catatan remeh dan hal liar lain

Selasa, 16 Februari 2016

PENEBUSAN DOSA PEMBALAK, DAN HUTAN YANG INGIN MEMBIAK

00.45 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Ismanto menunjukkan cara menanam yang benar. Baginya, menanam pohon seperti sebuah penebusan dosa.

Ismanto mengambil polybag. Lantas kembali jongkok di depan lubang sedalam jengkal orang dewasa. Layaknya melepas popok bayi, ia menelanjangi sekepal tanah tempat bibit jengkol berdiri. Dikoyaknya dari atas. Tangannya seperti alat. Presisinya tepat. Polybag lepas. Tak secercah tanah pun hempas. Pas.

Bibit jengkol setinggi tiga puluh senti itu ditanam. Tanah bekas galian lubang dimasukkan kembali dengan tangan. Digemburkan rapi. Setamsil rawat anak sendiri. Sebuah penanda besi bertuliskan tanggal dan jenis pohon ia kalungkan. Sebatang bambu sebesar jari, ditancapkan.

Polybag bekas tak dibuang sembarang. Melainkan ditopikan pada bambu di samping tanaman. Sebagai penanda kalau-kalau tumbuh ilalang, katanya. Selesai menanam di satu lubang, ia berpindah ke lubang lain. Masih ada delapan belas hektar lahan Taman Nasional Gunung Palung yang mesti ia tanami. Tapi ia tak kerja sendiri. Bersama 14 orang tim reboisasi Alam Sehat Lestari, tugas itu digeluti.

Apa yang dikerjakan Ismanto kini, berbanding terbalik dengan kehidupannya tahun 1997 silam. Jika sekarang keluar masuk hutan membawa dan merawat bibit tanaman, dulunya ia datang untuk menebang dan menebang. Lelaki 39 tahun itu pertama masuk hutan sebagai tukang pikul kayu rambahan.

Merambah setengah hektar hutan sekali datang, mencari bengkirai dan meranti. Uang empat sampai enam juta sebulan, mampu dikantongi. Ia pun beralih profesi. Dari pemikul, jadi penebang. Yang didapat jauh lebih banyak. Namun, tetap dengan risiko sama, kemungkinan tertimpa kayu sebesar setengah gerbong kereta.

“Tahun 2000 saya berhenti, karena yang untung itu bosnya. Risiko kita nyawa. Akhirnya kembali bertani. Kadang masih tebang untuk kebutuhan sendiri,” ujar Ismanto menyesali.

Entah berapa batang pohon yang sudah ia tebang, tapi tetap saja tak bisa membangun rumah. Ada banyak Ismanto lain yang bernasib sama. Kenyataan itu pula yang membuatnya sadar. Selain rentetan kebakaran dan dampak berkurangnya pohon di tempat ia tinggal.

Pertemuannya dengan Asri berawal di 2009. Bersama sejumlah warga ia tergabung dalam rombongan penanaman dan pembersihan dua lokasi yang jadi fokus kerja Asri. Salah satunya lahan seluas dua puluh empat hektar yang terletak di pinggir jalan, Km 20, Dusun Manjau, Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Ketapang.

“Asri ini unik. Ada kegiatan lingkungan berkaitan dengan kesehatan. Bagaimana masyarakat bisa memelihara hutan, mendapat reward, diskon pengobatan di klinik yayasan. Saya tertarik untuk bergabung,” jawab Ismanto ketika ditanya alasannya menjadi bagian tim deforestasi Asri.

Lahan Desa Laman Satong terbakar hebat beberapa tahun lalu. Akibatnya, hutan yang sudah digunduli perusahaan kayu milik penguasa orde baru, makin tak berbentuk. Sama halnya dengan Desa Sedahan Jaya. Sebab lain, wilayah itu berbatasan langsung dengan jalan dan perkampungan warga.

Ada beberapa fakta miris. Dalam survei tahunan yang Asri jalankan, hanya ada tiga spesies burung di bekas lahan yang terbakar. Tak mengherankan, tak banyak jenis burung yang hidup di alang-alang. Berbeda dengan lokasi yang telah direboisasi. Salah satunya wilayah yang Ismanto tanami. Sedikitnya, ada enam puluh spesies yang beranakpinak di sana.

“Karena lokasi ini ada di tepi jalan, jarak empat sampai enam meter dari jalan kita bikin batas api. Agar sumber api, seperti puntung rokok tidak menyebabkan kebakaran hingga meluas ke hutan. Meski sudah direboisasi, tiap tahun selalu terjadi kebakaran,” terang Fransiskus Xaverius, koordinator deforestasi Asri, Kamis (28/1).

Antisipasi dilakukan, berdasarkan pengalaman kebakaran tahun 2009. Jalan yang membelah Gunung Palung itu, jadi lalu lintas truk-truk pengangkut CPO dan karet. Juga akses utama warga. Entah dari mana datangnya, api membesar, merangsek perdu pinggir jalan. Kemudian masuk hutan.

Di tahun itu pula Asri memulai reboisasi. Hasilnya menggembirakan. Selain hijau, burung rangkong juga kerap terlihat. Namun, bukannya tanpa kendala. 2013, kebakaran kembali melanda. Batas api tak mampu menahan. Lebih dari belasan hektar, hijau kembali menghitam.

“Kita lakukan pembersihan rutin untuk batas api, membangun kesadaran masyarakat, sepanjang jalan depan rumah mereka adalah area monitoring mereka. Ada pula pelatihan pemadaman dengan alat sederhana,” tambah Fransiskus.

Butuh waktu lama mengembalikan selimut hijau Gunung Palung. Untuk memastikan benih tumbuh saja, sekurangnya perlu lima sampai sepuluh bulan. Jenis tanaman pun bukan sembarangan. Petai, jengkol, sungkai, merbau, ubah, meranti, leban, makaranga, jadi pilihan. Alasannya, selain beberapa yang endemis, tanaman itu tumbuh cepat jika terbakar. Batangnya pun menusuk langit dengan daun lebar.

Bibit tanaman itu, selain dibiakkan sendiri, juga berasal dari masyarakat. Sistem pelayanan kesehatan yang bisa dibayar dengan bibit tanaman buat mereka punya cukup stok. Polybag gratis diberikan pada warga yang hendak membayar biaya pengobatan, ingin menabung atau sekadar suka menanam. Bahkan dikatakan Fransiskus, salah seorang warga bernama Karyani, memiliki tabungan dua juta rupiah, dari bibit yang tanam.

“Semua proses di sini berdasar kearifan lokal, digabung dengan pengetahuan yang Asri punya. Juga panduan kehutanan. Jadi, lahan ditanam berdasarkan kerapatan per plot. Ukurannya 20x20 meter. Satu plot, 100 jenis tanaman,” jelasnya.

Di pos tim deforestasi Asri sendiri, saat ini ada 11 ribu bibit tanaman. Dan masih ada 4 ribu lagi yang siap disetorkan warga. Jumlah itu sangatlah banyak, namun tak akan berarti jika generasi muda tak dikenalkan kembali pada hutannya. Karenanya, bekerjasama dengan sejumlah sekolah yang berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Palung, para siswa diajak kenal dekat kekayaan terbesar mereka.


Tak hanya proses pembibitan hingga penanaman. Tapi juga keragaman hayati di dalamnya. Flora dan fauna khas Gunung Palung. Jangan sampai mereka tak tahu, mana meranti, mana belian. Atau yang lebih mengerikan, mereka sulit membedakan, mana yang melestarikan, mana yang menghancurkan.


ditulis untuk harian Suara Pemred, edisi 7-8 Februari 2016

Sahabat Hutan, dan Sepenggal Kisah

00.26 Posted by Kristiawan Balasa , 2 comments
 Bincang-bincang antara awak media dan Syarifudin (baju biru muda di tengah) bersama rekan Sahabat Hutan lain di Pantai Pulau Datok, Kayong Utara.


“Perambah hutan, kalau mau ambil chainsaw di rumah saya, Syarifudin.”

Kalimat itu terukir di batang pohon mentawak. Bertinta oli lumer, yang merusak cerah daging kayu yang baru ditebang. Tidak perlu heran dengan kalimat yang begitu panjang. Lebar batang pohon itu saja lebih dari 40 cm. Terbaring kaku sepanjang 16 meter.

Syarifudin (26) menemukannya ketika petang menjelang. Sore itu, ia mendengar bising chainsaw (alat penebang kayu) dari arah Taman Nasional Gunung Palung, tak jauh dari sawahnya. Padahal, sudah cukup lama ia tak mendengar lengkingan serupa. Suara yang dulunya akrab, kini asing.

Ia menyayangkan pohon mentawak yang gagah, sekarang tumbang. Padahal, buah pohon salah satu tanaman keras hutan yang punya nilai jual mahal. Harga sebuahnya, lebih mahal dari durian. Sayangnya, bagi penebang itu, harga batang pohon mentawak, jauh lebih menggiurkan.

Kebiasaan para perambah hutan, selalu meninggalkan chainsaw mereka, tak jauh dari pohon yang ditebang. Itu dilakukan agar tidak merepotkan. Sebab, menebang pohon dan menyelesaikannya sesuai pesanan, kadang butuh lebih dari sehari. Syarifudin pun mengambil langkah cepat. Warga Dusun Mentubang, Desa Harapan Jaya, Kabupaten Kayong Utara itu segera mengamankannya.

Dibawanya pulang, dan disimpan di gubuk tengah sawah miliknya. Sebelumnya, bagian chainsaw itu ia perotoli. Rantai, mesin, dan beberapa bagian lain disimpan di tempat berbeda. Ia pun menuju rumah dengan rasa penuh tanya. Siapa gerangan perambah hutan yang kembali melancarkan aksi di dusunnya?

Sialnya, tak ada seorang pun datang ke rumahnya hingga pagi tiba. Kesehariannya sebagai petani dijalani seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang membuatnya terkejut. Begitu sampai di gubuk, chainsaw itu raib. Hilang seperti gaib.

“Padahal sengaja saya ambil biar tahu siapa orangnya. Eh, malah dicuri duluan. Setelah cari-cari info, katanya kayu itu mau dipakai untuk bikin sampan. Bukan orang dusun kami. Sampai sekarang, masih di sana, tidak ada yang ambil,” ceritanya pada Suara Pemred, saat berbincang di Pantai Pulau Datuk, Sukadana, Kayong Utara, Rabu (27/1).

Syarifudin berkisah, itu hal nekad pertama yang dilakukannya di tahun pertamanya menjadi Sahut (Sahabat Hutan). Ia yang sudah dua tahun menjadi bagian dari progam Yayasan Alam Sehat Lestari (Asri) itu, biasanya hanya sekadar sosialisasi dan mengumpulkan informasi terkait kelestarian hutan.
Tugasnya memang terdengar sederhana. Semua beres dikerjakan satu jam dalam sehari. Namun, hasil kerjanya berdampak besar pada kehidupan semua makhluk di Gunung Palung. Informasi aktivitas merusak hutan, dimiliki.

Selain untuk kepentingan Asri dalam pengelolaan beberapa program yang dijalankan, seperti afiliasi kelestarian hutan dengan pelayanan kesehatan, informasi  itu juga digunakan para polisi hutan.

“Tugas Sahut ada pada konservasi dan jembatan informasi antara Asri dengan masyarakat. Jumlahnya saat ini ada 33 orang. Setiap bulan, mereka harus memberikan laporan ke koordinator,” ungkap Hendriyadi, koordinator Sahut.

Hampir semua dusun yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung, memiliki Sahut. Mengubah paradigma masyarakat, yang menggantungkan hidup dari hasil membalak, juga jadi tugasnya. Para pembalak liar diajak beralih profesi sebagai petani. Kelompok tani berkelanjutan pun dibentuk. Bahkan, beberapa kelompok sudah diberangkatkan ke Yogjakarta untuk belajar langsung di sana.

Syarifudin mengatakan, mengubah pola pikir masyarakat bukan perkara gampang. Mereka selalu saja berorientasi pada uang. Waktu dua jam belajar bertani, dianggap buang rupiah yang bisa didapatkan dengan mudah; menebang hutan. Tapi kini, ketangguhannya berbuah manis. Dari enam orang pembalak liar di awal ia terjun menjadi Sahut, sekarang tinggal seorang.

“Waktu awal ikut gabung Sahut, saya melihatnya unik dan asik. Juga bisa memberi manfaat untuk orang lain. Dapat ilmu. Sebenarnya, masyarakat diam itu bukan tidak peduli, mereka cuma tidak ada yang membangkitkan,” kata Syarifudin.

Keberadaan Sahut di tiap dusun memberi rasa malu bagi para pembalak untuk beraksi. Mereka sering masuk hutan saat gelap datang. Dan pulang sebelum penduduk desa bangun. Sejak 2009 jumlahnya menurun drastis. Kebanyakan yang tersisa kini, hanya bekerja jika ada pesanan atau kebutuhan pribadi.

Dalam bertugas, para Sahut disarankan menghindari selisih paham. Alasannya, agar lebih mudah dan dekat dengan masyarakat. Advokasi hukum tidak dibebankan pada mereka. 

Penurunan pembalak sendiri disebut Hendriyadi, turut disebabkan semakin ketatnya kebijakan pemerintah. Dan adanya peningkatan ekonomi dari sektor lain. Terlebih sejumlah lembaga swadaya masyarakat berperan aktif. Pun, keberadaan kayu untuk mereka rambah, makin jauh di dalam hutan.

“Di bawah tahun 2009, kayu belian, bengkirai, ramin, banyak diekspor ke Malaysia. Tapi kelamaan pembalak sadar, harga jual dari mereka, kalah jauh ketika sampai di cukong. Mereka merasa rugi,” timpal Hendriyadi.

Saat ini, ada 76 dusun dari 14 desa yang bekerjasama dengan Asri. Sebagian memang tak memiliki Sahut karena tidak berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung. Namun, aktivitas pembalakan di sana menurun dari tahun ke tahun. Hal itu agaknya jadi bukti. Seseorang hanya harus berani memulai. Sebab butuh sepercik api, untuk membakar kampung. Sisanya, biarkan angin yang menunaikan tugas.


ditulis untuk harian Suara Pemred, edisi 5 Februari 2016

Jumat, 05 Februari 2016

Kambing dan Janda di Tengah Kayong Utara

04.10 Posted by Kristiawan Balasa , 1 comment
Pumiah memeluk kambing kesayangannya. 

Sewaktu kami datang, Rabu (27/1), empat orang janda sudah berada di dalam rumah Pumiah. Saat itu pukul sebelas dan matahari Kayong Utara tengah gagah-gagahnya. Pandangan mereka tak jauh dari kumpulan kambing yang parkir di tanah lapang samping rumah. Rupa-rupanya, mereka kuatir kambing yang ditambat itu nakal, lepas dari ikatan, lantas lari ke kebun orang.

“Kemarin pernah lari, makan bayam tetangga,” ujar Pumiah sambil tertawa, ketika ditanya mengapa kambing yang diikat, diawasi pula.

Di lapang itu, terdapat tiga kambing Pumiah. Dan beberapa ekor kambing temannya. Sebenarnya, ia punya empat. Namun satu di antaranya, anak pertama kambing betina yang ia punya, sudah digulirkan pada tetangga jandanya yang lain.

Para janda di Dusun Paya Hitam, Desa Sutera, Kecamatan Sukadana, Kayong Utara, sebagian besar memiliki kambing sebagai peliharaan. Mereka mendapatkannya secara gratis dari Yayasan Alam Sehat Lestari (Asri).

Jadi tak hanya Pumiah, Soginah, Toripah dan Fatma pun sama-sama memiliki kambing. Jumlahnya saja yang berbeda. Jika Pumiah kini memiliki tiga ekor, Soginah baru dua. Demikian halnya dengan Toripah. Kecuali Fatma yang baru punya satu. Namun kini tengah hamil muda.

Seratus dua puluh janda di sebelas desa di Kayong Utara, tengah jadi fokus kerja program Kambing Untuk Janda dari Asri. Untuk Dusun Paya Hitam sendiri, dari yang awalnya sembilan janda, sekarang sudah dua puluh. Masing-masing janda dapat jatah satu. Bila dapat betina, maka dengan meminjam pejantan yang digilir, anak pertama kambing itu wajib digulir. Sisanya, untuk diri sendiri.

Sementara jika dapat pejantan, maka harus sabar menunggu guliran dari induk milik janda lain. Pumiah, termasuk janda yang cukup lama memelihara. Nenek dua belas cucu itu bercerita, ada banyak manfaat dari kambing-kambingnya. Misalnya, olahan kotoran kambing yang digunakan sebagai pengganti pupuk urea. Ia yang sehari-hari bekerja sebagai petani, merasa senang memiliki sumber penghidupan lain.

‌“Memang repot kalau piara, apalagi kalau kambing kehujanan atau belum makan. Pulang ladang pasti cek kambing dulu. Tapi senang. Sekarang ditambat, kalau tidak nanti makan sayuran orang,” katanya dalam logat Madura yang khas, diselingi tawa yang buat kami terbahak.

Ketika ditanya akan dijual atau tidak kambing-kambingnya saat Idul Adha nanti, Pumiah menjawab tidak dengan cepat. Untuk akikah saya, sambungnya kilat. Berbeda dengan Pumiah, Toripah malah sudah menjual salah satu kambingnya. Kebutuhan ekonomi mendesaknya kala itu.

Para janda sasaran program Kambing untuk Janda, berasal dari kalangan kurang mampu. Sebagian menjanda akibat ditinggal mati suaminya. Karenanya, umur mereka pun tak lagi muda. Jika ditaksir, berada di atas lima lima. Bukannya ingin menebak, ketika ditanya usia, mereka jawab tak tahu dengan serentak. Tapi yang lebih memprihatinkan, ternyata mereka juga buta aksara.

“Ibu Toripah ini selain jual kambingnya untuk beli beras, juga untuk beli kasur. Seumur hidupnya, belum punya kasur,” jelas Setiawati, koordinator program Kambing untuk Janda Asri.

Kepandaian Pumiah mengolah kotoran kambing menjadi pupuk, tak lepas dari program binaan lain Asri. Yakni kelompok pertanian organik. Selain meningkatkan kualitas hidup dari sisi ekonomi,  dengan adanya program penyelaras, dapur organik, janda-janda di Kayong Utara mengkonsumsi bahan makanan yang lebih baik.

Karenanya, kontrol terus dilakukan demi keberhasilan dan ketepatan sasaran program. Setiap bulan, tim kesehatan rutin berkunjung. Mengecek anemia, koreng dan memotong kuku-kuku kambing para janda. Dari total seratus dua puluh janda yang menikmati program ini sejak 2011, empat puluh di antaranya tak lagi aktif.

“Ada 40 yang sudah tidak aktif, karena sudah mendapat jatah dan menggulirkan. Ada yang menjual kambingnya karena ekonomi, dan perbaikan rumah. Tapi ada yang berhasil, sampai 23 ekor sejak awal ikut 2011 dulu,” papar Setiawati.


Kambing untuk Janda, hanyalah salah satu upaya meningkatkan kualitas hidup warga Kayong Utara. Mereka yang berada di ambang, bahkan bawah garis kemiskinan. Di tengah bisingnya cericit walet dari gedung tinggi yang menghimpit. Semoga saja, orang-orang besar tak terhalang gedung itu saat hendak melihat mereka. Atau ditulikan nyanyian dua puluh empat jam walet, ketika jeritannya memekakkan telinga.

ditulis untuk harian Suara Pemred, edisi 4 Februari 2016

BAYAR PENGOBATAN DENGAN LESTARIKAN HUTAN

04.02 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Salah seorang staf Asri menunjukkan alat bayar yang biasa dipakai warga.

Dardi kecil hanya bisa terbaring di rumah papan yang tak lebih besar dari setengah lapangan futsal. Berada di daerah rawa Desa Rantau Panjang Dua, Kecamatan Sukadana, Kayong Utara. Mendekam dalam tempat khusus berukuran satu kali satu meter. Ia tak boleh terbias cahaya. Suara bising dapat mengganggunya. Di tempat itulah ia menghabiskan waktu selama tujuh tahun.

Tuberkulosis (TBC) otak yang ia derita bukannya tanpa upaya menyembuhan. Orang tuanya sudah membawanya berobat ke daerah sekitar, namun tak berbuah kesembuhan. Tidak adanya rumah sakit di Kayong Utara dan kemungkinan besarnya biaya pengobatan jadi beban pikiran. Hingga suatu ketika, lidah angin menyampaikan kabar itu ke telinga pengampu Klinik Alam Sehat Lestari (Asri).

Penjemputan dilakukan.

Sayangnya, itu bukan perkara membalikkan telapak tangan. Jarak yang lumayan jauh, ditambah kilau cahaya dan suara bising yang bisa mengganggu Dardi, membuat dokter dan perawat memutar otak. Rencana disusun. Tengah malam, menunggu jalanan sepi, Dardi dibawa ke Klinik Asri, di Jalan Sungai Mengkuang, Pangkalan Buton, Sukadana.

Kaca mata rayban hitam dikenakan. Pendengarannya diusahakan tak merekam suara ribut. Anak tiga belas tahun yang jadi pasien pertama paling berisiko Klinik Asri di tahun pertamanya berdiri itu, harus segera diobati. Pengobatannya bisa saja mengakibatkan Dardi meninggal. Dokter pun dilema.

“Kami bimbang, apakah bisa berhasil atau tidak. Ternyata sukses, perkembangan awal, setelah beberapa hari ia bisa ke WC sendiri,” kenang Hotlin Ompusunggu, Direktur Operasi Klinik Asri, Rabu (27/1).

Setelah itu, pengobatan rutin enam bulan pertama dijalani. Dardi yang sakit sejak berumur enam, dan terus berada di kamarnya tanpa keluar selama tujuh tahun, membuat anak tiga belas tahun itu, tinggal dalam pikiran anak berumur enam. Psikiater disiapkan untuk mendampinginya agar berani keluar rumah. Setahun setelahnya, Dardi sembuh total.

Obat TBC yang pada 2007 belum digratiskan, buat biaya perawatan cukup besar. Namun, itu bukan kendala. Sebab, Klinik Asri menerima pembayaran tidak hanya dalam bentuk uang. Tapi juga kerajinan, bibit pohon, pupuk dan lainnya. Alhasil, keluarga Dardi berhasil melunasi biaya pengobatan, dengan tikar buatan tangan.

“Sekarang dia sudah bekerja, sembuh total setahun setelahnya. Itu jadi semangat bagi Asri untuk berprogram. Program kesehatan berafiliasi dengan lingkungan,” tambah Hotlin.

Klinik Asri sendiri hanyalah satu dari sekian program lembaga nirlaba bernama panjang Alam Sehat Lestari itu. Berangkat dari keprihatinan Kinari Webb, salah seorang dokter asal Amerika yang sejak 1993 datang ke Taman Nasional Gunung Palung, Kayong Utara untuk mempelajari orangutan, yayasan itu didirikan.

Banyaknya kerusakan hutan, deforestasi di Gunung Palung. Padahal ada keragaman hayati. Dalam 100 meter saja, tumbuh lebih dari 100 spesies pohon. Termasuk berbagai jenis tupai dan orangutan,” sahut Kinari menjelaskan.

Berdiri sejak 2007, dengan kenyataan buruknya kualitas hutan, ekonomi dan kesehatan, yang sebenarnya ada dalam satu rangkaian, membuat tekatnya bersama Hotlin Ompusunggu dan sejumlah rekan tak terhalang. Gunung Palung merupakan sumber kehidupan masyarakat. Kebutuhan air, udara sehat, akan membuat kualitas hidup warga sekitar lebih baik. 

Ada lingkaran setan, antara kebutuhan masyarakat, ekonomi dan kesehatan yang mudah mereka dapat dari hutan dengan kelestariannya. Menjadi seorang penebang hutan, adalah profesi yang biasa saat itu. Dapur ngebul, dari batang-batang pohon yang mereka potong.

Semakin banyak kebutuhan yang diperlukan, makin banyak pula pohon Gunung Palung yang ditebang. Apalagi jika sudah menyangkut biaya berobat yang mahal. Maklum, mereka harus berangkat ke Ketapang, untuk mendapatkan perawatan maksimal. Rumah sakit terdekat, hanya ada di sana.

“Dengan pendekatan 400 jam dalam setahun kepada masyarakat, kita tanya apa yang mereka perlukan untuk menjaga hutan, sebagian besar menjawab layanan kesehatan,” timpal Hotlin.

Karenanya Klinik Asri dipilih sebagai program awal. Memberi layanan kesehatan, dibarengi mengubah perekonomian masyarakat yang sebelumnya berada di hutan, tentu bukan hal gampang. Mau tidak mau masyarakat harus dibuat beralih profesi. Pelatihan pola penanaman dengan tidak membuka lahan baru pun diberikan. Tidak hanya itu, pengolahan limbah alam jadi pupuk, juga diajarkan. Demi menekan harga pupuk yang tinggi.

Sejumlah terobosan, layanan kesehatan yang berafiliasi dengan kelestarian lingkungan dilakukan. Salah satunya pembayaran biaya pengobatan yang bisa menggunakan selain uang. Misalnya kerajinan tangan. Harga ambil Asri, sengaja dibuat lebih tinggi. Untuk keranjang kecil dari pandan yang biasa dipasaran seharga Rp. 5 ribu, dihargai Rp. 20 ribu.

Kunci sukses Asri, memenuhi apa yang masyarakat butuhkan. Yang penting bagaimana kerja sama dengan semua pihak. Masalah pembayaran, bibit-bibit pohon dari warga, kita gunakan untuk reboisasi hutan Gunung Palung, termasuk pupuknya,” terang Hotlin.

Tak hanya kemudahan membayar biaya pengobatan, Klinik Asri pun memberikan diskon bagi setiap desa yang bisa melestarikan hutannya. Desa-desa sekitar taman nasional dibedakan berdasarkan tingkat kelestarian hutan dengan status warna. Hijau untuk desa bebas kerusakan, mendapat diskon 70 persen. Kemudian berturut-turut warna biru, kuning dan merah dengan pengurangan diskon 20 persen dari warna hijau.

“Ada monitor tiap triwulan, pengolahan kayu, masih berladang di hutan atau tidak. Ada tujuh indikator. Warga akan dapat diskon. Khusus bayar dengan bibit pohon, harus tanaman asli hutan, dan bermanfaat bagi masyarakat, seperti petai, jengkol,” terangnya. 

Awal Asri berjalan, dari 23 desa yang menjadi sasaran, karena berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung, hanya 21 saja yang setuju. Penolakan terjadi karena di dalam dua desa tersebut, berdiri sawmill (tempat penggergajian kayu) besar. Oknum kepala desa diduga ada di belakangnya. Butuh waktu seminggu untuk mengatasi hal itu. Pengumpulan tanda tangan warga dari rumah ke rumah jadi penguat.

“Tahun 2007, dari 133 KK yang dijadikan sampel dari setiap desa di batas taman nasional, rata-rata semuanya kerja kayu. Kebanyakan tangan pertama, tapi ada juga cukongnya. Data terakhir, akhir 2015 kemarin, tinggal 180 orang saja yang jadi penebang. Sebagian besar musiman,” tambah Kinari.

Perubahan signifikan terjadi. Mereka yang dulunya menebang hutan untuk ekonomi, kini beralih menjadi petani. Bahkan 52 persen diantaranya meminta pelatihan kebun organik. Pelatihan pertanian tersebut, nyatanya meningkatkan panen. Dari yang tiga kali dalam sekali tanam, sekarang mencapai tujuh.

Berubahnya ketergantungan masyarakat akan hutan Gunung Palung membuat Asri ingin lebih berbuat banyak. Kini, mereka tengah membangun rumah sakit yang letaknya tak jauh dari klinik. Tempat itu lebih representatif daripada klinik saat ini yang menyewa rumah warga. Meski di dalamnya sudah dilengkapi dengan laboraturium, ruang kerja dokter hingga ruang rawat inap.

Selama ini, Klinik Asri juga menjalin kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kayong Utara, misalnya menggelar pelatihan bidan demi menekan angka kematian. Juga bantuan obat gratis dari pemerintah. Sementara untuk layanan BPJS, masih dalam proses.

Rumah Sakit Asri yang dijadwalkan selesai Juli 2016 dan beroperasi dua bulan setelahnya itu, digadang-gadang akan jadi rumah sakit pertama di Kayong Utara. Desain ruangan pun dibuat memanjang seperti rumah, sesuai permintaan warga.

“Untuk mendukung rumah sakit yang sedang dibangun, ada tiga dokter spesialis yang sedang kita sekolahkan. Diantaranya, dokter kandungan, penyakit dalam, dan bedah,” pungkas Kinari.

ditulis untuk harian Suara Pemred edisi Rabu, 3 Februari 2016