Ismanto menunjukkan cara menanam yang benar. Baginya, menanam pohon seperti sebuah penebusan dosa.
Ismanto mengambil polybag.
Lantas kembali jongkok di depan lubang sedalam jengkal orang dewasa. Layaknya melepas
popok bayi, ia menelanjangi sekepal tanah tempat bibit jengkol berdiri.
Dikoyaknya dari atas. Tangannya seperti alat. Presisinya tepat. Polybag lepas. Tak secercah tanah pun hempas.
Pas.
Bibit jengkol setinggi tiga puluh senti itu ditanam. Tanah
bekas galian lubang dimasukkan kembali dengan tangan. Digemburkan rapi. Setamsil
rawat anak sendiri. Sebuah penanda besi bertuliskan tanggal dan jenis pohon ia
kalungkan. Sebatang bambu sebesar jari, ditancapkan.
Polybag bekas tak
dibuang sembarang. Melainkan ditopikan pada bambu di samping tanaman. Sebagai
penanda kalau-kalau tumbuh ilalang, katanya. Selesai menanam di satu lubang, ia
berpindah ke lubang lain. Masih ada delapan belas hektar lahan Taman Nasional
Gunung Palung yang mesti ia tanami. Tapi ia tak kerja sendiri. Bersama 14 orang
tim reboisasi Alam Sehat Lestari, tugas itu digeluti.
Apa yang dikerjakan Ismanto kini, berbanding terbalik dengan
kehidupannya tahun 1997 silam. Jika sekarang keluar masuk hutan membawa dan
merawat bibit tanaman, dulunya ia datang untuk menebang dan menebang. Lelaki 39
tahun itu pertama masuk hutan sebagai tukang pikul kayu rambahan.
Merambah setengah hektar hutan sekali datang, mencari
bengkirai dan meranti. Uang empat sampai enam juta sebulan, mampu dikantongi.
Ia pun beralih profesi. Dari pemikul, jadi penebang. Yang didapat jauh lebih
banyak. Namun, tetap dengan risiko sama, kemungkinan tertimpa kayu sebesar
setengah gerbong kereta.
“Tahun 2000 saya berhenti, karena yang untung itu bosnya.
Risiko kita nyawa. Akhirnya kembali bertani. Kadang masih tebang untuk
kebutuhan sendiri,” ujar Ismanto menyesali.
Entah berapa batang pohon yang sudah ia tebang, tapi tetap
saja tak bisa membangun rumah. Ada banyak Ismanto lain yang bernasib sama.
Kenyataan itu pula yang membuatnya sadar. Selain rentetan kebakaran dan dampak
berkurangnya pohon di tempat ia tinggal.
Pertemuannya dengan Asri berawal di 2009. Bersama sejumlah
warga ia tergabung dalam rombongan penanaman dan pembersihan dua lokasi yang
jadi fokus kerja Asri. Salah satunya lahan seluas dua puluh empat hektar yang
terletak di pinggir jalan, Km 20, Dusun Manjau, Desa Laman Satong, Kecamatan
Matan Hilir Utara, Ketapang.
“Asri ini unik. Ada kegiatan lingkungan berkaitan dengan
kesehatan. Bagaimana masyarakat bisa memelihara hutan, mendapat reward, diskon pengobatan di klinik
yayasan. Saya tertarik untuk bergabung,” jawab Ismanto ketika ditanya alasannya
menjadi bagian tim deforestasi Asri.
Lahan Desa Laman Satong terbakar hebat beberapa tahun lalu.
Akibatnya, hutan yang sudah digunduli perusahaan kayu milik penguasa orde baru,
makin tak berbentuk. Sama halnya dengan Desa Sedahan Jaya. Sebab lain, wilayah
itu berbatasan langsung dengan jalan dan perkampungan warga.
Ada beberapa fakta miris. Dalam survei tahunan yang Asri
jalankan, hanya ada tiga spesies burung di bekas lahan yang terbakar. Tak
mengherankan, tak banyak jenis burung yang hidup di alang-alang. Berbeda dengan
lokasi yang telah direboisasi. Salah satunya wilayah yang Ismanto tanami.
Sedikitnya, ada enam puluh spesies yang beranakpinak di sana.
“Karena lokasi ini ada di tepi jalan, jarak empat sampai
enam meter dari jalan kita bikin batas api. Agar sumber api, seperti puntung
rokok tidak menyebabkan kebakaran hingga meluas ke hutan. Meski sudah
direboisasi, tiap tahun selalu terjadi kebakaran,” terang Fransiskus Xaverius,
koordinator deforestasi Asri, Kamis (28/1).
Antisipasi dilakukan, berdasarkan pengalaman kebakaran tahun
2009. Jalan yang membelah Gunung Palung itu, jadi lalu lintas truk-truk
pengangkut CPO dan karet. Juga akses utama warga. Entah dari mana datangnya,
api membesar, merangsek perdu pinggir jalan. Kemudian masuk hutan.
Di tahun itu pula Asri memulai reboisasi. Hasilnya
menggembirakan. Selain hijau, burung rangkong juga kerap terlihat. Namun,
bukannya tanpa kendala. 2013, kebakaran kembali melanda. Batas api tak mampu
menahan. Lebih dari belasan hektar, hijau kembali menghitam.
“Kita lakukan pembersihan rutin untuk batas api, membangun
kesadaran masyarakat, sepanjang jalan depan rumah mereka adalah area monitoring mereka. Ada pula pelatihan
pemadaman dengan alat sederhana,” tambah Fransiskus.
Butuh waktu lama mengembalikan selimut hijau Gunung Palung.
Untuk memastikan benih tumbuh saja, sekurangnya perlu lima sampai sepuluh
bulan. Jenis tanaman pun bukan sembarangan. Petai, jengkol, sungkai, merbau,
ubah, meranti, leban, makaranga, jadi pilihan. Alasannya, selain beberapa yang
endemis, tanaman itu tumbuh cepat jika terbakar. Batangnya pun menusuk langit
dengan daun lebar.
Bibit tanaman itu, selain dibiakkan sendiri, juga berasal
dari masyarakat. Sistem pelayanan kesehatan yang bisa dibayar dengan bibit
tanaman buat mereka punya cukup stok. Polybag
gratis diberikan pada warga yang hendak membayar biaya pengobatan, ingin
menabung atau sekadar suka menanam. Bahkan dikatakan Fransiskus, salah seorang
warga bernama Karyani, memiliki tabungan dua juta rupiah, dari bibit yang
tanam.
“Semua proses di sini berdasar kearifan lokal, digabung
dengan pengetahuan yang Asri punya. Juga panduan kehutanan. Jadi, lahan ditanam
berdasarkan kerapatan per plot. Ukurannya 20x20 meter. Satu plot, 100 jenis
tanaman,” jelasnya.
Di pos tim deforestasi Asri sendiri, saat ini ada 11 ribu
bibit tanaman. Dan masih ada 4 ribu lagi yang siap disetorkan warga. Jumlah itu
sangatlah banyak, namun tak akan berarti jika generasi muda tak dikenalkan
kembali pada hutannya. Karenanya, bekerjasama dengan sejumlah sekolah yang
berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Palung, para siswa diajak kenal dekat
kekayaan terbesar mereka.
Tak hanya proses pembibitan hingga penanaman. Tapi juga
keragaman hayati di dalamnya. Flora dan fauna khas Gunung Palung. Jangan sampai
mereka tak tahu, mana meranti, mana belian. Atau yang lebih mengerikan, mereka
sulit membedakan, mana yang melestarikan, mana yang menghancurkan.
ditulis untuk harian Suara Pemred, edisi 7-8 Februari 2016



