamai lambang sakral negara kita dengan Elang Rajawali Garuda Pancasila.

Tidak hanya itu, bagaimana membaca pancasila dalam lambang negara pun, seringkali keliru. Beberapa waktu lalu, Suara Pemred berkesempatan bertemu dengan Turiman Faturahman, peneliti perjuangan Sultan Hamid II, yang juga dosen Fakultas Hukum, Universitas Tanjungpura. Dikatakannya, lambang negara Indonesia memiliki tiga konsep dasar. Yakni Elang Rajawali Garuda Pancasila, perisai Pancasila yang tergantung di leher garuda, dan identitas bangsa Indonesia, Bhineka Tunggal Ika.

Dalam perisai tersebut, terdapat lima simbol pancasila. Sila pertama disimbolkan dengan bintang bersudut lima. Mewakili nur atau cahaya. Ketuhanan Yang Maha Esa, diartikan sebagai cahaya. Persis berada di tengah. Dengan perisai tersendiri berwarna hitam.

"Lalu empat bidang lainnya, warnanya merah putih, sesuai dengan warna bendera kita. Jadi sila ke satu itu, cahaya bagi keempat sila lainnya, "tuturnya.

Membaca pancasila dalam lambang negara, haruslah melingkar. Sila pertama berada di tengah, sebagai pusat. Seperti tawaf mengelilingi Ka'bah. Bukan dibaca secara linier atau piramida. Sila kedua disimbolkan dengan kalung bersegi empat dan lingkaran berjumlah tujuh belas. Lingkar sebagai lambang wanita. Dan bentuk petak, simbol laki-laki. Lambang regenerasi.

"Artinya Tuhan Yang Maha Esa (sila pertama) itu menginginkan bangsa Indonesia, kemanusiaannya adil dan beradab. Laki juga perempuan. Itu paham humanisme,” sebutnya.

Manusia harus beradab. Berpikir adil. Karena adil mendekati takwa. Ketuhanan Yang Maha Esa. Manusia yang adil dan beradab membutuhkan suatu wadah. Yakni, Persatuan Indonesia. Sila ketiga.
"Karenanya menurut Sultan Hamid II, persatuan Indonesia, bukan kesatuan. Berujung pada pemikiran federalis. Berlambang pohon beringin," terangnya.

Lambang pohon beringin dipakai sebagai bentuk apresiasi Sultan Hamid II pada Purwacaraka, yang memberikan sumbangan pemikiran padanya. Pohon beringin merupakan simbol bersatunya rakyat dan penguasa. Di mana, biasanya pohon ini berada di alun-alun kerajaan, seperti di Yogyakarta. Yang mana alun-alun adalah tempat rakyat menyampaikan aspirasi kepada rajanya.

Lalu sila ke empat, perihal demokrasi. Bermusyawarah dan mufakat yang berlambang banteng. Apresiasi rancangan Muhammad Yamin. Sila ke lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bersimbol sederhana, padi dan kapas. Lambang sandang pangan. Jika dua hal itu terpenuhi, rakyat Indonesia, dipastikan makmur. Berdaulat jika semua dari dalam negeri. Sejatinya, Pancasila turut mengajarkan bagaimana sebaiknya membangun sebuah bangsa. Yakni kedaulatan sandang dan pangan.

Sebagaimana yang dikatakan di awal, ikhwal susunan simbol sila dalam perisai pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa berada di tengah. Artinya, jika sudah tidak ada cahaya Tuhan, tidak ada kecerdasan spiritual, otomatis sila-sila lain akan hancur. Merah putih yang menjadi dasar warna empat sila bernasib sama.

"Apakah saat ini sedang terjadi hal itu?" ujar Turiman bertanya.

Kemudian, di tengah perisai, terdapat garis tebal melingkar, yang menjadi identitas garis khatulistiwa. Selain ingin mengatakan bahwa Indonesia ada di tengah dunia. Dengan garis itu, Sultan Hamid II juga  ingin menunjukkan, pembuat lambang negara berasal dari tanah khatulistiwa.

Namun, yang terpenting menurut Turiman, adalah cara bangsa Indonesia membaca pancasila dalam lambang negara. Filosofinya dimulai dari tengah. Baru kemudian sila kedua, ketiga, keempat dan kelima.

Dengan demikian, ada yang dijadikan pusat. Yakni sila pertama sebagai sila utama. Sila pertama menjadi nur bagi sila lainnya. Pembacaan secara linier, atau piramida, merupakan cara baca positivisme, milik bangsa Barat.

"Nilai-nilai ketuhanan itu yang mulai luntur saat ini. Kita sudah tidak mengimplementasikan semiotika hukum yang ada di pancasila," sesalnya.

Kekeliruan lain juga muncul dalam mengartikan Bhineka Tunggal Ika. Selama ini kita kerap mengartikannya sebagai berbeda-beda tapi tetap satu jua. Menurut Turiman, itu keliru. Dengan makna seperti itu, akhirnya yang ditonjolkan adalah perbedaan. Beda suku, beda agama, beda bendera. Sejatinya, bhineka itu berarti keragaman.

"Tunggal itu artinya satu. Sementara ika, artinya itu. Jadi Bhineka Tunggal Ika, yang beragam itu satu itu. Yang satu itu, beranekaragam,” terangnya.

Pemaknaan yang sudah masuk ke dalam pemikiran bangsa Indonesia sejak puluhan tahun, akhirnya memengaruhi seseorang dalam bersikap. Saling mengkafirkan satu sama lain pun tak bisa dihindari. Beda pilihan, jadi penyebab keributan. Kekayaan keberagaman, tak dipikirkan. Padahal, Tuhan sendiri mengatakan sengaja menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, untuk saling mengenal.

Ditulis untuk Harian Suara Pemred edisi 11 Januari 2016.

Selasa, 19 April 2016

MELANJUTKAN PERJUANGAN KASAN GENDON

00.33 Posted by Kristiawan Balasa , 1 comment

FOTO: KRISTIAWAN BALASA

Tiga puluh delapan anak dengan pakaian putih hitam, maju dalam beberapa kelompok. Mengepal tinju, membentuk kuda-kuda, memukul angin. Kadang enam-enam, atau empat-empat, mempertontonkan langkah dasar gerakan silat Wekasan Suprih Ngudi Tunggal, di pelataran lapangan latih di Gg. Margodadirejo 1, Pontianak Kota, Sabtu (16/4) malam.

Gerakan mereka kompak. Terlihat begitu terampil dengan power kuat, di antara tabuhan gamelan rancak. Satu kelompok maju dengan memamerkan langkan dasar 1-4, hingga langkah ke 18, diselingi tepuk tangan penonton sebagai tanda pergantian langkah.

Tiga orang anak kemudian maju mempertontonkan keterampilan seni silat Wekasan. Tangan kosong, golok dan toya. Usia mereka rerata lima belasan. Tabuhan gendang yang mengiringi menjadi ruh irama gerakan. Mula-mula tangan kosong, gerak kilat dengan intuisi tajam membuat langit Sabtu malam itu riuh.

Apalagi ketika tampilan golok keluar. Meski hanya tampilan seni, suara golok yang memotong angin terdengar menyaingi lantunan kawarit pengiring. Melompat, menerjang, dengan satu golok di tangan. Saat anak dengan toya bambu keluar, suaranya tak kalah bikin gegar. Menghempas angin memukul tanah, hingga menimbulkan bunyi ngeri di temaram gelap.

Anak-anak ini merupakan siswa baru Persatuan Pencak Silat Wekasan Suprih Ngudi Tunggal ranting Sungai Jawi, Pontianak. Mereka baru saja menamatkan pelatihan langkah dasar yang dimulai sejak Januari 2016 lalu. Sebagian dari mereka berumur belasan dengan yang termuda masih duduk di kelas satu sekolah dasar.

Satimin, Ketua Ranting PS. Wekasan Suprih Ngudi Tunggal Ranting Sungai Jawi mengatakan, ini merupakan kegiatan tahunan. Tanda bahwa latihan langkah dasar mereka tamatkan. Setelah ini, pemantapan akan dilakukan. Akan ada yang berfokus pada seni silat, juga untuk mengikuti pertandingan. Semua tergantung dari minat anak-anak itu sendiri, katanya.

“Ini juga upaya kita melestarikan budaya Pencak Silat Wekasan Suprih Ngudi Tunggal yang dibawa oleh Mbah Kasan Gendon,” tambahnya.

Kasan Gendon yang dimaksud adalah Kasan Achmad, pemuda asal Ngambal, Kebumen, Jawa Tengah yang ditugasi Pakubuwono X Kesultanan Surakarta Hadiningrat ke Borneo Barat (Kalimantan Barat) untuk membantu melawan pemerintahan Kolonial Belanda awal abad XX. Setibanya di Pontianak, ia segera berkomunikasi dengan beberapa orang Jawa yang sudah lebih dulu menetap di Kalbar.

Salah satunya, Pangeran Poerbosoediro atau yang dikenal dengan Pangeran Suwargi Ndoro Poerbo. Seorang pangeran tanah Jawa yang tengah menjalani selong (hukum buang) karena menentang kolaborasi Kasunanan dengan Pemerintah Hindia Belanda. Pangeran Poerbo inilah yang mengajarkan Kasan Gendon ilmu kebatinan untuk melengkapi kemampuan bela dirinya.

Ada satu nama lain, yakni Gusti Suprapto Adriani, pemimpin Kesatuan Laskar Perlawanan Rakyat. Gusti Suprapto Adriani merupakan utusan Soekarno-Hatta di wilayah Borneo Barat. Selanjutnya, masyarakat Pontianak mengenal mereka bertiga dengan sebutan Tiga Serangkai.

Pemerintahan Hindia Belanda di Borneo Barat kala itu, turut bekerja sama dengan kesultanan yang ada. Sehingga, rakyat tetap berada dalam urusan para sultan. Sekitar 1918, Hindia Belanda lebih memusatkan perhatian mereka pada bidang ekonomi. Karenanya, di awal kedatangannya hingga 1940n, Kasan Gendon tidak gegabah melakukan perlawanan terang-terangan. Melainkan, lewat bawah tanah, dengan pelatihan silat sejak 1918 untuk para orang Jawa dan etnis lain seperti Melayu, Bugis dan Tionghoa.

Dari situlah nama “Gendon” berasal. Dalam bahasa Jawa, “gendon” berarti anak. Kemasyuran ilmu kanuragan yang dimiliki dan pengajaran silat yang dilakukanya membuat warga memanggilnya dengan nama itu. Mengingat ia berasal dari Jawa. “Anak yang berasal dari Jawa.”

Seiring waktu, kewibawaannya bertambah di masyarakat. Tak hanya dalam kehidupan sosial, dirinya juga jadi tokoh sentral perlawanan terhadap penjajah. Pusat pengembangan silatnya berfokus di Desa Jawa Tengah, Kecamatan Sungai Ambawang, Kampung Arang dan Desa Tebang Kacang, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya. 

“Makanya tidak heran, hingga saat ini Wekasan terus berkembang di daerah-daerah mayoritas etnis Jawa. Tidak hanya Pontianak dan Kubu Raya, bahkan sampai Ketapang,” tambahnya.

Silat berasal dari silaturahmi. Sedangkan “Wekasan Suprih Ngudi Tunggal” berarti pesan (amanat) agar bersatu. Hal ini sejalan dengan pembinaan silat dan pergerakan yang dilakukan Kasan Gendon. Perjuangannya semakin berat saat masa revolusi fisik di Borneo Barat, pacsa kedatangan Jepang sampai kekalahannya dan pasukan NICA bersama Belanda kembali datang.

Pengeboman yang dilakukan Jepang tahun 1942 di Gertak Putih Simpang Empat (sekarang sekitar Jalan Gajah Mada, Pontianak) menjadi awal mula peristiwa Mandor. Di mana para tentara Jepang menghabisi ribuan rakyat Kalbar, termasuk para cendikia, alim ulama dan tokoh-tokoh penting. Peristiwa itu memicu sakit hati Kasan Gendon dan kelompoknya.

Keganasan Jepang kala itu, nyatanya mampu diimbangi Kasan Gendon. Sebagai pembimbing spiritual para pejuan, ia dan para muridnya tak tertangkap tentara Jepang. Konon, lewat kesaktiannya yang menuliskan doa dengan kapur sirih pada rumah-rumah para murid, membuat mereka luput dari pandangan tentara Jepang.

Saat Jepang jatuh usai Hiroshima dan Nagasaki dibombardir Amerika, giliran tentara Belanda diboncengi NICA yang kembali masuk Borneo Barat. Teror dari Kasan Gendon dan muridnya semakin gencar. Kala siang mereka hanyalah petani biasa, di saat malam teror dengan mengoyak bendera Belanda dilakukan.

Hal itu membuat Belanda merasa terancam, dan ketika 1946 Kasan Gendon bergabung ke Laskar Perlawanan Rakyat pimpinan Gusti Soeprapto Andiani, dirinya ditangkap dan dipenjarakan bersama pengikutnya. Antara lain Tilah Wijaya, Achmad Djayadi, Paerun Ditawerjda, Mantawi dan Soeprapto sendiri.

Mereka bebas tahun 1949 atas perintah Bung Karno yang menginginkan semua tahanan politik dibebaskan. Sebagai gantinya Kasan Gendon harus memimpin para petani di Ambawang yang wajib memberi hasil panennya pada Belanda. Hal itu dilakukan dengan patuh sambil tetap mengajar silat.

Nasionalismenya terus ia perjuangkan untuk menyatukan semua dalam wadah perguruan pencak silat hingga ia wafat pukul 01.00 di Kampung Jawa Tengah, Sungai Ambawang, Senin, 27 Mei 1968. Atas bantuan Korsubmarsional 604 Pontianak dan Kepolisian Resort 1101 Pontianak, jenazah dibawa ke Pontianak dengan KM. Malong yang disambut puluhan ribu masyarakat dengan duka cita.


Jenazahnya dikebumikan di TPU Sungai Bangkong, berdampingan dengan makam Pangeran Poerbosoediro. Atas keberaniannya melawan penjajah, Kasan Gendon dan muridnya diangkat pemerintah sebagai Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia. Hingga kini pun, semangat nasionalisme dan kesatuan Mbah Kasan Gendon (kini dikenal dengan nama itu) kembali tumbuh dalam diri 38 anak yang baru saja menamatkan latihan langkah dasar mereka.

Ditulis untuk Suara Pemred edisi Senin, 18 April 2016

Minggu, 03 April 2016

MEREKA ISTIMEWA, SAMA SEPERTI KAMU

04.35 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Arief tengah mengabadikan peserta peringatan Hari Autis Sedunia di Tugu Digulist, Pontianak 

Arief Dwicahyo Herdhiutomo (22) tampak asyik dengan kameranya. Berpindah dari satu fokus ke fokus lain. Badannya sedikit menunduk ketika mengabadikan momen talkshow Peringatan Hari Autis Sedunia di Bundaran Tugu Digulist, Sabtu (2/4) sore. Sesekali, ia berbincang dengan orang yang ditemui.

Perawakannya biasa saja. Tinggi berisi dengan potongan rambut cepak. Anak kedua pasangan Rusmaty Atmo dan Sri Heryanti itu tak terlihat seperti anak berkebutuhan khusus. Apalagi sore itu, Arief mengenakan kaus berwarna biru, seperti halnya puluhan, bahkan mungkin ratusan orang yang sengaja membirukan bundaran.

Kamera yang dikalungkan di lehernya, seakan tak punya waktu istirahat. Usai memfoto satu objek, Arief akan mencari objek lain. Atau setelah mengobrol dengan seseorang, ia tak lupa mengabadikannya dengan DLSR hitam di tangan.

Empat tahun sudah Arief menggeluti dunia photografi. Ia hanya senang mengabadikan. Ketika diminta menjelaskan cara mengambil gambar yang baik, dengan gembira ia menjelaskan. Hampir semua fungsi tombol dan fitur kamera dimengerti. Semua dipelajarinya sendiri.

Mungkin masih ada yang berpikir anak-anak berkebutuhan khusus, sebagai seseorang yang perlu dikasihani. Tidak mandiri dan sulit diberi tanggung jawab. Kenyataanya tidak demikian. Arief saat ini bekerja sebagai staf Tata Usaha salah satu Sekolah Luar Biasa di Pontianak. Ia memang sempat kesulitan, tapi waktu membuat semua jadi lebih mudah.

“Awalnya susah, setelah setahun kerja di sana jadi mudah,” ujarnya terbata.

Komunikasi memang jadi kesulitan bagi Arief. Ibunya, Sri Heryanti bercerita, kadang ia kesulitan untuk menjelaskan suatu hal pada Arief. Terutama sesuatu yang berkaitan dengan nilai. Misalnya perihal “murah” dan “mahal” dengan rentetan angka dalam rupiah.

Tak jarang Sri kewalahan meladeni pertanyaan-pertayaan dari Arief, tapi ia tetap melayani semua tanya itu dengan senyum. Semua demi perkembangan anaknya. Memang, tak jarang persepsi masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus cukup menggangu. Tidak semua orang mengerti seperti apa mereka dan apa yang mereka butuhkan.

Dikatakan Sri, tak jarang emosi anaknya meledak-ledak. Tentu hal itu membuatnya kuatir. Ditambah, bukan seorang saja anaknya yang berkebutuhan khusus. Arief memiliki saudara kembar. Pandu Dwicahyo Herdhiutomo, yang lahir lima menit lebih dulu dari Arief.

“Kalau tiba-tiba marah, dirangkul pelan-pelan, ditenangkan,” kata Sri.

Mungkin cinta memang obat segala. Hal itu terbukti ampuh untuk menenangkan dua jagoannya. Emosi yang meledak-ledak itu, bukannya tanpa penyebab. Makanan yang mengandung MSG (Monosodium Glutamat) disebut Sri, jadi salah satu penyebab. Karenanya, ia begitu selektif mengurusi makan anak-anaknya itu.

Sebagaimana Arief, Pandu pun mengalami masalah dengan komunikasi verbalnya. Nalar mereka berdua berbeda dari orang kebanyakan. Hal itu jadi kelebihan Pandu. Ia mampu berpikir cara-cara praktis dalam menyelesaikan sesuatu. Salah satunya, dalam merakit komputer. Pandu dapat menyetel kembali rangkaian komputer yang dibongkar, jauh lebih cepat dari penyedia jasa service di toko-toko elektronik.

“Kalau Abangnya (Pandu) suka dengan IT. Dia belajar sendiri, otodidak. Sekarang sedang magang,” jelas Sri.

Perawakan Pandu sedikit berbeda dengan Arief. Rambutnya sedikit lebih panjang, dan membelah ke arah kiri. Tubuhnya lebih kurus, dengan headset yang tak pernah lepas menyumpal telinga. Ia tak terlihat canggung berada di antara orang-orang yang hadir di sana dan tampak bisa membaur dengan mudah.

Arief dan Pandu memang sudah bisa bersosialisasi dengan baik. Tapi sebagai seorang ibu, Sri Heryanti masih merasa takut untuk melepas mereka seorang diri. Padahal, kedua anaknya bahkan sudah bisa berkendara sendiri. Namun, tetap saja khawatir membayangi Sri, di belakang langkah dua anak dari tiga bersaudara itu.

“Kalau bapaknya malah biasa saja, ndak apa dilepas. Saya sendiri masih takut. Mungkin karena rasa keibuan ya,” ujarnya sambil tersenyum.

Selain bersama dua anak kembarnya, sore itu Sri Heryanti juga membawa serta anak bungsunya. Mereka sengaja datang beramai-ramai untuk memperingati Hari Autis Sedunia. Mengabarkan pada masyarakat bahwa mereka ada. Tak ada alasan bagi para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus menutup diri.

Mengusung tema “Lihatlah Aku, Inilah Duniaku”, acara yang digagas Forum Relawan Bahagia dan UPTD Autis Center Pontianak itu menggelar banyak acara. Tak hanya talkshow, lomba lukis anak berkebutuhan khusus dan kampanye Autism is Awesome membuat Hari Peringatan Autis yang baru pertama kali digelar itu menarik perhatian publik.

Ismi Ardini, Kepala UPTD Autis Center Pontianak mengatakan, selain untuk mengajak masyarakat peduli terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, acara ini juga sebagai promosi bahwa di Pontianak, ada UPTD Autis Center.

Para orang tua anak berkebutuhan khusus tak perlu bingung. UPTD Autis Center menyediakan berbagai macam informasi, juga layanan terapi, screening, konsultasi dan masih banyak lagi untuk membantu para orang tua. Selain itu, mereka juga tak harus merasa sendiri, ada Parents Scot Grup Anak Autis Pontianak, sebagai wadah para orang tua dengan anak berkebutuhan khusus.

“Alat di kami lengkap. Tak perlu kuatir. Semakin cepat diterapi, semakin cepat pula anak bersosialisasi,” kata Ismi.


Para orang tua tinggal datang ke UPTD Autis Center di Jalan Tabrani Ahmad, Pontianak Barat. Dengan terbukanya para orang tua, lebih mudah pula mendata berapa jumlah pasti anak berkebutuhan khusus di Pontianak, sehingga lebih mudah untuk membuat program-program ke depan.

Ditulis untuk Suara Pemred, edisi Minggu, 2 April 2016

Jumat, 25 Maret 2016

Rutin Latihan Jelang Konser Karawitan

01.38 Posted by Kristiawan Balasa No comments


Jelang Konser Karawitan dengan tema “Cita Budaya Khatulistiwa” di Hotel Best Western Kota Baru, Ikatan Mahasiswa Seni (Ikanmas) Untan rutin menggelar latihan. Sabtu, 26 Maret 2016 nanti acara itu akan dihelat. Tak hanya persiapan para pengisi acara, persiapan teknis dari Best Western Kota Baru pun sudah dilakukan sejak beberapa hari terakhir.

Dalam konser tersebut, akan ada 7 komposer yang menampilkan ide masing-masing. Dihadiri pejabat setempat, konser itu dipastikan akan menyuguhkan penampilan yang memukau. Bagaimana tidak, pagelaran seni musik dan tari kekayaan budaya daerah, disajikan generasi muda. Gamelan Saraswati, Ikanmas Melayu Esemble, dan Indonesian Fashion Chamber (IFC) akan bersatu padu mengangkat identitas Indonesia.

IFC akan tampil dalam fashion show dengan busana berbahan kain daerah. Putri Pariwisata Indonesia 2014 juga akan hadir dalam pagelaran ini. Tentu Anda bisa bayangkan bagaimana kemeriahan acara perdana Best Western Kota Baru, yang direncanakan akan digelar dengan skala lebih besar di waktu depan.

Tak hanya bisa menikmati tampilan budaya, penonton yang hadir, jika beruntung bisa mendapatkan sejumlah hadiah. Mulai dari voucher menarik dan hingga uang tunai. Caranya, hanya dengan ikut dalam photoboots competition yang digelar bertepatan dengan konser karawitan.

Pastikan diri Anda untuk hadir di Konser Karawitan Best Western Kota Baru, 26 Maret 2016, mulai pukul 19.00 WIB mendatang! 

Minggu, 20 Maret 2016

KUPU-KUPU KAMERAD

01.42 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Dimuat di Pontianak Post, edisi Minggu, 31 Januari 2016

Kau akan takjub bila mengunjungi desa ini di akhir Oktober. Matamu akan sibuk oleh cara-cara Tuhan menyombongkan diri. Di taman batas desa, hamparan bunga warna-warni tumbuh kukuh. Bunga-bunga itu hanya lahir di sana dan akan mekar sebulan penuh. Tidak di bulan lain, tidak pula di tanah lain. Kupu-kupu dengan sayap lukisan alam serupa lahar gunung api, menghisap nektar, kemudian terbang ke sana ke mari. Berpusing di desa.

Di bulan lain, tak ada yang istimewa dari lapang itu, hanya tanah dengan ilalang mengakar bumi. Namun, menjelang akhir Oktober, dalam semalam, ilalang-ilalang itu seperti tersedot ke tanah. Kemudian berganti dengan bunga warna-warni yang berjenis entah, dengan kupu-kupu bersayap lahar gunung api tengger mencumbunya. Ada cerita yang mengatakan, seperti ada tangan besar setan yang muncul dan menarik hilang ilalang. Tapi tentu hal itu patah seketika karena yang lahir setelahnya adalah bunga-bunga indah yang tak mungkin ditiupkan dari neraka.

Kabar angin lain berkisah, ilalang itu serupa inang bagi tali putri. Semang yang kemudian dimakan oleh bunga ganjil warna-warni. Bunga-bunga itu hidup dalam tubuh ilalang kemudian keluar di saat yang mereka inginkan. Tapi, tak mungkin tangkai sebesar kelingking anak remaja itu tinggal dalam selimut selembar ilalang.

Ada satu cerita menurutku yang lebih masuk akal (biar kujelaskan, maksudku, bisa lebih aku terima, dan punya daya jual), bunga dan kupu-kupu itu adalah jelmaan korban pembantaian tentara republik yang mati syahid. Aku mendapat cerita ini dari seorang petani penghuni desa yang kutemui baru saja. Ia berkata, dulu di bawah bunga-bunga itu, ratusan orang dikubur secara massal. Tak ada yang dimandikan, apa lagi disalatkan. Mereka disusun, setelah dibungkus dengan daun pisang yang tumbuh sepanjang jalan.

“Awalnya, semua dibiarkan gelimpangan, di tepi jalan, di dalam selokan bahkan dalam kandang-kandang peliharaan. Tak ada yang mau urus. Tak banyak warga desa yang tersisa selain anak-anak yang jumlahnya delapan belas. Aku berumur empat belas saat itu dan tak tahu harus berbuat apa. Yang paling tua di antara kami berumur enam belas dan ia seorang wanita. Tak ada lain yang dilakukannya selain menangis sepanjang hari. Sampai di hari ketiga, kami—dua belas anak laki-laki—merasa tak tahan berdiam diri dan membiarkan orang tua kami sendiri jadi bangkai dan mumi dalam kepala.”

“Aku bersama yang lain mencari apa yang tersisa untuk menggali. Dalam takut dan ingatan tentang darah dan tiga truk yang menjadi awal malam mencekam, kami keruk tanah dalam ritme derap sepatu lars yang entah datang dari mana. Mungkin ingatan buruk memang lebih mudah terekam dan bangkit tiba-tiba. Kadang ketika menggali, kami dikejutkan suara tembakan atau teriakan yang hanya didengar satu-dua kepala. Aku juga sempat mendengarnya, tapi ada juga yang tidak, maka kukatakan pada mereka lidah angin sedang ingin bercanda. Kadang kala, kupikir, suara itu tak pernah keluar dari desa kami. Datang dan pergi seperti bola pimpong. Butuh waktu lebih dari sehari untuk menggali, anak-anak perempuan mendapat jatah menghitung semua mayat dan jika bisa, membawanya ke mari. Itu pun baru berjalan setelah kami yakinkan berkali-kali bahwa Tuhan tak suka ada bangkai manusia berserakan, apalagi orang tua dan kerabat dekat.”

Mereka sudah berjuang demi tanah yang mereka rebut dari Belanda juga Jepang, tapi kemudian dimusnahkan seperti wabah terkutuk. Tak ada yang sama rasa, sama rata! Terlalu lama dijajah, merdeka malah balas menjajah, rakus, lapar di tanah sendiri! Aku menggunakan kata-kata terakhir Kamerad Gledek—Bapakku, sebelum ia ditembak di kantor partai—untuk membuka upacara pemakaman ganjil itu. Tak ada kain mori untuk semua jenazah, karenanya, kami membungkus mereka dengan daun-daun pisang yang tumbuh sepanjang jalan. Tak tahu juga siapa yang pertama kali mencetus ide itu, walau akhirnya aku setuju dan merasa konyol karena seperti melihat tumpukan lontong raksasa yang menunggu dikubur.”

“Bapak ingat betul peristiwa itu?” ujarku, akhirnya memotong cerita.

“Sudah kukatakan, mungkin kenangan buruk lebih mudah terekam dan hidup lebih lama dalam ingatan. Kau tahu, apa yang bikin aku ingat jelas hari itu?”

“Apa?”

“Aku melihat semua mayat tersenyum.”

“Ratusan mayat?”

Seratus delapan puluh tiga mayat.”

“Teman-teman Bapak melihatnya?”

“Entahlah. Aku pun tak bertanya, tapi kulihat bunga-bunga indah mekar di wajah mereka. Dan, yang jelas, setelah kami meratakan tanah itu, ulat-ulat sebesar jempol kaki orang dewasa mulai muncul, lahir dari rahim tanah, kemudian seperti lokomotif berjalan berderet-deret menuju hutan. Kami takjub dan anehnya, tak ada satu pun anak perempuan yang berteriak takut atau jijik. Kami biarkan ulat-ulat itu, dan hanya mengekornya dengan mata. Mungkin mereka telah lihat yang jauh lebih menyeramkan dari sekadar ulat; rombongan tentara republik yang berjalan dalam barisan dan menembaki apa saja yang muncul di depannya, bahkan merangsek ke dalam rumah dan membakar yang tersisa.”

“Seperti Bandung lautan api?”

“Lebih mulia dari itu, penghuninya pun harus mati. Mungkin karena mereka tahu di desa ini, kamerad-kamerad terbaik dilahirkan hingga namanya harum dan berjaya di ibu kota negara. Mereka tak ingin ada lagi kudeta. Itu pun kurasa hanya akal-akalannya saja, sebab, sehari sebelum tentara itu datang, aku yang sedang ikut Kamerad Gledek ke kantor partai, melihatnya marah-marah, tak percaya kabar radio yang mengatakan kudeta gagal dan jenderal-jenderal berakhir di Lubang Buaya. Menurutnya, itu hanya rekayasa karena tak pernah rencana itu tersiar dalam rapat-rapat bulanan. Maaf, aku lebih senang menyebutnya Kamerad ketimbang Bapak untuk menghormati perjuangannya.”

“Mengenai bunga dan kupu-kupu itu?”

Penjelasannya sangat meyakinkan dan, menarik untuk aku sajikan dalam catatan perjalanan. Aku datang untuk melihat langsung taman dengan kupu-kupu bersayap lahar gunung api itu. Juga untuk mengambil beberapa foto agar bisa kupamerkan dalam blog perjalananku. Kakek sempat melarang rencanaku mengunjungi desa ini, berbahaya dan jangan jadi pemicu sakit masa lalu, katanya. Meski ia satu-satunya keluarga yang aku punya, kata-katanya tak pernah aku gubris. Ia terlalu galak dan sering mengekang, padahal aku bukan anak buahnya di angkatan bersenjata.

Sengaja aku datang tiga hari sebelum hari ke lima belas di bulan Oktober untuk mengabadikan bagaimana ilalang itu hilang dan berganti bunga-bunga dengan kupu-kupu langkanya. Aku akan jadi yang pertama mengunggah dan memperlihatkannya ke dunia karena tak mungkin temanku melakukannya lebih dulu.

Ia mendapat cerita taman ini dari orang tuanya. Konon, ayahnya adalah salah satu penghuni desa. Namun,  ia terlalu percaya pada mitos kutukan desa Palu Arit.

Tak ada peradaban yang menjamah desa ini selain tanganku.

“Seminggu setelah penguburan, banyak di antara temanku yang pergi dan tak kembali ke desa. Mungkin mereka berpikir untuk mengubur juga kenangannya bersama mayat orang tua mereka. Mungkin mereka juga melihat mayat-mayat itu tersenyum, dan merasa senyum itu sebagai sebuah petunjuk untuk meninggalkan desa ini, dan orang tua mereka mati dengan tenang. Hanya tersisa delapan orang saat itu, seperti adam-hawa yang saling berpasangan, Tuhan juga menghendakinya pada kami. Kami—yang tersisa—mulai membersihkan semua yang masih bisa digunakan dan tidak lagi menghiraukan lahan penguburan. Sampai di akhir Oktober 1966, setahun setelah kejadian, kupu-kupu dengan sayap lahar gunung api muncul melayang di desa. Terbang dan berpusing di kepala kami. Kadang dua-dua. Kadang lebih. Tak ada satu pun di antara kami yang menangkapnya. Membiarkan mereka masuk ke dalam rumah, hinggap di balai-balai, bahkan tengger di kepala seperti mengelus-elus rambut kami.”

“Setelah itu, mereka seperti berbisik dan menarik kami untuk ikut. Kami berdelapan membebek di belakang (juga di bawah), berpayung ratusan kupu-kupu bersayap lahar gunung api yang melayang berkoloni. Seperti arakan merah menuju pemakaman massal yang telah berubah jadi taman bunga warna-warni yang ganjil. Semua kupu-kupu hinggap, layaknya menunjukkan kebahagiaan. Ingin memulai pesta. Mungkin di surga, semua benar-benar sama rata, sama rasa, tak ada kelas, tak ada tuan tanah. Meski kadang kupikir, tujuh bidadari untuk satu lelaki itu tak baik bagi pasangan suami istri,” seperti hendak menutup dengan kelakar, namun kembali dilanjutkan,sejak itu, kami percaya, ulat-ulat yang keluar setelah tanah kuburan rata dan menuju ke hutan itu adalah kupu-kupu bersayap lahar gunung api ini, jelmaan kamerad penduduk desa. Dan, bunga-bunga itu, adalah budi baik yang tumbuh dan tak seorang pun boleh memetiknya.”
***

Sambil melihat kamera—foto seekor kupu-kupu sebesar daun kelor tengah tengger di bunga seperti bunga matahari, namun berkelopak pelangi, aku merasakan kejanggalan cerita desa Palu Arit itu. Pak Tani yang kutemui, beberapa kali menyebut “Tuhan” dan menghubungkannya dengan para kamerad. Mungkin, ini komunis rasa nusantara, pikirku asal-asalan. Tapi, semua itu tak penting. Yang penting adalah bagaimana aku bisa membagikannya pada dunia. Tentu bukan atas nama ilmu pengetahuan apalagi tetek bengek sejarah. Masa lalu bukan sesuatu bagiku. Meski kadang-kadang, itu hal baik untuk meningkatkan kunjungan orang.

Seperti dugaan, dalam waktu tiga hari, foto-foto keajaiban ganjil taman desa Palu Arit menjadi bahan pembicaraan semua situs dunia maya dan bikin namaku ikut mengudara. Saat aku pulang dari rumah seorang teman, kupikir bom atom Amerika baru saja jatuh di kamar. Berantakan. Kudapati Kakek bersama enam anak buahnya membawa kamera dan laptop pribadiku. Ia menamparku dan mengomel sesuatu yang tak aku ingat.

Kau tahu, detik itu, aku makin merasa punya seorang Kakek, jenderal angkatan bersenjata yang paling aneh.**


Pontianak, 2015

Sabtu, 19 Maret 2016

Earth Hour, BEST WESTERN Kota Baru Gelap Gulita

22.16 Posted by Kristiawan Balasa No comments
FOTO BEST WESTERN KOTA BARU

BEST WESTERN Kota Baru, Pontianak mendadak gelap, pada Sabtu, 19 Maret 2016. Sejak pukul 20.30-21.30 WIB, semua lampu padam. Sumber cahaya hanya berasal dari layar ponsel atau lilin yang menyala. Hal itu sengaja dilakukan pihak hotel, mengajak semua tamu untuk memperingati Earth Hour 2016.

Earth Hour (EH) sendiri adalah sebuah kegiatan global yang diadakan oleh Word Wide Fund for Nature (WWF). Kegiatannya sederhana, hanya melakukan pemadaman lampu yang tidak diperlukan di rumah atau perkantoran selama satu jam. Tujuannya, untuk meningkatkan kesadaran penghematan energi dan sebuah tindakan serius menghadapi perubahan iklim.

WWF dan Leo Burnett, pertama kali menghelat EH tahun 2007. Saat itu, 2,2 Juta penduduk Sydney, Australia berpartisipasi memadamkan semua lampu yang tidak diperlukan. Setelah itu, seperti wabah, beberapa kota di dunia ikut berpartisipasi setahun setelahnya. EH 2016 sendiri, dilaksanakan 19 Maret 2016, mulai pukul 20.30-21.30 WIB.

Berpartisipasi dalam EH, bukan barang baru bagi BEST WESTERN Kota Baru. Mulai tahun lalu BEST WESTERN Kota Baru sudah mendukung progam WWF ini. Di tahun ini, semua tamu diajak turun aksi. Pihak hotel mengajak tamu untuk mematikan lampu kamar di jam yang telah ditentukan. Snack dan kopi disediakan pihak hotel untuk semua tamu, baik yang menginap, ataupun tidak.

Dengan adanya kegiatan ini, pihak BEST WESTERN Kota Baru berharap dapat membangun keterlibatan masyarakat secara luas dalam melakukan aksi kecil dengan dampak besar. EH memiliki banyak manfaat. Tak sekadar menghemat listrik, tapi juga mencoba mengkritisi perubahan iklim yang merupakan ancaman kehidupan di bumi.


Perubahan iklim yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global. Naiknya permukaan air laut, perubahan musim yang sulit ditebak, kemarau atau musim dingin yang panjang. Perubahan terjadi secara besar-besaran. Tak ada pilihan lebih baik, selain berusaha bersama, mengubah apa yang telah berubah.

Jumat, 18 Maret 2016

BEST WESTERN SIAP GELAR KONSER KARAWITAN

03.56 Posted by Kristiawan Balasa No comments


Budaya merupakan suatu tradisi yang sudah terjadi dari dahulu dan harus dilestarikan secara turun temurun. Menjaga dan melestarikan budaya adalah suatu keharusan. Karena budaya ialah identitas suatu daerah atau suatu bangsa.

BEST WESTERN Kota Baru yang diwakili oleh M.Rizal Razikan selaku General Manager mengatakan, bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan kepada generasi muda yang selalu menjunjung tinggi dan cinta akan budaya. Serta memberikan apresiasi terhadap prestasi yang sudah dicapai. Tak hanya prestasi di dalam bahkan prestasi di luar negeri.

Dari dasar itulah hotel BEST WESTERN Kota Baru ingin menyelenggarakan konser karawitan yang rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 26 Maret 2016. Menggandeng teman-teman dari IKANMAS (Ikatan Mahasiswa Seni ) FKIP Seni Untan prodi seni musik dan tari, BEST WESTERN dan FKIP Seni Untan akan bekerja keras untuk mempersiapkan acara ini dengan baik. Para talent juga siap bekerja keras demi mempersembahkan penampilan terbaik.

Acara dengan tema “CITA BUDAYA KHATULISTIWA” merupakan pagelaran yang dipersembahkan untuk masyarakat kota Pontianak. Sejumlah persiapan, sudah mulai dilaksanakan sejak kemarin. Kegiatan ini mendapat dukungan dari banyak pihak. Pagelaran yang akan disajikan nantinya, adalah pagelaran seni musik dan tari, yang mengacu pada kekayaan budaya daerah. Adanya Konser Karawitan ini diharapkan dapat mempengaruhi generasi muda untuk tetap mencintai budaya.

Gamelan saraswati dan Ikanmas Melayu Esemble menjadi penampilan yang siap menyuguhkan atraksi terbaik pada penonton. Kolaborasi musik melayu dan jawa akan bersatupadu memanjakan semua indera penonton. Latihan yang mereka gelar setiap malam, tentu akan menghasilkan pertunjukan yang maksimal. Dalam acara yang dibuka untuk umum dengan HTM. Rp. 20.000,- (free coffe break) ini, penonton bisa ikut serta dalam photoboots competition. Akan ada hadiah voucher menarik dari BEST WESTERN Kota Baru untuk 10 foto terbaik, dan voucher plus uang tunai khusus bagi 3 foto terbaik.


Informasi lebih lanjut, Anda bisa langsung menghubungi Wendha di nomor 08115633320/089694133320. Pastikan Anda jadi bagian dari gema Konser Karawitan Cita Budaya Khatulistiwa ini!

Selasa, 16 Februari 2016

PENEBUSAN DOSA PEMBALAK, DAN HUTAN YANG INGIN MEMBIAK

00.45 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Ismanto menunjukkan cara menanam yang benar. Baginya, menanam pohon seperti sebuah penebusan dosa.

Ismanto mengambil polybag. Lantas kembali jongkok di depan lubang sedalam jengkal orang dewasa. Layaknya melepas popok bayi, ia menelanjangi sekepal tanah tempat bibit jengkol berdiri. Dikoyaknya dari atas. Tangannya seperti alat. Presisinya tepat. Polybag lepas. Tak secercah tanah pun hempas. Pas.

Bibit jengkol setinggi tiga puluh senti itu ditanam. Tanah bekas galian lubang dimasukkan kembali dengan tangan. Digemburkan rapi. Setamsil rawat anak sendiri. Sebuah penanda besi bertuliskan tanggal dan jenis pohon ia kalungkan. Sebatang bambu sebesar jari, ditancapkan.

Polybag bekas tak dibuang sembarang. Melainkan ditopikan pada bambu di samping tanaman. Sebagai penanda kalau-kalau tumbuh ilalang, katanya. Selesai menanam di satu lubang, ia berpindah ke lubang lain. Masih ada delapan belas hektar lahan Taman Nasional Gunung Palung yang mesti ia tanami. Tapi ia tak kerja sendiri. Bersama 14 orang tim reboisasi Alam Sehat Lestari, tugas itu digeluti.

Apa yang dikerjakan Ismanto kini, berbanding terbalik dengan kehidupannya tahun 1997 silam. Jika sekarang keluar masuk hutan membawa dan merawat bibit tanaman, dulunya ia datang untuk menebang dan menebang. Lelaki 39 tahun itu pertama masuk hutan sebagai tukang pikul kayu rambahan.

Merambah setengah hektar hutan sekali datang, mencari bengkirai dan meranti. Uang empat sampai enam juta sebulan, mampu dikantongi. Ia pun beralih profesi. Dari pemikul, jadi penebang. Yang didapat jauh lebih banyak. Namun, tetap dengan risiko sama, kemungkinan tertimpa kayu sebesar setengah gerbong kereta.

“Tahun 2000 saya berhenti, karena yang untung itu bosnya. Risiko kita nyawa. Akhirnya kembali bertani. Kadang masih tebang untuk kebutuhan sendiri,” ujar Ismanto menyesali.

Entah berapa batang pohon yang sudah ia tebang, tapi tetap saja tak bisa membangun rumah. Ada banyak Ismanto lain yang bernasib sama. Kenyataan itu pula yang membuatnya sadar. Selain rentetan kebakaran dan dampak berkurangnya pohon di tempat ia tinggal.

Pertemuannya dengan Asri berawal di 2009. Bersama sejumlah warga ia tergabung dalam rombongan penanaman dan pembersihan dua lokasi yang jadi fokus kerja Asri. Salah satunya lahan seluas dua puluh empat hektar yang terletak di pinggir jalan, Km 20, Dusun Manjau, Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Ketapang.

“Asri ini unik. Ada kegiatan lingkungan berkaitan dengan kesehatan. Bagaimana masyarakat bisa memelihara hutan, mendapat reward, diskon pengobatan di klinik yayasan. Saya tertarik untuk bergabung,” jawab Ismanto ketika ditanya alasannya menjadi bagian tim deforestasi Asri.

Lahan Desa Laman Satong terbakar hebat beberapa tahun lalu. Akibatnya, hutan yang sudah digunduli perusahaan kayu milik penguasa orde baru, makin tak berbentuk. Sama halnya dengan Desa Sedahan Jaya. Sebab lain, wilayah itu berbatasan langsung dengan jalan dan perkampungan warga.

Ada beberapa fakta miris. Dalam survei tahunan yang Asri jalankan, hanya ada tiga spesies burung di bekas lahan yang terbakar. Tak mengherankan, tak banyak jenis burung yang hidup di alang-alang. Berbeda dengan lokasi yang telah direboisasi. Salah satunya wilayah yang Ismanto tanami. Sedikitnya, ada enam puluh spesies yang beranakpinak di sana.

“Karena lokasi ini ada di tepi jalan, jarak empat sampai enam meter dari jalan kita bikin batas api. Agar sumber api, seperti puntung rokok tidak menyebabkan kebakaran hingga meluas ke hutan. Meski sudah direboisasi, tiap tahun selalu terjadi kebakaran,” terang Fransiskus Xaverius, koordinator deforestasi Asri, Kamis (28/1).

Antisipasi dilakukan, berdasarkan pengalaman kebakaran tahun 2009. Jalan yang membelah Gunung Palung itu, jadi lalu lintas truk-truk pengangkut CPO dan karet. Juga akses utama warga. Entah dari mana datangnya, api membesar, merangsek perdu pinggir jalan. Kemudian masuk hutan.

Di tahun itu pula Asri memulai reboisasi. Hasilnya menggembirakan. Selain hijau, burung rangkong juga kerap terlihat. Namun, bukannya tanpa kendala. 2013, kebakaran kembali melanda. Batas api tak mampu menahan. Lebih dari belasan hektar, hijau kembali menghitam.

“Kita lakukan pembersihan rutin untuk batas api, membangun kesadaran masyarakat, sepanjang jalan depan rumah mereka adalah area monitoring mereka. Ada pula pelatihan pemadaman dengan alat sederhana,” tambah Fransiskus.

Butuh waktu lama mengembalikan selimut hijau Gunung Palung. Untuk memastikan benih tumbuh saja, sekurangnya perlu lima sampai sepuluh bulan. Jenis tanaman pun bukan sembarangan. Petai, jengkol, sungkai, merbau, ubah, meranti, leban, makaranga, jadi pilihan. Alasannya, selain beberapa yang endemis, tanaman itu tumbuh cepat jika terbakar. Batangnya pun menusuk langit dengan daun lebar.

Bibit tanaman itu, selain dibiakkan sendiri, juga berasal dari masyarakat. Sistem pelayanan kesehatan yang bisa dibayar dengan bibit tanaman buat mereka punya cukup stok. Polybag gratis diberikan pada warga yang hendak membayar biaya pengobatan, ingin menabung atau sekadar suka menanam. Bahkan dikatakan Fransiskus, salah seorang warga bernama Karyani, memiliki tabungan dua juta rupiah, dari bibit yang tanam.

“Semua proses di sini berdasar kearifan lokal, digabung dengan pengetahuan yang Asri punya. Juga panduan kehutanan. Jadi, lahan ditanam berdasarkan kerapatan per plot. Ukurannya 20x20 meter. Satu plot, 100 jenis tanaman,” jelasnya.

Di pos tim deforestasi Asri sendiri, saat ini ada 11 ribu bibit tanaman. Dan masih ada 4 ribu lagi yang siap disetorkan warga. Jumlah itu sangatlah banyak, namun tak akan berarti jika generasi muda tak dikenalkan kembali pada hutannya. Karenanya, bekerjasama dengan sejumlah sekolah yang berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Palung, para siswa diajak kenal dekat kekayaan terbesar mereka.


Tak hanya proses pembibitan hingga penanaman. Tapi juga keragaman hayati di dalamnya. Flora dan fauna khas Gunung Palung. Jangan sampai mereka tak tahu, mana meranti, mana belian. Atau yang lebih mengerikan, mereka sulit membedakan, mana yang melestarikan, mana yang menghancurkan.


ditulis untuk harian Suara Pemred, edisi 7-8 Februari 2016