catatan remeh dan hal liar lain

Minggu, 20 Maret 2016

KUPU-KUPU KAMERAD

01.42 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Dimuat di Pontianak Post, edisi Minggu, 31 Januari 2016

Kau akan takjub bila mengunjungi desa ini di akhir Oktober. Matamu akan sibuk oleh cara-cara Tuhan menyombongkan diri. Di taman batas desa, hamparan bunga warna-warni tumbuh kukuh. Bunga-bunga itu hanya lahir di sana dan akan mekar sebulan penuh. Tidak di bulan lain, tidak pula di tanah lain. Kupu-kupu dengan sayap lukisan alam serupa lahar gunung api, menghisap nektar, kemudian terbang ke sana ke mari. Berpusing di desa.

Di bulan lain, tak ada yang istimewa dari lapang itu, hanya tanah dengan ilalang mengakar bumi. Namun, menjelang akhir Oktober, dalam semalam, ilalang-ilalang itu seperti tersedot ke tanah. Kemudian berganti dengan bunga warna-warni yang berjenis entah, dengan kupu-kupu bersayap lahar gunung api tengger mencumbunya. Ada cerita yang mengatakan, seperti ada tangan besar setan yang muncul dan menarik hilang ilalang. Tapi tentu hal itu patah seketika karena yang lahir setelahnya adalah bunga-bunga indah yang tak mungkin ditiupkan dari neraka.

Kabar angin lain berkisah, ilalang itu serupa inang bagi tali putri. Semang yang kemudian dimakan oleh bunga ganjil warna-warni. Bunga-bunga itu hidup dalam tubuh ilalang kemudian keluar di saat yang mereka inginkan. Tapi, tak mungkin tangkai sebesar kelingking anak remaja itu tinggal dalam selimut selembar ilalang.

Ada satu cerita menurutku yang lebih masuk akal (biar kujelaskan, maksudku, bisa lebih aku terima, dan punya daya jual), bunga dan kupu-kupu itu adalah jelmaan korban pembantaian tentara republik yang mati syahid. Aku mendapat cerita ini dari seorang petani penghuni desa yang kutemui baru saja. Ia berkata, dulu di bawah bunga-bunga itu, ratusan orang dikubur secara massal. Tak ada yang dimandikan, apa lagi disalatkan. Mereka disusun, setelah dibungkus dengan daun pisang yang tumbuh sepanjang jalan.

“Awalnya, semua dibiarkan gelimpangan, di tepi jalan, di dalam selokan bahkan dalam kandang-kandang peliharaan. Tak ada yang mau urus. Tak banyak warga desa yang tersisa selain anak-anak yang jumlahnya delapan belas. Aku berumur empat belas saat itu dan tak tahu harus berbuat apa. Yang paling tua di antara kami berumur enam belas dan ia seorang wanita. Tak ada lain yang dilakukannya selain menangis sepanjang hari. Sampai di hari ketiga, kami—dua belas anak laki-laki—merasa tak tahan berdiam diri dan membiarkan orang tua kami sendiri jadi bangkai dan mumi dalam kepala.”

“Aku bersama yang lain mencari apa yang tersisa untuk menggali. Dalam takut dan ingatan tentang darah dan tiga truk yang menjadi awal malam mencekam, kami keruk tanah dalam ritme derap sepatu lars yang entah datang dari mana. Mungkin ingatan buruk memang lebih mudah terekam dan bangkit tiba-tiba. Kadang ketika menggali, kami dikejutkan suara tembakan atau teriakan yang hanya didengar satu-dua kepala. Aku juga sempat mendengarnya, tapi ada juga yang tidak, maka kukatakan pada mereka lidah angin sedang ingin bercanda. Kadang kala, kupikir, suara itu tak pernah keluar dari desa kami. Datang dan pergi seperti bola pimpong. Butuh waktu lebih dari sehari untuk menggali, anak-anak perempuan mendapat jatah menghitung semua mayat dan jika bisa, membawanya ke mari. Itu pun baru berjalan setelah kami yakinkan berkali-kali bahwa Tuhan tak suka ada bangkai manusia berserakan, apalagi orang tua dan kerabat dekat.”

Mereka sudah berjuang demi tanah yang mereka rebut dari Belanda juga Jepang, tapi kemudian dimusnahkan seperti wabah terkutuk. Tak ada yang sama rasa, sama rata! Terlalu lama dijajah, merdeka malah balas menjajah, rakus, lapar di tanah sendiri! Aku menggunakan kata-kata terakhir Kamerad Gledek—Bapakku, sebelum ia ditembak di kantor partai—untuk membuka upacara pemakaman ganjil itu. Tak ada kain mori untuk semua jenazah, karenanya, kami membungkus mereka dengan daun-daun pisang yang tumbuh sepanjang jalan. Tak tahu juga siapa yang pertama kali mencetus ide itu, walau akhirnya aku setuju dan merasa konyol karena seperti melihat tumpukan lontong raksasa yang menunggu dikubur.”

“Bapak ingat betul peristiwa itu?” ujarku, akhirnya memotong cerita.

“Sudah kukatakan, mungkin kenangan buruk lebih mudah terekam dan hidup lebih lama dalam ingatan. Kau tahu, apa yang bikin aku ingat jelas hari itu?”

“Apa?”

“Aku melihat semua mayat tersenyum.”

“Ratusan mayat?”

Seratus delapan puluh tiga mayat.”

“Teman-teman Bapak melihatnya?”

“Entahlah. Aku pun tak bertanya, tapi kulihat bunga-bunga indah mekar di wajah mereka. Dan, yang jelas, setelah kami meratakan tanah itu, ulat-ulat sebesar jempol kaki orang dewasa mulai muncul, lahir dari rahim tanah, kemudian seperti lokomotif berjalan berderet-deret menuju hutan. Kami takjub dan anehnya, tak ada satu pun anak perempuan yang berteriak takut atau jijik. Kami biarkan ulat-ulat itu, dan hanya mengekornya dengan mata. Mungkin mereka telah lihat yang jauh lebih menyeramkan dari sekadar ulat; rombongan tentara republik yang berjalan dalam barisan dan menembaki apa saja yang muncul di depannya, bahkan merangsek ke dalam rumah dan membakar yang tersisa.”

“Seperti Bandung lautan api?”

“Lebih mulia dari itu, penghuninya pun harus mati. Mungkin karena mereka tahu di desa ini, kamerad-kamerad terbaik dilahirkan hingga namanya harum dan berjaya di ibu kota negara. Mereka tak ingin ada lagi kudeta. Itu pun kurasa hanya akal-akalannya saja, sebab, sehari sebelum tentara itu datang, aku yang sedang ikut Kamerad Gledek ke kantor partai, melihatnya marah-marah, tak percaya kabar radio yang mengatakan kudeta gagal dan jenderal-jenderal berakhir di Lubang Buaya. Menurutnya, itu hanya rekayasa karena tak pernah rencana itu tersiar dalam rapat-rapat bulanan. Maaf, aku lebih senang menyebutnya Kamerad ketimbang Bapak untuk menghormati perjuangannya.”

“Mengenai bunga dan kupu-kupu itu?”

Penjelasannya sangat meyakinkan dan, menarik untuk aku sajikan dalam catatan perjalanan. Aku datang untuk melihat langsung taman dengan kupu-kupu bersayap lahar gunung api itu. Juga untuk mengambil beberapa foto agar bisa kupamerkan dalam blog perjalananku. Kakek sempat melarang rencanaku mengunjungi desa ini, berbahaya dan jangan jadi pemicu sakit masa lalu, katanya. Meski ia satu-satunya keluarga yang aku punya, kata-katanya tak pernah aku gubris. Ia terlalu galak dan sering mengekang, padahal aku bukan anak buahnya di angkatan bersenjata.

Sengaja aku datang tiga hari sebelum hari ke lima belas di bulan Oktober untuk mengabadikan bagaimana ilalang itu hilang dan berganti bunga-bunga dengan kupu-kupu langkanya. Aku akan jadi yang pertama mengunggah dan memperlihatkannya ke dunia karena tak mungkin temanku melakukannya lebih dulu.

Ia mendapat cerita taman ini dari orang tuanya. Konon, ayahnya adalah salah satu penghuni desa. Namun,  ia terlalu percaya pada mitos kutukan desa Palu Arit.

Tak ada peradaban yang menjamah desa ini selain tanganku.

“Seminggu setelah penguburan, banyak di antara temanku yang pergi dan tak kembali ke desa. Mungkin mereka berpikir untuk mengubur juga kenangannya bersama mayat orang tua mereka. Mungkin mereka juga melihat mayat-mayat itu tersenyum, dan merasa senyum itu sebagai sebuah petunjuk untuk meninggalkan desa ini, dan orang tua mereka mati dengan tenang. Hanya tersisa delapan orang saat itu, seperti adam-hawa yang saling berpasangan, Tuhan juga menghendakinya pada kami. Kami—yang tersisa—mulai membersihkan semua yang masih bisa digunakan dan tidak lagi menghiraukan lahan penguburan. Sampai di akhir Oktober 1966, setahun setelah kejadian, kupu-kupu dengan sayap lahar gunung api muncul melayang di desa. Terbang dan berpusing di kepala kami. Kadang dua-dua. Kadang lebih. Tak ada satu pun di antara kami yang menangkapnya. Membiarkan mereka masuk ke dalam rumah, hinggap di balai-balai, bahkan tengger di kepala seperti mengelus-elus rambut kami.”

“Setelah itu, mereka seperti berbisik dan menarik kami untuk ikut. Kami berdelapan membebek di belakang (juga di bawah), berpayung ratusan kupu-kupu bersayap lahar gunung api yang melayang berkoloni. Seperti arakan merah menuju pemakaman massal yang telah berubah jadi taman bunga warna-warni yang ganjil. Semua kupu-kupu hinggap, layaknya menunjukkan kebahagiaan. Ingin memulai pesta. Mungkin di surga, semua benar-benar sama rata, sama rasa, tak ada kelas, tak ada tuan tanah. Meski kadang kupikir, tujuh bidadari untuk satu lelaki itu tak baik bagi pasangan suami istri,” seperti hendak menutup dengan kelakar, namun kembali dilanjutkan,sejak itu, kami percaya, ulat-ulat yang keluar setelah tanah kuburan rata dan menuju ke hutan itu adalah kupu-kupu bersayap lahar gunung api ini, jelmaan kamerad penduduk desa. Dan, bunga-bunga itu, adalah budi baik yang tumbuh dan tak seorang pun boleh memetiknya.”
***

Sambil melihat kamera—foto seekor kupu-kupu sebesar daun kelor tengah tengger di bunga seperti bunga matahari, namun berkelopak pelangi, aku merasakan kejanggalan cerita desa Palu Arit itu. Pak Tani yang kutemui, beberapa kali menyebut “Tuhan” dan menghubungkannya dengan para kamerad. Mungkin, ini komunis rasa nusantara, pikirku asal-asalan. Tapi, semua itu tak penting. Yang penting adalah bagaimana aku bisa membagikannya pada dunia. Tentu bukan atas nama ilmu pengetahuan apalagi tetek bengek sejarah. Masa lalu bukan sesuatu bagiku. Meski kadang-kadang, itu hal baik untuk meningkatkan kunjungan orang.

Seperti dugaan, dalam waktu tiga hari, foto-foto keajaiban ganjil taman desa Palu Arit menjadi bahan pembicaraan semua situs dunia maya dan bikin namaku ikut mengudara. Saat aku pulang dari rumah seorang teman, kupikir bom atom Amerika baru saja jatuh di kamar. Berantakan. Kudapati Kakek bersama enam anak buahnya membawa kamera dan laptop pribadiku. Ia menamparku dan mengomel sesuatu yang tak aku ingat.

Kau tahu, detik itu, aku makin merasa punya seorang Kakek, jenderal angkatan bersenjata yang paling aneh.**


Pontianak, 2015

Sabtu, 19 Maret 2016

Earth Hour, BEST WESTERN Kota Baru Gelap Gulita

22.16 Posted by Kristiawan Balasa No comments
FOTO BEST WESTERN KOTA BARU

BEST WESTERN Kota Baru, Pontianak mendadak gelap, pada Sabtu, 19 Maret 2016. Sejak pukul 20.30-21.30 WIB, semua lampu padam. Sumber cahaya hanya berasal dari layar ponsel atau lilin yang menyala. Hal itu sengaja dilakukan pihak hotel, mengajak semua tamu untuk memperingati Earth Hour 2016.

Earth Hour (EH) sendiri adalah sebuah kegiatan global yang diadakan oleh Word Wide Fund for Nature (WWF). Kegiatannya sederhana, hanya melakukan pemadaman lampu yang tidak diperlukan di rumah atau perkantoran selama satu jam. Tujuannya, untuk meningkatkan kesadaran penghematan energi dan sebuah tindakan serius menghadapi perubahan iklim.

WWF dan Leo Burnett, pertama kali menghelat EH tahun 2007. Saat itu, 2,2 Juta penduduk Sydney, Australia berpartisipasi memadamkan semua lampu yang tidak diperlukan. Setelah itu, seperti wabah, beberapa kota di dunia ikut berpartisipasi setahun setelahnya. EH 2016 sendiri, dilaksanakan 19 Maret 2016, mulai pukul 20.30-21.30 WIB.

Berpartisipasi dalam EH, bukan barang baru bagi BEST WESTERN Kota Baru. Mulai tahun lalu BEST WESTERN Kota Baru sudah mendukung progam WWF ini. Di tahun ini, semua tamu diajak turun aksi. Pihak hotel mengajak tamu untuk mematikan lampu kamar di jam yang telah ditentukan. Snack dan kopi disediakan pihak hotel untuk semua tamu, baik yang menginap, ataupun tidak.

Dengan adanya kegiatan ini, pihak BEST WESTERN Kota Baru berharap dapat membangun keterlibatan masyarakat secara luas dalam melakukan aksi kecil dengan dampak besar. EH memiliki banyak manfaat. Tak sekadar menghemat listrik, tapi juga mencoba mengkritisi perubahan iklim yang merupakan ancaman kehidupan di bumi.


Perubahan iklim yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global. Naiknya permukaan air laut, perubahan musim yang sulit ditebak, kemarau atau musim dingin yang panjang. Perubahan terjadi secara besar-besaran. Tak ada pilihan lebih baik, selain berusaha bersama, mengubah apa yang telah berubah.

Jumat, 18 Maret 2016

BEST WESTERN SIAP GELAR KONSER KARAWITAN

03.56 Posted by Kristiawan Balasa No comments


Budaya merupakan suatu tradisi yang sudah terjadi dari dahulu dan harus dilestarikan secara turun temurun. Menjaga dan melestarikan budaya adalah suatu keharusan. Karena budaya ialah identitas suatu daerah atau suatu bangsa.

BEST WESTERN Kota Baru yang diwakili oleh M.Rizal Razikan selaku General Manager mengatakan, bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan kepada generasi muda yang selalu menjunjung tinggi dan cinta akan budaya. Serta memberikan apresiasi terhadap prestasi yang sudah dicapai. Tak hanya prestasi di dalam bahkan prestasi di luar negeri.

Dari dasar itulah hotel BEST WESTERN Kota Baru ingin menyelenggarakan konser karawitan yang rencananya akan diselenggarakan pada tanggal 26 Maret 2016. Menggandeng teman-teman dari IKANMAS (Ikatan Mahasiswa Seni ) FKIP Seni Untan prodi seni musik dan tari, BEST WESTERN dan FKIP Seni Untan akan bekerja keras untuk mempersiapkan acara ini dengan baik. Para talent juga siap bekerja keras demi mempersembahkan penampilan terbaik.

Acara dengan tema “CITA BUDAYA KHATULISTIWA” merupakan pagelaran yang dipersembahkan untuk masyarakat kota Pontianak. Sejumlah persiapan, sudah mulai dilaksanakan sejak kemarin. Kegiatan ini mendapat dukungan dari banyak pihak. Pagelaran yang akan disajikan nantinya, adalah pagelaran seni musik dan tari, yang mengacu pada kekayaan budaya daerah. Adanya Konser Karawitan ini diharapkan dapat mempengaruhi generasi muda untuk tetap mencintai budaya.

Gamelan saraswati dan Ikanmas Melayu Esemble menjadi penampilan yang siap menyuguhkan atraksi terbaik pada penonton. Kolaborasi musik melayu dan jawa akan bersatupadu memanjakan semua indera penonton. Latihan yang mereka gelar setiap malam, tentu akan menghasilkan pertunjukan yang maksimal. Dalam acara yang dibuka untuk umum dengan HTM. Rp. 20.000,- (free coffe break) ini, penonton bisa ikut serta dalam photoboots competition. Akan ada hadiah voucher menarik dari BEST WESTERN Kota Baru untuk 10 foto terbaik, dan voucher plus uang tunai khusus bagi 3 foto terbaik.


Informasi lebih lanjut, Anda bisa langsung menghubungi Wendha di nomor 08115633320/089694133320. Pastikan Anda jadi bagian dari gema Konser Karawitan Cita Budaya Khatulistiwa ini!

Selasa, 16 Februari 2016

PENEBUSAN DOSA PEMBALAK, DAN HUTAN YANG INGIN MEMBIAK

00.45 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Ismanto menunjukkan cara menanam yang benar. Baginya, menanam pohon seperti sebuah penebusan dosa.

Ismanto mengambil polybag. Lantas kembali jongkok di depan lubang sedalam jengkal orang dewasa. Layaknya melepas popok bayi, ia menelanjangi sekepal tanah tempat bibit jengkol berdiri. Dikoyaknya dari atas. Tangannya seperti alat. Presisinya tepat. Polybag lepas. Tak secercah tanah pun hempas. Pas.

Bibit jengkol setinggi tiga puluh senti itu ditanam. Tanah bekas galian lubang dimasukkan kembali dengan tangan. Digemburkan rapi. Setamsil rawat anak sendiri. Sebuah penanda besi bertuliskan tanggal dan jenis pohon ia kalungkan. Sebatang bambu sebesar jari, ditancapkan.

Polybag bekas tak dibuang sembarang. Melainkan ditopikan pada bambu di samping tanaman. Sebagai penanda kalau-kalau tumbuh ilalang, katanya. Selesai menanam di satu lubang, ia berpindah ke lubang lain. Masih ada delapan belas hektar lahan Taman Nasional Gunung Palung yang mesti ia tanami. Tapi ia tak kerja sendiri. Bersama 14 orang tim reboisasi Alam Sehat Lestari, tugas itu digeluti.

Apa yang dikerjakan Ismanto kini, berbanding terbalik dengan kehidupannya tahun 1997 silam. Jika sekarang keluar masuk hutan membawa dan merawat bibit tanaman, dulunya ia datang untuk menebang dan menebang. Lelaki 39 tahun itu pertama masuk hutan sebagai tukang pikul kayu rambahan.

Merambah setengah hektar hutan sekali datang, mencari bengkirai dan meranti. Uang empat sampai enam juta sebulan, mampu dikantongi. Ia pun beralih profesi. Dari pemikul, jadi penebang. Yang didapat jauh lebih banyak. Namun, tetap dengan risiko sama, kemungkinan tertimpa kayu sebesar setengah gerbong kereta.

“Tahun 2000 saya berhenti, karena yang untung itu bosnya. Risiko kita nyawa. Akhirnya kembali bertani. Kadang masih tebang untuk kebutuhan sendiri,” ujar Ismanto menyesali.

Entah berapa batang pohon yang sudah ia tebang, tapi tetap saja tak bisa membangun rumah. Ada banyak Ismanto lain yang bernasib sama. Kenyataan itu pula yang membuatnya sadar. Selain rentetan kebakaran dan dampak berkurangnya pohon di tempat ia tinggal.

Pertemuannya dengan Asri berawal di 2009. Bersama sejumlah warga ia tergabung dalam rombongan penanaman dan pembersihan dua lokasi yang jadi fokus kerja Asri. Salah satunya lahan seluas dua puluh empat hektar yang terletak di pinggir jalan, Km 20, Dusun Manjau, Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Ketapang.

“Asri ini unik. Ada kegiatan lingkungan berkaitan dengan kesehatan. Bagaimana masyarakat bisa memelihara hutan, mendapat reward, diskon pengobatan di klinik yayasan. Saya tertarik untuk bergabung,” jawab Ismanto ketika ditanya alasannya menjadi bagian tim deforestasi Asri.

Lahan Desa Laman Satong terbakar hebat beberapa tahun lalu. Akibatnya, hutan yang sudah digunduli perusahaan kayu milik penguasa orde baru, makin tak berbentuk. Sama halnya dengan Desa Sedahan Jaya. Sebab lain, wilayah itu berbatasan langsung dengan jalan dan perkampungan warga.

Ada beberapa fakta miris. Dalam survei tahunan yang Asri jalankan, hanya ada tiga spesies burung di bekas lahan yang terbakar. Tak mengherankan, tak banyak jenis burung yang hidup di alang-alang. Berbeda dengan lokasi yang telah direboisasi. Salah satunya wilayah yang Ismanto tanami. Sedikitnya, ada enam puluh spesies yang beranakpinak di sana.

“Karena lokasi ini ada di tepi jalan, jarak empat sampai enam meter dari jalan kita bikin batas api. Agar sumber api, seperti puntung rokok tidak menyebabkan kebakaran hingga meluas ke hutan. Meski sudah direboisasi, tiap tahun selalu terjadi kebakaran,” terang Fransiskus Xaverius, koordinator deforestasi Asri, Kamis (28/1).

Antisipasi dilakukan, berdasarkan pengalaman kebakaran tahun 2009. Jalan yang membelah Gunung Palung itu, jadi lalu lintas truk-truk pengangkut CPO dan karet. Juga akses utama warga. Entah dari mana datangnya, api membesar, merangsek perdu pinggir jalan. Kemudian masuk hutan.

Di tahun itu pula Asri memulai reboisasi. Hasilnya menggembirakan. Selain hijau, burung rangkong juga kerap terlihat. Namun, bukannya tanpa kendala. 2013, kebakaran kembali melanda. Batas api tak mampu menahan. Lebih dari belasan hektar, hijau kembali menghitam.

“Kita lakukan pembersihan rutin untuk batas api, membangun kesadaran masyarakat, sepanjang jalan depan rumah mereka adalah area monitoring mereka. Ada pula pelatihan pemadaman dengan alat sederhana,” tambah Fransiskus.

Butuh waktu lama mengembalikan selimut hijau Gunung Palung. Untuk memastikan benih tumbuh saja, sekurangnya perlu lima sampai sepuluh bulan. Jenis tanaman pun bukan sembarangan. Petai, jengkol, sungkai, merbau, ubah, meranti, leban, makaranga, jadi pilihan. Alasannya, selain beberapa yang endemis, tanaman itu tumbuh cepat jika terbakar. Batangnya pun menusuk langit dengan daun lebar.

Bibit tanaman itu, selain dibiakkan sendiri, juga berasal dari masyarakat. Sistem pelayanan kesehatan yang bisa dibayar dengan bibit tanaman buat mereka punya cukup stok. Polybag gratis diberikan pada warga yang hendak membayar biaya pengobatan, ingin menabung atau sekadar suka menanam. Bahkan dikatakan Fransiskus, salah seorang warga bernama Karyani, memiliki tabungan dua juta rupiah, dari bibit yang tanam.

“Semua proses di sini berdasar kearifan lokal, digabung dengan pengetahuan yang Asri punya. Juga panduan kehutanan. Jadi, lahan ditanam berdasarkan kerapatan per plot. Ukurannya 20x20 meter. Satu plot, 100 jenis tanaman,” jelasnya.

Di pos tim deforestasi Asri sendiri, saat ini ada 11 ribu bibit tanaman. Dan masih ada 4 ribu lagi yang siap disetorkan warga. Jumlah itu sangatlah banyak, namun tak akan berarti jika generasi muda tak dikenalkan kembali pada hutannya. Karenanya, bekerjasama dengan sejumlah sekolah yang berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Palung, para siswa diajak kenal dekat kekayaan terbesar mereka.


Tak hanya proses pembibitan hingga penanaman. Tapi juga keragaman hayati di dalamnya. Flora dan fauna khas Gunung Palung. Jangan sampai mereka tak tahu, mana meranti, mana belian. Atau yang lebih mengerikan, mereka sulit membedakan, mana yang melestarikan, mana yang menghancurkan.


ditulis untuk harian Suara Pemred, edisi 7-8 Februari 2016

Sahabat Hutan, dan Sepenggal Kisah

00.26 Posted by Kristiawan Balasa , 2 comments
 Bincang-bincang antara awak media dan Syarifudin (baju biru muda di tengah) bersama rekan Sahabat Hutan lain di Pantai Pulau Datok, Kayong Utara.


“Perambah hutan, kalau mau ambil chainsaw di rumah saya, Syarifudin.”

Kalimat itu terukir di batang pohon mentawak. Bertinta oli lumer, yang merusak cerah daging kayu yang baru ditebang. Tidak perlu heran dengan kalimat yang begitu panjang. Lebar batang pohon itu saja lebih dari 40 cm. Terbaring kaku sepanjang 16 meter.

Syarifudin (26) menemukannya ketika petang menjelang. Sore itu, ia mendengar bising chainsaw (alat penebang kayu) dari arah Taman Nasional Gunung Palung, tak jauh dari sawahnya. Padahal, sudah cukup lama ia tak mendengar lengkingan serupa. Suara yang dulunya akrab, kini asing.

Ia menyayangkan pohon mentawak yang gagah, sekarang tumbang. Padahal, buah pohon salah satu tanaman keras hutan yang punya nilai jual mahal. Harga sebuahnya, lebih mahal dari durian. Sayangnya, bagi penebang itu, harga batang pohon mentawak, jauh lebih menggiurkan.

Kebiasaan para perambah hutan, selalu meninggalkan chainsaw mereka, tak jauh dari pohon yang ditebang. Itu dilakukan agar tidak merepotkan. Sebab, menebang pohon dan menyelesaikannya sesuai pesanan, kadang butuh lebih dari sehari. Syarifudin pun mengambil langkah cepat. Warga Dusun Mentubang, Desa Harapan Jaya, Kabupaten Kayong Utara itu segera mengamankannya.

Dibawanya pulang, dan disimpan di gubuk tengah sawah miliknya. Sebelumnya, bagian chainsaw itu ia perotoli. Rantai, mesin, dan beberapa bagian lain disimpan di tempat berbeda. Ia pun menuju rumah dengan rasa penuh tanya. Siapa gerangan perambah hutan yang kembali melancarkan aksi di dusunnya?

Sialnya, tak ada seorang pun datang ke rumahnya hingga pagi tiba. Kesehariannya sebagai petani dijalani seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang membuatnya terkejut. Begitu sampai di gubuk, chainsaw itu raib. Hilang seperti gaib.

“Padahal sengaja saya ambil biar tahu siapa orangnya. Eh, malah dicuri duluan. Setelah cari-cari info, katanya kayu itu mau dipakai untuk bikin sampan. Bukan orang dusun kami. Sampai sekarang, masih di sana, tidak ada yang ambil,” ceritanya pada Suara Pemred, saat berbincang di Pantai Pulau Datuk, Sukadana, Kayong Utara, Rabu (27/1).

Syarifudin berkisah, itu hal nekad pertama yang dilakukannya di tahun pertamanya menjadi Sahut (Sahabat Hutan). Ia yang sudah dua tahun menjadi bagian dari progam Yayasan Alam Sehat Lestari (Asri) itu, biasanya hanya sekadar sosialisasi dan mengumpulkan informasi terkait kelestarian hutan.
Tugasnya memang terdengar sederhana. Semua beres dikerjakan satu jam dalam sehari. Namun, hasil kerjanya berdampak besar pada kehidupan semua makhluk di Gunung Palung. Informasi aktivitas merusak hutan, dimiliki.

Selain untuk kepentingan Asri dalam pengelolaan beberapa program yang dijalankan, seperti afiliasi kelestarian hutan dengan pelayanan kesehatan, informasi  itu juga digunakan para polisi hutan.

“Tugas Sahut ada pada konservasi dan jembatan informasi antara Asri dengan masyarakat. Jumlahnya saat ini ada 33 orang. Setiap bulan, mereka harus memberikan laporan ke koordinator,” ungkap Hendriyadi, koordinator Sahut.

Hampir semua dusun yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung, memiliki Sahut. Mengubah paradigma masyarakat, yang menggantungkan hidup dari hasil membalak, juga jadi tugasnya. Para pembalak liar diajak beralih profesi sebagai petani. Kelompok tani berkelanjutan pun dibentuk. Bahkan, beberapa kelompok sudah diberangkatkan ke Yogjakarta untuk belajar langsung di sana.

Syarifudin mengatakan, mengubah pola pikir masyarakat bukan perkara gampang. Mereka selalu saja berorientasi pada uang. Waktu dua jam belajar bertani, dianggap buang rupiah yang bisa didapatkan dengan mudah; menebang hutan. Tapi kini, ketangguhannya berbuah manis. Dari enam orang pembalak liar di awal ia terjun menjadi Sahut, sekarang tinggal seorang.

“Waktu awal ikut gabung Sahut, saya melihatnya unik dan asik. Juga bisa memberi manfaat untuk orang lain. Dapat ilmu. Sebenarnya, masyarakat diam itu bukan tidak peduli, mereka cuma tidak ada yang membangkitkan,” kata Syarifudin.

Keberadaan Sahut di tiap dusun memberi rasa malu bagi para pembalak untuk beraksi. Mereka sering masuk hutan saat gelap datang. Dan pulang sebelum penduduk desa bangun. Sejak 2009 jumlahnya menurun drastis. Kebanyakan yang tersisa kini, hanya bekerja jika ada pesanan atau kebutuhan pribadi.

Dalam bertugas, para Sahut disarankan menghindari selisih paham. Alasannya, agar lebih mudah dan dekat dengan masyarakat. Advokasi hukum tidak dibebankan pada mereka. 

Penurunan pembalak sendiri disebut Hendriyadi, turut disebabkan semakin ketatnya kebijakan pemerintah. Dan adanya peningkatan ekonomi dari sektor lain. Terlebih sejumlah lembaga swadaya masyarakat berperan aktif. Pun, keberadaan kayu untuk mereka rambah, makin jauh di dalam hutan.

“Di bawah tahun 2009, kayu belian, bengkirai, ramin, banyak diekspor ke Malaysia. Tapi kelamaan pembalak sadar, harga jual dari mereka, kalah jauh ketika sampai di cukong. Mereka merasa rugi,” timpal Hendriyadi.

Saat ini, ada 76 dusun dari 14 desa yang bekerjasama dengan Asri. Sebagian memang tak memiliki Sahut karena tidak berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung. Namun, aktivitas pembalakan di sana menurun dari tahun ke tahun. Hal itu agaknya jadi bukti. Seseorang hanya harus berani memulai. Sebab butuh sepercik api, untuk membakar kampung. Sisanya, biarkan angin yang menunaikan tugas.


ditulis untuk harian Suara Pemred, edisi 5 Februari 2016

Jumat, 05 Februari 2016

Kambing dan Janda di Tengah Kayong Utara

04.10 Posted by Kristiawan Balasa , 1 comment
Pumiah memeluk kambing kesayangannya. 

Sewaktu kami datang, Rabu (27/1), empat orang janda sudah berada di dalam rumah Pumiah. Saat itu pukul sebelas dan matahari Kayong Utara tengah gagah-gagahnya. Pandangan mereka tak jauh dari kumpulan kambing yang parkir di tanah lapang samping rumah. Rupa-rupanya, mereka kuatir kambing yang ditambat itu nakal, lepas dari ikatan, lantas lari ke kebun orang.

“Kemarin pernah lari, makan bayam tetangga,” ujar Pumiah sambil tertawa, ketika ditanya mengapa kambing yang diikat, diawasi pula.

Di lapang itu, terdapat tiga kambing Pumiah. Dan beberapa ekor kambing temannya. Sebenarnya, ia punya empat. Namun satu di antaranya, anak pertama kambing betina yang ia punya, sudah digulirkan pada tetangga jandanya yang lain.

Para janda di Dusun Paya Hitam, Desa Sutera, Kecamatan Sukadana, Kayong Utara, sebagian besar memiliki kambing sebagai peliharaan. Mereka mendapatkannya secara gratis dari Yayasan Alam Sehat Lestari (Asri).

Jadi tak hanya Pumiah, Soginah, Toripah dan Fatma pun sama-sama memiliki kambing. Jumlahnya saja yang berbeda. Jika Pumiah kini memiliki tiga ekor, Soginah baru dua. Demikian halnya dengan Toripah. Kecuali Fatma yang baru punya satu. Namun kini tengah hamil muda.

Seratus dua puluh janda di sebelas desa di Kayong Utara, tengah jadi fokus kerja program Kambing Untuk Janda dari Asri. Untuk Dusun Paya Hitam sendiri, dari yang awalnya sembilan janda, sekarang sudah dua puluh. Masing-masing janda dapat jatah satu. Bila dapat betina, maka dengan meminjam pejantan yang digilir, anak pertama kambing itu wajib digulir. Sisanya, untuk diri sendiri.

Sementara jika dapat pejantan, maka harus sabar menunggu guliran dari induk milik janda lain. Pumiah, termasuk janda yang cukup lama memelihara. Nenek dua belas cucu itu bercerita, ada banyak manfaat dari kambing-kambingnya. Misalnya, olahan kotoran kambing yang digunakan sebagai pengganti pupuk urea. Ia yang sehari-hari bekerja sebagai petani, merasa senang memiliki sumber penghidupan lain.

‌“Memang repot kalau piara, apalagi kalau kambing kehujanan atau belum makan. Pulang ladang pasti cek kambing dulu. Tapi senang. Sekarang ditambat, kalau tidak nanti makan sayuran orang,” katanya dalam logat Madura yang khas, diselingi tawa yang buat kami terbahak.

Ketika ditanya akan dijual atau tidak kambing-kambingnya saat Idul Adha nanti, Pumiah menjawab tidak dengan cepat. Untuk akikah saya, sambungnya kilat. Berbeda dengan Pumiah, Toripah malah sudah menjual salah satu kambingnya. Kebutuhan ekonomi mendesaknya kala itu.

Para janda sasaran program Kambing untuk Janda, berasal dari kalangan kurang mampu. Sebagian menjanda akibat ditinggal mati suaminya. Karenanya, umur mereka pun tak lagi muda. Jika ditaksir, berada di atas lima lima. Bukannya ingin menebak, ketika ditanya usia, mereka jawab tak tahu dengan serentak. Tapi yang lebih memprihatinkan, ternyata mereka juga buta aksara.

“Ibu Toripah ini selain jual kambingnya untuk beli beras, juga untuk beli kasur. Seumur hidupnya, belum punya kasur,” jelas Setiawati, koordinator program Kambing untuk Janda Asri.

Kepandaian Pumiah mengolah kotoran kambing menjadi pupuk, tak lepas dari program binaan lain Asri. Yakni kelompok pertanian organik. Selain meningkatkan kualitas hidup dari sisi ekonomi,  dengan adanya program penyelaras, dapur organik, janda-janda di Kayong Utara mengkonsumsi bahan makanan yang lebih baik.

Karenanya, kontrol terus dilakukan demi keberhasilan dan ketepatan sasaran program. Setiap bulan, tim kesehatan rutin berkunjung. Mengecek anemia, koreng dan memotong kuku-kuku kambing para janda. Dari total seratus dua puluh janda yang menikmati program ini sejak 2011, empat puluh di antaranya tak lagi aktif.

“Ada 40 yang sudah tidak aktif, karena sudah mendapat jatah dan menggulirkan. Ada yang menjual kambingnya karena ekonomi, dan perbaikan rumah. Tapi ada yang berhasil, sampai 23 ekor sejak awal ikut 2011 dulu,” papar Setiawati.


Kambing untuk Janda, hanyalah salah satu upaya meningkatkan kualitas hidup warga Kayong Utara. Mereka yang berada di ambang, bahkan bawah garis kemiskinan. Di tengah bisingnya cericit walet dari gedung tinggi yang menghimpit. Semoga saja, orang-orang besar tak terhalang gedung itu saat hendak melihat mereka. Atau ditulikan nyanyian dua puluh empat jam walet, ketika jeritannya memekakkan telinga.

ditulis untuk harian Suara Pemred, edisi 4 Februari 2016

BAYAR PENGOBATAN DENGAN LESTARIKAN HUTAN

04.02 Posted by Kristiawan Balasa , No comments
Salah seorang staf Asri menunjukkan alat bayar yang biasa dipakai warga.

Dardi kecil hanya bisa terbaring di rumah papan yang tak lebih besar dari setengah lapangan futsal. Berada di daerah rawa Desa Rantau Panjang Dua, Kecamatan Sukadana, Kayong Utara. Mendekam dalam tempat khusus berukuran satu kali satu meter. Ia tak boleh terbias cahaya. Suara bising dapat mengganggunya. Di tempat itulah ia menghabiskan waktu selama tujuh tahun.

Tuberkulosis (TBC) otak yang ia derita bukannya tanpa upaya menyembuhan. Orang tuanya sudah membawanya berobat ke daerah sekitar, namun tak berbuah kesembuhan. Tidak adanya rumah sakit di Kayong Utara dan kemungkinan besarnya biaya pengobatan jadi beban pikiran. Hingga suatu ketika, lidah angin menyampaikan kabar itu ke telinga pengampu Klinik Alam Sehat Lestari (Asri).

Penjemputan dilakukan.

Sayangnya, itu bukan perkara membalikkan telapak tangan. Jarak yang lumayan jauh, ditambah kilau cahaya dan suara bising yang bisa mengganggu Dardi, membuat dokter dan perawat memutar otak. Rencana disusun. Tengah malam, menunggu jalanan sepi, Dardi dibawa ke Klinik Asri, di Jalan Sungai Mengkuang, Pangkalan Buton, Sukadana.

Kaca mata rayban hitam dikenakan. Pendengarannya diusahakan tak merekam suara ribut. Anak tiga belas tahun yang jadi pasien pertama paling berisiko Klinik Asri di tahun pertamanya berdiri itu, harus segera diobati. Pengobatannya bisa saja mengakibatkan Dardi meninggal. Dokter pun dilema.

“Kami bimbang, apakah bisa berhasil atau tidak. Ternyata sukses, perkembangan awal, setelah beberapa hari ia bisa ke WC sendiri,” kenang Hotlin Ompusunggu, Direktur Operasi Klinik Asri, Rabu (27/1).

Setelah itu, pengobatan rutin enam bulan pertama dijalani. Dardi yang sakit sejak berumur enam, dan terus berada di kamarnya tanpa keluar selama tujuh tahun, membuat anak tiga belas tahun itu, tinggal dalam pikiran anak berumur enam. Psikiater disiapkan untuk mendampinginya agar berani keluar rumah. Setahun setelahnya, Dardi sembuh total.

Obat TBC yang pada 2007 belum digratiskan, buat biaya perawatan cukup besar. Namun, itu bukan kendala. Sebab, Klinik Asri menerima pembayaran tidak hanya dalam bentuk uang. Tapi juga kerajinan, bibit pohon, pupuk dan lainnya. Alhasil, keluarga Dardi berhasil melunasi biaya pengobatan, dengan tikar buatan tangan.

“Sekarang dia sudah bekerja, sembuh total setahun setelahnya. Itu jadi semangat bagi Asri untuk berprogram. Program kesehatan berafiliasi dengan lingkungan,” tambah Hotlin.

Klinik Asri sendiri hanyalah satu dari sekian program lembaga nirlaba bernama panjang Alam Sehat Lestari itu. Berangkat dari keprihatinan Kinari Webb, salah seorang dokter asal Amerika yang sejak 1993 datang ke Taman Nasional Gunung Palung, Kayong Utara untuk mempelajari orangutan, yayasan itu didirikan.

Banyaknya kerusakan hutan, deforestasi di Gunung Palung. Padahal ada keragaman hayati. Dalam 100 meter saja, tumbuh lebih dari 100 spesies pohon. Termasuk berbagai jenis tupai dan orangutan,” sahut Kinari menjelaskan.

Berdiri sejak 2007, dengan kenyataan buruknya kualitas hutan, ekonomi dan kesehatan, yang sebenarnya ada dalam satu rangkaian, membuat tekatnya bersama Hotlin Ompusunggu dan sejumlah rekan tak terhalang. Gunung Palung merupakan sumber kehidupan masyarakat. Kebutuhan air, udara sehat, akan membuat kualitas hidup warga sekitar lebih baik. 

Ada lingkaran setan, antara kebutuhan masyarakat, ekonomi dan kesehatan yang mudah mereka dapat dari hutan dengan kelestariannya. Menjadi seorang penebang hutan, adalah profesi yang biasa saat itu. Dapur ngebul, dari batang-batang pohon yang mereka potong.

Semakin banyak kebutuhan yang diperlukan, makin banyak pula pohon Gunung Palung yang ditebang. Apalagi jika sudah menyangkut biaya berobat yang mahal. Maklum, mereka harus berangkat ke Ketapang, untuk mendapatkan perawatan maksimal. Rumah sakit terdekat, hanya ada di sana.

“Dengan pendekatan 400 jam dalam setahun kepada masyarakat, kita tanya apa yang mereka perlukan untuk menjaga hutan, sebagian besar menjawab layanan kesehatan,” timpal Hotlin.

Karenanya Klinik Asri dipilih sebagai program awal. Memberi layanan kesehatan, dibarengi mengubah perekonomian masyarakat yang sebelumnya berada di hutan, tentu bukan hal gampang. Mau tidak mau masyarakat harus dibuat beralih profesi. Pelatihan pola penanaman dengan tidak membuka lahan baru pun diberikan. Tidak hanya itu, pengolahan limbah alam jadi pupuk, juga diajarkan. Demi menekan harga pupuk yang tinggi.

Sejumlah terobosan, layanan kesehatan yang berafiliasi dengan kelestarian lingkungan dilakukan. Salah satunya pembayaran biaya pengobatan yang bisa menggunakan selain uang. Misalnya kerajinan tangan. Harga ambil Asri, sengaja dibuat lebih tinggi. Untuk keranjang kecil dari pandan yang biasa dipasaran seharga Rp. 5 ribu, dihargai Rp. 20 ribu.

Kunci sukses Asri, memenuhi apa yang masyarakat butuhkan. Yang penting bagaimana kerja sama dengan semua pihak. Masalah pembayaran, bibit-bibit pohon dari warga, kita gunakan untuk reboisasi hutan Gunung Palung, termasuk pupuknya,” terang Hotlin.

Tak hanya kemudahan membayar biaya pengobatan, Klinik Asri pun memberikan diskon bagi setiap desa yang bisa melestarikan hutannya. Desa-desa sekitar taman nasional dibedakan berdasarkan tingkat kelestarian hutan dengan status warna. Hijau untuk desa bebas kerusakan, mendapat diskon 70 persen. Kemudian berturut-turut warna biru, kuning dan merah dengan pengurangan diskon 20 persen dari warna hijau.

“Ada monitor tiap triwulan, pengolahan kayu, masih berladang di hutan atau tidak. Ada tujuh indikator. Warga akan dapat diskon. Khusus bayar dengan bibit pohon, harus tanaman asli hutan, dan bermanfaat bagi masyarakat, seperti petai, jengkol,” terangnya. 

Awal Asri berjalan, dari 23 desa yang menjadi sasaran, karena berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Palung, hanya 21 saja yang setuju. Penolakan terjadi karena di dalam dua desa tersebut, berdiri sawmill (tempat penggergajian kayu) besar. Oknum kepala desa diduga ada di belakangnya. Butuh waktu seminggu untuk mengatasi hal itu. Pengumpulan tanda tangan warga dari rumah ke rumah jadi penguat.

“Tahun 2007, dari 133 KK yang dijadikan sampel dari setiap desa di batas taman nasional, rata-rata semuanya kerja kayu. Kebanyakan tangan pertama, tapi ada juga cukongnya. Data terakhir, akhir 2015 kemarin, tinggal 180 orang saja yang jadi penebang. Sebagian besar musiman,” tambah Kinari.

Perubahan signifikan terjadi. Mereka yang dulunya menebang hutan untuk ekonomi, kini beralih menjadi petani. Bahkan 52 persen diantaranya meminta pelatihan kebun organik. Pelatihan pertanian tersebut, nyatanya meningkatkan panen. Dari yang tiga kali dalam sekali tanam, sekarang mencapai tujuh.

Berubahnya ketergantungan masyarakat akan hutan Gunung Palung membuat Asri ingin lebih berbuat banyak. Kini, mereka tengah membangun rumah sakit yang letaknya tak jauh dari klinik. Tempat itu lebih representatif daripada klinik saat ini yang menyewa rumah warga. Meski di dalamnya sudah dilengkapi dengan laboraturium, ruang kerja dokter hingga ruang rawat inap.

Selama ini, Klinik Asri juga menjalin kerjasama dengan Dinas Kesehatan Kayong Utara, misalnya menggelar pelatihan bidan demi menekan angka kematian. Juga bantuan obat gratis dari pemerintah. Sementara untuk layanan BPJS, masih dalam proses.

Rumah Sakit Asri yang dijadwalkan selesai Juli 2016 dan beroperasi dua bulan setelahnya itu, digadang-gadang akan jadi rumah sakit pertama di Kayong Utara. Desain ruangan pun dibuat memanjang seperti rumah, sesuai permintaan warga.

“Untuk mendukung rumah sakit yang sedang dibangun, ada tiga dokter spesialis yang sedang kita sekolahkan. Diantaranya, dokter kandungan, penyakit dalam, dan bedah,” pungkas Kinari.

ditulis untuk harian Suara Pemred edisi Rabu, 3 Februari 2016